#TanpaNama : Akhir Perjalanan

#TanpaNama : Akhir Perjalanan
58.


__ADS_3

Kinanti yang tertidur masuk ke alam mimpi, seperti biasa dia melihat pondok juga semua peliharaannya. Lalu gadis mungil itu teringat akan kejadian sebelumnya, dimana dia diserang oleh seekor domba peliharaannya. Kinanti berjalan kearah hulu sungai, melewati hutan pinus lalu beberapa pohon besar. kala itu sinar mentari bersinar terik seperti biasanya.


"Iya, ini dia domba waktu itu. Cahaya terang yang sempat aku lihat itu, darimana asalnya ya?" gumam penasaran Kinanti.


Saat dia sedang melihat mayat domba yang sudah tersisa tulang belulangnya saja, dari arah hutan tiba - tiba terdengar sebuah suara gemerisik. Kinanti agak terkejut saat mendengar suara itu, jantungnya terpacu dengan cepat dan yang lebih membuat dia terkejut adalah kalung pemberian Sang Eyang Buyut yang tiba - tiba bersinar dan melayang. Kalung itu seolah ingin menunjukkan sesuatu pada Kinanti. Selain melayang, kalung itu juga menarik - narik leher Kinanti, karena tidak merasa nyaman akhirnya gadis itu mengikuti arahan benda emas yang terus melayang. Dia mulai berjalan perlahan, menyibak beberapa dahan pohon yang sangat rimbun. Jalan yang dilalui cukup jauh masuk ke dalam, hingga sebuah sinar sangat menyilaukan menghentikan langkahnya. Matanya sempat terpejam sesaat, sebelum akhirnya sesuatu yang lembut menyentuh pipi meronanya.


Perlahan dicoba membuka satu persatu kelopak matanya, betapa terkejutnya Kinanti akan pemandangan yang dilihatnya.


Ada banyak pintu berwarna putih berjajar di hadapannya dan masing - masing diantaranya mengeluarkan suara - suara yang berbeda - beda.


Kinanti bingung, sedikit takut namun penasaran. Dia mencoba melangkah perlahan ke salah satu pintu itu. Namun saat akan mencoba membuka gagangnya, ada suara bergema yang menahan gerakannya.


"Jangan. Jangan sekarang...," ucap suara bergema itu.


Kinanti seketika menoleh ke belakang dan tidak dilihatnya siapapun, karena memang hanya ada dirinya seorang.


"Siapa? Siapa disana?" tanya Kinanti berteriak dengan berani.


Namun tidak ada jawaban. Lalu gadis itu kembali menghadap kearah pintu di depannya dan dicoba lagi untuk membuka gagang pintunya. Lagi - lagi suara itu menahannya.


"Tidak, bukan hari ini. Kau harus bertemu dengannya, baru bisa masuk kesana...," ucap agak panjang suara itu.


Kinanti kini bukannya takut, namun kesal juga rasa penasaran yang sudah menyelimuti batinnya. Lalu dia berbalik dengan wajah kesal dan alis yang berkerut.

__ADS_1


"Hei, yang disana. Aku tidak mengerti maksudmu, siapa? Siapa yang harus aku temui? Kenapa juga aku tidak boleh membuka pintu ini? Semakin kamu larang, semakin aku penasaran...," jawab Kinanti dengan nada kesalnya.


Kini bukan suara yang terdengar, namun lagi - lagi cahaya putih yang datang. Mata Kinanti kembali terpejam karena silaunya.


"Gadis kecil, kau akan tau semua rahasia di balik pintu itu jika waktunya sudah tiba. Orang yang kau cari, ada di dekatmu. Cepat, kenalilah dia...," ucap suara itu lagi, kini lebih lembut.


Baru Kinanti akan menjawab dengan membuka mata, ternyata dia sudah kembali ke dunia nyata dan sedang terbaring di ranjang empuknya.


"Hah, ternyata mimpi. Ck, kali ini benar - benar buat aku penasaran...," gumam Kinanti kesal dengan menghela napasnya sesaat dan kemudian dia mencoba untuk bangun, namun saat dia meraba sisi ranjang satunya. Dia terkejut, ternyata Sang Adik sedang tertidur pulas.


"Cih, dasar monster kecil. Kapan masuknya kamu, heum?" bisik pelan Kinanti sambil mencubit lembut pipi Bima.


Disaat yang bersamaan, Bima pun mengigau.


Kinanti sempat terkejut sesaat, namun kemudian dia tidak menggubris ucapan Sang Adik.


"Segitu sayangnya kamu sama kakak, dek. Sampe kebawa mimpi segala...," bisik Kinanti lagi yang mengira ucapan Bima itu hanya ucapan asal semata, karena pemuda cilik itu sedang tertidur pulas. Kinanti kemudian mengecup kening Sang Adik singkat, lalu kembali membaringkan dirinya dengan perlahan dan mengelus rambut Bima sesaat, sebelum akhirnya gadis itu kembali tertidur.


...----------------...


Darius sendiri baru saja terlelap, kemudian dirinya langsung masuk ke alam mimpi. Dirasa ada yang berbeda kali ini, dia membuka mata dan kini dirinya sudah berada di area pondok Kinanti. Darius lalu bangun dengan cepat.


"Ini, ini kan pondok gadis itu. Iya, aku bisa ke sini ternyata, tapi kenapa baru sekarang? Akh, sudahlah yang penting aku harus mencari gadis itu. Siapa dia sebenarnya?" ucap Darius penasaran.

__ADS_1


Pemuda itu lalu mengelilingi area pondok itu, sesekali juga dirinya di dekati oleh hewan peliharaan Kinanti. Beberapa kali juga dia mencoba membuka pintu pondok, namun tidak bisa. Hingga dia sedikit merasa frustasi, lalu Darius duduk di anak tangga teras pondok.


"Hah, sekalinya udah disini. Eh, gadis itu malah nggak ada. Pintu pondok ini pun tidak bisa terbuka. Kenapa sebenarnya? Apa aku coba mencari ke tempat area hutan?" ucap Darius.


Lalu dia berdiri dan dengan cepat mencoba peruntungannya ke area hutan pinus di dekat pondok itu. Dicoba berkeliling sesaat, hingga tiba - tiba tubuhnya melayang, Darius sangat terkejut. Dicobanya untuk turun agar bisa berpijak ke tanah, namun tidak berhasil. Bukannya turun, Darius malah dengan ajaibnya berpindah tempat ke seberang, tempat yang selalu dia datangi di setiap mimpinya.


"Bagaimana, anakku? Apakah kau sudah bisa mengingatnya?" tanya sebuah suara yang tiba - tiba terdengar, setelah tubuh Darius kembali berpijak di tanah dengan sendirinya.


Darius mengerutkan keningnya, bukannya menjawab pertanyaan dari suara itu. Dia malah berlari kearah pondok karena ingin mencoba mendekati tempat itu lagi. Sayang sekali, tubuhnya langsung terbentur pembatas yang selama ini tidak terlihat.


"Akh, kenapa lagi ini? Kenapa aku malah kembali ke sini? Hei, kamu disana. Daripada menanyakan hal - hal aneh, lebih baik kamu kembalikan aku ke pondok itu. Aku ingin bertemu dengan gadis di pondok itu. Hei...," ucap Darius dengan berteriak.


Tawa bergema terdengar.


"Hehehehe. Kamu memang anakku yang paling lucu Darius. Kamu ingin mengenal gadis itu bukan? Maka dari itu, cobalah mengingatnya dulu. Begitu kau bisa mengingatnya anakku, kau akan bisa menemui dan bersamanya. Kau adalah harapan terakhirnya Darius. Jangan sampai terlambat, waktumu menipis...," ucap suara itu.


Darius kembali mencoba berkomunikasi, namun kali ini benar - benar tidak ada jawaban sama sekali. Hingga tiba - tiba sebuah angin besar menerpa dirinya, menerbangkan debu yang sangat banyak. Matanya pun terpaksa dipejamkan dan saat dia akan menahan tubuhnya, tiba - tiba pemuda itu terbangun dari mimpinya.


"Akh, mimpi aneh dan suara aneh itu lagi. Siapa yang harus aku, akh...," gumam Darius masih dalam posisi berbaring terhenti, ketika dirasa kepalanya sangatlah sakit begitupun dengan dadanya.


"Rasa sakit ini lagi, apa terjadi sesuatu dengan Kinan? Ya, rasa sakit ini selalu terkoneksi dengannya. Akh, sakit...," gumam Darius yang menggeliat diatas tempat tidurnya, kemudian tangannya mencoba meraih laci di samping ranjang. Dimana dia meletakkan obat pereda rasa nyerinya. Dibuka dengan cepat botol obat dengan tangan gemetarnya, hingga beberapa butir obatnya terjatuh ke atas tempat tidur. Lalu dengan cepat ditelan obat itu tanpa air, sambil dicoba untuk menenangkan diri.


"Kinanti. Apa orang yang dimaksud oleh suara itu adalah Kinanti?" batin Darius sambil menahan rasa sakitnya.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2