#TanpaNama : Akhir Perjalanan

#TanpaNama : Akhir Perjalanan
22.


__ADS_3

"Welcome. Welcome." ucap Mauris sambil kemudian berdiri.


"Hai Kak Mauris." sapa seorang gadis anggun dengan rambut bergelombang pendek, dia tersenyum ramah ke arah pria muda itu.


Mauris kemudian menyambutnya sambil memeluknya sesaat, setelah sampai di hadapan gadis anggun itu.


"Bagaimana kabarmu hari ini cantik?" tanya Mauris setelah memandang wajah manis gadis berambut gelombang itu.


"Aku sangat baik kak. Kak Mauris sendiri, gimana? Vitamin yang sering aku kirim, diminum kan?" tanya balik gadis anggun itu, sembari menaikkan satu alisnya ketika bertanya.


"Hehehehe. Tentu kakak sangat baik dan bertenaga. Berkat vitamin - vitamin yang selalu kami kirimkan." jawab Mauris dengan senyum cerahnya.


Lalu setelah saling menanyakan kabar, Mauris kemudian memeluk pundak gadis anggun itu dan menghadap ke arah Darius.


"Perkenalkan Darius adikku sayang, Sarah Adyatama. Putri pertama keluarga Adyatama. Salah satu pemegang saham di perusahaan ini dan juga calon istrimu." jelas Mauris dengan sangat bangga dan wajahnya yang bahagia.


Lalu gadis itu berjalan, mendekat ke arah kursi tempat duduk Darius yang tidak bergeming ataupun berekspresi sama sekali setelah kedatangan Sarah, juga setelah mendengar penjelasan Sang Kakak.


"Hai Kak Darius. Aku Sarah, senang bisa bertemu dan berkenalan denganmu." ucap berani Sarah dengan wajah manis dan ramahnya, sambil menjulurkan tangan dengan jemari lentiknya ke hadapan Darius.


Lelaki muda itu kemudian berdiri dan sambil membenahi jasnya. Lalu tiba - tiba wajahnya ditundukkan ke depan wajah Sarah. Darius kemudian tersenyum menyeringai.


Mata Sarah berkedip - kedip karena terkejutnya dan meneguk sesaat salivanya, karena jarak wajah antara mereka sangatlah dekat. Hingga aroma napas Darius yang wangi, tercium oleh Sarah.


Namun, Darius kemudian membelokkan sedikit lehernya, kearah telinga gadis anggun itu.


"Maaf. Saya yang tidak senang bertemu denganmu dan tidak ingin berkenalan sama sekali." bisik tegas Darius dengan nada suara tidak sukanya pada Sarah.


Mata Sarah terbelalak, setelah mendengar ucapan pemuda tinggi tersebut.


Setelahnya, Darius kembali berdiri tegap dan pergi berlalu dari hadapan Sarah.


Pukkk...


"Sorry kak. Dia bukan gadis yang membuat hatiku bergetar, apalagi nafsu. Kalau kakak mau, buat kakak aja." ucap Darius sambil menepuk pelan ujung pundak Sang Kakak dan kemudian dia berjalan keluar ruangan Mauris dengan santainya.


"Darius, hei." panggil teriak Mauris.


Sedangkan Sarah yang masih membeku, perlahan di turunkan tangannya dan di kepalkan ke bawah.


"Darius Kusuma Soetanto. Kamu harus membayar semua rasa malu ku, hari ini. Aku akan membuat kamu mengemis cintaku dan bertekuk lutut padaku." batin Sarah dengan sangat emosi.


Setelah berteriak memanggil Darius dan tidak mendapat tanggapan sama sekali. Mauris kemudian berjalan kearah Sarah.


"Sarah, kakak sungguh minta maaf. Kakak tidak menyangka, Darius bereaksi tidak sopan seperti itu. Sarah?" jelas Mauris dari belakang tubuh Sarah, sambil kemudian memanggil ragu nama gadis manis itu.


Gadis cantik nan anggun itu, kemudian berbalik kearah Mauris.


"Hehehehe. Tidak apa - apa kak. Mungkin Kak Darius sangat terkejut dengan penjelasan Kak Mauris yang terlalu tiba - tiba. Mmm, kalau begitu. Aku permisi dulu ya kak. Jangan sering lembur ya. Bye Kak Mauris." ucap Sarah dengan wajah manis, senyum lebar dan tawa kecil yang menyertainya.


"Next time. Kita buat janji lagi ya. Kak Mauris janji, saat itu Darius akan bersikap baik padamu." ucap Mauris lagi, sebelum Sarah beranjak dari tempat nya berdiri.


Sarah hanya tersenyum mendengar ucapan pria kekar itu. Lalu dia berjalan melewati Mauris dan keluar ruangan dengan wajahnya yang berubah menjadi datar juga angkuh.


...----------------...


Di alam mimpi...

__ADS_1


Srraakkk...


Srraakkk...


Suara langkah kaki Kinanti menyibak rerumputan, dengan dress pink pastel favoritnya dan juga topi bulat agak lebar, gadis mungil itu berjalan ke sebuah pondok.


Dia tersenyum ketika tiba - tiba binatang seperti anjing, kelinci juga kucing dan domba yang sudah muncul dan menemaninya, semenjak kepergian Darius yang mendadak beberapa tahun lalu, dari mimpi Kinanti.


Gadis itu kemudian bermain sesaat. Setelah merasa lelah, gadis itu mendekat kearah pagar pembatas kayu area pondok tersebut, yang berada jauh di depan.


Kinanti lalu duduk diatas rerumputan, sambil bersandar di pagar kayu itu.


"Hehmmm, Darius. Apa kabar kamu? Dimana pun kamu berada, aku masih ada di sini. Kini, usiaku 20 tahun. Jika waktu di sini, sama dengan dunia nyata. Berarti sudah sangat lama kita tidak bertemu. Aku harap kamu baik - baik saja. Aku merindukanmu....," ucap Kinanti sambil kemudian menatap langit cerah diatasnya, dengan senyum tipis tergurat di wajahnya.


Di dunia nyata...


"Aku, aku merindukanmu. Darius."


Sebuah suara dengan kalimat yang sama terus terdengar ditelinga Darius yang sedang tertidur lelap di kamarnya.


"Siapa, siapa? Enghh, enghh. Siapa?" pemuda itu mengigau sambil kedua tangannya meremas seprai yang sedang ditidurinya.


Dengan alis yang bertaut dan peluh yang sudah cukup mengucur deras. Darius terus mengigau.


"Siapa?" teriaknya kemudian.


"Hah, hah." deru napas tersengal, dengan tubuhnya yang terbangun secara tiba - tiba dan membuat kedua matanya terbuka.


Lalu Darius menoleh dengan kasar ke setiap celah di kamar luasnya. Kemudian dia merasakan air matanya menetes, juga dadanya berdegup kencang.


"Ke, kenapa? Perasaan apa ini? Suara siapa itu?" gumamnya bertanya sendiri, dengan memegang dadanya yang berdegup dengan kencang, lalu mengusap air mata yang mengalir di pipinya.


Dia kemudian berjalan kearah meja kerjanya dan lalu duduk di kursi tinggi nan lebar yang selalu dia duduki.


Kriieettt...


Suara laci meja kayu itu, dibuka oleh Darius.


Terlihat selembar kain yang ternyata adalah sapu tangan berwarna peach dengan hiasan bintang juga bulan di salah satu sudutnya.


Darius memandang kain kecil itu sesaat, sebelum akhirnya dia mulai menciumi secara perlahan.


"Kenapa hanya benda kecil ini yang selalu membuat aku tenang. Juga ada perasaan rindu di dalam diriku. Tapi rindu akan apa?" batin Darius yang juga kebingungan dengan perubahan sikapnya, padahal baru beberapa waktu dia tiba di kediamannya, setelah bertahun - tahun tinggal di luar negeri setelah kejadian di masa kecilnya.


"Sepertinya, sebelum masuk kantor nanti. Aku ingin berkunjung ke villa dulu. Aku harus menenangkan pikiranku sejenak!" ucap Darius sambil memutar kursinya dan menatap pemandangan luar kamarnya yang gelap gulita.


...----------------...


"Halo. Pagi Wijaya, saya mau menanyakan soal perkembangan kerjasama kita dengan perusahaan Bara. Bagaimana?" tanya Mauris.


"Selamat Pagi Tuan. Berjalan sangat baik." jawab Pak Wijaya.


"Lalu, nagaimana tentang rencana kita? Apakah sudah bisa dijalankan?" tanya Mauris kembali.


"Tentang itu, sepertinya belum Tuan." jawab Pak Wijaya dengan sedikit ragu.


Lalu Mauris mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Maksudnya dengan, belum?" tanya Mauris dengan alis yang sedikit berkerut.


Pak Wijaya diseberang telepon, merubah posisinya dari duduk menjadi berdiri dengan satu tangan dimasukkan ke saku celana.


"Bapak Bara.Ternyata tidak seperti yang kita pikirkan selama ini. Beliau sangat cerdas, karena setelah menandatangani perjanjian kerjasama dengan kita. Beliau pun langsung bisa memenangkan tender dengan perusahan milik Ibu Yuna yang kita sendiri tidak berhasil mendapatkannya." jelas Pak Wijaya.


Dugh...


Suara tangan Mauris yang memukul atas meja, karena emosinya.


Tanpa menjawab sama sekali, dia memutar kursinya dan menatap ke luar jendela besar dibelakang kursi kebesarannya.


"Wijaya. Berarti saya harus menggunakan planning B." jelas Mauris dengan senyum miringnya.


...----------------...


Ceklek...


Suara pintu yang dibuka.


"Den Darius?" ucap Ibu Sulastri dengan wajah terkejutnya.


"Halo Bu. Ibu apa kabar?" sapa dan tanya Darius dengan senyum ramahnya.


Senyum Ibu Sulastri pun terkembang. Wanita dengan rambut yang sudah memutih sebagian itu, lalu membuka pintu lebih lebar dan kemudian mempersilahkan majikan mudanya untuk masuk.


"Kabar saya baik. Maaf Den, saya tidak tahu kalau aden mau berkunjung kemari. Aden sendiri, apa kabar? Dan juga kapan kembali kemari?" jelas dan tanya Ibu Sulastri dengan sedikit menunduk, saat berjalan masuk bersama dengan Darius.


Darius pun sedikit menoleh kearah wanita beruban itu.


"Hehehehe. Kabar saya baik Bu. Mmm, kira - kira sudah hampir 2 minggu. Tidak apa - apa Bu. Saya hanya rindu dengan, mereka!" jawab Darius, setelah dirinya sampai di depan foto keluarganya.


"Hai Mom, Dad. Aku datang lagi. Apa kabar kalian? Aku dan Kak Mauris disini, baik - baik saja." ucap Darius dalam hati, dengan memandang foto kedua orang tuanya secara lekat.


Lalu setelah puas memandang foto keluarganya, pemuda berambut lurus itu kemudian menaiki tangga untuk menuju ke kamarnya.


Namun, di anak tangga kedua pemuda itu menghentikan langkahnya.


"Bu Sulastri. Saya ingin istirahat dan mungkin akan melewatkan makan siang." jelasnya pada Ibu Sulastri yang baru akan mengikutinya hingga ke kamar.


Wanita tua itu pun mengerti maksud Sang Majikan, dia kemudian mengangguk.


"Baik Den. Jika aden membutuhkan sesuatu. Silahkan pencet bel, seperti biasa." jelas Ibu Sulastri dan berlalu ke arah lain, meninggalkan Darius yang lalu melanjutkan langkahnya hingga sampai ke depan pintu kamarnya yang tinggi dan besar.


Krrieettt...


Bunyi khas pintu kayu yang sudah berumur puluhan tahun.


Kemudian Darius menutup kembali pintu itu, dia mengumbar pandangannya ke segala arah.


"Hehmmm. Sudah sangat lama." ucap Darius sambil menarik napas panjangnya, saat sudah duduk diatas ranjang besar nan mewahnya.


Tiba - tiba dia memandang kearah gorden putih besar yang menutupi jendela kamar itu.


Lalu muncul sekelebat bayangan visual di kepalanya, hingga membuat Darius mengernyit karena merasa sedikit sakit di kepalanya.


"Akh. Apa, apa itu tadi?" ucapnya dengan suara mengerang kecilnya dan jari telunjuk yang memijit pelipisnya, karena tiba - tiba dia merasa pusing juga sakit.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2