#TanpaNama : Akhir Perjalanan

#TanpaNama : Akhir Perjalanan
53.


__ADS_3

Rasti yang kebetulan berjalan kearah pantry, sangat terkejut dengan kondisi Kinanti juga pecahan gelas serta air yang berserakan. Rasti berlari kearah Kinanti yang terlihat kesakitan, sambil memegangi dadanya.


"Ki, kenapa? Dada kamu sakit? Ayo, kita ke klinik kantor. Kamu masih bisa jalan kan?" tanya Rasti yang sudah berjongkok di depan tubuh Sang Sahabat.


Kinanti hanya mengangguk, dengan keringat yang sudah mengalir dari pelipisnya.


Lalu dengan perlahan dan dibantu oleh Rasti, Kinanti pun mulai berdiri. Gadis mungil itu kemudian dipapah oleh Rasti, berjalan menuju ke depan lift. Saat pintu lift terbuka, mereka tidak sengaja bertemu dengan Darius yang baru saja datang dari bertemu dengan seorang klien. Darius terkejut dengan kondisi Kinanti, pemuda itu masih dalam panggilan telepon. Namun, setelah melihat Kinanti juga Rasti dia langsung memutus sambungan teleponnya.


"Nanti, saya telepon lagi...," ucap terakhir Darius.


Lalu disimpan ponsel ke dalam kantung jasnya dan dia langsung menghampiri Kinanti.


"Ki, kamu ke...," ucapan Darius terpotong dan tangannya pun dihempaskan oleh Kinanti.


"Saya nggak apa - apa, Pak. Tolong saya dan Rasti ijin sebentar, permisi...," ucap lemah Kinanti dengan melihat langsung ke retina mata Darius.


Bukannya menuruti permintaan gadis itu, Darius bersikeras mengambil tubuh Kinanti dari Rasti. Namun, karena merasa sangat kesakitan dan juga kesal dengan sikap keras kepala Darius.


Kinanti, mendorong tubuh Darius.


"Pak, Bapak kenapa? Tolong Pak, saya sedang dalam keadaan tidak enak badan. Hanya butuh Rasti yang menolong saya, terimakasih maksud baik Bapak. Tapi tolong sementara ini, beri saya ruang. Ini kantor Pak, tolong pisahkan antara keinginan pribadi Bapak dengan situasi di sekeliling. Saya hanya bawahan Bapak dan Bapak adakah atasan saya. Jadi sebaiknya, Bapak kembali bekerja dan sekaligus saya ijin pulang karena tidak enak badan. Sekali lagi maaf. Ayo, Ras...," jelas tegas Kinanti yang langsung menarik tangan Sang Sahabat.


Rasti yang bingung dan juga tidak enak hati melihat penolakan Kinanti yang cukup kejam pada Darius, lalu mengangguk pelan kepada Darius tanda minta ijinnya. Kedua gadis itu masuk ke dalam lift. Sedangkan Darius tertegun melihat sikap Kinanti, dia terdiam di depan lift, alih - alih kesal karena sikap Kinanti. Pemuda itu bertambah khawatir dengan keadaan Kinanti, karena sebenarnya sedari tadi pun degupan jantungnya meningkat.


"Pasti, ada yang tidak beres dengan Kinanti. Ditambah kejadian pagi tadi. Tapi, aku nggak mungkin memaksakan untuk melihat kondisinya sekarang. Nanti, nanti aku akan datang ke rumahnya langsung...," gumam Darius.


Pemuda itu perlahan menjauh dari depan pintu lift, menuju ke ruangannya.


...----------------...

__ADS_1


Dita baru keluar dari dalam rumahnya, siang itu dia akan mengisi kelas di sekolah luar biasa dekat dengan kediamannya. Saat dia baru melangkah beberapa meter saja dari depan pintu rumahnya, lalu dia mencium aroma parfum seseorang yang dikenalnya.


Senyum ramah terkembang di wajah manisnya.


"Jimie...," ucapnya.


"Wah. Memang, kamu menakjubkan Dit. Hai, selamat siang. Kamu mau kemana, siang - siang gini? Tadi aku kira, aku salah orang. Ternyata beneran kamu, ini rumah kamu?" tanya cerewet Jimie dengan senyum di wajah ramahnya.


Dita mengangguk dan kemudian dia melanjutkan jalan, sambil diikuti oleh Jimie disebelahnya.


"Aku mau ngajar, kebetulan beberapa hari yang lalu. Aku keterima mengajar di salah satu sekolah luar biasa di kompleks sebelah. Kamu sendiri, ngapain ke daerah sini?" jelas dan tanya Dita.


Dengan menyampirkan kedua tangannya, pemuda itu kemudian menjelaskan,


"Aku lagi liat - liat lokasi apartemen deket sini, karena rencananya mau pindah tempat kos biar lebih deket dari kafe. Mmm, Dit. Kamu sepulang ngajar nanti ada waktu kosong, nggak? Aku agak bingung jalan daerah sini, tadi itu sebenarnya aku agak tersesat. Untung ketemu kamu. Hehehehe...," jelas agak tengil Jimie.


"Boleh - boleh. Kenapa juga nggak pake G - Maps?" tanya Dita kemudian.


Dengan wajah malu - malu dan mengusap belakang kepalanya. Jimie menjawab,


"Kuota aku habis, Dit...," jawab pelan Jimie dengan agak tertunduk malu.


"Oh, astaga. Ya udah, aku kebetulan ngajarnya cuman 4 jam pelajaran aja. Jadi, kalau kamu nggak keberatan. Bisa tunggu di taman dekat sekolah tempat aku ngajar, gimana?" jelas dan tawar Dita.


Wajah Jimie langsung merubah sangat sumringah, dengan mengangguk cepat setelah itu menjawab dan saking senangnya, pemuda itu langsung meraih satu tangan Dita.


"Makasi, Dit. Aku bakal tunggu dengan sabar...," jawab Jimie.


Dita agak terkejut, namun dia sudah mulai terbiasa dengan tingkah spontan Jimie dipertemuan mereka yang kedua kali ini. Lalu mereka melanjutkan perjalanan hingga sampai di depan sekolah tempat Dita mengajar. Jimie pun berhenti mengikuti dan berbelok ke taman yang tepat ada di dekat sekolah tersebut.

__ADS_1


Pemuda lucu dan manis itu menunggu sambil bermain ponsel, hingga beberapa pengawal yang selalu mengikuti Dita tidak sengaja terlihat oleh Jimie.


"Siapa mereka? Kok seperti bodyguard - bodyguard di film - film. Ngawal siapa ya?" gumam penasaran Jimie.


Hingga satu diantara pengawal itu mendekati dirinya.


"Selamat siang, maaf kalau saya boleh tau, ada hubungan apa anda dengan Nona Dita?" tanya seorang berpakaian formil dan berdasi, berperawakan tinggi kurus lengkap alat komunikasi yang bertengger di telinganya.


Jimie cukup terkejut, lalu disimpan ponsel yang awalnya dipegang oleh pemuda itu. Jimie pun berdiri dengan memasukkan satu tangannya ke dalam saku celana.


"Mmm, maaf. Bapak - bapak ini, ada hubungan apa dengan Dita? Jadi, sedaritadi kalian mengikuti Dita? Memang kalian orang suruhan siapa?" cecar balik Jimie tanpa rasa takut.


Pria kurus yang berada di depan Jimie itu menghela napas pendek dan tersenyum miring. Lalu lebih mendekat kearah Jimie.


"Begini Mas, yang bertanya duluan saya. Jadi, harusnya anda jawab dulu pertanyaan saya. Baru saya akan jawab pertanyaan anda...," ucap pria kurus itu dengan menatap langsung ke retina Jimie.


Lalu Jimie mundur satu langkah sambil mengayunkan kedua tangan di depan pria itu, memberi kode agar pria itu tenang.


"Oke - oke. Slow dong, slow. Saya Jimie, saya temannya Dita. Saya disuruh tunggu disini, karena nanti sepulang kerja. Dita mau menemani saya untuk cari rumah kost - kost an baru, gitu bro. Jadi, pertanyaan saya yang tadi giliran di jawab kan?" jelas Jimie dengan gaya santainya.


Pria itupun mengangguk - angguk pelan dan bukannya menjawab pertanyaan Jimie, dia malah langsung berbalik arah. Pergi meninggalkan Jimie di belakang.


Pemuda itu terkejut dengan sikap orang itu.


"Woi, bro. Wah, nggak fair nih. Aku udah jelasin, kamu malah pergi gitu aja. UU....," ucap Jimie agak tinggi, karena merasa diperlakukan dengan tidak adil.


Lalu dia kembali ke tempat duduknya tadi, dengan hati dongkolnya. Lagi - lagi dia dikejutkan oleh kedatangan seseorang, ketika Jimie akan mengambil ponselnya. Dia menoleh, kearah belakang tubuhnya dan matanya menjadi membulat setelah melihat kehadiran orang itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2