
Kahyangan kala itu terlihat sangat sibuk. Hingga seorang malaikat perempuan mendekat kearah kediaman Eyang Kian.
Tring...
Tring...
Suara lonceng kediaman Eyang Kian. Pria tua yang sedang membaca sebuah perkamen itu pun menoleh kearah saya lonceng kediamannya.
Dia berjalan beberapa langkah, kemudian dia melakukan teleportasi untuk bisa segera sampai di depan pintu rumahnya.
Malaikat perempuan itu lalu membungkuk di hadapan Eyang Kian.
"Tuan Kian...," sapa malaikat perempuan itu dengan sopan.
"Oh, Sofia. Apa kabarmu, Nak? Kapan kau kembali dari Selatan?" jawab dan tanya Eyang Kian.
Malaikat Sofia lalu mendongak dan menatap kearah wajah Eyang Kian.
"Kabar saya baik, Tuan. Tuan sendiri apa kabar? Saya sampai di Selatan, kemarin...," jawab Malaikat Sofia dengan senyum merekah.
"Saya baik - baik saja, Nak. Oh iya, sebaiknya kamu masuk dulu. Kita bicara didalam, supaya lebih nyaman. Kebetulan saya punya teh Krisan, ayo...," ucap Eyang Kian yang kemudian memeluk Malaikat Sofia dari samping dan menggiring tubuh malaikat itu dengan perlahan masuk ke dalam kediamannya.
Setelah masuk ke dalam kediaman pria tua itu, Malaikat Sofia melihat ke sekeliling taman kecil yang ada di tengah - tengah bangunan rumah.
"Hehehehe. Magnolia, saya baru menanamnya kemarin. Mungkin dalam waktu beberapa lama, baru bisa kita menikmati harum dan cantik kelopak bunganya, Nak...," ucap Eyang Kian dari belakang Malaikat Sofia sambil membawa baki berisi teh Krisan dan camilan manis.
Malaikat perempuan itu lalu, berbalik dan dengan gerakan cepat membantu mengambil baki itu dari tangan Eyang Kian.
"Saya sungguh merepotkan Tuan...," ucap Malaikat Sofia yang merasa canggung.
Eyang Kian lalu duduk dengan wajah tersenyum tipisnya.
"Tentu tidak merepotkan, Nak. Saya malah senang punya teman minum teh, coba ceritakan bagaimana Selatan sekarang...," ucap Eyang Kian yang menerima cangkir teh yang diserahkan oleh Malaikat Sofia.
Setelah menuangkan ke cangkirnya juga dan duduknya dengan baik, malaikat perempuan itu lalu memulai cerita soal petualang sekaligus tugas yang diberikan oleh Sang Pencipta untuknya.
Eyang Kian sesekali terlihat tersenyum lebar dan tertawa kecil, ketika dirasa ada kalimat atau situasi lucu dan juga unik yang digunakan ataupun dilalui oleh Malaikat Sofia.
"Hahahaha. Sungguh menarik ceritamu, Nak. Hehm, aku jadi ingin mengunjungi Selatan ketika nanti Lila mengunjungiku lagi...," ucap Eyang Kian sambil meneguk tehnya kemudian.
__ADS_1
Malaikat Sofia pun mengangguk sambil tersenyum lebar mendengar perkataan Eyang Kian.
"Mmm. Tuan, maaf...," ucap Malaikat Sofia yang terlihat mulai ragu.
Eyang Kian memandang kearah Malaikat manis itu sambil menaruh cangkir tehnya.
"Ada apa Nak?" tanya Eyang Kian dengan lembut.
Malaikat Sofia menyampirkan helaian rambutnya di salah satu daun telinganya. Lalu membenahi duduknya.
"Ini soal Reo...," ucap Malaikat Sofia.
Eyang Kian agak menjauhkan tubuhnya dan menghela napas sesaat. Ditatap lekat retina mata Malaikat cantik itu. Cukup lama pria tua itu terdiam. Malaikat Sofia mengetahui apa yang sedang dilakukan oleh Eyang Kian. Lalu terdengar deru napas tersengal pria tua itu.
"Anakku Sofia. Kau tau kan, seperti apa Reo sekarang. Bahkan satu kahyangan dibuatnya kacau balau, kau juga pasti tau. Kami sedang memburunya. Lila dan Rendra anakku, sempat menyegelnya di palung laut. Namun, entah apa yang terjadi? Reo berhasil dibebaskan dan kini keberadaannya cukup membuat kami bingung. Jadi, anakku lupakanlah Reo. Dia bukan lagi bagian dari kita. Dia kini sudah menjadi Raja Iblis, akibat kesalahannya sendiri. Sofia...," jelas ucapan Eyang Kian terpotong oleh Malaikat Sofia.
Malaikat itu tiba - tiba berdiri dan langsung bersujud di samping Eyang Kian.
"Tuan, saya mohon, kali ini. Kali ini saja, pertemukan saya dengan Reo. Hanya sekali, tidak lebih. Saya ingin bertemu dengannya lewat mimpi. Saya mohon, saya mohon Tuan...," ucap Malaikat Sofia dengan wajah yang hampir menempel di lantai kediaman Eyang Kian.
Tubuh pria itu lalu berbalik dan baru akan mengeluarkan sebuah ucapan, tiba - tiba sinar putih berkilauan datang dari arah langit taman kediaman Eyang Kian. Pria tua itu, perlahan berdiri dan menjauh dari meja kemudian membungkukkan kepalanya.
"Yang Mulia...," ucap sapa Eyang Kian.
"Kian, Sofia...," ucap balik lelaki itu.
Lalu lelaki itu melihat kearah Sofia yang masih saja bersujud, namun kini menghadap kearah lelaki itu.
"Yang Mulia...," jawab Sofia.
"Bangunlah, anakku. Lalu ikut denganku...," ucap lelaki itu sambil keluar dari area kediaman Eyang Kian.
Malaikat Sofia mendongak dan berdiri dengan perlahan, lalu dia mengangguk kepada Eyang Kian sesaat, kemudian berjalan keluar kediaman pria tua itu. Eyang Kian, mengangguk juga sebagai jawaban untuk Malaikat Sofia.
Lalu pandangan Eyang Kian mengikuti langkah Sang Lelaki yang diikuti oleh Malaikat Sofia dibelakangnya.
"Sofia, seharusnya kamu sudah bisa merelakan Reo...," batin Eyang Kian.
...----------------...
__ADS_1
Sarah terlihat sedang berlatih Muaythai dengan seorang pelatih lelaki muda cukup tampan. Kevin dan pengawal yang lainnya, berjaga di luar ruangan latihan. Mata Kevin sesekali melirik untuk memastikan keadaan Sarah.
"Kenapa dia memaksakan dirinya?, padahal dia masih dalam kondisi yang cukup lemah...," batin khawatir Kevin.
Bugh...
Bugh...
Bugh...
Suara pukulan Sarah ke sarung tangan Sang Pelatih. Keringat membasahi sekujur tubuh gadis sintal itu. Sang Pelatih kemudian menangkap kedua tangan Sarah, pertanda gadis itu harus mengakhiri sesi latihan.
"Hah. Hah, ada apa Coach?" tanya Sarah dengan napas tersengalnya.
"Enough. Kamu sudah terlalu memaksakan dirimu, sebaiknya...," ucapan pelatih itu dipotong.
Tangan Sarah memaksa lepas dari pegangan Sang Pelatih, lalu di dorong kedua telapak tangan Sang Pelatih.
"Saya masih kuat, Coach. Jangan pernah remehkan saya. Jika kau tidak sanggup, biarkan aku berlatih sendiri. Pergi, pergi sana...," teriak Sarah.
Para pengawal yang berjaga terkejut dan langsung menoleh kearah dalam ruangan. Mata Kevin lalu memicing, sambil memeriksa keadaan Sarah. Terlihat Sarah berjalan kearah samsak dan mulai memukuli benda besar dan keras itu dengan membabi buta. Deru napasnya terdengar cukup kencang, juga gadis seksi itu sudah merasa pandangannya yang mulai kabur.
"Mereka semua brengsek. Kevin, Grace, kedua orang tuaku. Semuanya, brengsek...," ucap dalam hati Sarah sambil terus memukuli samsak itu.
Sang Pelatih kembali mencoba mendekati Sarah, kali ini ditangkapnya samsak tersebut agar Sarah benar - benar berhenti.
"Sar, kamu baru keluar dari rumah sakit. Jangan sampai kamu masuk lagi, karena tingkah keras kepalamu ini, sebaiknya sekarang kamu...," ucapan Sang Pelatih terhenti, ketika dilihat tubuh Sarah langsung jatuh ke belakang.
Brugh...
Kevin yang melihat hal itu, langsung berlari kearah Sang Majikan dan langsung bersimpuh untuk mengangkat kepala dan sedikit tubuh gadis itu ke atas pahanya.
"Sarah - Sarah. Ini aku Kevin, please Sarah bangun...," ucap Kevin sambil menepuk - nepuk pelan pipi Sarah.
Sarah kemudian melenguh sesaat dan mengernyit, perlahan kedua matanya terbuka. Dengan pandangan kaburnya, dia menyentuh wajah Kevin.
"Kevin...," bisikkan yang bahkan tidak bisa terdengar oleh Kevin.
Namun, Kevin mengerti maksud Sarah. Lalu dengan cepat diangkat tubuh gadis sintal itu untuk segera dibawa ke kamar pribadi Sarah.
__ADS_1
"Sarah, please. Bertahanlah...," batin Kevin.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...