#TanpaNama : Akhir Perjalanan

#TanpaNama : Akhir Perjalanan
14.


__ADS_3

Kinanti kini sudah ada di sebuah jurang kecil, setelah dia berhasil terjun bebas. Baju dan wajahnya kotor juga terdapat beberapa luka lecet, dengan menggeser sedikit demi sedikit tubuhnya untuk bisa bersandar disebuah pohon. Kemudian gadis itu mencoba untuk berdiri.


"Aaakkkhh, sakit kakiku...," pekiknya yang kembali duduk karena dirasa sakit di salah satu kakinya.


Lalu dicari - cari keberadaan senternya. Didalam saku jaket juga celana, diraba - raba tanah di sekitarnya. Tidak berhasil ditemukan juga benda kecil itu.


"Ck, hilang...," gumamnya sambil menarik napasnya panjang.


Kinanti sudah ingin menangis, selain kakinya yang sakit juga karena dia ada didalam hutan dan terlebih lagi di dalam jurang.


"Tolong, tolong. Siapapun, tolong. Kinan jatuh. Disini, tolong." teriak gadis kecil itu dengan suaranya yang menggema di sekitar tempatnya jatuh.


Kinanti tidak mendengar suara lain, selain suara teriakannya. Lalu perlahan air mata menetes ke pipinya, namun dengan cepat dihapusnya.


"Nggak, aku nggak boleh nangis. Nangis nggak akan buat aku bisa keluar dari jurang ini. Lagian, aku udah gede, udah kelas 3." gumamnya menyemangati diri sendiri.


Lalu kembali dicobanya berdiri dan lagi - lagi gagal.


"Aaakkkhh, sakit...!" erang Kinanti lagi.


"Tolong...," teriak Kinanti sekali lagi.


Di dalam hutan yang tidak jauh dari tempat Kinanti jatuh, Darius yang sedari tadi sedang mengikuti tim kelas lain di jejak malam itu menghentikan langkahnya. Telinganya mendengar suara meminta pertolongan.


"Ah, apa aku salah denger ya? Masa ada yang minta tolong?" batin Darius.


Kemudian Darius tidak memedulikan suara Kinanti dan ingin kembali berjalan, hingga suara meminta pertolongan Kinanti kembali menganggu pendengarannya.


Darius kemudian mengalihkan pandangannya kearah tempat Kinanti terjatuh dan akhirnya memutuskan mencari sumber suara itu.


Tidak butuh lama, anak lelaki itu kemudian sampai di bibir jurang tempat Kinanti terjatuh.


"Halo, apa ada orang disana?" teriak Darius bertanya.


Kinanti yang akhirnya mendengar jawaban dari seseorang diatas sana, lalu wajahnya menjadi cerah.


"Iya - iya, Kinan Dibawah. Tolong, kaki Kinan terluka. Sakit sekali." jawab Kinanti masih dengan berteriak.


Mata Darius membulat.


"Beneran, suara orang...," batin Darius.


"Baik, kamu tunggu sebentar ya. Saya coba untuk turun" jawab Darius.


"Iya." jawab Kinanti cepat.


Darius kemudian mengira - ngira jarak tempat dia akan berpijak juga kedalaman jurang kecil itu.

__ADS_1


Kabut tebal menutupi posisi Kinanti, sehingga Darius pun tidak bisa melihat sama sekali keadaan gadis kecil itu.


Srrraaakkk...


Srrraaakkk...


Suara sepatu Darius yang mulai menuruni tebing tanah tersebut. Anak lelaki itu juga berpegangan pada akar sebuah pohon besar.


Hingga pijakan terakhir, sepatu Darius selip membuat anak lelaki tinggi itu terpleset.


Srrraaakkk...


Bugh...


"Aaakkkhh...," erang Darius.


Kinanti yang mendengar suara erangan itu, kemudian menoleh ke kanan dan kiri mencari asal suara.


"Hei, siapa disana? Apa, apakah kamu yang diatas tadi?" tanya Kinanti ragu.


Namun tidak ada yang menjawab.


"Halo, halo. Siapa, siapa disana. Aaarrrggghh...," teriak Kinanti karena dia ketakutan bercampur terkejut, sambil menutup kedua mata dan menghalangi wajahnya dengan kedua tangannya, ketika ada bayangan yang mendekat kearahnya dari balik kabut tebal di samping tubuhnya.


"Hei, hei. Shuuuttt. Jangan teriak - teriak, ini saya yang tadi diatas." jawab Darius.


"Kenapa kamu bisa ada disini? Kamu, anak dari sekolah yang lagi kemah di Lembah Pelangi itu kan?" tanya Darius.


"Iya Kak, sepertinya tim aku salah jalan. Hingga tiba - tiba turun kabut tebal dan aku, terperosok ke jurang ini. Kakiku juga sakit. Tapi, aku nggak tau kenapa? Senterku hilang dan sepertinya teman - teman se timku, tidak tau kalau aku jatuh." jelas Kinanti dengan air mata yang sudah berlinang.


Darius kemudian menepuk - nepuk pelan lengan kecil gadis itu.


"Sudah - sudah. Saya sekarang ada disini, buat nyelametin dan bantu kamu naik. Ayo, saya bantu kamu berdiri." ucap Darius yang kemudian mengambil salah satu tangan Kinanti, lalu mengalungkan tangan itu ke lehernya dan satu tangan Darius memeluk pinggang Kinanti.


Gadis itu kemudian mencoba berdiri dengan mendorong tubuhnya dengan satu tangannya sudah bertumpu ke tanah.


Dengan perlahan Darius menggiring Kinanti ke tebing tempat dia turun tadi.


"Sekarang saya bakal gendong kamu ke leher saya. Terus, nanti kamu ambil akar pohon itu. Gunakan kakimu yang tidak luka untuk mendorong tubuhmu hingga bisa ke atas. Kamu mengerti?" jelas Darius sambil menunjuk sebuah akar pohon besar yang menjalar hingga ke bawah jurang, tempat Kinanti terjatuh.


Kinanti pun mengangguk pelan, namun ragu. Dia berulang kali melihat kearah tebing juga akar besar pohon itu.


Darius yang melihat wajah ragu Kinanti pun, kemudian melepaskan tangan gadis itu dari lehernya. Diganti dengan kedua tangan Darius yang langsung memegang kedua lengan Kinanti.


"Jangan takut, saya ada dibawah buat ngejagain kamu. Kalau ada apa - apa, saya bakal nangkap kamu. Oke? Sebaiknya kita cepat, sebelum semua teman - teman kamu selesai di jalur ini." jelas Darius meyakinkan Kinanti.


Lalu Kinanti mengangguk cepat dan langsung bersiap. Darius berjongkok dan Kinanti kemudian naik di antara leher juga kepalanya. Anak lelaki itu kemudian berdiri, Kinanti pun berusaha meraih akar pohon yang dimaksud oleh Darius.

__ADS_1


Dipegang akar itu dengan kuat, dengan satu kakinya mencoba untuk merangkak naik sambil mendorong tubuh kecilnya untuk naik.


Darius pun membantu mendorong kaki Kinanti.


"Hah. Engh. Hah. Engh." desah Kinanti yang berusaha terus naik.


Tidak butuh waktu lama, dikarenakan tubuhnya juga mungil. Gadis itu akhirnya berhasil sampai di kawasan hutan tadi.


"Hah. Akhirnya aku bisa naik. Kak, aku udah diatas. Kakak bisa naik?" ucap dan teriak Kinanti pada Darius yang masih ada di bawah.


"Bagus. Sekarang, saya coba naik. Oh iya, kamu jangan kemana - mana?. Tunggu saya." jawab Darius.


"Iya...," jawab Kinanti.


Kemudian gadis itu mencoba berdiri, dengan kaki terpincang mencari pohon terdekat untuk duduk di bawah batang besarnya.


Tidak begitu lama, lalu Darius pun berhasil naik dan menghampiri Kinanti.


"Kamu tunggu sebentar disini. Saya akan cari bantuan." ucap Darius.


Saat Darius akan pergi, tangannya ditahan oleh Kinanti.


"Kak, jidat kakak sama pipinya juga, berdarah. Sebentar." ucap Kinanti.


Gadis itu kemudian merogoh kantung celananya dan mengambil selembar saputangan.


"Pakai ini, buat nahan darahnya. Biar nggak ngucur terus." jelas Kinanti sambil menyerahkan saputangan miliknya itu.


Darius merasa ada yang bergetar di dadanya, ketika Kinanti menyerahkan saputangan berwarna peach itu. Hingga membuat anak lelaki itu tertegun sesaat.


"Kak, ini diambil." ucap Kinanti lagi sambil lebih mendekatkan sapu tangan itu kearah Darius.


Darius pun akhirnya tersadar dan mengambil sapu tangan itu.


"Terimakasih. Ya udah, saya pergi dulu." jawab Darius yang kemudian berlalu dengan cepat dari hadapan Kinanti.


Kinanti pun menunggu sambil masih bersandar di batang pohon besar.


Dipandangnya langit malam yang tiba - tiba saja cerah, seluruh kabur yang tadi tebal juga tiba - tiba menghilang.


"Hemm. Semoga, Mama nggak marah dan juga tetap ngijinin aku buat ikutan kegiatan kayak gini lagi. Hehmmm, ya Tuhan. Terimakasih engkau sudah mengirimkan orang baik seperti kak..." gumaman dan doa Kinanti terhenti, ketika dia baru sadar tidak mengetahui nama orang yang sudah menolongnya.


"Siapa ya nama kakak tadi? Ahhh, ntar aja deh, kenalannya. Sekalian mau bilang makasi." ucapnya lagi.


Setelah itu dia menyelesaikan doanya di dalam hati. Karena ternyata Darius cukup lama mencari pertolongan, akhirnya gadis bertubuh kecil itu perlahan tertidur karena lelahnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2