
Reo sedang bermeditasi di dalam cermin, tempat dimana selama ini dia bersembunyi. Namun, saat bermeditasi ada sesuatu yang mengganggu konsentrasinya. Terdengar suara tawa ceria seseorang, suara yang ternyata pernah mengisi hari - harinya.
Masa lalu Reo...
Kahyangan kala itu begitu cerah, nampak para malaikat sibuk bekerja dan dalam situasi yang aman serta terkendali. Waktu itu Malaikat Sofia masih bekerja di administrasi Kahyangan, dia bertugas menjadi salah satu staff hubungan komunikasi antara Kahyangan dengan Surga serta Neraka. Surga serta Neraka memiliki masing - masing Perdana Menteri yang memimpin. Para Perdana Menteri tersebut diawasi oleh departemen tempat Malaikat Sofia bertugas. Para Perdana Menteri tersebut jika ingin membuat sebuah keputusan atau ingin saling berkomunikasi satu sama lain, terlebih dahulu mendiskusikannya dengan Departemen Hubungan Komunikasi atau harus didampingi oleh salah satu staff Departemen tersebut, karena perbedaan karakter dari Surga dan Neraka sehingga selalu membutuhkan penengah tiap kali para petinggi ingin berkomunikasi.
Diwaktu itu, Reo adalah Perdana Menteri Muda pertama yang dimiliki oleh Neraka. Reo sebelumnya adalah pimpinan pasukan perang Kahyangan, karena dedikasi serta ketangguhan juga sikap tegas dan disiplinnya ditambah Reo selalu bisa memenangkan setiap peperangan dengan belahan Kahyangan lainnya, membuat dirinya menjadi kandidat terkuat untuk memimpin Neraka. Dimana bagian Neraka adalah bagian paling kelam dan ricuh yang dimiliki oleh Kahyangan. Kala itu juga Reo dan Malaikat Sofia adalah sahabat sangat baik sedari mereka kecil, kedua orang tua mereka yang merupakan petinggi di Kahyangan juga berteman karib layaknya saudara. Sehingga itu menular pada Reo dan Malaikat Sofia, dari persahabatan itu mulai tumbuh rasa lebih dari sahabat ataupun saudara yaitu cinta. Namun, Malaikat Sofia menjaga jarak dari Reo karena dia terkena sebuah kutukan mematikan oleh seorang penyihir tangguh Selatan.
Kejadiannya terjadi sewaktu Malaikat Sofia kecil, ketika Ayah Malaikat Sofia yang bertugas sebagai penjaga keseimbangan Kahyangan bertugas untuk memburu para penyihir jahat agar segera ditangkap dan dimusnahkan. Ayah Malaikat Sofia bernama Malaikat Nathaniel. Ketika sedang bertugas di Selatan, Malaikat Nathaniel berhasil menangkap seorang penyihir terkuat dan mematikan, disaat akan melakukan ritual pemusnahan, penyihir tersebut berhasil menempelkan sebuah jimat yang ditujukan untuk anggota keluarga Malaikat Nataniel di salah satu bagian jubah yang dikenakannya hari itu. Saat dia sudah berhasil memusnahkan penyihir tersebut dan kembali pulang, Malaikat Sofia adalah orang pertama yang ditemuinya, saat sedang menggendong Sang Anak, jimat yang tertempel di jubahnya langsung menyerang Malaikat Sofia, masuk melalui pori - pori Malaikat kecil itu dalam bentuk asap abu - abu dan menyebar ke nadi Malaikat Sofia. Malaikat kecil itu merasa sangat kesakitan dan mengerang serta menangis sangat kencang. Hingga sebuah tanda bulan sabit di pergelangan tangan kanannya terbentuk.
"Hahahahhaha. Wahai, Malaikat Tengik. Nikmatilah waktu singkat bersama gadis kecilnya, karena ketika dia beranjak dewasa nanti. Aura dan jiwa anakmu perlahan akan berkurang, hingga dia akan menghilang bagai debu, seperti semua Malaikat yang mati di Medan perang. Tidak ada penawar untuk kutukanku itu. Hahahaha...," terdengar suara penyihir kuat itu, ketika kutukan sudah berhasil tertanam di tubuh Malaikat Sofia.
Malaikat Nathaniel dan Sang Istri terlihat sangat sedih dan bingung, diwaktu yang sama. Malaikat Nathaniel membawa Sang Anak ke hadapan tabib Kahyangan, untuk mendapat obat penawar. Namun yang dikatakan oleh penyihir jahat Selatan itu benar, tidak ada obat ataupun penawar untuk kutukan yang diberikan pada Malaikat Sofia.
Akibat kutukan itu juga, Sofia kecil mulai menarik diri dari pergaulannya dengan malaikat seusianya di Kahyangan dan hanya Reo yang selalu mau menemaninya, walaupun selalu di dorong menjauh oleh Malaikat Kecil Sofia.
"Sof, sebentar...," ucap Reo ketika Malaikat Sofia datang ke ruang kerja Reo di Neraka.
Sofia kembali berbalik ke arah Reo dan menunduk. Reo yang baru saja akan mendekat, menghentikan langkahnya dan menarik napasnya.
__ADS_1
"Bisa tolong, jangan berperilaku seperti itu ketika hanya ada kita berdua dimana pun? Aku Reo sahabatmu, bukan seorang Perdana Menteri jika hanya kita berdua. Tolong Sof, perlakukan aku seperti biasanya saja...," pinta Reo.
Malaikat Sofia yang masih menunduk, perlahan mendongakkan kepalanya dengan masih ragu - ragu.
"Maafkan hamba, Tuan. Hamba...," ucapan Malaikat Sofia kembali terpotong.
"Sofia...," ucap keras Reo.
Sofia memejamkan matanya sesaat dan menghela napasnya. Kemudian memasang wajah masam kearah Reo.
"Baik - baik. Kamu nggak perlu sampai berteriak, Reo. Ada apa? Kerjaanku masih banyak...," jawab Malaikat Sofia yang akhirnya santai.
"Ternyata cocok. Coba lihat...," ucap Reo yang kemudian membuat tubuh Malaikat Sofia berbalik kearah dinding ruangan Reo yang disulap dalam sekejap menjadi sebuah cermin yang sangat besar.
Mata Malaikat Sofia dibuat berbinar dan juga wajahnya tersipu saat melihat jepit rambut mutiara berwarna merah muda yang mengapit rambutnya.
"Indah...," ucap Malaikat Sofia sambil meraba jepit rambut itu.
Reo kemudian memeluk tubuh Malaikat Sofia dari belakang.
__ADS_1
"Selamat Ulang Tahun, Sofia. Maaf sedikit terlambat, aku harus mengarungi beberapa samudra dan bertemu beberapa raja penguasa beberapa palung laut untuk mendapatkan mutiara keabadian ini. Aku harap kamu menyukainya...," ucap Reo tepat disamping telinga Malaikat Sofia.
Senyum lebar Malaikat cantik itu terus terkembang.
"Terimakasih, Reo. Sebenarnya kamu nggak perlu repot - repot...," jawab Malaikat Sofia sambil melepas pelukkan Reo dan pergi agak menjauh.
Reo terlihat sedikit kesal karena tingkah sahabat sekaligus perempuan yang dicintainya itu.
"Sofia, sampai kapan? Sampai kapan kamu...," ucapan Reo yang kini dipotong oleh Malaikat itu.
"Kamu tau alasannya, Reo. Sekali lagi, terimakasih hadiahnya dan aku permisi...," ucap Malaikat Sofia yang kemudian meninggalkan ruangan Reo kala itu.
Sepeninggal Sofia, Reo kemudian melampiaskan kekesalannya. Dia masuk ke sebuah ruangan khusus yang disembunyikan olehnya, disana dia berteriak, memukul tembok ruangan hingga semua tenaganya terkuras cukup banyak. Dengan napas yang tersengal juga emosi yang sudah cukup terkendali, dia terduduk di lantai ruangan persembunyiannya itu.
"Pasti ada cara, membuat kutukan sialan itu menghilang dari tubuh Sofia ku...," ucap Reo dengan napas tersengalnya.
Lama dia terdiam, sambil mengatur napas dan berpikir. Hingga terbersit sesuatu di kepalanya, matanya membulat.
"Iya, itu. Itu bisa membantu, bukan, kutukan itu benar - benar akan hilang dari Sofia. Pasti...," ucap Reo yang langsung berdiri dan menghilang seketika dengan jentikan jemari tangannya.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...