#TanpaNama : Akhir Perjalanan

#TanpaNama : Akhir Perjalanan
52.


__ADS_3

Sarah yang sedang dirasuki oleh Reo. Tertawa terbahak - bahak, sambil mengendarai mobil mewah yang baru dibelinya. Dia merasa sangat puas dengan hal yang dilakukannya barusa. Dengan kecepatan tinggi, dia menuju salah satu gedung kantor. Namun, dalam perjalanan tiba - tiba dia merasakan sesuatu yang aneh pada dirinya.


Degh...


Degh...


Degupan jantungnya meningkat dan ada sesuatu yang memaksa untuk keluar.


"Sial. Ternyata jiwa gadis bodoh ini kuat juga. Selain aura negatif yang tinggi, daya juangnya tinggi juga. Kevin. Dia terus menerus menyebut nama Kevin. Siapa Kevin?" ucap Reo di tubuh Sarah.


Dengan cepat, Reo kembali mengatur agar jiwa Sarah tidak meronta - ronta lagi. Kekuatan sihirnya lumayan terkuras, untuk kembali menidurkan jiwa Sarah.


"Hah. Hah. Dasar brengsek, sihirku dan kekuatanku jadi terbuang percuma. Lihat saja gadis bodoh, sekali lagi kamu berulah. Aku pastikan, jiwamu akan hancur menjadi debu di dalam sana...," gumam Reo dengan masih mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Ternyata Iblis itu menuju ke gedung kantor Mauris, dia memarkir mobilnya tepat di depan pintu masuk gedung. Setelah keluar, seorang satpam menghampirinya guna menegur tapi malah dilemparkan kunci mobil.


"Parkirkan...," ucapnya sambil menghipnotis satpam itu.


Tiba - tiba satpam bertubuh tegak itu, mengangguk pelan dan menuruti perintah Sarah.


Reo dengan lenggokan seksi badan Sarah, berjalan menuju ke ruangan Mauris. Setelah keluar dari lift, dia lalu masuk ke dalam ruangan Mauris tanpa mengindahkan resepsionis yang menghadangnya. Siapapun yang bertemu dengannya, langsung akan dihipnotis agar tidak ada yang menghalangi langkahnya menuju ruangan Mauris. Setelah membuka pintu ruangan yang luas itu, tidak didapati pria itu di dalam ruangannya. Dengan santai, dia langsung menaruh tas tangan yang dibawanya keatas meja Mauris dan duduk di kursi kebesaran pria itu.


Tubuhnya disandarkan ke dinding empuk bangku, sambil sesekali diputar - putar kursi itu untuk melihat ke sekeliling ruangan.


"Hehehehehe. Gadis kecilku sudah dewasa dan auranya sangat harum. Sebentar lagi, aku bisa menyantap mu juga seluruh keluarga yang kau sayangi tanpa sisa. Hehehehehe...," batin Reo dengan tawa liciknya.


Kemudian Reo memutar kursi mengarah ke jendela besar di belakangnya. Dia menikmati pemandangan jalanan yang sangat ramai pagi itu. Hingga sebuah suara mengusik pendengarannya, awalnya hanya sesaat dan kecil. Namun kemudian, menjadi keras dan berdengung di telinganya. Dia kemudian menutup kedua telinganya sambil memejamkan matanya, karena menahan suara aneh yang membuat telinga tidak nyaman hingga sekarang terasa sakit. Tubuhnya seketika bangun dan berjalan tidak menentu di dalam ruangan Mauris, sakit dan panas dirasa dalam telinganya.


"Akh. Apa ini? Kenapa, akh. Akh, sakit. Diam. Diam. Aku bilang diam...," teriak Sarah.


Kemudian tubuhnya terjatuh pelipisnya membentur meja kaca, sehingga darah segar terlihat keluar membasahi pelipis lalu turun ke wajah juga lantai ruangan Mauris.


Disaat yang hampir bersamaan, Mauris yang baru saja selesai rapat dan akan kembali ke ruangannya, berhenti di depan meja resepsionis ketika dia merasakan sebuah kekuatan magis yang tidak biasa. Dia mendekat kearah Sang Resepsionis, diusap punggung staffnya itu guna menghilangkan. kekuatan magis yang menyelubunginya.

__ADS_1


"Master..." batin Mauris yang kemudian berlalu dari hadapan resepsionis yang kembali sadar dan merasa sedikit pusing di kepalanya.


Pria itu masuk ke dalam, melewati banyak sekali staffnya yang berada dalam pengaruh kekuatan sihir. Membuat dugaan pria itu semakin kuat bahwa, Sang Master sedang berada di dalam ruangannya. Dengan menjentikkan jarinya, seketika seluruh staff di dekat ruangannya kembali tersadar. Mauris masuk ke dalam ruangannya dan betapa terkejutnya dia setelah melihat Sarah terbaring pingsan dengan darah yang mengalir dari kepalanya.


"Sarah...," panggil Mauris dengan nada tinggi.


Pria itu lalu meminta pertolongan pada para staffnya yang baru saja tersadar. Beberapa staff laki - laki mendekat dan masuk ke ruangan Mauris, lalu mengangkat tubuh lunglai Sarah.


"Aura dan kekuatan Master, kenapa bisa ada di dalam tubuh Sarah? Apa artinya ini?" batin Mauris bingung, dengan alisnya yang bertaut.


Sedangkan Reo, tiba - tiba dia kembali ke dalam cerminnya dengan auranya yang melemah.


"Hah. Hah. Sialan, apa itu barusan? Argh, aku baru saja mendapatkan inang baru yang sangat kuat. Karena suara aneh itu, membuat semua rencana ku berantakan. Aku harus segera menghubungi Mauris, tapi jika aku melakukannya sekarang. Kekuatanku tidak akan cukup, lebih baik aku memulihkannya dulu dengan bersemedi." ucap Reo dengan kekuatannya yang lemah.


...----------------...


Kevin sangat takut, dia mencoba mencari jejak Sarah bersama dengan beberapa anak buahnya. Hingga sebuah showroom mobil menghubunginya, Kevin lalu menuju ke showroom tersebut. Setelah melunasi pembayaran mobil yang tiba - tiba diambil Sarah, ponselnya kembali berdering. Salah satu anak buahnya mendapatkan kabar keberadaan gadis itu.


Kevin dengan cepat menuju ke rumah sakit tempat Sarah berada. Langkah tegas dan panjangnya, membuat dia cepat sampai ke depan ruang ICU, tempat Sarah sedang menjalani serangkaian pemeriksaan.


Pria bertubuh besar nan kekar itu, berbalik kearah suara Mauris.


"Selamat Siang Tuan Mauris....," jawab Kevin dengan sedikit merunduk.


"Kev, apa yang membuat Sarah datang ke kantor saya?" tanya Mauris penasaran.


Lalu Kevin menceritakan semuanya.


Mauris pun mengangguk - angguk.


"Dimana tepatnya dia mencoba bunuh diri?" tanya Mauris.


"Di sekitar perairan dangkal utara, Tuan...," jawab Kevin.

__ADS_1


Mauris terdiam sambil berpikir,


"Pantas saja. Ternyata Master merasuki Sarah, tapi kenapa dia bisa keluar dari cermin itu. Apa jangan - jangan Sarah adalah inang yang sangat kompeten, sehingga Master bisa begitu saja keluar dari cermin?" pikir Mauris.


Tidak lama setelah itu, Ibu Debora dan beberapa pengawalnya sampai di depan ruang ICU.


"Oh, Mauris...," ucap berlebihan wanita anggun paruh baya itu, sambil memeluk dan mencium kedua pipi Mauris.


Senyum ramah Mauris terkembang.


"Maaf, anak nakal itu membuat kamu repot. Bagaimana kabarmu, Mauris?" ucap dan tanya Ibu Debora.


"Hehehehe. Tidak apa - apa, Tante. Malah, saya khawatir akan kondisi mental Sarah. Apa ada masalah dengan kehidupan pribadi Sarah belakangan ini hingga dia mencoba bunuh diri, Tante?" ucap dan tanya Mauris berpura - pura cemas.


Ibu Debora pun kemudian menggiring Mauris untuk duduk di bangku ruang ICU. Sedangkan Kevin memberi kode untuk segera meninggalkan kedua orang itu untuk mendapatkan ruang privasi.


"Hiks. Tante, sangat cemas karena Sarah begitu putus asa terhadap Darius. Maaf Mauris, bukannya Tante mau mengadu. Tapi, semua hal sudah dilakukan oleh Sarah untuk bisa lebih dekat dengan Darius. Tapi, hiks..." jelas Ibu Debora dengan nada menangis namun tidak mengeluarkan air mata.


Mauris lalu mengelus pelan punggung wanita paruh baya itu.


"Maafkan ketidak tahuan saya, Tante. Nanti saya akan menegur Darius dan sepertinya kita harus mempercepat rencana pertunangan juga kalau perlu pernikahan Darius dengan Sarah...," jelas Mauris.


Ibu Debora mengusap pipinya yang bahkan tidak terkena air mata sama sekali. Lalu dia meraih tangan Mauris dan menggenggamnya erat.


"Itu ide bagus, nak. Tante sangat setuju...," jawab Ibu Debora dengan senyum lebar dan puasnya.


Disisi lain Kinanti sedang berada di pantry dan baru akan meminum teh yang dibuatnya, ketika dia merasa sangat sakit di bagian dadanya.


Prang...


Suara gelas yang pecah dan Kinanti sudah jatuh terduduk sambil memegangi dadanya yang terasa sangat sakit.


"Akh. Kenapa lagi ini?" gumam Kinanti dengan terus memegangi dadanya.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2