#TanpaNama : Akhir Perjalanan

#TanpaNama : Akhir Perjalanan
44.


__ADS_3

Bams, pulang ke rumahnya setelah bermalam di rumah Dita. Pria itu masuk dengan santai, tanpa melihat ke ruangan lain. Dia langsung akan menaiki lift di rumahnya, ketika suara panggilan menghentikan langkahnya.


"Son...," panggil sebuah suara parau yang sangat dikenalnya.


Bams yang membenahi tali gendongan tasnya.


Wajah datar terbentuk sesaat, lalu senyum miring terkembang. Setelah dia menoleh kearah suara itu.


"Hi, Pi. Kapan datang?" ucap dan tanya Bams dengan santai.


Pak Tio, lalu mendekat kearah Sang Anak.


"Kemarin malam, bisa kita bicara? Sudah lama rasanya Papi dan Mami nggak ngobrol sama kamu. Heum?" ucap Pak Tio sambil mengusap kepala Bams.


Lalu Bams mengangguk pelan dan kemudian mengikuti arahan dari Pak Tio. Mereka berjalan kearah belakang rumah. Terlihat dari kejauhan, Ibu Manda dan beberapa pelayan sudah menyajikan kudapan ringan di gazebo yang berada di tengah - tengah kolam renang rumah besar nan mewah itu. Ibu Manda yang melihat kedatangan Sang Anak, langsung berlalu dari gazebo dan mendekat ke arah Bams. Dia merentangkan tangannya dari jarak jauh.


"My Son, my baby. Cup.Cup. Sayangnya Mami, kamu apa kabar? Maaf ya, kami selalu sibuk kerja dan kurang memperhatikan kamu, nak...," ucap sayang dan manja Ibu Manda, sambil mencium seluruh wajah Bams.


Bams hanya terpejam sesaat dan tersenyum tipis melihat tingkah Sang Ibu. Lalu kedua orang tua Bams, merangkul pundak Sang Anak dan bergelendotan di lengan kekar pria tampan itu .


Setelah duduk dengan santai, minuman hangat pun dituang dan makanan ringan yang berada di toples pun sudah dibuka.


"So, bisa ceritakan. What's we missing after all this time?" tanya Ibu Manda.


Bams terdiam sesaat, sambil meneguk minumannya. Alisnya agak berkerut, ketika diletakkan cangkir minuman itu.


"Soal?" jawab singkat Bams.


Kemudian Ibu Manda melihat sesaat kearah Pak Tio, Sang Suami.


Terlihat Pak Tio, habis meneguk minumannya lalu melirik kearah Bams.


"Sekolah, bisnis yang baru kamu buka dan mungkin, soal teman wanita?" ucap Pak Tio dengan tenang dan santai.


Bams menghela napas sesaat.

__ADS_1


"Sekolah aku baik - baik saja, semester depan aku sudah bisa mengajukan skripsi. Bisnis bengkel, game online dan juga digital marketing di sosial media, semuanya jalan dengan baik. Kalau soal wanita, kini aku sudah memiliki kekasih namanya Dita. Kapan - kapan aku, bakal kenalin ke kalian...," jelas Bams dengan santai.


Pak Tio dan Ibu Manda saling pandang, setelah mendengar penjelasan Sang Anak. Satu kaki Ibu Manda dinaikkan keatas kaki satunya. Tangannya kemudian mengusap rambut bagian samping Bams.


"Besok, boleh. Mami sama Papi, bertemu dengan Dita? Karena jarang - jarang, kami dengar. Anak bandel kesayangan Mami ini, cerita soal seorang gadis. Berarti, gadis itu benar - benar istimewa." ucap tenang Ibu Manda.


Bams terlihat agak terkejut, dia meletakkan cangkir yang baru saja diangkatnya dan menatap kearah kedua orang tuanya secara bergantian.


"Beneran Mi, Pi...," ucap tidak percaya Bams.


Senyum lebar terkembang di kedua wajah orang tua Bams.


"Ya, bener sayang. Kami ingin tau, gadis tidak beruntung mana? Yang sudah dijebak oleh anak bandel, tapi ganteng Mami ini. Heum?" jawab Ibu Manda sambil menoel ujung hidung Bams.


Pria muda itupun tersenyum lebar. Dengan tiba - tiba memeluk Sang Ibu dengan erat.


"Thank's Mi. Kalian pasti akan kagum dengan Dita." jawab senang Bams.


Pak Tio melihat lekat kearah Sang Istri juga Bams, sambil menikmati minuman hangatnya.


...----------------...


"Setelah aku perhatikan dengan jelas. Dia ternyata cukup manis, tubuhnya mungil. Penampilannya sederhana, namun menarik. Degh. Degh...," batin Darius yang mulai mengagumi penampilan luar Kinanti. Lalu dirasa jantungnya berdebar lagi.


Dipegang dadanya pelan sesaat, ketika tiba - tiba kepala Kinanti hampir terantuk bagian dashboard mobilnya. Tangan Darius dengan cepat menangkap pelipis Kinanti, dengan perlahan dipindahkan kepala gadis mungil itu ke ujung pundaknya.


"Hehm. Tidur yang tenang ya...," ucap Darius lembut dan pelan.


Darius melanjutkan perjalanan dengan Kinanti yang tertidur dan bersandar di ujung pundaknya, setelah perlahan kemacetan mulai terpecah.


Darius tersenyum gembira sepanjang perjalanan. Hatinya merasa sangat tenang, ketika Kinanti berada dekat dengan dirinya, tubuhnya lebih tepat. Ketika mobil Darius akan memasuki kawasan mall besar, Kinanti mulai menggeliat dan matanya perlahan dibuka. Darius mencoba setenang mungkin, dengan masih menatap lurus ke depan tanpa bergerak sedikit pun.


"Hehm, kok aku miring?" batin Kinanti, yang kemudian melirik kearah atas.


Mata gadis itu terbelalak dan langsung bangun dengan cepat. Dibenahi rambutnya yang ditata tergerai, hari itu.

__ADS_1


"Ehem. Akh, pegelnya...," ucap Darius sambil mengayunkan sedikit ujung pundak dan lengannya. Dia berakting seolah - olah tangannya sedikit sakit.


Kinanti menoleh, dengan wajah takut dan juga khawatir.


"Ma, maaf Pak. Saya, saya nggak maksud ketiduran. Saya, saya bantu pijit ya Pak...," ucap Kinanti.


Darius melirik dengan tatapan datarnya, sesaat.


"Bagus, kalau kamu tau. Tangan saya pegal dan sakit. Besok - besok, sekalian aja kamu duduk dibelakang. Biar sekalian saya keliatan seperti supir pribadi kamu dan kamu majikannya." ucap Darius dengan seperti biasa, kata - kata yang memecut perasaan Kinanti.


Namun gadis mungil itu tahu, kali ini kesalahannya.


"Saya benar - benar minta maaf, Pak. Nanti saya bawa Bapak ke tukang pijat ya. Biar lengan bapak nggak sakit lagi...," ucap Kinanti dengan wajah sedih dan tertunduk nya.


Darius kembali melirik kearah gadis mungil yang tertunduk itu.


"Hahaha, tumben sekarang mengintimidasi dia dengan kata - kata kejam, namun ada kesempatan baik yang terbuka. Hehm, enaknya minta apa ya? Kalau cuman, dipijat sih. Rugi banget, lagian ini lengan nggak sakit sama sekali." batin Darius yang senang.


Dia masih terdiam terlihat dari luar, mencari ruang parkir. Lalu memarkir mobilnya dengan baik, lalu dimatikan mobilnya. Kinanti melepas sabuk pengamannya, begitupun Darius.


"Kamu nggak usah bawa saya ke tukang pijat. Sehabis ini, temani saya ke sebuah tempat. Tapi, nanti disana saya mau, kamu traktir saya. Apa saja, mau saya? Deal?" ucap Darius.


Kinanti terdiam sesaat, lalu anggukan pelan dilakukannya.


"Oke, ayo turun. Banyak yang harus kita periksa." ucap Darius dengan wajah datar, namun hatinya sangat bahagia.


Sedangkan Kinanti, turun dari mobil dengan lemas dan wajah menyesalnya.


Darius berjalan dengan percaya diri, diikuti oleh Kinanti. Mereka naik ke tempat acara, Kinanti memeriksa dengan cekatan dan teliti semua kesiapan penyelenggaraan. Darius pun sibuk berdiskusi dengan EO, yang berkerja sama dengan Kobuka.


Hampir menjelang malam, akhirnya pekerjaan mereka usai. Darius dan Kinanti kini sudah berada di dalam mobil. Senyum miring terkembang di sudut bibir Darius, lalu dia menoleh kearah Kinanti dengan tatapan tajamnya.


"Siap, buat membuat saya bahagia dan tangannya nggak sakit lagi...," ucap Darius dengan hati sangat riang.


Kinanti memegang tali sabuk pengamannya, meneguk saliva dan mengangguk pelan.

__ADS_1


"Ini Yeti, nggak akan ngapa - ngapain aku kan?" batin Kinanti ketakutan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2