
Ibu Debora menggeleng sesaat, lalu menghela napas panjangnya. Kemudian dia kembali memakai kacamata baca yang sempat dilepasnya.
"Suruh Kevin menemui saya...," ucap Ibu Debora yang tidak relevan dengan pertanyaan dan permintaan Grace.
Grace sangat bingung, namun dia pun mengerti dengan permintaan Sang Majikan. Setelah berpamitan, sambil kembali menunduk sesaat, gadis tomboi itu kemudian keluar ruangan. Dia berjalan kearah sebuah lorong yang terlihat di ujungnya, Kevin sedang menunggu dengan agak cemas.
"Kev, kamu dipanggil Nyonya..," ucap Grace.
Kevin kemudian membenahi pakaiannya dan mengangguk sesaat pada Grace, tanpa berkata apa - apa Kevin langsung berjalan dengan tegap ke ruangan Ibu Debora. Sesampainya di depan pintu besar ruangan wanita angkuh nan sombong, diketuk pintu itu sebanyak 3 kali. Hingga suara Ibu Debora yang mengijinkan masuk pun terdengar. Kevin masuk perlahan dan berjalan perlahan sambil kemudian menundukkan kepalanya.
"Selamat Siang Nyonya...," sapa Kevin.
"Saya langsung saja, Grace tadi menemui saya dan melaporkan keadaan Sarah dengan segudang masalahnya, terutama emosi. Lalu dia meminta saya untuk menukar posisi kamu dan Sulaiman untuk menjadi pengawal Sarah. Kamu tau kesalahan kami sebelumnya kan Kevin?" jelas dan tanya Ibu Debora dengan posisi bersandar di dinding kursinya, sambil memandang kearah Kevin dengan wajah datarnya.
"Saya tau, Nyonya...," jawab singkat Kevin.
Ibu Debora kemudian mengangguk sesaat dan menarik selembar kertas dari alat print nya.
"Kamu baca semua isi surat perjanjian ini, kemudian kamu tanda tangan disini...," ucap Ibu Debora santai sambil menyerahkan kertas tadi ke hadapan Kevin.
Pemuda kekar itu lalu berjalan ke depan meja Ini Debora dan sudah sedikit menegakkan kepalanya, dia mengambil kertas itu dan membacanya sesaat, kemudian langsung menandatanganinya.
Setelah itu diserahkan kembali kertas perjanjian itu ke hadapan Sang Majikan.
Senyum lebar terkembang di wajah Ibu Debora yang melihat Kevin yang langsung menandatangani kertas yang diberikannya, tanpa banyak bicara.
"Oke. Mulai besok kamu dan Sulaiman bertukar posisi dengan Grace dan temannya. Ingat Kevin, kamu kini berada dalam pengawasan saya dan juga terikat oleh perjanjian ini...," jelas dan ingat Ibu Debora dengan wajah seriusnya.
Kevin yang sedaritadi terus menunduk pun, mengangguk perlahan dan menjawab dengan suara tegasnya,
"Saya mengerti, Nyonya. Terimakasih banyak...,"
Ibu Debora kemudian memerintahkan Kevin untuk keluar dari dalam ruangannya. Pria bertubuh besar dan kekar tersebut keluar secara perlahan dari ruang kerja Ibu Debora, setelah menutup pintu yang banyak dihiasi oleh ukiran, pemuda itu menghela napasnya karena merasa sangat lega.
__ADS_1
"Kini, aku bisa ada di dekatmu lagi, Sarah. Aku akan menjagamu dengan nyawaku...," batin serius Kevin yang kemudian berjalan dengan senyum cerahnya meninggalkan lorong rumah megah keluarga Adyatama.
...----------------...
Mauris sedang memilih baju di Sabtu sore itu, pria tampan itu memiliki janji makan malam dengan Regina juga kedua orang tuanya. Saat dia sedang bersiap dan menyemprotkan parfum ke sekujur tubuhnya, tiba - tiba terdengar suara memanggil dari Sang Majikan, Reo.
"Mauris, oh Mauris...," panggil Reo.
Seketika Mauris memutar bola matanya, kemudian dipejamkan kedua mata birunya.
"Master...," jawabnya.
"Hehehehe. Kau kelihatan sangat sehat, makanan terakhir yang kau berikan pada sebagian jiwaku yang ada padamu sangat puas, namun kenapa ya, Mauris akhir - akhir ini ada perasaan aneh yang melintas di jiwaku? Perasaan yang tidak bisa aku jabarkan? Apakah sekiranya kau tahu? Ah, iya. Terutama, ketika kau ingin menemui Si Anggun nan cantik, Regina Damika...," cecar Reo.
Degh...
Degh...
Debaran jantung Mauris meningkat. Wajahnya yang tertunduk juga tubuhnya yang bersimpuh hanya karena mendengar suara, Reo pun mulai bingung dalam tunduknya.
Kemudian terdengar tawa terbahak seantero kamar pria kaya itu.
"Hahahaha. Hahahaha. Mauris, Mauris. Ckckck, ini kali kedua kau gugup saat menjawab pertanyaanku sayang. Heum, baiklah Mauris, aku harap itu hanya perasaan tidak jelas yang kebetulan melintas dan aku harap tidak ada perasaan itu lagi yang akan mengganggu waktu semediku. Aku tidak mau, membuang - buang energiku, bertelepati denganmu hanya untuk urusan tidak penting seperti ini. Ingat kata - kataku Mauris, jika perasaan itu ku rasakan kembali. Jangan salahkan aku, gadis anggun kesayanganmu itu akan ku habisi hingga tak bersisa...," jelas Reo yang terlihat sangat marah, dari kata - kata yang digunakannya.
Mauris pun kemudian memejamkan matanya, sambil semakin menundukkan kepalanya.
"Maafkan hamba, Master. Hamba bersalah. Hamba berjanji, akan menebus semua ketidak nyamanan yang Master rasakan juga dosa yang telah Hamba lakukan dengan santapan lezat lainnya...," ucap janji Mauris.
Kembali suara tawa terbahak Reo terdengar memenuhi seluruh ruang kamar Mauris.
"Aku sangat menantikannya, Mauris...," ucap Reo yang kemudian menghilang, tanpa berpamitan sama seperti ketika dia datang.
Mauris yang sudah tidak merasakan aura kehadiran Sang Majikan. Dari posisi bersimpuh, Mauris lalu perlahan merubah duduknya menjadi bersandar di sisi ranjangnya.
__ADS_1
"Bagaimana caranya, agar rasa aneh hilang? Atau agar Reo tidak bisa merasakannya, karena perasaan ini muncul ketika aku bersama Regina? Dia juga bisa membaca pikiran dan hatiku? Jiwanya yang ada di dalam tubuhku dan sudah bercampur dengan jiwaku, itu kuncinya. Namun, jika aku ingin membebaskan diriku sepenuhnya dari Reo. Nyawaku dan Darius terancam. Regina, dia juga bisa menyakiti Regina. Akh, sialan...," ucap Mauris yang mulai kebingungan, karena pria itu untuk pertama kalinya merasakan jatuh cinta pada seorang perempuan.
...----------------...
Kei yang berwajah babak belur, berjalan kearah rumah Dita dalam keadaan mabuk. Ditangannya memegang sebotol minuman beralkohol, jalannya sempoyongan. Darah segar terus mengalir dari pelipis Kei yang terluka, sehabis pria itu kalah saat tanding tinju dengan pelatihnya sendiri. Deru napas tersengal, bau alkohol menyengat serta penglihatannya yang mulai kabur menemani perjalanannya menuju ke rumah Dita. Sesampainya pria itu, di depan pagar wanita yang dicintainya itu. Kei berteriak - teriak memanggil nama Dita sambil menggoyang pagar besi rumah wanita buta itu, hingga menimbulkan suara yang sangat berisik.
"Dita. Dita. Dita keluar...," panggil Kei dengan suara lantang dan dalam kondisi mabuknya.
Dita sendiri yang baru saja keluar dari kamar mandi, sedikit terkejut mendengar namanya dipanggil dengan keras serta suara pagar besinya yang sangat berisik. Wanita itu menoleh ke sembarangan arah, kemudian alisnya berkerut. Perlahan dia mendekat kearah jendela kamarnya, untuk memastikan suara yang di dengarnya.
"Kei...," gumamnya, ketika dia sudah bisa mengenali suara itu.
Lalu Dita dengan gerakan agak cepat, keluar dari kamar dan menuju ke pintu depan rumahnya. Setelah membuka pintu depan rumah dan berjalan sedikit kearah teras, langkah Dita terhenti, ketika dia mencium aroma menyengat yang mengganggu indra penciumannya.
"Alkohol...," batin Dita yang mengenali bau itu.
"Hah, itu Dita ku. Dita, hei. Hahahaha. Ini aku, lelaki bodoh yang mencintaimu. Tapi, hahahahaha. Kau mengkhianati ku Dita, kau berpaling dariku karena lelaki lain. Kenapa Ta? Kenapa? Apa yang kurang dariku, hah? Dita Kartasasmita, jelaskan, jelaskan padaku. Hiks. Hiks...," ucap teriak Kei dari balik pagar besi itu.
Dita yang mendengar ucapan Kei, kemudian melanjutkan langkahnya, mendekat kearah pagar besi itu. Dita tidak ingin Kei, terus membuat keributan dengan menggoyang pagar itu.
Lalu perlahan dicari keberadaan tangan atau anggota tubuh Kei yang lain, untuk dipegangnya.
"Kei, Kei dengar. Aku sudah pernah bilang padamu, aku bukan orang baik. Kini, kamu tau kan, bertapa tidak baiknya aku. Jadi, tolong lepaskan aku, aku kini mencintai dan menyayangi Jimie. Menurutku, dia adalah pendamping yang pas untukku. Sebaiknya kamu pulang, jangan buat keributan lagi disini. Aku akan panggilkan taksi untuk...," ucapan Dita terhenti, tangannya pun dihempas oleh Kei, ketika wanita itu berhasil meraih wajah pria atletis itu.
"Aku tidak perlu kau kasihani, kau jahat. Kau sangat jahat. Aku bisa pulang sendiri...," ucap Kei yang kemudian berusaha berdiri, namun terdengar sesekali terjatuh dan membentur pagar besi itu.
Dita mulai khawatir, dia kemudian membuka kunci digital pagar itu melalui ponsel pintarnya. Guna mencoba mencari langkah Kei dari bau alkohol yang sangat pekat.
"Kei, Kei. Kamu nggak bisa pulang sendiri, biar aku bantu untuk memesankan taksi. Kei...," panggil Dita yang terus mengikuti langkah gontai Kei.
Namun langkah Dita terhenti ketika, dia mulai tidak bisa mencium aroma alkohol dari Kei dan kemudian terdengar suara rem sebuah mobil yang berdecit juga suara benda yang tertabrak sangat keras. Lalu teriakan seseorang sambat kencang.
Dita lalu menoleh dan berjalan dengan cepat hingga dia tersandung dan jatuh.
__ADS_1
"Kei. Kei. Nggak Kei. Kei...," teriak Dita panik sambil merangkak tidak tentu arah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...