
Wajah Kei mulai khawatir, dia mondar - mandir di depan pintu rumah Dita.
"Kenapa tumben sekali, Dita nggak angkat telepon dariku?" ucap Bams yang mengubah nama menjadi Kei.
Lalu dia mencoba menenangkan dirinya dengan duduk di depan teras rumah gadis tuna netra itu.
Sambil memukul - mukul kan ujung ponsel ke pelipisnya, Kei mencoba berpikir.
"Astaga, iya. Aplikasi tracker. Dulu aku pernah menyambungkan aplikasi itu ke ponsel Dita. Jadi....," ucap sendiri Kei, sambil terus fokus mencari aplikasi yang dimaksud, lalu mencari keberadaan Dita dari ponsel miliknya.
Mata Kei membulat, ketika dilihatnya bahwa posisi Dita masih ada di tempat kursus mereka.
"Jam segini? Ngapain? Ck, aku harus samperin dia. Aku takut ada apa - apa....," ucap Kei yang merasa ada kejanggalan.
Dengan cepat pria muda itu menuju mobilnya, dengan kecepatan cukup tinggi. Kei menyibak jalanan kota yang terlihat sedikit lengang.
Beberapa menit kemudian, tibalah pria atletis itu di parkiran tempat kursusnya dan juga Dita. Suasana gedung itu sudah sangat sepi, Kei masuk perlahan. Dia mengikuti arah keberadaan Dita di ponselnya.
"Loh, disini?" ucap Kei yang lagi - lagi kebingungan setelah sampai di depan pintu ruang kelas Dita.
Ceklek...
Ceklek...
Kei mencoba membuka pintu tersebut dengan cukup kasar.
"Tapi udah ke kunci. Coba aku intip dari jendela....," ucap Kei lagi.
Lalu pria muda itu mengintip melalui jendela cukup tinggi, matanya menyisir setiap sudut ruang kelas, hingga dilihatnya Sang Perempuan ada di sudut depan ruang kelas dekat dengan sebuah jendela. Dia terlihat terduduk sambil menenggelamkan wajah diantara lututnya.
"Dita....," teriak Kei.
Bugh...
Bugh...
Dipukulnya kaca jendela tersebut dengan sangat keras, saking paniknya.
Lalu dia kembali ke depan pintu ruang kelas.
Bugh...
Bugh...
Braakk...
__ADS_1
Suara daun pintu yang beberapa kali di dorong keras dengan lengannya dan karena tidak juga terbuka, akhirnya di tendang dengan keras menggunakan kakinya.
"Dita." teriak Kei yang langsung bersimpuh dan mendorong tubuhnya dengan kedua lutut yang diseret ke lantai, menuju ke depan Dita. Tangannya mencoba memegang pelan lengan Dita.
"Hah. Hah. Siapa, siapa disana?" pekik Dita yang lalu mendongak dengan tiba - tiba, wajahnya yang sudah penuh air mata dan juga pipinya yang berdarah, menunjukkan raut ketakutannya.
Mata Kei kembali dibuat terbelalak, melihat keadaan Dita yang sangat berantakan dan juga beberapa luka di tubuh juga wajahnya.
"Ini aku Ta. Kei. Kamu jangan takut ya, dan maaf. Aku akan menggendong mu. Kita ke rumah sakit ya." ucap lembut Kei.
Dita masih menolak, dengan menggeleng dan memundurkan pelan tubuhnya dengan menyeret bokongnya.
"Nggak Kei. Hiks. Jangan ke rumah sakit. Aku, aku. Hiks. Mau pulang aja." ucap terbata Dita dengan tangis sesegukkan.
"Oke. Kita pulang, tapi aku harus gendong kamu. Sebelumnya kamu pakai ini dulu." jawab Kei yang kemudian melepas jaket Hoodie nya dan memakai kannya pada Dita, setelah dilihatnya juga baju perempuan itu sudah terkoyak hebat.
Dita tidak menjawab, dia pasrah dengan perlakuan Kei.
Pria muda itu mendekat ke arah Dita perlahan, diawal Dita terkejut dan masih sedikit menolak. Lalu dengan sangat lembut Kei mengambil tangan Dita dan mulai menyampirkan tangan kurus perempuan itu, di lehernya dan perlahan diangkat tubuh Dita.
Kei lalu membalik tubuhnya, untuk segera melangkah keluar. Langkahnya terhenti ketika dilihatnya, tongkat pemandu Dita yang teronggok di bawah meja deret pertama kelas itu.
"Ta, lebih erat pegangan tangan kamu di leher ku ya. Aku mau ambil tongkat kamu dibawah. Supaya kamu nggak jatuh." ucap Kei pada Dita.
Perempuan itu kemudian mencoba lebih erat memegang leher pria muda itu.
Setelah berhasil, dia membetulkan posisi Dita juga melipat tongkat itu.
Lalu dia melanjutkan perjalanannya menuju tempat parkir di basement.
"Kei. Tubuhnya hangat, wangi tubuhnya juga lembut. Ternyata, tubuhku bisa menerimanya. Aku pikir, tubuhku akan menolaknya." batin Dita sambil kemudian membaringkan kepalanya di dekat leher Kei.
Debaran jantung Kei tiba - tiba meningkat akibat tingkah Dita saat di dalam gendongannya, namun dia berusaha mengontrol diri.
"Tenang Bams. Tenang. Jangan, jangan gugup. Ta, siapa yang ngelakuin ini semua sama kamu? Liat aja, aku bakal cari itu orang." batin Kei saat melihat Dita sudah tertidur di dalam gendongannya.
...----------------...
Mobil Kei berhenti tepat di pinggir jalan dan juga di depan pagar rumah Dita.
Dilihatnya sesaat wajah perempuan itu. Lalu dengan perlahan diambilnya tas yang dibawa Dita tadi, untuk mencari kunci di setiap pintu rumah perempuan muda itu.
Setelah mendapatkannya, Kei lalu keluar mobil dan membuka semua akses pintu rumah.
Pria muda itu kemudian kembali lagi ke mobil, untuk membawa tubuh lelah Dita untuk masuk.
__ADS_1
Setelah sampai di dalam rumah Dita, Kei lalu membaringkan perempuan muda itu ke ranjangnya. Dia kemudian mencari baskom dan juga air bersih untuk membersihkan bagian wajah dan juga tangan Dita yang berdarah.
Sedangkan Dita masih tertidur pulas. Dengan perlahan, Kei mengusap tangan dan wajah perempuan itu. Lalu mengobati luka - lukanya.
Setelah itu dia duduk dibawah tempat tidur Dita, dipandangi wajah lelah perempuan itu tanpa berkata apapun.
Hingga akhirnya Kei pun merasa lelah dan tertidur di samping Dita.
"Engh. Hiks. Hiks. Pergi. Pergi. Hiks. Jangan, jangan sentuh. Hah, hah, tolong." tiba - tiba terdengar suara mengigau Dita sambil memegang erat seprai di kedua sisi tangannya.
Kei kemudian juga terbangun, akibat tingkah Dita.
"Dita." ucapnya parau dan matanya yang masih memicing.
Lalu dia berdiri dengan lututnya, guna melihat keadaan wanita itu.
Dilihat wajah dan leher Dita sudah penuh akan keringat.
"Dia mengigau dan panas...," ucap Kei setelah juga menempelkan punggung tangannya pada pelipis Dita.
Lalu dengan cepat dia mencari obat penurun panas di kotak P3K, yang terletak di dinding kamar Dita.
"Ck. Nggak ada lagi. Nggak mungkin juga aku pergi ninggalin dia buat beli itu obat. Selain kompres, Apa tindakan paling cepat agar panasnya turun?" ucap sambil berpikirnya Kei.
Lalu terbersit sebuah ide. Pria itu kemudian kembali kearah ranjang Dita.
Dipandangi sesaat wajah Dita yang mulai memerah dan masih juga menggeliat diatas kasurnya.
"Ta, maafkan aku. Kalau nanti kamu bangun dan langsung membenciku karena ini. Aku akan terima, aku bisa menjagamu dalam diam. Seperti beberapa tahun sebelumnya. Aku hanya mau kamu panasmu turun dan segera siuman." ucap Kei dihadapan Dita.
Lalu dia segera membuka kaos hitam yang digunakannya, hingga dia sudah bertelanjang dada.
Dada bidang, otot kekar dan perut roti sobeknya pun sudah terekspose.
Lalu perlahan dia juga melepas jaket hoodie dari tubuh Dita, sehingga baju terkoyak perempuan itu kembali terlihat jelas.
Dengan gerakan memutar, Kei kemudian menaiki ranjang Dita di sisi satunya. Dibaringkan perlahan tubuh kekarnya di sebelah Dita, dengan digeser perlahan juga tubuh Kei.
Lalu satu tangannya diangkat dan diletakkan dibawah kepala Dita, dibuat menjadi bantalan kepala perempuan itu.
Dengan gerakan perlahan pula, dia mulai memeluk Dita dengan tangan satunya sambil mengelus agak cepat di punggung gadis itu. Wajah Dita sudah tenggelam di dada Kei.
Dengan masih mengeluarkan beberapa suara mengigau.
"Semoga dengan cara ini, panas tubuhnya turun." doa Kei.
__ADS_1
Dia terus memeluk perempuan tuna netra itu dengan erat hingga kembali, Kei tertidur di samping Dita dalam posisi berpelukkan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...