#TanpaNama : Akhir Perjalanan

#TanpaNama : Akhir Perjalanan
16.


__ADS_3

"Halo Ras." sapa Kinanti dari sebuah sambungan telepon.


"Kinan." teriak Rasti.


"Kinan, gimana kabar kamu? Ntar sepulang sekolah, aku ke rumah ya. Aku mau nengokin kamu." ucap Rasti dengan semangat dan nada sendunya.


"Nggak usah Ras, soalnya aku masih ada di villa. Baru pulang besok. Oh ya Ras, makasi banyak ya. Kamu sama teman - teman dan juga Bapak pengawas perkemahan udah nyelametin aku dan bawa balik ke camp kita." ucap Kinanti.


"Ohhh, sama - sama Kinan. Trus - trus, gimana kondisi kamu sekarang? Kaki kamu masih sakit? Luka lecet atau ada luka yang lain?" jawab dan tanya Rasti.


"Kaki ku udah mendingan Ras, kalau luka lecetnya udah mulai kering. Tinggal sakit - sakit di badan aja yang masih lumayan. Oh iya Ras, waktu sebelum tim kamu menemukanku. Apa kamu melihat kakak laki - laki yang menghampiri kalian?" jelas dan tanya Kinanti.


"Oh, syukurlah Kinan." jawab Rasti, sambil kemudian terdiam sesaat berpikir untuk memberi jawaban atas pertanyaan Kinanti.


"Maksud kamu, lakak tinggi, kurus, putih, ganteng, mata coklat dan rambut lurus itu kan? Visualnya udah kayak vampir Kinan. Hehehehhe. Iya, iya. Aku ketemu, tapi kayaknya muka kakak itu luka - luka deh. Trus, waktu ketemu timku dan juga Bapak pengawas, dia kayaknya kesakitan gitu." jelas Rasti yang sudah teringat dengan Darius.


Kinanti terlihat terkejut di balik sambungan telpon tersebut dan terdiam lumayan lama.


"Halo. Halo. Kinan. Kinan. Kamu masih disana?" tanya Rasti yang sedikit menjauhkan telinganya untuk memastikan ponselnya masih tersambung dengan Sang Sahabat, dengan melihat ke layarnya.


Kinanti pun kemudian tersadar.


"Ehhh, iya Ras. Aku masih disini. Mmmm, kakak itu sempet kasih tau namanya dia siapa nggak?" tanya Kinanti lagi.


"Mmmm, kayaknya nggak deh Kinan. Soalnya setelah ngasih tau posisi dan keadaan kamu yang terluka. Kita langsung lari ke tempat kamu dan ninggalin kakak itu di belakang. Jadi, cuman segitu aja pertemuan aku dan kakak yang nolongin kamu. Emangnya kenapa Kinan? Kamu naksir ya, sama kakak itu? Ayooo." jelas dan goda Rasti.


"Hussshh. Kita masih kecil Rasti, belom boleh ngomongin soal cinta - cintaan. Aku itu khawatir aja, soalnya bener kata kamu. Kakak itu terluka di pelipis dan wajahnya. Jadi aku khawatir, manalagi aku belum ngucapin terimakasih!" jelas Kinanti polos.


"Ohhh. Hehehheehe. Aku kira kamu naksir? Iya sih Kinan, lukanya emang lumayan banyak. Tapi, semoga dia baik - baik saja." jawab Rasti sambil tertawa tengil.


"Iya Ras. Semoga...," ucapan Kinanti terpotong tatkala di dengarnya Ibu Rasti memanggil Sang Anak.


"Rasti sayang. Ayo nak, Papi sama Opa udah nunggu di depan." teriak Ibu Rasti.


"Eh, Kinan. Udah dulu ya, sampe ketemu di sekolah. Kamu juga hutang cerita ya, kenapa kamu bisa sampe luka - luka kayak gitu? Salam buat Mama, Papa mu ya. Daa, Kinan." ucap Rasti dengan terburu - buru dan langsung memutus sambungan telpon Sang Sahabat.


Setelah selesai menelepon Rasti untuk mencari informasi soal Darius.


Kinanti kemudian bersandar di dinding ranjangnya, menatap ke jendela kamar.


"Terimakasih ya kakak yang tidak aku kenal namanya, atas pertolonganmu. Kinan jadi bisa kumpul lagi sama Mama dan Papa. Semoga, suatu hari nanti. Kita bisa bertemu lagi." gumam Kinanti.


...----------------...


Wushh...


Wushh...


Suara angin sepoi - sepoi berhembus dengan pelan di sebuah ladang rumput luas.


Terlihat seorang anak lelaki yang sedang tertidur diatas karpet hijau nan lebat tersebut.


"X." teriak seorang anak kecil dari kejauhan, ketika dilihat temannya itu sedang berbaring di atas rerumputan.

__ADS_1


Namun anak lelaki yang dipanggilnya, tidaklah bergeming. Dia terus saja berbaring.


Lalu anak yang memanggil tersebut, mendekat dengan cepat.


Dengan masih berdiri, dia memandang anak yang tertidur itu dengan heran.


"X? Hei X?" panggil anak itu lagi dan kemudian dia bersimpuh di sebelah anak yang dipanggilnya X.


Karena tidak juga mendapat jawaban, akhirnya anak tersebut mencoba menggoyangkan tubuh X. Setelah digoyang - goyang beberapa kali, namun anak tersebut tidak juga bergeming ataupun bangun.


"Dia kenapa?" pikir anak itu.


Lalu anak itu mencoba menyentuh pelipis X. Betapa terkejutnya dia akan suhu tubuh X.


"Dia demam. X, hei X. Bangun. Plak. Plak. Kamu harus bangun. Jangan bikin aku takut, X. Hiks. Hiks. Hiks." ucap anak itu dengan memukul - mukul pipi X dan akhirnya menangis, karena dia merasa putus asa.


Air matanya menyentuh pipi X, setetes demi setetes.


Lalu perlahan mata X bergerak dan juga terbuka.


Anak lelaki itu mengerjakan matanya beberapa kali, karena silau yang dirasa dan juga pandangannya yang kabur.


X juga mendengar suara isak tangis dari seseorang di sebelahnya.


Lalu dia melirik kearah asal suara itu.


"N?" panggil X dengan lemah.


Lalu isak tangis anak yang dipanggil N itu seketika berhenti, diusapnya matanya yang terus mengeluarkan air dengan suara yang sesegukan.


"Awww, heheehhehe. Ada apa N?" tanya X dengan sedikit meringis.


Lalu N segera menjauhkan tubuh dan melepaskan pelukkannya, anak itu kemudian mengusap sisa air matanya.


"Maaf, maaf X. Daritadi aku memanggil mu, Tapi kamu tidak juga menyahut dan saat aku mendekatimu, ternyata kamu demam X. Kamu sakit?" jelas N dengan suara paraunya.


X lalu mencoba bangun untuk duduk, N membantu membangunkannya.


"Mmmm, kayaknya aku baik - baik aja N." ucap X sambil memegang pelipisnya, mengecek suhu tubuhnya sendiri dan tidak dirasakan demam atau panas yang berlebih seperti kata N tadi.


Lalu N pun mengecek sekali lagi, untuk memastikan ucapan X.


"Ohhh, ternyata sudah turun panasnya. Cepat juga ya." gumam N yang sedikit bingung.


Saat sudah terduduk di padang rumput itu, X tiba - tiba melihat fokus kearah N.


N sendiri setelah mengecek suhu tubuh X, lalu sibuk mengusap sisa air matanya.


Tangan X menjulur kearah wajah N, hingga membuat anak itu terkejut.


X sedikit membelai pipi lembut N.


"N, aku rasa kamu bukan anak laki - laki." ucap X tiba - tiba.

__ADS_1


N membeku sesaat ketika mendengar ucapan X.


"Hah? Aku memang bukan anak laki - laki X. Aku ini anak perempuan." jawab N dengan nada terkejutnya.


Mata X membulat dan lalu melepas tangannya menjauh dari wajah N.


"Maaf, Maaf. Aku rasa, aku mulai bisa melihat wajahmu walau masih sedikit kabur. Sekarang coba sebutkan namamu." ucap X setelah menarik tangannya menjauh dari wajah Kinan.


"Ehehmmm. Namaku adalah Kinanti. Kamu bisa panggil aku Kinan." jawab N yang ternyata adalah Kinanti.


X pun terdiam sesaat lalu senyum terkembang di wajahnya.


"Hahaha. Hai Kinan." panggil X, yang akhirnya bisa mendengar nama Kinanti dengan tawa bahagianya.


Senyum terkembang juga di wajah Kinanti.


"Hahahahahaha. Kamu bisa tahu namaku. Berarti, sekarang giliranmu X. Tapi, kamu...Anak perempuan kan?" tanya Kinanti setelah tawa ceria juga.


"Hah? Aku ini anak laki - laki. Namaku Darius." jawab X yang sebenarnya adalah Darius, yang sama terkejutnya dengan Kinanti tadi.


"Hai Darius. Salam kenal. Hihihi." ucap Kinanti yang menjulurkan tangannya untuk berkenalan secara resmi, setelah mereka akhirnya bisa mendengar nama satu sama lain.


Lalu tiba - tiba baju mereka pun berubah sesuai dengan genre yang sebenarnya.


"Wah, Darius. Baju kita, baju kita berubah." ucap Kinan yang merasa takjub dengan semua keajaiban yang terjadi di alam mimpi.


Darius kemudian menjabat tangan Kinanti.


"Hehehehe. Salam kenal Kinan. Iya, betul. Ternyata disini banyak hal magic yang bisa terjadi ya?" jawab Darius yang juga mengagumi, alam mimpi tempat mereka selalu bertemu.


Ketika mereka baru merasa sangat bahagia, setelah berkenalan kembali. Tiba - tiba tangan Darius, perlahan mulai menghilang.


Mata Kinanti dan Darius pun kemudian terbelalak.


"Darius. Ada apa dengan tanganmu?" tanya Kinanti sambil sesekali melirik kearah tangan dan juga wajah Darius yang masih terlihat buram di matanya.


Darius sendiri juga terkejut, lalu dilepas jabatan tangannya pada Kinanti.


Dilihatnya perlahan tangan itu dan juga ternyata bukan hanya satu tangan yang perlahan menghilang. Tapi, seluruh tubuhnya pun perlahan menghilang.


"Kinan, kenapa aku? Aku mulai menghilang?" tanya Darius dengan terbata.


"Nggak. Nggak. Darius jangan, jangan pergi. DARIUS." ucap Kinanti yang awalnya pelan sambil mencoba memegang tangan Darius yang benar - benar sudah menghilang, menjadi bernada tinggi ketika dilihat anak lelaki itu benar - benar menghilang.


Kinanti kini bersimpuh sendiri di padang rumput luas itu, dengan air mata yang kembali menetes.


"Hiks. Darius. Kamu. Hiks. Kemana?" ucapnya sambil sudah menangis.


...----------------...


"Engh. Enghmmm. Nggak. Nggak. Darius. Darius. Jangan pergi. DARIUS. Hah. Hah." ucap mengigau Kinanti sambil kemudian berteriak dan tiba - tiba bangun dengan peluh yang membasahi tubuhnya.


Di keheningan malam, Kinanti kemudian meneteskan air mata dan menangis sesegukan setelah mengalami mimpi buruk pertamanya.

__ADS_1


"Hiks. Hiks. Apakah benar, Darius sudah pergi?" batin Kinanti dengan menangis sedih.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2