#TanpaNama : Akhir Perjalanan

#TanpaNama : Akhir Perjalanan
08.


__ADS_3

"Aaarrrggghh. Tidak, jangan sentuh. Jangan. Pergi - pergi. Jangan sentuh aku. Hiks. Hiks." teriak Dita sambil menangis.


"Hah. Hah." lalu perempuan muda itu terbangun dengan napas tersengal dan sekujur tubuhnya penuh peluh.


"Hikss. Hiksss. Mimpi itu. Kenapa, kenapa aku harus terbayang lagi?" gumam Dita yang kemudian menaikkan lututnya hingga sejajar dengan dagu, lalu ditenggelamkan wajahnya di kedua lututnya sambil masih berderai air mata.


Dreeettt...


Dreeettt...


"Panggilan dari Kei. Panggilan dari Kei." suara ponsel Dita.


Gadis itu lalu, meraba di sisi kanan ranjangnya untuk mencari ponselnya.


"Hallo Kei." ucap Dita dengan sedikit parau, terbata dan masih tersengal.


"Hallo Ta? Kamu kenapa? Suara kamu kenapa begitu? Kamu sakit? Aku kesana sekarang ya." ucap Kei yang langsung memutus sambungan telpon, tanpa menunggu jawaban dari Dita.


"Hah, kenapa dia selalu begitu?" gumam Dita yang masih sangat lemas dan terheran dengan tingkah Kei.


...----------------...


Ting...


Tong...


Bugh...


Bugh...


"Ta. Dita. Ini aku Kei. Buka Ta. Kamu ada di..." ucapan Kei yang memekik kencang terhenti.


Ceklek...


Suara gagang pintu yang dibuka.


"Kei. Jangan teriak - teriak. Ini masih subuh." ucap Dita dengan masih lemahnya.


"Ta, kamu kenapa? Sakit? Kenapa rambutmu basah? Badanmu juga panas, kamu demam Ta. Kita, kita ke rumah sakit sekarang ya?" ucap Kei yang sangat khawatir dan memegang lengan perempuan muda itu.


"Kei. Kei. Tenang, aku nggak pa - pa. Uhhhuuukkk. Uhhhuukkk." ucap Dita yang agak menjauh setelah tidak sengaja, kulitnya disentuh oleh Kei, sambil sedikit terbatuk.


"Tuh kan, ayo, ayo. Aku an..." ucap Kei saat meraih tangan Dita terpotong.

__ADS_1


"Kei. Tolong jangan sentuh aku." pekik Dita yang langsung menepis tangan Kei dan tambah memundurkan tubuhnya.


Kei terkejut dengan reaksi Dita.


"Sorry, sorry Ta. Aku nggak ada maksud. Tapi Ta, kamu harus ke dokter. Kamu demam." ucap Kei yang sudah mengerti maksud Dita yang tidak suka disentuh.


"Ngga pa - pa. Tapi, maaf. Aku nggak suka disentuh." jelas Dita.


"Aku bilang, nggak usah Kei. Tadi aku udah minum obat penurun panas. Kamu mau minum apa? Oh iya, kenapa kamu telpon aku subuh - subuh?" jelas Dita kembali sambil kemudian berjalan ke arah dapurnya.


Pria muda itu mengikutinya hingga ke dekat kulkas perempuan muda itu, ditatap lekat Dita yang sedang mempersiapkan cangkir.


"Tadi, aku mimpi buruk soal kamu. Trus tiba - tiba, aku ngerasa nggak enak ati. Makanya aku coba buat menghubungimu dan benar, kamu ternyata demam. Tapi kamunya keras kepala." jelas Kei dengan kemudian membalik tubuhnya menghadap depan dan memasukkan tangannya ke dalam jaket hoodie yang dikenakannya.


"Hehehehhe. Terimakasih ya, Kei. Kamu sahabat baru yang sangat perhatian." jelas Dita sambil tersenyum.


Kei sedikit melirik kearah Dita, setelah mendengar ucapan perempuan muda itu.


"Ta. Sampai kapanpun, aku bakal jagain kamu." batin Kei yang kemudian membalik tubuhnya dan menatap Dita dengan mata sendunya.


...----------------...


"Enghh. Oaaahhheeemmm. Engh." lenguh Darius ketika akhirnya dia terbangun.


"Kak Mauris." pekiknya, ketika dilihat Sang Kakak yang sedang asik bekerja di depan laptopnya.


Mauris sedikit terlonjak, akibat teriakan Darius.


"Hehehehehe. Kamu udah bangun dek. Kenapa tidur disini?" tanya Mauris sambil tertawa kecil dan tersenyum pada Sang Adik.


Darius kemudian bangun dengan cepat dan terduduk di tempat dia tertidur tadi.


"Ohhh. Itu, itu aku bosen di kamar kak. Trusss, aku lagi nggak ada kelas hari ini. Jadi, aku mutusin buat jalan - jalan di halaman rumah. Karena capek, aku istirahat disini. Eh, malah ketiduran." jelas Darius agak terbata di awal.


Sraakkk...


Sraakkk...


Suara lembaran kertas yang sedang di benahi oleh Mauris.


"Ohhh. Kakak kira, kamu mau coba kabur, keluar rumah. Soalnya baju kamu terlalu rapi, kalau hanya mau jalan - jalan di halaman rumah saja." jelas Mauris yang sudah dalam posisi duduk santai dengan bersandar di dinding sofa.


Darius meneguk saliva dan sedikit menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, untuk menutupi rasa gugupnya.

__ADS_1


"Hahahaha. Kak Mauris ada - ada aja. Mana bisa aku keluar tanpa seijin kakak? Hahahaha." ucap Darius dengan sedikit tertawa.


"Oke. Baguslah, kalau kamu sudah tau peraturan dari kakak. Darius, kakak cuman mau yang terbaik buat kamu. Kakak cuman mau kamu sembuh dulu dan bisa hidup senormal mungkin, seperti dulu." jelas Mauris dengan wajah seriusnya.


Darius kemudian tertunduk sambil memainkan jemarinya.


"Aku nggak akan bisa sembuh kak. Kakak sudah tau itu, karena ini bukan penyakit biasa. Ya kan kak?" ucap Darius dengan sangat pesimis.


"Darius. Tolong, jangan bilang seperti itu. Kamu harus tetap optimis dan semangat, karena kakak masih terus mencari obat paling ampuh buat kamu. Di tangan kakak, nggak ada penyakit di dunia ini yang nggak ada obatnya. Ngerti?" jelas Mauris yang sudah mendekatkan wajahnya ke wajah Sang Adik dengan nada tegas juga lumayan tinggi.


"Terimakasih kak." ucap Darius dengan tersenyum dan kemudian meraih juga menggenggam tangan Mauris.


Mauris pun membalas senyuman Sang Adik.


"Oh iya. Tadi, pas kamu tidur kamu menyebut nama N, sambil tertawa senang. Kamu mimpi apa sebenarnya?" tanya Mauris lagi.


"Ohhhh. Iya, aku lupa cerita ke kakak. Aku punya teman baru.Tapi aku bisa ketemu dia hanya di mimpi, namanya N. Dia laki - laki kak." jelas Darius yang sangat bersemangat.


Mauris kemudian mengerutkan dahinya, sambil berpikir. Kemudian di tepuk pundak Sang Adik.


"Darius. Darius. Hahahaha. Itu teman khayalan, kamu namanya. Lalu, sudah berapa lama kalian berteman?" ucap Mauris sambil tertawa kecil.


Darius bingung dengan tanggapan Sang Kakak.


"Teman khayalan? Apa itu Kak?" tanya kembali dengan wajah bingungnya Darius, tanpa menjawab pertanyaan Sang Kakak, sambil melepas genggaman tangan Mauris.


Mauris kemudian duduk menghadap keluar gazebo dan menarik napas pendek.


"Teman khayalan, mereka tidak nyata. Kamu yang menciptakan mereka, karena kamu sangat ingin memiliki teman. Hingga di kepalamu terciptalah N, untuk kamu jadikan teman. Kamu juga sudah men setting tempat bertemunya adalah alam mimpimu. Untuk sekarang, kamu masih bisa berteman dengannya. Tapi nanti ketika kamu beranjak dewasa, kamu tidak akan memerlukan dia lagi dan perlahan dia akan menghilang. Seiring kamu mulai melupakannya." jelas Mauris sambil kembali berbalik dan berjalan pelan ke arah Darius, lalu mengelus puncak kepala anak lelaki itu.


Darius mendengarkan dengan seksama penjelasan Sang Kakak


Namun, di dalam lubuk hatinya paling dalam anak lelaki itu tidak setuju.


"N. Bukan khayalanku. Aku tidak pernah berkhayal ingin memiliki teman, karena kakak bilang aku tidak perlu seorang pun teman. N hadir begitu saja di mimpiku. Dia, benar - benar manusia. Bukan khayalan!" Batin Darius.


Setelah memberi penjelasan pada Sang Adik, Mauris kemudian berdiri dan berjalan kearah jendela gazebo sambil memasukkan satu tangannya ke dalam saku celana.


"Darius. Kakak mengerti, kamu pasti kesepian, sedih dan bosan harus ada di rumah terus. Semenjak kejadian waktu itu. Kakak hanya ingin yang terbaik untukmu. Selama obat untukmu belum di temukan.Kamu tidak boleh bertemu dengan banyak orang. Apalagi sampai berinteraksi dengan mereka. Nyawamu adalah taruhannya. Kakak harap, kamu mengerti kekhawatiran juga ketakutan kakak selama ini." jelas Mauris yang kemudian berbalik ke arah belakang tempat Darius terduduk, untuk memandang wajah Sang Adik dengan mata sendunya.


Darius yang mendengar ketulusan dari kata - kata Sang Kakak pun, kemudian tersenyum dengan cahaya matanya yang berbinar.


"Hehmmm. Maafkan keegoisanku ya, Kak." ucap Darius sambil menghela napas pendeknya.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2