#TanpaNama : Akhir Perjalanan

#TanpaNama : Akhir Perjalanan
62.


__ADS_3

Kei masih tidak percaya dengan yang dia dengar dari mulut Dita. Kei menarik tangan Dita untuk menjauh dari Jimie, namun wanita itu menolak.


"Lepas, jangan sentuh aku. Kamu jahat Kei, ternyata kamu sangat kasar. Hari ini Jimie yang nggak ada salah sama kamu, udah kamu hajar. Besok? Besok mungkin giliranku. Pergi, aku nggak mau kamu ada di dekatku lagi. Pergi...," ucap kejam Dita, sambil mencoba melepas pegangan tangan Kei.


Kei kemudian perlahan melepas genggaman tangan, lalu kedua tangan Kei terkepal, dia mencoba menahan emosinya. Ditarik napas dan dihembuskannya sekali lagi.


"Oke. Aku kasih kamu waktu buat mikir. Besok kita baru bicara lagi, kalau hari ini kamu mau ngobatin bajingan ini silahkan. Besok aku bakal nemuin kamu. Satu yang harus kamu tau, aku sangat mencintaimu, aku peduli sama kamu dan aku nggak bakal pernah berbuat kasar ke kamu apapun bentuknya. Aku pergi...," ucap Kei.


Namun baru saja melangkah beberapa meter, langkah kaki Kei terhenti.


"Aku nggak mau bicara sama kamu lagi. Aku bilang kita putus ya putus. Jangan temui aku lagi...," teriak Dita.


Kei memejamkan matanya sesaat, dengan napasnya yang berderu dia melanjutkan langkahnya tanpa mempedulikan Sang Kekasih.


Dia naik keatas motornya dan langsung tancap gas dengan kecepatan tinggi.


Sedangkan Dita, kembali meraba pundak Jimie guna membantu lelaki itu untuk berjalan.


"Dit, aku nggak apa - apa. Akh, lebih baik aku pulang aja...," ucap Jimie yang masih kesakitan.


"Sebelum pulang, kita harus ke klinik deket sini. Kamu pasti banyak luka. Maaf atas kelakukan Kei...," ucap sedih Dita, lalu dia membantu jalan Jimie menuju ke klinik terdekat.


Sedangkan Kei, masih mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi. Emosinya pun tinggi, dia membawa motor sportnya menuju ke suatu tempat. Sesampainya disana, dia memarkir motornya sembarangan. Dia memasuki sebuah arena pertarungan sekaligus tempat latihan fisik. Dibuka jaket hoodie yang dikenakannya, lalu dia jalan dengan wajah datar dan mata kejamnya, menuju kearah sebuah samsak besar. Dipukuli benda besar nan keras itu dengan tangannya yang juga terluka, akibat bekas memukuli Jimie bertubi - tubi.

__ADS_1


"Brengsek. Bangsat. Sialan...," teriaknya melampiaskan emosinya.


Kei terus memukuli samsak itu hingga seluruh tubuhnya basah akan peluh, napasnya tersengal dan akhirnya dia terjatuh lalu terbaring karena kelelahan.


"Hah. Hah. Hah. Dita, aku nggak mau kehilangan dia. Aku nggak bisa hidup tanpa dia. Besok, besok aku harus bicara baik - baik. Hah. Hah...," ucap Kei dengan napas sangat kelelahannya dan memukul lantai samping tubuhnya yang terbaring.


...----------------...


Di sebuah kamar, Kevin sedang tertidur dengan lelap setelah lelah seharian mengawal Ibu Debora juga perasaan yang selalu di selimuti oleh kekhawatiran tentang Sarah. Jiwa Kevin terbawa ke suatu tempat yang cukup tenang, pepohonan lebat dan besar terlihat berjajar tidak rapi, semilir angin menggoyangkan dahan - dahan pohon kecil. Pemuda itu terlihat sedang duduk di bawah salah satu pohon besar, sambil bersandar di batangnya yang sangat besar dan kokoh.


"Sejuk, anginnya sungguh menyegarkan...," batinnya dengan kedua mata yang terpejam.


Cukup lama Kevin menikmati suasana damai, dengan sesekali suara cuitan burung bersahutan terdengar menyegarkan telinganya. Kevin lalu terusik dengan suara nyanyian merdu, perlahan matanya terbuka.


Dia lalu menengok ke seantero hutan yang damai itu. Lantunan lagu itu semakin terdengar menjauh, membuat Kevin penasaran. Pemuda itu lalu bangun dan bergerak agak cepat, mengira - ngira arah suara nyanyian berasal. Semakin dirinya masuk ke dalam hutan, pemandangan hutan berubah menjadi ladang bunga. Kevin terkejut setelah berjalan cukup lama dan sampai di hamparan ladang bunga berwarna - warni yang terlihat pula banyak binatang bersayap hinggap untuk menghisap madunya. Kevin sempat teralihkan pandangannya akan keindahan dari ladang bunga itu. Dia melangkah kesana kemari, berjalan perlahan dengan menyentuh pelan setiap bunga yang dilewatinya. Senyum lebar terus menghiasi wajahnya, namun langkahnya terhenti tepat di tengah - tengah ladang. Dilihat tepat di depannya seseorang dengan gaun indah panjang, dengan posisi membelakanginya bernyanyi dengan suara merdunya. Sesaat kemudian orang itu, berhenti bernyanyi, menghela napasnya sesaat lalu senyum manis terukir di kulit wajahnya yang berwarna peach.


Perempuan berpostur tinggi semampai, dengan bentuk tubuh tidak langsing tidak juga gemuk, membalik posisinya menghadap kearah Kevin.


Kevin sedikit terkejut melihat penampilan perempuan tersebut. Hingga perempuan bergaun indah dan panjang itu, duduk perlahan di singgasananya yang minimalis namun terlihat elegan.


"Hai, anakku Kevin...," ucapnya dengan suara lembut dan senyum menyejukkan perempuan itu.


Kevin sangat bingung, setelah mendengar namanya disebutkan oleh perempuan itu.

__ADS_1


"Maaf, apakah anda mengenal saya?" tanya Kevin.


Tawa kecil terdengar dari mulut perempuan itu. Lalu dia mengangguk pelan.


"Tentu. Kevin anakku, kau pasti terkejut dan bertanya - tanya siapa aku? Hehehehe, aku adalah bagian darimu dan bagian dari semua orang di dunia ini. Kevin anakku, hari ini aku memperlihatkan wujudku sebagai perempuan, karena aku ingin memberitahumu tentang Sarah. Jangan pernah tinggalkan dia, lindungi dia sekuat tenagamu. Dia sedang dalam bahaya, kemarin mungkin dia berhasil lolos, namun lain kali, aku tidak yakin anakku. Jadi, lindungilah dia sekuat tenaga...," jelas perempuan itu.


Wajah Kevin berubah menjadi serius dengan kedua alis yang bertaut.


Kemudian dia berjalan mendekat dan baru sambil akan menanyakan maksud dari perempuan itu, tiba - tiba pemuda itu terbangun.


"Hah. Hah. Ternyata hanya mimpi...," ucap Kevin dengan napas terengahnya.


Lalu dia bangun dan duduk bersandar di dinding ranjangnya.


Baru dia ingin menenangkan dirinya, wajahnya langsung menunduk kearah salah satu telapak tangannya. Matanya membulat setelah dilihat, tangannya menggenggam banyak sekali kelopak bunga, bunga - bunga yang muncul di mimpinya. Dinaikkan tangannya yang penuh dengan kelopak bunga itu, untuk memastikan bahwa matanya tidak salah melihat.


"Bagaimana kelopak - kelopak ini bisa ada di tanganku? Jadi, yang barusan aku alami bukanlah mimpi? Sarah. Perempuan itu sempat mengatakan tentang Sarah. Apa akan terjadi sesuatu yang lebih buruk dari kemarin? Tapi, bagaimana caraku melindunginya? Grace, ya Grace. Aku harus menemuinya nanti...," ucap Kevin yang terlihat sedikit panik.


Saat fajar sudah menyingsing, Kevin segera bersiap untuk menemui Grace yang bertugas di rumah sakit, karena Sarah belum juga keluar dari sana. Dia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan lumayan tinggi. Setelah sampai di area rumah sakit, dia langsung menuju ke kamar rawat Sarah. Penjaga yang berdiri di depan kamar Sarah, mengangguk sekali dan membukakan pintu untuk Kevin. Mata Kevin langsung menuju kearah Grace yang ada duduk di sofa dekat ranjang Sarah. Dia langsung menarik tangan gadis berambut panjang berkuncir kuda itu. Grace terkejut, Sarah yang melihat hal itu saat dia baru saja membuka matanya perlahan langsung memasang wajah masam.


"Mereka benar - benar menjijikan...," batin Sarah yang sedari awal memang salah paham.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2