
Darius terus memandangi wajah Kinanti ketika ada kesempatan, saat selama perjalanan dirinya membawa gadis mungil itu kembali pulang. Kinanti terlihat tertidur pulas, wajahnya terlihat sangat damai.
"Aku rasa, aku memang terkoneksi dengannya. Kini setiap degupan dan terbersit rasa ragu di diriku, dadanya selalu dirasa sangat sakit. Iya, aku harus memecahkan teka - teki aneh ini. Aku tidak boleh membiarkan Kinanti merasa sakit lagi. Iya, tidak boleh...," batin Darius meyakinkan dirinya, di saat bersamaan dia mengelus pelan pipi gadis itu hingga membuat Kinanti akhirnya tersadar.
Kinanti membuka perlahan mata dan mengerjapkan sekali matanya. Lalu dia menoleh kearah Darius.
"Pak, maaf, saya ketiduran. Oh, kita sudah sampai di...," ucapan Kinanti terpotong, saat dirinya juga membenahi posisi duduknya.
"Ki, ayo kita pacaran...," ucap Darius yang memotong ucapan Kinanti dan membuat gadis itu sangat terkejut.
Kinanti membeku dengan alisnya yang agak berkerut.
"Apa? Maaf, Bapak ngomong apa barusan?" tanya Kinanti dengan bingung dan takut salah dengar.
Darius lalu memegang satu tangan Kinanti, dibawa tangan itu ke depan dadanya.
"Saat kamu kesakitan, itu karena perasaan raguku. Aku rasa semua rasa sakit di dirimu karena semua rasa raguku akan perasaanku sendiri. Tapi, sekarang aku sudah sangat yakin Ki. Aku juga tidak akan menyangkal lagi, aku menyukaimu dan menyangimu. Jadi, maukah kau menjadi kekasihku?" tanya Darius dengan nada sepenuh hatinya.
Degupan jantung Kinanti kini benar - benar meningkat, wajahnya tersipu dan matanya berbinar.
"Apa? Ini, ini bukan mimpi kan? Saat ini Pak Darius nembak aku dan dia bilang rasa sakit yang aku rasakan karena dirinya. Kenapa bisa?" batin Kinanti penuh dengan pertanyaan.
Darius sekali lagi, dielus pipi Kinanti dan membuat gadis itu tersadar dari banyaknya pertanyaan di kepalanya.
"Ki, aku nggak butuh jawabanmu sekarang. Kamu boleh mikirin ini baik - baik, aku akan sabar menanti jawabanmu...," ucap Darius yang memberi waktu pada Kinanti untuk berpikir soal pernyataannya tadi.
Kinanti menggeleng kepalanya dan kini giliran dirinya yang mengambil tangan Darius yang sedang menggenggam tangannya.
"Mari kita coba, Pak. Saya ingin mencoba menjalin hubungan asmara dengan Bapak...," jawab Kinanti dengan senyum lebarnya.
__ADS_1
Darius kemudian langsung memeluk tubuh mungil Kinanti saking senangnya, tawa kecil juga terdengar dari dalam mulutnya.
"Terimakasih, terimakasih Ki. Aku nggak janji apapun, tapi aku akan membuktikannya padamu. Aku cinta sama kamu, Ki...," ucap Darius dengan sangat tulus saat dia memeluk tubuh gadis mungil itu.
"Terimakasih juga, Pak. Saya juga mencintai, Bapak...," ucap Kinanti yang memang sudah memiliki rasa dan memendamnya cukup lama, karena tarik ulur yang selalu dilakukan Darius.
Darius sendiri kemudian melepas pelukkannya untuk melihat wajah Kinanti.
"Kalau kita lagi berdua, jangan panggil aku Bapak. Darius, cukup dengan Darius dan aku akan memanggilmu dengan panggilan sayang. Gimana?" tanya Darius.
Lagi - lagi Kinanti dibuat terkejut dengan pernyataan Darius.
"Mas, boleh saya, maksudku, Mas Darius? Gimana pun, Mas Darius lebih tua dari aku jadi...," ucapan Kinanti lagi - lagi dipotong oleh Darius, karena pemuda itu meluncur ciumannya ke arah bibir Kinanti.
"Suka, aku suka dengan sebutan itu, babe. Terimakasih...," ucap Darius ketika dia melepas ciumannya dan tersenyum lebar kearah Sang Kekasih.
...----------------...
Kevin dalam perjalanan ke rumah Sarah, karena jarak rumah Sarah dengan rumahnya cukup dekat. Kevin memutuskan untuk berjalan kaki, wajahnya terlihat sangat senang, sesekali terlihat dia membenahi dasinya juga jika dia berpapasan dengan sebuah jendela kaca - kaca toko, dibenahi sekalian tampilan rambut dan wajahnya. Hati Kevin sangat senang setelah dia kembali menjadi pengawal pribadi Sarah, ditambah gadis itu memutuskan untuk pindah dari rumah kedua orang tuanya, ke sebuah rumah kecil miliknya dengan jarak yang cukup dekat dengan rumah Kevin.
Langkah pemuda besar nan kekar itu terhenti disebuah toko bunga. Kevin memutuskan untuk membawakan Sarah sebuket bunga.
"Selamat Pagi, saya mau buket campuran Dahlia dan juga Lily juga sebuah kartu untuk saya menuliskan sebuah surat...," ucap pesan Kevin.
Seorang penjaga toko tersenyum dan langsung membuatkan pesanan pemuda cukup tampan itu, saat sudah memberikan Kevin sebuah kartu ucapan yang dengan segera dituliskan olehnya.
Senyum lebar Kevin terus mengembang di wajah dengan kulit agak sawo matangnya.
Setelah semuanya beres, Kevin kemudian meninggalkan toko bunga itu dan melanjutkan perjalanan ke kediaman Sarah. Kebetulan hari itu, dia akan menjadi pengawal satu - satunya yang menjaga Sarah, karena teman - temannya yang lain sedang mengikuti pelatihan dan juga kedua orang tua gadis itu sementara ini akan berada diluar negeri untuk urusan hutang piutang yang melilit mereka. Sesampainya di depan pintu rumah Sarah, Kevin membenahi sedikit lagi pakaiannya, memeriksa aroma napasnya dan juga mimik wajahnya harus senatural mungkin.
__ADS_1
"Pagi, bunga untukmu. Akh, klise. Selamat Pagi Nona, kebetulan saya lewat di depan toko bunga dan ini terpajang di depan etalase mereka, jadi saya membelinya. Akh, kepanjangan. Ck, Kev, gini nih, kalau nggak pernah ngerayu cewek sama sekali, apa aku...," ucapan Kevin terhenti ketika tiba - tiba saja, pintu rumah itu terbuka. Terlihat wajah manis Sarah dengan pakaian kasualnya berdiri di tepat di hadapan Kevin.
Dengan tersenyum dan bersidekap dia menuruni tangga, lalu mendekatkan wajahnya ke buket bunga yang ada ditangan Kevin.
"Aku nggak perlu kamu rayu. Aku suka semua yang kamu berikan, Kev. Terimakasih...," ucap Sarah dengan senyum cantiknya.
Kevin menjadi tersipu juga membeku. Sarah menghela napasnya, lalu agak menjauhkan wajahnya.
"Jadi, bunga ini buat aku atau...," ucap Sarah lagi membuyarkan pikiran Kevin, yang sempat membeku karena melihat wajah cantik Sarah.
"Oh iya, tentu Nona. Ini untuk...," ucapan Kevin terpotong oleh Sarah.
"Tanpa Nona. Sarah, tolong Kevin. Panggil aku Sarah dan sebelum aku menerima buket ini. Aku ingin kamu menjelaskan soal Grace, terlebih dahulu...," ucap Sarah.
Kevin terkejut dengan pernyataan Sarah. Dia kemudian mengangguk - anggukkan kepalanya.
"Grace. Dia adalah sepupuku, sepupu perempuan satu - satunya yang keluarga besarku miliki. Maafkan aku Sarah, aku telah membohongimu karena suatu alasan yang belum bisa aku katakan. Tapi aku janji, suatu hari nanti. Iya, suatu hari nanti jika waktunya sudah pas. Aku akan menceritakan semuanya. Mmm, Sarah, maaf untuk membuat kamu bingung beberapa waktu lalu, maaf karena membuatmu hampir meninggalkan dunia ini dan juga meninggalkan aku, karena sikap egoisku. Tapi Sarah, bersama dengan buket ini, bolehkan aku terus berada di sisimu? Hanya sebagai pengawal saja sudah cukup untuk...," penjelasan Kevin terpotong, karena Sarah langsung mencium singkat bibir Kevin. Mata pemuda itu terbelalak, karena terkejut.
"Selamanya, beradalah di sisiku, selamanya Kevin. Tapi, kamu tau aku sudah dijodohkan oleh salah satu anak Keluarga Soetanto, walaupun aku tidak ingin. Kevin, aku ingin kau membawaku pergi sangat jauh, sejauh mungkin agar...," kini giliran ucapan Sarah yang terpotong, karena Kevin mencium bibir Sarah singkat.
"Sarah, aku tidak mau membawamu pergi, karena itu tindakan salah. Namun, kita bisa membuat rencana pernikahanmu dimundurkan dengan sebuah rencana. Aku rasa itu lebih bijaksana, restu kedua orang tuamu penting tapi jika rencana kita gagal, baru aku akan pertimbangkan membawamu pergi, setelah aku menceritakan sebuah rahasia padamu. Deal?" ucap Kevin yang sudah memeluk pinggang ramping Sarah dan menyampingkan buket bunga yang masih dipegangnya.
Kedua tangan Sarah dikalungkan keleher besar dan kekar Kevin.
"Mmm, oke. Mari kita pikirkan rencana itu setelah....," ucap Sarah dengan pandangan nakal dan juga mengigit bibir bawahnya.
Kevin mengerti maksud gadis pujaannya itu. Lalu di kembali memiringkan wajahnya dan meraih bibir berwarna peach Sarah. Mereka saling membalas ciuman pagi hari itu yang membuat suasana sekitar, awalnya dingin menjadi hangat menuju panas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1