#TanpaNama : Akhir Perjalanan

#TanpaNama : Akhir Perjalanan
70.


__ADS_3

Ciitt...


Brak...


"Aaaaa....,"


Suara decitan rem, kemudian suara sesuatu yang ditabrak hingga suara teriakan orang terdengar jelas di telinga Dita. Kepalanya lalu menoleh dengan cepat, dengan pendengaran dan penciumannya, wanita muda itu mencoba mencari keberadaan Kei. Dita berjalan membabi buta hingga akhir tersandung pot tanaman penghias jalanan, tongkat pembantu nya terbang agak jauh, membuat tubuh Dita yang terjatuh ke depan harus menyeret kakinya agar terus dapat berjalan. Dikepalanya sudah dipenuhi oleh pikiran - pikiran tidak karuan, degupan jantungnya meningkat. Dicobanya berdiri, namun kakinya terlalu lemas dan juga gemetaran.


"Kei. Kei..," teriak Dita sambil terus mendekat kearah asal suara.


Air mata mulai menetes perlahan, lengan Dita kemudian ditahan oleh seseorang. Saking paniknya, wanita itu sampai tidak mengenali orang yang memegang lengannya secara tiba - tiba.


"Sayang, Dita. Ini aku, hah. Hah, aku. Kei...," ucap Kei dengan napas berderu dan pria itu terlihat masih baik - baik saja, namun rasa mabuknya sudah mulai menghilang.


Pria itu lalu memeluk Dita sambil bersimpuh, sedangkan Dita langsung memukul - mukul dengan keras punggung Kei. Isak tangisnya pecah, Kei terus memeluknya dengan erat. Dita memukul Kei hingga lelah, kemudian dibalas pelukkan pria kekar itu tidak kalah erat.


"Harusnya aku tau, kalau kamu bohong. Kamu masih mencintaiku, kamu sangat mencintaiku. Seperti aku yang mencintaimu, aku nggak mau ini terulang. Maaf, aku waktu itu nggak sengaja mendorongmu dengan kasar, dan melukai kepalamu. Maaf, waktu itu aku diluar kendali, karena aku cemburu dengan bajingan Jimie itu. Maaf, atas semua sikap kasarku yang tidak sengaja kau rasakan...," ucap lembut Kei yang masih terus memeluk Dita.


"Hiks. Hiks. Kei, kamu nggak pa - pa kan? Kamu nggak terluka kan? Hiks. Hiks. Kei, aku nggak mau kamu terluka. Aku, aku nggak sanggup kehilangan kamu. Harusnya aku yang minta maaf, maafkan aku sayang. Maafkan aku...," ucap balas Dita dengan tangis sesegukkanya.


Mereka berpelukan di pinggir jalanan, yang mulai dikerumuni banyak orang, setelah adanya insiden tabrakan yang terjadi.


Perlahan Kei melepas pelukannya, dilihat wajah merah Dita dan diusap perlahan sisa air mata Sang Kekasih. Kemudian Kei, yang masih 1/2 mabuk mencari keberadaan tongkat pembantu Dita.


"Cup, kamu tunggu sebentar disini...," ucap Kei yang mengecup kening Dita singkat, lalu menggeser tubuhnya sedikit untuk meraih tongkat Dita yang tergeletak ke samping tubuhnya berada.


Kemudian Kei membalik tubuhnya dan meraih kedua tangan Dita, untuk digendong dibelakang punggungnya. Dita yang masih terlihat sangat sedih dengan matanya yang mulai membengkak, pasrah dengan perlakuan Kei.


"Kita Pulang. Ayo, naik keatas punggungku...," ucap Kei yang sudah memegang kedua tangan Dita yang sudah melingkar di lehernya.


Dita pun menuruti perkataan Kei, dalam keadaan sudah 1/2 sadar pria itu membawa Sang Kekasih kembali ke rumahnya.

__ADS_1


Dita memeluk erat tubuh Kei diatas gendongan pria muda itu.


"Sayang, aku boleh menginap di rumahmu? Malam ini saja, aku akan tidur di sofa. Aku masih sedikit mabuk dan juga lelah...," tanya Kei.


Dita kemudian mengangguk cepat tanpa bersuara. Senyum lebar terkembang di wajah Kei, langkahnya bertambah cepat agar mereka bisa segera sampai di rumah.


...----------------...


Mirah dan Bima sedang berbelanja bulanan di sebuah supermarket, Bima yang berjalan di samping Sang Ibu sesekali melihat berkeliling. Mata anak laki - laki yang tahun ini berumur 7 tahun itu selalu berbinar, ketika dia berada di sekitar area buah - buahan dan juga sayur - sayuran yang segar, baik warnanya yang menyegarkan mata juga bau harum manisnya buah sangat disukai oleh Bima. Anak kecil itu kemudian menjauh dari Sang Ibu yang kebetulan sedang memilih beberapa buah, Bima berkeliling sendiri mencuci matanya.


"Heum, mereka benar - benar terlihat segar dan manis...," gumam Bima.


Ketika anak lelaki itu ingin kembali kearah Sang Ibu, mata Bima tiba - tiba terpaku pada satu sosok yang dilihatnya berdiri tidak jauh dari Sang Ibu.


"Kakak itu, dia sangat, auranya sangat kelam?" batin Bima.


Lalu Bima mencoba melihat wajah orang itu.


Saking lekatnya anak kecil itu melihat kearah sosok dengan aura kelam yang dijabarkannya tadi, Bima hingga tidak mendengar suara panggilan Mirah, Sang Ibu.


"Hei, monster kecil. Kamu kenapa bengong di situ, Nak? Ayo, Papa sudah hampir sampai...," ucap Mirah yang menghampiri Sang Anak, yang berdiri terpaku, cukup jauh darinya dan mengacak - acak rambut Bima dengan lembut.


Bima sedikit tersentak, lalu senyuman lebar anak lelaki itu terukir. Sedangkan Mirah melihat kearah pandang Sang Anak dan tidak dilihat seorang pun disana.


"Ayo, Mama. Aku juga udah laper, Papa janji mau makan di restoran Korea...," ajak Bima yang sudah menggandeng tangan Sang Ibu.


Mirah pun tersenyum, sambil mendorong trolinya dengan satu tangan dan tangan satunya menggandeng tangan Sang Anak.


"Mmm, kayaknya aku harus tanya Eyang Rendra...," batin Bima.


Siang itu, Mirah dan Bima terlihat dijemput oleh Bara. Pria muda itu masuk ke dalam area supermarket, lalu Bima berlari kearah Sang Ayah dan langsung digendong. Mirah terlihat mendorong sebentar trolinya, yang kemudian diambil alih Bara sambil menggendong Sang Putra. Mereka terlihat sangat bahagia.

__ADS_1


Hingga sosok yang dilihat Bisma barusan, menatap dengan mata tajam dan senyum miringnya.


"Hehehehe. Betul - betul keluarga kecil bahagia, tapi tidak lama lagi kalian akan merasakan kesedihan mendalam, kesedihan yang akan terus membekas di hati dan ingatan kalian...," batin sosok yang berpakaian kaos abu - abu, celana jeans, dan topi hitam yang dikenakannya.


...----------------...


Kinanti dan Andreas lagi - lagi terlihat sangat akrab di hadapan Darius yang tidak sengaja bertemu dengan mereka di lorong kantor saat pulang kerja. Darius berada di belakang mereka, dengan perlahan dan tidak sadar pemuda itu mengikuti langkah kedua teman satu divisi itu. Tawa renyah dan obrolan sangat serius terdengar sayup - sayup di telinga Darius.


"Ck, sialan. Mereka lagi ngobrolin apaan sih? Nggak begitu kedengaran. Tapi ekspresi bahagia Kinanti, baru pertama kali aku liat. Bahkan waktu kita pergi ke taman bermain, wajahnya tidak sebahagia itu saat melihat kearahku. Tapi belum begitu lama masuk divisi design, dia sudah akrab sama bajingan kecil itu. Lalu selalu terlihat sangat senang. Ck, lagi - lagi perasaan tidak nyaman itu muncul...," batin Darius campur aduk.


Andreas dan Kinanti berbelok ke arah lobi, namun tiba - tiba terdengar suara tinggi Andreas.


"Ki, kamu kenapa?" ucap Andreas yang panik.


Kinanti tiba - tiba kembali merasakan sakit di dadanya, hingga perlahan dia jatuh terduduk sambil memegang dadanya dan merasa sedikit sesak pada napasnya. Andreas yang sudah berjongkok di samping gadis mungil itu, mencoba membantu dengan memeluk tubuh Kinanti dari samping, namun tiba - tiba tiba Andreas dilepas secara paksa dan dihempas kasar oleh Darius.


Dengan sigap dan tanpa meminta ijin, Darius langsung mengangkat untuk menggendong tubuh Kinanti ala bridal style.


"Kita ke rumah sakit sekarang...," ucap tega Darius.


Namun Kinanti berusaha menolak, dia menggeliat saat berada di gendongan Darius tanpa bisa bersuara.


"Jangan gerak - gerak, kamu jadi tambah berat. Kalau kamu nggak mau nurut, saya bakal cium bibir kamu biar kamu mau diam. Pilih nurut dan diam atau saya cium?" ucap Darius sambil terus membawa tubuh Kinanti.


Kinanti yang terkejut mendengar pilihan yang diberikan oleh Darius, kemudian memilih untuk menurut dan diam.


"Ck, ini orang kayaknya punya kepribadian ganda kali ya? kadang baik, kadang jahat. Akh, sakit. Kenapa lagi ini? Kenapa lagi - lagi sakit begini?" ucap Kinanti sesaat.


Namun, Kinanti perlahan merasakan ada yang aneh. Rasa sakit dan sesaknya tiba - tiba sedikit demi sedikit menghilang, ketika dia mencoba bersandar di dada Darius selama dirinya digendong.


"Hah, kenapa bisa begini?" batin terheran Kinanti.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2