#TanpaNama : Akhir Perjalanan

#TanpaNama : Akhir Perjalanan
07.


__ADS_3

"Mmm, Om. Kenapa dari tadi, ngeliatin Kinan terus? Om, bukan orang jahat yang mau menculik Kinan kan?" tanya Kinan polos dan sadar sedaritadi Mauris terus memandanginya.


"Hahahaha. Kamu lucu sekali gadis kecil. Untuk apa Om menculik kamu? Kebetulan, Om juga punya adik yang mungkin umurnya tidak jauh berbeda denganmu. Oh ya, nama kamu siapa? Nama Om, Mauris." jelas dan tanya Mauris dengan tawa lepasnya.


"Kinanti. Panggil Kinan aja Om. Ohhh, syukurlah Om. Soalnya muka Om, nggak ada muka - muka orang jahat. Kata Mama, muka orang jahat itu biasanya serem - serem sama galak - galak. Sedangkan Om Mauris, ganteng. Hihihi." ucap polos Kinanti dengan tawa lucunya.


"Hehehehehe. Kinan kamu lucu sekali. Kapan - kapan, malau kita ketemu lagi? Om akan kenalin kamu, sama adiknya Om ya." jelas Mauris.


"Beneran Om? Janji ya?" ucap Kinan dengan riangnya sambil menaikkan jari kelingkingnya ke hadapan Mauris.


"Janji." jawab Mauris yang lalu menautkan kelingkingnya tanda perjanjian diantara mereka.


"Hah? Aura apa ini?" batin Mauris terkejut ketika sudah bersentuhan dengan Kinanti.


"Dia. Jangan - jangan dia?" batin Mauris kembali sambil melihat Kinanti dengan mata membulatnya.


"Kinan." panggil Bara di ambang pintu toko.


Kinanti kemudian melepas jari Mauris dan menoleh ke arah Bara.


"Papa." jawab gadis kecil itu yang kemudian berlari menghampiri Sang Ayah.


Bara kemudian menangkap gadis kecilnya dan langsung menggendongnya.


"Kamu lagi sama siapa sayang?" tanya Bara kepada Sang Anak sambil melirik sesaat kearah Mauris.


"Ohhh, itu Om Mauris, Pa." jawab Kinanti sambil sudah bergelendotan di leher Sang Ayah.


Mauris kemudian berdiri dan menghampiri Bara.


"Selamat siang Pak. Saya Mauris, saya tadi tidak sengaja tertabrak oleh Kinan.Lalu saya membantu anak Bapak untuk membawa buku - bukunya." jelas Mauris dengan senyum ramahnya sambil menjulurkan tangannya.


"Selamat siang. Saya Bara Adi Putra. Maafkan kecerobohan anak saya dan terimakasih atas bantuannya." jawab Bara sambil menjabat tangan Mauris.


"Baik Bapak Bara dan Kinan. Om duluan ya. Bye Kinan." ucap Mauris yang lalu tersenyum dan melambaikan tangan serta kemudian berlalu dari hadapan Bapak dan anak itu.


Bara dan Kinanti pun melihat kearah Mauris, hingga orang tersebut keluar dari toko buku tersebut.


Bara kemudian menatap Sang Anak kemudian.


"Hei anak kecil. Kenapa bisa nabrak orang sayang?" tanya Bara sambil menoel hidung Sang Anak.


Bibir Kinanti pun kemudian agak dimajukan dan tatapannya tertunduk.


"Maaf Papa. Habis, aku pikir daripada bolak - balik bawanya, Kinan males banget." ucap Kinanti dengan nada suara yang memelas.


"Hehm. Sayang, buku yang kamu bawa tadi. Pasti berat, Papa juga khawatir kalau kaki kamu kena gimana? Pokoknya besok - besok, nggak boleh gitu lagi. Sama satu lagi, jangan terlalu cepat percaya sama orang ya nak. Untung Om yang tadi baik, kalau ternyata jahat. Terus kamu di apa - apain gimana? Janji?" nasihat Bara pada putri kecilnya.


"Hehmmm. Iya Papa. Kinan nyesel, besok - besok. Aku bakal lebih hati - hati lagi, aku janji." ucap Kinanti sambil mengambil kelingking Sang Ayah lalu mengaitkan dengan kelingkingnya yang mungil.


Bara tersenyum melihat tingkah menggemaskan Kinanti.


"Cup. Ya udah, sekarang siapa yang mau makan kueeee?" ucap Bara sambil melirik ke Kinanti.


"AKU, aku mau." teriak gadis kecil itu dengan riangnya masih di atas gendongan Bara.


"Hahahahaha. Oke, let's go. Oh iya, sekalian sama buku - buku itu. Kita bayar dulu." ucap Bara yang kemudian mendekat kearah meja tempat Kinanti membaca tadi dan mengambil semua buku Sang Anak dengan satu tangannya.

__ADS_1


...----------------...


"Den Darius. Aden mau kemana?" tanya seorang wanita tua yang melihat Darius mengendap - endap keluar dari dalam kamarnya dan sudah sampai di ruang tamu.


"Ehehmmm. Saya, saya cuman mau jalan - jalan di halaman rumah aja Bi Rus." jawab Darius sedikit terbata dan kemudian berhenti sesaat.


Setelahnya anak lelaki itu melanjutkan langkahnya, namun kini dengan gerakan normal. Gestur tubuh Darius pun menjadi lebih santai saat keluar dari rumahnya.


"Tumben Den, bajunya rapi sekali. Kalau hanya jalan - jalan di halaman rumah." ucap curiga Bi Rus yang kemudian mengikuti langkah Sang Majikan.


Darius mengetahui kalau asisten rumah tangganya tersebut pasti akan mengikutinya.


Anak lelaki itu hanya terdiam, sambil berpura - pura menikmati suasana halaman rumahnya.


"Hehm. Tenang, tenang dulu pasti ada cara buat bisa kabur." pikir anak muda itu, sambil terus berjalan santai mengelilingi halaman rumahnya yang sangat luas.


Bi Rus pun terus mengikuti Darius dengan santainya.


Namun, kemudian langkahnya terhenti ketika alat Handy Talky ( HT ) yang dibawanya berbunyi.


"Dengan Ibu Rus. Bu, saya Pita. Di dapur ada sedikit masalah. Bisakah Ibu segera kemari?" ucap salah seorang asisten rumah tangga memanggil Ibu Rus.


"Baik. Saya akan segera ke sana." jawab Bu Rus.


Lalu wanita tua itu mematikan HT tersebut dan kembali memandang Sang Majikan.


"Den Darius. Saya tinggal dulu. Saya harap, Aden tidak keluar rumah. Karena kami semua akan kena hukum oleh Tuan Mauris, jika sampai itu terjadi." jelas Bu Rus memperingatkan majikan kecilnya tersebut.


Darius yang dipanggil sedikit menoleh kearah wanita tua itu.


Lalu Bu Rus mengangguk percaya dan kemudian berbalik arah untuk masuk kembali ke bangunan rumah utama.


Namun, sambil berjalan Bu Rus kembali memakai HT nya.


"Tolong awasi Den Darius yang sedang berada di gazebo belakang. Kunci semua akses pintu terdekat." perintah Bu Rus pada beberapa penjaga melalui HT yang dipegangnya.


Darius kemudian tersenyum cerah, begitu mengetahui bahwa Bu Rus sudah tidak ada di dekatnya lagi.


Lalu dengan gerakan agak cepat dan dia berjalan menuju ke pintu rahasia di salah satu dinding pembatas rumah megah tersebut.


Ceklek...


Ceklek...


Suara gagang yang coba dibuka dengan paksa.


"Ckkk. Akkhhh." pekik kesal Darius ketika pintu tersebut tidak dapat dibukanya, karena dirinya kalah cepat dengan para penjaga yang langsung mengunci seluruh pintu rahasia.


Wajah Darius sangat kesal dengan kening yang berkerut dan alis yang bertaut.


"Den Darius." ucap para penjaga yang tiba - tiba sudah mengelilingi anak muda itu.


Darius kemudian menarik napas dan melirik ke arah semua penjaga yang mengelilinginya.


"Den Darius tidak bisa meninggalkan rumah, tanpa ijin dari Tuan Mauris. Kami pun akan terus mengawal kemanapun Aden ingin pergi. Namun, harus sepengetahuan Tuan Mauris." jelas salah satu pengawal.


Dengan wajah lesu begitupun dengan tubuhnya yang menjadi bungkuk, Darius kemudian berjalan ke arah gazebo.

__ADS_1


Lalu ditutup pintu dan juga tirai gazebo tersebut, sesampainya dia disana.


Anak lelaki itu kemudian membaringkan tubuhnya di salah satu sofa panjang, sambil menatap langit - langit dan satu tangan yang dijadikan bantal kepalanya.


"Hehmmm. Sampai kapan aku harus terus ada di rumah ini dan pergi kemanapun, aku mau tanpa pengawalan juga tanpa ijin dari Kak Mauris?" gumam Darius sambil menutup kedua matanya dengan lengannya yang lain.


Tak lama setelah itu, karena merasa cukup lelah, Darius kemudian tertidur.


Di alam mimpi...


"Hai X." sapa seseorang dari belakang Darius.


"X?" batinnya saat mendengar nama yang tidak familiar.


"Siapa yang kamu panggil X?" tanyanya pada orang tersebut.


"Kamu. Waktu kamu memperkenalkan dirimu, aku tidak bisa mendengar namamu. Jadi, aku coba membuat sebuah nama untukmu dan menurutku, yang cocok adalah X. Karena juga, aku tidak bisa melihat wajahmu dengan jelas." ucap orang tersebut.


"Hehmmm. Benar, aku juga nggak bisa liat wajahmu dan tidak bisa mendengar namamu, ketika kau menyebutkannya." gumam Darius.


"Kalau begitu, aku juga harus memberimu julukan. Mmm, Tapi apa ya?" ucap Darius sambil berpikir.


"Mmm, bagaimana dengan N?" ucap Darius kemudian.


"Hehehehe. Boleh - boleh, lucu juga." jawab orang tersebut.


"Hai N." sapa Darius pada anak tersebut.


"Hai X. Hari ini, kita akan melakukan apa?" sapa dan tanya anak tersebut.


"Mmm, gimana kalau kita jalan - jalan disekitar sini?" ucap Darius memberi ide.


Lalu Darius jalan lebih dulu dan kemudian diikuti oleh anak yang dipanggil N tersebut.


"Bagaimana harimu, hari ini X?" tanya N.


"Hehmmm. Hari ini, aku sedikit kesal." jawab Darius.


"Hemmm, kenapa?" tanya singkat N lagi.


"Aku ingin pergi keluar rumah, namun kakakku sangat melarang." jelas Darius dengan sendunya.


"Aku ikut sedih X. Tapi X, kamu sudah berhasil keluar dari rumah loh. Lihat sekelilingmu. Kamu dan aku, kita tidak ada di rumah. Ayo sekarang, kita bermain sepuasnya." jelas N dan kemudian menarik tangan Darius untuk bermain bersamanya.


Darius dan N terlihat sangat senang. Mereka berlarian ke sana kemari, sambil tertawa riang.


Kembali ke gazebo...


"Hehehehhehe. N, hihihihi." tawa Darius dalam tidur nyenyak nya.


Tanpa sepengetahuan Darius, Sang Kakak sudah tiba dan duduk di sofa lain di dekat tubuhnya.


Mauris melirik kearah Sang Adik, ketika di dengan Darius mengigau.


"N?" gumam Mauris yang bingung dengan huruf yang terus menerus disebut oleh Darius sambil tertawa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2