#TanpaNama : Akhir Perjalanan

#TanpaNama : Akhir Perjalanan
12.


__ADS_3

Kinanti dan Rasti tentu saja satu tenda, mereka kemudian diajari oleh pengelola bumi perkemahan untuk mendirikan tenda.


Selama proses itu tawa ceria kedua sahabat dan juga pengurus tempat itu terus tercipta.


"Nah, wahhh, mewah sekali tenda kalian. Besar juga kuat." jelas pengurus tersebut.


"Hehehehe. Terimakasih banyak ya Pak. Sudah mau membantu kami." terang Kinanti.


"Sama - sama adik - adik. Oke, kalian sekarang sudah bisa menempati tenda ini. Kalau begitu saya tinggal lihat teman kalian yang lain dulu ya." ucap Bapak pengurus yang kemudian meninggalkan kedua gadis itu.


Lalu Kinanti juga Rasti mengangkat tas mereka dan memasukkannya ke dalam tenda. Setelah itu mereka duduk santai sambil meluruskan kaki mereka dan pandangan kedua gadis SD itu dimanjakan oleh hamparan bukit hijau di depan mereka.


"Eh Kinan, tadi itu kamu liat apaan sih diatas bukit?" tanya Rasti penasaran.


Kinanti dengan mata yang sudah hampir tertutup, karena rasa kantuknya. Kemudian terbuka lebar lagi, karena mendengar pertanyaan dari Rasti.


"Ohhh. Tadi diatas sana aku ngeliat ada anak laki - laki yang sedang menatap kearah kita. Lalu sepertinya tidak sengaja, mataku dan matanya bertemu. Eh iya Ras, pas mataku sama mata anak itu tidak sengaja saling tatap. Kenapa dadaku tiba - tiba deg degan ya?" tanya Kinanti dengan bingung, setelah menjelaskan pada Rasti.


Wajah Rasti pun bingung, lalu tiba - tiba dia mengeluarkan ponselnya.


Kinanti pun bingung dengan tingkah sang Sahabat.


"Heh, ngapain kamu malah ngeluarin hp?" tanya Kinanti.


"Aku juga nggak tau jawabannya Kinan. Tapi, internet pasti tau." jawab Rasti yang sudah sibuk mengutak atik ponselnya.


Lalu Kinanti pun menarik napas panjang melihat sahabatnya itu.


Dia pun kemudian membaringkan tubuhnya di samping Rasti.


Baru saja kedua matanya akan terpejam kembali, tiba - tiba Rasti menepuk - nepuk kakinya.


"Kinan, Kinan. Masa kata internet itu artinya kamu jatuh cinta. Jatuh cinta itu, maksudnya kalian saling suka bukan ya?" jelas dan tanya Rasti bingung.


Kinan kemudian bangun perlahan sambil mengucek matanya dan kembali terduduk.


"Hah? Gimana aku bisa suka? Kenal juga nggak? Lagian kita masih kecil baru juga kelas 3 SD Ras. Mana boleh cinta - cintaan? Kayaknya informasi yang kamu baca itu salah deh. Udah - udah nggak usah dibahas lagi, mending kita istirahat, kan kata Bu Erika, nanti sore menjelang malam. Bakal ada acara jejak malam." jelas Kinanti dengan polos dan mengajak Rasti agar segera istirahat siang.


Lalu Rasti pun mengangkat kedua pundaknya, karena gadis bongsor itupun merasa bingung. Direbahkan tubuhnya disebelah Kinanti, lalu kedua anak itu tertidur karena kelelahan.


...----------------...


Beberapa Sesaat sebelum jejak malam...


"Baik. Perhatian, untuk semua kelas." ucap Kepala Sekolah dengan menggunakan pengeras suara.


"Setelah ini, semua anak akan melakukan pembagian tenda. Kemudian, kalian bisa beristirahat sejenak, sebelum nanti sore kita akan berkegiatan jejak malam. Dimana pembagian tim akan di campur dari kelas 3 - 6. Apakah ada penjelasan dari saya yang kalian kurang mengerti?" jelas Sang Kepala Sekolah.


"Tidak Pak Yohan." jawab semua siswa dengan keras.


Darius yang masih ada diperbukitan tersebut, mendengar semua kegiatan yang akan dilakukan oleh sekolah Kinanti nanti sore.


"Jejak malam, apa itu?" batin Darius.


Setelah itu Darius membalik tubuhnya dan mendekat kembali ke pintu mobil.

__ADS_1


"Kita kembali ke villa." pinta Darius yang kemudian masuk langsung ke dalam mobil.


Semua penjaga lalu bersiap dan mereka semua kemudian kembali ke villa.


Sesampainya di villa, Darius masuk dengan langkah pelan sambil berpikir,


"Jejak malam, apa itu?"


Saking kerasnya dia berpikir, Darius lagi - lagi tidak menggubris kehadiran Ibu Sulastri di dekatnya.


Tubuh Ibu Sulastri yang terdiam hanya mengikuti arah jalan Darius.


"Den Darius." panggilnya dengan lembut.


Namun, tidak ada respon dari lelaki muda itu.


"Ehem. Den Darius." akhirnya wanita agak tua itu terpaksa berteriak saat memanggil Darius untuk yang kedua kali.


Darius kemudian tersontak dan menoleh keasal suara.


"Ohh, Ibu Sulastri. Ada apa Ibu?" jawab Darius dengan santainya tanpa rasa bersalah.


Wanita itu kemudian berjalan agak mendekat kearah Darius dan kemudian menghela napas panjangnya.


"Hehm. Aden, barusan darimana? Kenapa terburu - buru sekali?" tanya Ibu Sulastri kembali dengan nada lembut.


"Ohhh, saya hanya tiba - tiba ingin melihat daerah sekitar sini, karena sudah lama tidak berkunjung!" jelas Darius berbohong.


"Ohhh, saya pikir tadi ada sesuatu yang mendesak. Kemudian Den, sebaiknya Den Darius sekarang, bersih - bersih dan istirahat dulu. Selama kami akan menyiapkan teh juga camilan untuk Aden bisa nikmati nanti sore." jelas Ibu Sulastri.


...----------------...


Alih - alih beristirahat setelah berendam air panas dan mandi, Darius yang sudah berbaring di atas ranjang besarnya. Sibuk mengutak - atik ponsel miliknya.


Dia sedang menggali suatu informasi. Mimik wajahnya dari yang datar hingga berkerut.


Dari posisi tidur terlentang santai hingga akhirnya terbangun dan duduk bersila, saking seriusnya saat membaca sebuah informasi dari benda kecil ditangannya.


"Huuh. Dari semua penjelasan artikel - artikel online ini, jejak malam, nampak sebuah kegiatan yang seru." gumam Darius.


Setelah dia puas menggali informasi soal jejak malam, lalu tubuhnya disandarkan ke dinding ranjang megahnya dengan satu tangan menumpu bagian belakang kepalanya.


Pandangannya kini beralih ke jendela besar dengan pemandangan bukit hijau diluar sana.


"Bagaimana caranya, aku bisa ikut kegiatan anak - anak itu ya? Penjagaan dari kak Mauris terlalu ketat." gumamnya sambil berpikir.


Lalu dia bangun dan berjalan menuju ke jendela besar itu, dibukanya perlahan.


Dia berjalan kearah dinding pembatas balkon, lalu ditengok sedikit ke bawah, dimana langsung bertemu dengan halaman samping villa.


"Hehmm, ternyata disini minim penjagaan. Namun, mereka berseliweran. Oke, aku harus atur strateginya." ucap Darius dengan senyum miring yang sudah tergurat di wajah putih pucatnya.


...----------------...


Tik...

__ADS_1


Tok...


Tik...


Suara detakan jam di dinding kamar Darius.


Anak lelaki itu, terlihat tertidur pulas.


Tok...


Tok...


Suara ketukan pelan di luar kamarnya.


Tidak ada jawaban apapun dari anak lelaki tersebut, akan ketukan di pintu kamar itu.


Ceklek...


Krieet...


Suara pintu kamar Darius yang dibuka oleh Ibu Sulastri.


Wanita tersebut kemudian menghampiri ranjang Sang Majikan Kecil, lalu ditarik sedikit selimut anak itu.


"Selamat Malam Den. Mimpi yang indah." ucap pelan Ibu Sulastri, dengan senyum tipis dan tatapan hangatnya pada Darius.


Setelah itu wanita tersebut berjalan ke arah jendela besar yang tembus ke balkon kamar, diperiksa penguncian setiap gagangnya dan dibenahi posisi gorden yang menutup jendela besar tersebut.


Dirasa semua sudah aman dan terkendali. Ibu Sulastri kembali berjalan kearah pintu masuk.


Dipandangi sekali lagi wajah Darius, sebelum akhirnya ditarik gagang pintu dan ditutup perlahan.


Suara langkah kaki Ibu Sulastri pun menjauh dari kamar anak lelaki tampan itu.


Tidak lama setelah itu, mata Darius tiba - tiba terbuka. Dengan gerakan perlahan disingkap selimut yang membalut tubuhnya, ditarik tubuh tingginya untuk bisa keluar dari selimut itu. Kakinya diturunkan perlahan ke lantai marmer tanpa dikenakan alas kakinya.


Dengan sedikit berjinjit, Darius berjalan ke ruangan khusus pakaiannya. Di buka lemari kaca di hadapannya dengan sangat pelan, kemudian ditarik sebuah gantungan baju yang sudah siap dengan sepasang baju dan celananya.


Lalu dia mengganti baju tidur yang dikenakannya dengan cepat, juga sebuah jaket parasut untuk melindungi tubuh kurusnya dari udara malam yang sangat dingin dan tidak lupa sepasang sepatu.


Setelahnya Darius kembali berjalan sambil berjinjit ke arah salah satu jendela besar yang mengarah ke balkon kamarnya.


Dibuka dengan pelan kunci jendela tersebut dan ditarik juga dengan hati - hati setelahnya, lalu ditutup kembali ketika dia sudah berhasil keluar dari kamar itu.


Darius kini sudah ada di balkon kamarnya dengan posisi tubuh berjongkok.


Disandarkan dirinya di dinding beton pembatas balkon, untuk memantau situasi di halaman bawah.


Terlihat sinar lampu sorot dari senter para penjaga yang sesekali sangat terang dan dengan cepat pula memudar, lalu menghilang.


Darius dengan sabar menanti, hingga tiba - tiba dia berdiri dengan cepat dan mengatakan dengan berbisik,


"Sekarang." pekiknya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2