#TanpaNama : Akhir Perjalanan

#TanpaNama : Akhir Perjalanan
92.


__ADS_3

Mauris yang sudah keluar dari rumah Regina, memutuskan untuk pergi ke rumah tempat Reo berada. Dia tidak ingin membuat majikannya itu curiga, bahwa kini dirinya juga Regina sudah menjalin hubungan khusus. Perjalanan ditempuh sekitar 1 jam dari rumah Regina. Kawasan area perumahan yang tidak terurus, begitulah kondisi sekitar rumah tempat Reo berada.


"Master...," panggil Mauris sambil menunduk.


Lama tidak ada jawaban, hingga terdengar suara batuk yang cukup keras dari dalam cermin besar dihadapan pria muda itu.


"Uhhuk. Uhhuk. Mauris...," ucap Reo dengan suara parau dan lemahnya.


Mauris langsung mendongak kearah cermin, wajahnya terlihat agak cemas.


"Master, apa anda baik - baik saja?" tanya Mauris.


"Uhhuk. Uhhuk. Aku tidak apa - apa, Nak. Terimakasih, berkat transferan jiwa darimu kemarin, kondisiku jauh lebih baik. Bagaimana, apa ada perkembangan atau langkah apa yang akan, akh...," ucap dan tiba - tiba ucapan Reo terhenti, karena teriakan rasa sakit yang menyerang Reo tiba - tiba.


"Master...," panggil Mauris keras sambil mendekat.


"Jangan mendekat, Mauris. Dengar, sebaiknya, kau memikirkan cara tercepat agar aku bisa mendapatkan inang sementara, sebelum nantinya aku bisa menikmati jiwa Mirah juga Kinanti...," ucap Reo dengan nada terbata dan sisa tenaganya.


"Pergilah Mauris...," ucap terakhir Reo.


Mauris meneguk salivanya sekali, dia terdiam sesaat sambil memandangi cermin besar di depannya itu. Kemudian Mauris menunduk memberi hormat sesaat, lalu mundur dan pergi, namun saat berada di ambang pintu, pria muda itu melihat kembali kearah cermin.


Lalu dia pun melanjutkan langkahnya, sambil wajah cemasnya belum menghilang.


"Aku harap, keadaan Reo tidak akan mempengaruhi Darius dan juga diriku sendiri. Inang sementara? Aku rasa aku harus mencari inang sementara yang kuat untuk Reo. Selama aku melatih untuk segera memisahkan jiwaku dan jiwanya yang ada di diriku, aku juga harus mencari inang itu. Agar aku bisa melepaskan diri seutuhnya dari Reo...," batin Mauris.


Sementara ini pria muda itu, baru bisa membuat batasan agar Reo tidak bisa membaca pikirannya. Dia juga berencana, secepatnya bisa menyatukan kembali serpihan jiwa Reo yang ada dirinya, kepada pemiliknya.

__ADS_1


...----------------...


Darius menyetir yacht nya dengan sangat lihai. Kinanti duduk di anjungan sambil menikmati suasana hari yang hampir senja. Dia menikmati sinar matahari yang menyinari sekujur tubuhnya. Darius melihat dari atas ruang kemudi tersenyum lebar. Hampir 20 menit mereka berlayar hingga mesin kapal mewah itu dimatikan, Kinanti lalu menoleh kearah Darius, namun ternyata pemuda itu sudah tidak ada di posisinya. Kinanti yang awalnya duduk dengan manis, kemudian berdiri untuk mencari keberadaan Darius.


Dia memanggil Sang Kekasih beberapa kali, namun tidak ada jawaban.


"Akh. Sakit, Akh. Kenapa dadaku?" gumam pelan Darius yang merasa kesakitan, ketika dia akan turun untuk menemui Kinanti.


Pemuda itu mendengar suara keras Kinanti memanggil - manggil namanya. Namun, dengan cepat dia masuk ke sebuah ruangan yang ternyata adalah tempat tidur. Dia lalu menutup mulutnya sambil menahan rasa sakit juga dengan cepat mencari obat penahan rasa sakit yang dia simpan di salah satu lemari kecil di dalam ruangan itu. Tidak lupa sebelumnya, dia mengunci pintu ruangan itu.


Setelah dicari cukup lama, dia akhirnya dapat menemukan obat yang memang selalu ada disetiap properti atau pun tempat pribadi yang sewaktu - waktu dia kunjungi. Diambil 2 butir obat itu, tanpa air. Ditelan bulat - bulat pil yang cukup besar itu, dengan memegang kuat salah satu pinggiran kayu sebuah meja. Ditunggu reaksi obat itu, sambil masih menahan rasa sakit yang belum juga reda.


Kinanti merasa aneh, lalu dia merogoh kantung tasnya untuk mencari ponselnya, guna menelepon Sang Kekasih. Namun baru saja, dia ingin menelepon dilihat keterangan dilayar ponsel, bahwa tidak ada satu pun sinyal yang bisa ditangkap.


"Ck, ternyata nggak disinyal, aku lupa ini di tengah - tengah laut. Trus Mas Darius kema...," ucap Kinanti yang khawatir, sekaligus membalik tubuhnya. Namun dia sangat terkejut, karena ternyata Darius berada tepat di belakang tubuhnya. Dengan cepat Darius memeluk pinggang kecil Kinanti.


Senyum lebar Darius mengembang.


"Mas, kamu kemana? Kamu bikin aku panik tau?" tanya Kinanti dengan nada kesal dan kembali memukul dada Sang Kekasih.


Tawa kecil Darius terdengar.


"Maaf, ya sayang. Aku mau kasih kamu surprise. Ayo...," ucap Darius sambil kemudian menggiring tubuh mungil Kinanti ke sisi lain kapal mewah itu.


Kinanti pun mengikuti arahan Sang Kekasih. Setelah berada diujung yang mengarah ke anjungan kapal, mata Kinanti dibuat membulat. Terlihat sebuah warna pelangi yang baru terlihat sebagian, lalu Darius mendorong tubuh Kinanti untuk maju. Dengan menurut gadis mungil itu, berjalan kearah anjungan dan disana sudah terbentang sebuah tatanan tempat mereka untuk makan siang dengan dekorasi piknik style. Kain lebar dengan warna pink pastel, diatas ada vas bunga kecil, juga keranjang bambu, lengkap dengan makanan siap saji, persis seperti orang - orang piknik.


Kinanti yang masih terpesona dengan pelangi yang terlihat sangat jelas oleh matanya, berdiri memandangi warna pelangi yang juga berkilau bak berlian.

__ADS_1


"Mau mendengar legends teluk yang aku bilang tadi?" tanya Darius di belakang Kinanti.


Gadis itu lalu berbalik kearah Darius dang mengangguk cepat. Senyum dan tawa kecil pemuda itu terdengar serta terlihat jelas, sambil menggoyangkan puncak kepala Kinanti.


Darius kemudian meraih satu tangan Kinanti dan menggiringnya untuk duduk diatas lembaran kain yang mengalami tempat makan siang mereka.


"Sebelum aku mulai cerita, aku mau minta maaf dulu sama kamu. Maaf ya, Ki. Aku hanya bisa menyediakan makanan siap saji ini buat menu makan siang kita, karena semua ini dadakan jadi...," ucap Darius terhenti, ketika tiba - tiba Kinanti mencium singkat pipi Sang Kekasih.


"Terimakasih, Mas. Perjalanan hari ini sungguh menakjubkan, apapun yang kamu berikan aku sangat senang. Jadi, bisa ceritakan sekarang soal legenda itu, aku penasaran...," ucap Kinanti dengan senyum lebarnya.


Senyum lebar terlihat diwajah Darius, lalu dia menghela napas singkat, sambil kemudian mengambil sebuah Onigiri untuk diberikan kepada Kinanti. Gadis mungil itu pun mengambil Onigiri yang diserahkan padanya, dengan wajah penasaran dia mulai menatap lekat wajah Darius yang baru saja memegang Onigiri nya.


"Kamu tau apa nama Pelangi dihadapan kita itu?" tanya Darius.


Kinanti menggeleng cepat sambil mulutnya dipenuhi Onigiri yang baru saja dimakannya.


"Pelangi Rindu...," jawab Darius sambil juga melahap Onigiri nya.


Mereka menatap pelangi itu sambil mengunyah makanan mereka.


"Ceritanya...," ucap Kinanti sambil membuka minuman berkarbonasi di dekatnya.


Darius menatap kearah Kinanti, sambil membersihkan remahan makanan yang ada di pinggir bibirnya.


"Suatu hari...," ucap Darius yang akan memulai dongengnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2