#TanpaNama : Akhir Perjalanan

#TanpaNama : Akhir Perjalanan
13.


__ADS_3

Dengan tubuh tinggi dan kurusnya, Darius naik ke pembatas Balkon sebelah kanannya. Perlahan dia turun kearah pembatas tembok balkon ruangan yang tepat berada di bawah kamarnya, jarak antar tembok tersebut cukup jauh. Darius bergelantungan dengan satu tangannya yang memegang erat tembok pembatas kamarnya begitupun dengan satu kakinya masih bertumpu disana, dengan satu kaki dan tangannya yang berayun siap untuk melompat kebawah.


"Ya, Tuhan. Semoga berhasil." doa kencang Darius di dalam hati.


Saat Darius masih mengira - ngira arah lompatannya, tiba - tiba terlihat sorot lampu senter yang mendekat ke tempat dia sedang bergelantungan.


"Astaga, mau nggak mau?" gumamnya.


Dengan sekuat tenaga dilemparnya tubuh kurusnya, kearah tembok balkon ruangan dibawah kamarnya itu.


Dugh...


Dada Darius terhantam tembok pembatas itu dengan cukup keras. Kedua tangannya langsung memegang pinggiran tembok, dengan mata yang sempat terpejam karena menahan sakit di dadanya, dengan cepat di dorong naik tubuhnya untuk bersembunyi di balkon tersebut.


"Aaahhh. Sial, sakit banget." batinnya sambil memegang dadanya dengan satu tangannya.


Darius beristirahat sebentar, sebelum melanjutkan aksi heroiknya.


Dengan berjalan jongkok, dia kembali menunggu momen untuk bisa memanjat tembok balkon tempat dia bersembunyi dan turun tepat dihalaman samping villa tersebut.


"Eh - eh Val, kenapa sih Den Darius harus terus di kurung. Nggak di rumah, nggak di villa?" tanya seorang penjaga dengan teman satu timnya.


"Denger - denger sih, karena Den Darius sakit keras dan dia nggak boleh terlalu lama berinteraksi dengan orang luar. Soalnya bisa memperparah keadaannya." jelas temannya itu.


"Kasian banget ya, wong sugih. Tapi terpenjara. Ckckck...," ucap penjaga yang bertanya.


"Udahlah, kita lanjutin aja patrolinya. Bos besar bakal datang pagi lusa. Kita harus memperketat penjagaan, supaya Den Darius nggak bisa kabur." ajak temannya yang lain untuk kembali berpatroli dengan benar.


Mereka tidak tahu orang yang dibicarakan sudah berhasil keluar dengan mulus dari kamar mewahnya.


Darius kemudian sedikit mengintip keadaan di balik tembok tersebut, dirasa sudah aman.


Anak lelaki itu, kemudian segera melompat kearah halaman tersebut dan setelah mendarat dengan mulus. Dia berjalan pelan menyigar rerumputan halaman villanya.


Darius berjalan tidak jauh kearah tembok villa, sambil meraba - raba tembok tersebut.


"Harusnya, ada di..." gumamnya terhenti ketika saat meraba, sesekali di dorong tembok itu. Lalu benar saja, salah satu sisi tembok itu terdapat pintu rahasia yang warnanya senada dengan tembok tersebut.


"Thank's Daddy, udah mau buatin pintu ini sewaktu aku kecil dan masih berguna sampe aku beranjak dewasa." pikir Darius sambil masuk dan langsung menutup pintu tersebut dengan senyum miringnya.


...----------------...


"Selamat malam anak - anak. Bagaimana istirahat sore kalian? Apakah menyenangkan?" ucap Kepala Sekolah Kinanti dengan pengeras suara.


"Senang Pak." jawab seluruh murid dengan suara sangat bersemangat dan senyum yang terkembang di wajah mereka.

__ADS_1


"Oaaahhheeemmm. Masih ngantuk akunya." ucap pelan Rasti sambil menguap dan kemudian bersandar pada Kinanti.


Kinanti pun hanya tersenyum melihat tingkah sang Sahabat.


"Baik. Malam ini, kita akan melakukan kegiatan jejak malam. Seperti yang sudah diumumkan tadi siang, para wali kelas. Silahkan Bapak dan Ibu, untuk mengambil kertas pembagian tim." jelas Kepala Sekolah menggunakan toa.


Di Jarak yang tidak begitu jauh, ada sejumlah siswa kelas 3A yang sedang berbincang sambil berbisik.


"Nam, gimana? Kamu jadi bakal ngerjain Si Kinan?" tanya bisik seorang siswa pada seorang gadis kecil dengan rambut kepangnya.


Gadis itu kemudian bersidekap sambil menoleh ke arah kelas Kinanti yaitu 3B. Senyum miring terkembang di bibir mungilnya.


"Tentu, kalau dia satu tim denganku. Kalau tidak. Masih banyak kesempatan lain." jawabnya dengan angkuh.


Plok...


Plok...


Plok...


Tepukkan tangan kembali menarik perhatian para siswa.


"Perhatian. Setelah pembagian tim selesai, semua anak harus langsung mencari teman satu tim kalian. Bapak harap, kalian semua bisa bekerja sama dengan baik dan saling menjaga teman satu tim kalian dengan baik, juga, Bapak umumkan. Bagi tim yang bisa sampai pertama ke lingkungan perkemahan ini lagi, akan ada hadiah menarik menanti kalian." jelas kembali Sang Kepala Sekolah.


"Yeeeaaayyy."


Setelah itu, satu persatu wali kelas mulai membacakan nama - nama tim anak didik mereka.


Satu Tim terdiri dari 8 orang anak.


"Yah, Kinan. Kita nggak satu tim. Eh, kamu hati - hati ya. Soalnya satu tim sama Nami dan kakaknya, Sarah yang anak kelas 6 itu." jelas Rasti agak khawatir.


Kinanti pun hanya tersenyum, lalu memeluk pundak Sang Sahabat dengan sedikit berjinjit.


"Ras, jangan suka berburuk sangka. Lagian masih ada anak - anak lain di timku, jadi jangan khawatir ya kawan." jawab Kinanti dengan santainya.


Rasti pun hanya bisa menghela napas pendek.


"Hehm, ya udah deh. Pokoknya tetep waspada aja ya Kinan. Aku ke timku dulu ya. Semoga berhasil." ucap Rasti menyemangati Sang Sahabat.


Kinanti pun hanya mengacungkan jempolnya.


Lalu gadis kecil nan imut itu, berjalan kearah timnya yang sudah berkumpul.


Pandangan mata Sarah dan juga Nami sangat tajam saat melihat Kinanti.

__ADS_1


"Malam teman - teman dan juga kakak - kakak." sapa Kinanti ramah.


"Eh Kinan, nggak usah cengengesan gitu kamu. Nih ambil peta sama senter kamu. Awas ya, kalau kamu sampe terpisah dari kami, trus bikin kita kalah." ucap Sarah dengan angkuh juga nada mengancam, lalu melempar senter dan sebuah kertas ke arah Kinanti.


Kinanti yang tidak berhasil menangkap lemparan benda - benda yang dilempar Sarah pun, kemudian menarik napas pendeknya dan memunguti benda - benda itu satu persatu.


"Yuk guys, jalan. Tinggalin yang lambat." ucap Nami sama angkuhnya dengan Sang Kakak, sambil berjalan mendahului Kinanti yang masih memunguti senter dan juga petanya.


Kinanti kemudian dengan terburu - buru mengikuti langkah anggota timnya.


Cukup jauh mereka berjalan masuk ke dalam hutan.


Kinanti mulai merasa ada yang tidak beres, kemudian dibukanya kertas peta yang dibukanya.


"Loh, kita salah belok. Harusnya tadi belok ke kiri, sedangkan kita lurus terus." gumamnya.


"Kak Sarah, kak. Kita salah jalan. Harusnya kita tadi belok ke kiri, sebaiknya kita..." ucapan Kinanti terpotong.


"Heh, anak kecil. Diem aja kamu. Di tim ini, pemimpinnya itu aku. Ini jalan pintas. Kalau kamu protes, pergi sana. Jangan memperlambat jalan kami." bentak Sarah.


Kinanti dengan meremas peta ditangannya, gadis itu menahan emosinya.


"Kata Mama, kalau ada yang jahat sama kita. Jangan dibales dengan kejahatan juga. Jadi, aku harus sabar. Siapa tau aku yang salah dan kak Sarah yang bener?" batin Kinanti untuk menenangkan dirinya.


"Hehm, iya kak. Maaf, aku ikut kakak aja." jawab Kinanti dengan lemas.


Lalu tim mereka kembali melanjutkan perjalanan.


Mereka berjalan hingga tiba - tiba turun kabut yang sangat lebat.


Pandangan Kinanti juga para teman satu timnya mulai menurun, hingga sinar lampu senternya pun hampir tidak terlihat.


"Teman - teman? Kak Sarah? Nami?" teriak Kinanti kemudian memanggil teman - temannya.


Namun tidak ada jawaban sama sekali. Langkah Kinanti makin melambat dengan sedikit meraba - raba udara, berharap dia menemukan benda yang bisa disentuhnya.


Bukannya benda yang ditemukan, namun kaki Kinanti malah terjerembab hingga dirinya terjatuh tergelincir ke jurang kecil.


ZRRRRAAAKKK...


"Aaarrrgggh." teriak Kinanti.


"Yes, berhasil." ucap Sarah dan juga Nami dengan senyum licik mereka, setelah mendengar suara teriakan Kinanti.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2