#TanpaNama : Akhir Perjalanan

#TanpaNama : Akhir Perjalanan
94.


__ADS_3

Masih di kisah Pelangi Rindu...


Penjagaan diperketat disekitar kamar Berlian, gadis itu tidak bisa tidur, dia gelisah karena hari pertemuannya dengan Paundra sudah semakin dekat. Gadis itu terus berpikir dengan keras, hingga terdengar sebuah ketukkan di pintu kamarnya.


"Selamat Pa...," ucapan seorang pelayan yang masuk ke dalam kamar Sang Majikan.


Mata pelayan itu membulat, sambil melihat kearah Berlian yang berdiri dibelakang dirinya dns membekap mulut Sang Pelayan.


"Diam, jangan berteriak...," ucap Berlian berbisik di telinga Sang Pelayan, dengan tangan yang membawa baki berisi sarapan, pelayan Berlian itu pun mengangguk pelan.


Lalu dilepas pelan tangan Berlian dari mulut Sang Pelayan dengan pelan ditutup pintu kamarnya.


"Nona, ada apa?" tanya Sang Pelayan.


"Dengar, aku harus segera keluar dari sini dan kau harus membantuku, tapi kali ini tidak dengan bertukar peran. Ikuti aku...," jelas pelan Berlian sambil menarik Sang Pelayan yang masih membawa makan pagi untuknya.


Mereka berjalan kearah sebuah jendela besar di samping dinding kamarnya. Dia berdiri dan berhadapan dengan Sang Pelayan. Perempuan muda yang membawa baki itu menggelengkan kepalanya dengan cepat.


Namun, Berlian mengangguk dengan wajah seriusnya.


"Tengah malam nanti, kau harus berjaga diluar jendela. Bawa perlengkapan tidak mencolok untuk menangkap tubuhku, usahakan benda yang kau bawa tidak akan menimbulkan suara saat tubuhku jatuh diatasnya. Mengerti...," jelas dan perintah Berlian.


Masih dengan wajah ketakutan, Sang Pelayan terlihat juga meneguk salivanya dan mengangguk dengan pelan juga ragunya.


"Tapi Nona, Bagaimana jika Tuan dan Nyonya Besar tau? Kepala hamba bisa dipenggal...," ucap pelayan itu.


Berlian lalu memegang kedua pundak Pelayan kepercayaannya itu, lalu menatap lurus hingga ke dalam retina mata perempuan muda yang masih terlihat sangat ketakutan itu.


"Dengar. Aku tidak pergi dari sini sendiri, tentu saja kau harus ikut Kana. Jadi, tenang saja. Selama semua perintahku kau jalankan dengan baik, kita akan pergi dengan selamat. Mengerti...," jelas Berlian meyakinkan.

__ADS_1


"Ba - ik, Nona...," jawab terbata Pelayan yang bernama Kana.


Lalu Kana menaruh baki makanan untuk Berlian dan keluar dari kamar Majikannya itu seperti biasa.


Berlian pun menikmati makan paginya, setelah itu dia mempersiapkan dirinya untuk rencana melarikan dirinya malam itu.


Singkat cerita, malam pun tiba. Berlian sudah bersiap, dia memantau pergerakan penjaga yang selalu ada di depan pintu kamarnya dengan menempelkan satu telinga ke daun pintu.


"Dari derap langkahnya, ternyata malam ini hanya ada satu penjaga di balik pintu dan dua di setiap sudut lorong. Hehm, sungguh beruntungnya diriku, walaupun cukup mencurigakan juga, tapi Kana tidak mungkin berkhianat...," batin Berlian.


Disaat yang sama, terdengar sebuah tanda dari Kana, sebuah sinar menyilaukan terlihat memantul ke kaca jendela. Hingga mengalihkan perhatian Berlian. Lalu dengan langkah perlahan, gadis cantik itu kemudian membuka jendelanya juga dengan perlahan, dia mendongak ke bawah dan dilihatnya Kana sudah di bawah dengan sebuah bantalan jerami berbentuk kotak cukup besar di depannya. Senyum lebar terkembang di wajah Berlian.


Lalu dia menata rambutnya dengan mengikat dan mencepol agar terlihat lebih pendek, gunanya agar tidak menghalangi pandangan, karena sebelum dia nantinya terjun keatas jerami yang dibawa Kana, Berlian harus memanjat turun dari dinding pembatas balkon yang ada di balik jendela kamarnya itu.


Setelah menarik napas sesaat, Berlian lalu mulai memanjat ke dinding balkon dan mulai perlahan turun. Setelah dirasa cukup dekat jarak dirinya dengan kotak jerami itu, dia kemudian memejamkan mata dan menjatuhkan dirinya kearah yang sudah diukurnya.


Suara tubuh Berlian yang jatuh keatas kotak jerami itu, Kana dengan cepat membantu Majikannya itu berdiri dengan cepat. Berlian yang masih mencoba menenangkan diri, lalu memegang tangan Kana yang membantunya bangun.


"huh, ayo...," ucap Berlian yang langsung menarik tangan Kana, walaupun kepalanya masih sedikit pening, karena benturan kecil yang dialaminya.


Mereka kemudian, melewati sebuah lubang rahasia tepat berada di belakang bangunan kamar Berlian. Lubang dimana hanya dirinya dan Kanan saja yang tahu. Setelah berhasil melewati lubang itu, Berlian juga Kana berlari kencang ke sebuah rumah yang memiliki kandang kuda, tepat di halaman rumahnya.


"Berlian, kau yakin dengan semua ini?" tanya pemilik rumah yang ternyata adalah teman satu sekolah dengannya.


"Tentu. Jika tidak, aku akan bernasib sama dengan kakak perempuanku yang hanya dijadikan tempat penghasil anak di keluarga suaminya yang culas itu. Terimakasih...," jawab Berlian sambil melepas tali kekang kuda milik temannya itu, diganti dengan sekantung koin emas.


Lalu Berlian dan Kana melanjutkan perjalanan, Berlian memacu kudanya sangat kencang hingga perjalanan semalamannya berakhir di depan kediaman Paundra. Gadis itu membantu Kana turun, lalu mendekat bersama kudanya ke hadapan dua penjaga yang berada di depan pintu gerbang kediaman Saudagar Muda nan tampan itu.


Salah satu penjaga mengenali wajah Berlian dan langsung mengijinkan gadis itu untuk masuk.

__ADS_1


Setelah sampai di halaman kediaman Paundra, tiba - tiba Berlian merasakan sakit kepala yang sangat hebat dan pandangan yang perlahan kabur, lalu gelap.


Brugh...


Tubuh Berlian jatuh begitu saja, membuat Kana juga beberapa orang pekerja yang sedang berada disekitar merek terkejut. Lalu Kana memanggil - manggil nama Berlian dengan histeris dan mencoba pula membangunkan gadis itu, namun tidak membuahkan hasil. Hingga Paundra dengan gagahnya datang mendekat, lalu mengambil alih tubuh Berlian ke dalam gendongannya.


"Panggil Tabib Uska...," ucap Paundra dengan nada serius dan suara berat khasnya.


Langkah Paundra sangat cepat, dia menuju ke kamar istimewa tempat lukisan Berlian berada. Dibaringkan dengan perlahan tubuh lunglai, tidak sadarkan diri Berlian.


Di dalam hati Paundra, pemuda itu sangat khawatir. Tidak lama, kemudian seorang tabib datang untuk memeriksa keadaan Berlian.


"Bagaimana keadaannya, Tabib?" tanya Paundra.


"Mmm, nampaknya Nona tersebut mengalami luka di bagian kepala, Tuan dan hamba sudah memberikan beberapa obat untuk merawatnya. Sementara saran saya, lebih baik Nona tersebut jangan berpergian atau melakukan pekerjaan berat dulu, harus banyak istirahat terutama tidur. Agar luka dikepalanya cepat pulih...," jelas Tabib tersebut.


Paundra pun mengangguk. Setelah itu, pemuda tampan itu masuk ke dalam kamar Berlian, dilihat dan di dampingi gadis itu di samping ranjangnya. Dipegang tangan Berlian dan dielusnya, kemudian perlahan mata gadis itu coba dibuka perlahan. Dilihat buram disekitar, termasuk wajah Paundra. Perlahan dikerjapkan mata Berlian dan akhirnya dia lun bisa melihat wajah Paundra dengan baik.


"Tuan...," ucap pelan Berlian.


Senyum lebar terkembang di wajah Paundra.


"Nona Berlian, jangan banyak bicara dulu. Sekarang lebih baik, Nona istirahat dulu...," ucap Paundra pelan.


"Tidak. Tuan, kita harus segera berangkat. Tidak perlu menunggu hingga akhir minggu ini, karena, karena Ayahku. Dia akan datang kemari dan menyeretku pulang, dia akan menikahkanki dengan orang lain...," jelas Berlian dengan wajah sendu, mata berbinar, dan nada sedihnya.


Paundra terkejut dengan pernyataan gadis cantik yang sedang sakit dihadapannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2