#TanpaNama : Akhir Perjalanan

#TanpaNama : Akhir Perjalanan
93.


__ADS_3

Kisah Pelangi Rindu....


Disebuah kerajaan jaman dahulu, hiduplah seorang gadis berkasta tinggi, karena pekerjaan Sang Ayah sebagai salah seorang pejabat Kerajaan. Gadis itu bernama Berlian, dia sangat cantik, anggun, dan juga sangat pintar. Keseharian Berlian adalah selain sebagai seorang pelajar di sekolah khusus yang didirikan oleh Kerajaan, gadis itu sangat menyukai semua hal yang berbau seni, baik itu musik ataupun lukis. Berlian lebih menyukai seni lukis, hingga di rumahnya, dia memiliki sebuah area khusus tempatnya untuk bisa menyalurkan bakatnya. Jikalau dia merasa bosan, biasanya Berlian akan pergi keluar rumahnya dan mulai menjelajahi alam sekitar kotanya tinggal ataupun hingga bertandang ke kota lain. Sang Ayah selalu memberikan satu orang pengawal dan juga pelayan yang akan menjaga juga membantunya setiap hari. Hingga suatu hari, Berlian bermaksud menjual salah satu lukisannya, ke kota sebelah, karena dia mendapatkan informasi dari teman sekolahnya, seorang saudagar kaya sangat menyukai lukisannya.


"Heum, darimana dia bisa tau soal lukisanku yang itu?" tanya Berlian pada temannya itu.


"Jadi begini, beberapa waktu lalu. Ibuku bertandang ke kota sebelah untuk berjualan rempah - rempah dan kebetulan yang membeli barang dagangan Ibuku adalah saudagar itu. Ibuku lalu masuk ke rumahnya yang katanya tidak kalah megahnya dengan istana kerajaan disini, lalu hampir setiap dindingnya dihiasi oleh lukisan - lukisan yang sarat akan kisan di dalamnya. Kata Ibuku, ada satu ruangan di rumah megah itu, yang belum terpasang satu bingkai pun lukisan, karena menurut Sang Saudagar, dia belum menemukan lukisan yang pantas. Nah, kau ingat tidak, ketika pertemuan keluarga terkahir kali, ketika Ibuku melihat lukisan menarikmu itu. Lalu dia menceritakan soal lukisanmu itu dan lucunya dia langsung ingin membeli lukisanmu itu. Ini menurut pemikiranku, jika nanti lukisan untukmu itu lalu dengan harga tinggi, bahkan harganya cukup untukmu segera pergi mengelilingi seluruh penjuru kota di dunia ini, bukankah itu sangat bagus Berlian..," jelas teman Berlian yang bernama Kasturi.


Berlian pun memikirkan sesaat setelah mendengar penjelasan Kasturi.


"Baiklah. Kau berikan denah petanya padaku, agar nanti pengawalku yang mencari tahu kebenaran tempat itu terlebih dahulu...," ucap Berlian.


Setelahnya kedua teman itu menemui Ibu Kasturi, untuk mendapatkan gambar peta, tempat kediaman Sang Saudagar itu berada.


Kemudian Berlian mengutus pengawal pribadinya untuk mencari tahu informasi sedetail mungkin soal Saudagar itu.


"Lapor Nona...," ucap Sang Pengawal yang bernama Kencana.


"Bagaimana Kencana?" tanya Berlian disela - sela dirinya sedang melukis.


"Saya sudah mencari informasi tentang Saudagar tersebut. Beliau benar adanya adalah seorang Saudagar Muda yang berasal dari pulau kecil di ujung timur. Beliau memang juga suka mengkoleksi benda - benda seni, terutama lukisan dan saat ini, beliau sedang mencari lukisan yang tepat untuk sebuah kamar istimewa...," jelas Kencana sambil bersimpuh dan sedikit menunduk.


Berlian lalu meletakkan kuas lukisnya dan menatap kearah lukisan yang hampir selesai dikerjakannya. Lalu dia menatap kearah Kencana.


"Kita berangkat besok...," ucap tiba - tiba Berlian.


Kencana pun mengangguk.

__ADS_1


Berlian kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lukisan yang besok akan dibawanya.


"Akhirnya sebentar lagi, aku akan bisa berkeliling ke belahan dunia lain. Aku tidak sabar menantikannya...," ujar pelan Berlian sepeninggal Kencana.


Singkat cerita, akhirnya Berlian bersama dengan pengawal dan pelayannya sampailah di kediaman Sang Saudagar Muda itu, sambil membawa lukisan yang telah dipesan secara tidak langsung oleh Saudagar itu.


"Selamat Siang. Maaf, kedatangan saya mungkin membuat Tuan kebingungan. Perkenalkan nama saya Berlian, saya berasal dari Kerajaan Mustika...," ucap Berlian dengan gaya anggunnya dan dengan tata krama kerajaan tempo dulu.


Saudagar itu terpaku melihat wajah Berlian, bukan karena cantiknya. Namun karena, dia ternyata pernah memimpikan Berlian dengan latar dan kejadian yang sama.


"Sela - mat Si - ang. Saya Paundra. Senang akhirnya bisa bertemu denganmu secara langsung Nona Berlian...," ucap Saudagar Muda yang bernama Paundra itu agak terbata, sambil berjalan langsung kehadapan Berlian dan mengambil satu tangannya, untuk dicium punggung tangan lentik gadis itu.


Berlian merasa terkejut dengan sambutan intim yang dilakukan Paundra dan kemudian Saudagar Muda itu menggiring langsung Berlian untuk berkeliling di semua area kediamannya yang sangat luas, sambil bercerita sangat akrab.


"Kenapa aku bisa langsung akrab begini dengan pemuda ini? Dia memang memang mempesona dan tampan, tapi bukan itu yang membuat aku nyaman saat berada dekatnya dan mengobrol seperti ini. Siapa dia? Apa aku pernah bertemu Paundra sebelumnya?" banyak pertanyaan yang berseliweran di kepala Berlian.


"Silahkan, Nona...," ucap sopan Paundra sambil mempersilahkan Berlian masuk ke dalam kamarnya.


Mata Berlian sungguh dibuat sangat terkejut. Terdapat sebuah lukisan peta dunia zaman itu yang dilukis di dinding kamar. Belahan dunia yang sangat ingin dijelajahi oleh Berlian, dalam waktu dekat. Gadis itu mendekat kearah di dinding dan secara refleks mengelus - elus peta itu. Paundra yang melihat dari jarak agak jauh, lalu mendekat perlahan ke sisi samping tubuh Berlian.


"Awal minggu besok, saya akan berangkat ke sini. Jika Nona Berlian bersedia, Nona bisa ikut bersama saya dan beberapa awak kapal saya untuk berangkat menuju kesana. Saya mendengar banyak sekali...," penjelasan Paundra terpotong.


"Banyak sekali penghasil permata langka disana, juga pemandangan alam terutama lembah dan sungai indah termasyur yang diceritakan para pujangga, juga berada disana. Saya akan ikut, jika harga lukisan saya dihargai dengan tinggi...," ucap tegas Berlian.


Senyum miring Paundra terkembang. Lalu pemuda itu menjentikkan jarinya dan dari luar ruangan datanglah seorang pelayan laki - laki yang membawa sebuah baki diatasnya terdapat 3 jantung kain berwarna coklat, yang diikat oleh tali simpul rapi.


"Apa bayaran 3 kantung koin emas ini cukup? Jika tidak saya...," lagi - lagi ucapan Paundra terpotong.

__ADS_1


"Cukup, sangat cukup. Terimakasih, Tuan. Mmm, lalu tawaran Tuan. Bolehkan saya menumpang sampai ke tempat itu? Karena saya berencana menetap disana sementara waktu, sebelum nantinya saya akan menjelajah ke tempat lainnya...," ucap Berlian dengan wajah berbinarnya.


Paundra pun terkesima dengan perubahan wajah Berlian, dia pun mengangguk dengan cepat. Lalu Paundra memberitahu jadwal dan lokasi kapalnya akan berangkat.


Setelah itu, Berlian pun segera pergi meninggalkan kediaman Paundra untuk mempersiapkan diri.


Sesampainya di kediaman orang tuanya, Berlian terkejut ketika membuka pintu kamarnya, dilihat Sang Ayah sudah berdiri sambil memandangi sebuah lukisan di dekat jendela besarnya.


"Ayahanda...," ucap pelan Berlian.


Pria berjenggot putih panjang dan berwajah tua langsung menoleh sesaat kearah Berlian.


Dia kemudian kembali mengalihkan pandangannya kearah lukisan Sang Anak, sambil menghela napas panjang.


"Sampai kapan kau, mau terus melakukan perkerjaannya sia - sia melukis hal - hal aneh ini? Ayah tidak suka...," ucap Sang Ayah dengan satu tangan disampirkan ke belakang punggungnya dan satu lagi mengelus pelan jenggot panjangnya.


Berlian terlihat sangat kesal, masih berdiri di ambang pintu, satu tangannya mengepal di sisi tubuhnya.


"Sebaiknya Ayahanda keluar. Berlian sangat lelah dan tidak ingin berdebat soal apapun...," jawab Berlian yang kemudian maju sedikit dan berdiri menyamping, memberi jalan untuk Sang Ayah lewati.


Pria tua itu kemudian menatap dengan mata tajam kearah Berlian. Lalu mengibaskan jubah besar dan panjang, berjalan mendekat kearah Berlian.


"Kau tidak boleh meninggalkan tempat ini. Karena beberapa hari lagi, kau akan dipinang oleh seorang anak Sahabat Ayah. Ayah harap setelah menikah, semua mimpi dan kegiatan anehmu akan kau tinggalkan, juga derajat keluarga kita akan diangkat setinggi - tingginya, karena mereka adalah keluarga kepercayaan Sang Raja...," ucap pria tua itu, yang kemudian berlalu dari kamar Berlian.


Gadis itu mematung setelah mendengar penjelasan Sang Ayah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2