#TanpaNama : Akhir Perjalanan

#TanpaNama : Akhir Perjalanan
48.


__ADS_3

Dita dan Kei sampai di rumah pria muda itu. Setelah pintu rumah yang megah itu terbuka, mereka langsung disambut oleh kedua orang tua Kei. Kemudian Kei mengerlingkan satu mata, pada kedua orang tuanya. Senyum cerah terkembang dari wajah kedua orang paruh baya itu.


Tangan Dita yang awalnya berada dalam gandengan Kei, lalu perlahan dilepas dan diberikan kepada tangan Sang Ibu.


"Sayang, kenalin ini Mami aku. Mam, ini Dita Kartasasmita, pacar aku." jelas Kei dengan raut bahagianya yang memandang bergantian ke arah Dita juga Ibu Manda.


Ibu Manda memegang lembut tangan Dita, lalu menjabatnya.


"Selamat Malam Dita. Perkenalkan saya Ibu Manda, senang bisa bertemu langsung denganmu...," ucap Ibu Manda memperkenalkan diri dengan senyum ramah dan nada lembutnya.


Dita pun tersenyum, sambil berusaha memperkirakan posisi Ibu Manda berdiri.


"Selamat Malam, Ibu Manda. Senang berkenalan dengan Ibu, maaf saya tidak sempat membawa oleh - oleh karena Kei memberitahu saya mendadak...," ucap Dita dengan sopan.


"Tidak apa - apa, nak. Oh iya, perkenalkan ini adalah Pak Tio. Ayah Ba...Kei, ya Kei maksud saya...," ucap Ibu Manda yang hampir keceplosan menyebut nama panggilan asli Kei.


Kei sesaat memejamkan mata, sambil mengigit bawah bibirnya ketika mendengar Sang Ibu yang hampir saja merusak semua penyamarannya.


Setelah tangan Dita dipindahkan ke tangan Pak Tio, jemari Ibu Manda meraih tangan Kei dan langsung mengucapkan kata "maaf" tanpa suara, sambil melirik kearah Sang Anak. Pria muda itu pun mengangguk dengan cepat, dia memakluminya sambil menepuk pelan pegangan tangan Sang Ibu.


Kemudian Ayah Kei pun berkenalan dengan Dita. Selesai berkenalan dengan kedua orang tua Kei, Dita kini digandeng kembali oleh Kei ke tempat makan malam mereka di dekat kolam renang rumah megahnya.


Kei membantu menarik kursi untuk wanita muda itu juga melipat tongkat pandu dan meletakkan di dekat Sang Kekasih. Setelah mengelus pipi Dita sesaat, kemudian dia duduk di samping Dita. Kei memberi tahu posisi alat makan, gelas juga jenis piring yang berada di hadapan Sang Wanita.


Kedua orang tua Kei melihat hal tersebut, mereka saling pandang. Senyum tipis terkembang di wajah Ibu Manda, wanita paruh baya itu lalu meneguk air putih yang ada di depannya.


"Dita, boleh saya tanya sesuatu?" tanya Ibu Manda, setelah meletakkan kembali gelas air minumnya.

__ADS_1


Dita kemudian tersenyum dan mengangguk.


"Tentu, Bu. Silahkan...," ucap Dita.


"Mmm, apa pekerjaan orang tuamu dan kamu punya saudara atau anak tunggal?" tanya Ibu Manda penasaran.


Kei mengerutkan alisnya sedikit. Dihela napasnya pendek.


"Mami, nanyanya udah kayak petugas sensus gitu...," tegur Kei.


Tangan Dita memegang jemari Kei, agar pria itu menahan emosi yang terdengar dari nada suaranya dan kemudian Dita tersenyum.


"Kebetulan saya seorang yatim piatu, kedua orang tua saya meninggal ketika saya berusia 8 tahun. Seingat saya, Ayah seorang kontraktor dan Bunda adalah seorang ibu rumah tangga biasa. Saya memiliki 1 orang kakak laki - laki dan kini...," ucapan Dita terhenti.


Satu tangannya yang terletak di bawah meja meremas bagian dress putihnya.


"Kini...," ucap ulang Ibu Manda.


Tangan Dita yang sedaritadi masih ada di atas punggung tangan Kei, lalu digenggam erat oleh Sang Kekasih.


Dita yang mengerti arti genggaman itu, menoleh sesaat kearah Sang Kekasih yang sudah memandanginya sedaritadi.


Ibu Manda yang melihat gerakan keduanya, lalu menoleh kearah Sang Suami. Pak Tio mengetuk - ngetukkan jari telunjuk di badan gelas lalu memandang balik kearah Sang Istri.


"Maaf, seharusnya Istri saya tidak menanyakan hal sensitif seperti itu pada Nak Dita. Bagaimana kalau kita mulai acara makan malam kita?" ucap Pak Tio menengahi ke canggungan yang sempat terjadi akibat pertanyaan Sang Istri.


Dita masih tersenyum lebar, lalu menjawab,

__ADS_1


"Tidak apa - apa Pak Tio. Saya mengerti perasaan Ibu Manda, apalagi status saya datang ke rumah ini sebagai kekasih Kei. Sudah sepantasnya jika orang tua Kei, ingin tahu asal - usul pasangan anaknya...," ucap bijaksana Dita.


Senyum bangga Kei mendengar ucapan Sang Kekasih. Sedangkan Pak Tio dan Ibu Manda, hanya tersenyum tipis, lalu memanggil para pelayan untuk segera mengeluarkan menu makan malam mereka, dengan membunyikan bel yang ada di atas meja.


Lalu satu persatu, makanan pembuka hingga penutup masuk secara bergantian. Mereka makan dengan berbincang - bincang topik ringan, disela - sela santap malam itu.


Setelah jamuan makan malam usai dan luas berbincang, Kei kemudian mengantarkan Dita kembali pulang dengan hati sangat senang.


Di depan teras rumah, Kei dan Dita berciuman mesra. Dita merasa ada yang lian dengan kekasih, ciumannya terasa cukup intens dan cukup lama.


"Hah. Hah. Sayang, terimakasih malam ini. Kamu bisa beradaptasi dengan baik terhadap kedua orang tuaku...," ucap Kei dengan deru napas tersengal, setelah melepas lumatannya pada bibir Sang Kekasih.


Dita yang berada dalam lingkaran tangan Kei yang memeluk pinggangnya, tersenyum lebar.


"Aku juga mau bilang makasi sama kamu, terimakasih karena kamu dan kedua orang tua kamu sudah mau menerima aku yang penuh kekurangan ini, menjadi orang baru yang dekat dengan kalian. Aku mencintaimu Kei...," ucap tulus Dita.


Kei langsung menyerang lembut bibir Dita, sebentar.


"Jika saja, aku tidak bisa mengontrol diriku. Aku tidak ingin pulang malam ini, aku ingin terus bersamamu, Ta. Aku ingin memelukmu sepanjang malam...," batin Kei sambil masih menyerang bibir Dita.


"Hah. I love you more then anything, sayang. Aku pamit dulu, kamu masuk ya. Aku pergi, setelah melihat kamu mengunci semua akses pintu rumah. Cup...," ucap pamit Kei dengan napas tersengalnya.


Dita kemudian mengangguk pelan. Kei kemudian keluar dari area rumah, memperhatikan Sang Kekasih yang mengunci pagar juga pintu depan rumahnya. Pria muda meninggalkan rumah Dita setelah dilihat lampu rumah wanita muda itu mati dan dilihat anak - anak buahnya yang sudah mulai melakukan penjagaan secara tersebar di sekitar area rumah Sang Kekasih.


Dita sendiri, baru akan bersiap naik ke atas tempat tidurnya, ketika ponselnya berbunyi menandakan sebuah panggilan masuk. Dia meraih keberadaan ponselnya, lalu dipencet tombol panggilan jawab.


"Halo, Selamat Malam...," ucap Dita.

__ADS_1


Tidak ada suara sesaat, hingga Dita yang baru akan berbicara lagi, namun diurungkan. Ketika di dengar sebuah suara yang sangat dikenalnya, suara itu membuat wajah Dita terkejut lalu berjalan ke pinggir ranjang untuk duduk. Satu tangannya memegang atas lututnya dengan erat, lalu agak di remas ketika beberapa ucapan yang keluar dari mulut penelepon.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2