#TanpaNama : Akhir Perjalanan

#TanpaNama : Akhir Perjalanan
65.


__ADS_3

Mauris dan Regina terlihat sangat akrab, setelah menyusuri sepanjang bibir pantai dan sambil ditemani cahaya rembulan penuh malam itu. Mauris kemudian mengantarkan Regina kembali ke pintu masuk hotel tadi. Tangan mereka terus saling menggenggam dan ada rasa tidak rela di dalam dada keduanya, ketika harus berpisah.


"Kenapa kamu tidak ikut masuk Mauris?" tanya Regina dengan menatap lekat pria tampan di depannya itu.


Mauris kemudian memegang pipi mulus Regina dan tersenyum.


"Aku ada urusan lain, maaf. Mungkin lain kali, aku bisa menemanimu. Ayo, kamu cepat masuk. Angin disini makin kencang dan tadi kamu bilang harus segera kembali ke dalam. Selamat Malam Regina, senang bisa menjadi pendampingmu malam ini menikmati udara malam juga sinar rembulan yang sangat cantik, secantik dirimu. Cup...," jawab Mauris dengan mengeluarkan jurus gombalannya serta mencium punggung tangan Regina sesaat dan memandang wajah tersipu gadis itu.


Tawa kecil terdengar dari bibir merah Regina.


"Kau cocoknya jadi seorang pujangga. Kata - katamu klise, namun berhasil membuat jantung setiap gadis yang mendengar, berdetak cepat. Selamat malam juga Mauris, semoga kita bisa bertemu lagi...," jawab Regina, lalu menarik tangannya perlahan. Masih sesekali melihat kearah belakang, senyum malu - malu Regina akhirnya tidak terlihat lagi, ketikan gadis itu berbelok ke sebuah arah untuk kembali masuk ke tempat acara.


Mauris tiba - tiba merasa ada sesuatu di dalam dadanya, sebuah rasa yang tidak pernah dirasakan sebelumnya. Dipegang perlahan dadanya, lalu dia berpikir,


"Apa ini? Tidak - tidak mungkin. Regina adalah santapanku, tidak mungkin aku memiliki rasa lebih hanya karena pertemuan singkat malam ini. Sadar Mauris, Regina adalah Cucu Ibu Yuna. Iya, Ibu Yuna. Hehehehe...,"


Mauris yang dengan cepat kembali ke sifat aslinya, lalu pergi untuk kembali memantau mangsanya malam itu.


Regina sendiri sudah kembali ke area pesta. Sang Nenek yang sedaritadi mencarinya, sangat senang ketika dilihat Sang Cucu sudah kembali.


"Ina sayang, kamu kemana saja? Oma, tadi kaget kamu tiba - tiba menghilang dari area pesta...," ucap Ibu Yuna sambil mengelus lembut rambut Sang Cucu.


Senyum dan tawa kecil Regina terdengar sesaat, lalu dipeluk Sang Nenek dari samping tubuhnya.

__ADS_1


"Maaf, Oma. Tadi aku mencari udara segar sekaligus berjalan - jalan di sekitar hotel. Oma nampak sudah lelah? Mau pulang sekarang?" jawab dan tanya Regina.


Ibu Yuna lalu mengangguk pelan. Regina pun kemudian membawa Sang Nenek untuk keluarga dari area pesta, setelah berpamitan pada beberapa petinggi yang masih ada di sana. Ibu Yuna dan Regina tinggal di beda tempat, Regina sendiri hanya mengantar Sang Nenek sampai di depan lobi hotel. Wanita tua itu kemudian di jemput oleh sedan mewah miliknya. Regina membantu Ibu Yuna untuk masuk ke dalam mobil.


"Ina, apa kamu nggak mau menginap ke rumah Oma? Bukankah orang tuamu sedang ada di Eropa, Nak...," ucap bujuk Ibu Yuna.


Senyum tipis mengembang di wajah Regina.


"Ina, pengennya juga gitu Oma. Tapi, besok pagi, Ina harus ke proyek kantor baru kita. Jarak proyek lebih dekat dari apartemenku ketimbang rumah Oma. Next time, aku pasti nginep di rumah Oma. Oke. Malam Oma. Pak, bawa mobilnya hati - hati ya...," ucap Regina mencoba menjelaskan penolakannya dan berbicara sesaat pada supir yang membawa Sang Oma.


Pengemudi yang berada di kursi depan itu, hanya mengangguk pelan tanpa menjawab dan menoleh kearah Regina. Setelah saling mengucapkan perpisahan, Regina pun menutup pintu mobil Ibu Yuna. Gadis anggun itu melambai sesaat, hingga mobil Sang Nenek tidak terlihat lagi diujung jalan.


"Mmm, kenapa aku nggak tenang begini ya? Tumben sekali. Sebaiknya besok, aku mampir sebentar ke rumah Oma setelah pulang dari proyek...," gumam Regina.


Tidak begitu lama, mobil jemputan Regina pun datang dan gadis itu masuk untuk segera kembali ke rumahnya.


"Halo...," ucap Regina.


Tiba - tiba mata gadis cantik itu pun terbelalak, ketika di dengar sebuah suara seseorang di seberang dan penjelasannya


"Apa? Tidak - tidak mungkin, rumah sakit mana?" tanya Regina yang sedikit tidak percaya.


Setelah menutup sambungan telepon, gadis cantik itu memerintahkan Sang Supir untuk putar balik, menuju ke sebuah rumah sakit. Mata nanar, rasa sesak di dada kini terasa menerjang Regina.

__ADS_1


"Oma, kenapa? Semoga, semoga Oma nggak apa - apa...," batin Regina sambil meremas kain gaun diatas pahanya.


Setelah menempuh perjalanan agak lama, Regina yang sampai di depan rumah sakit tempat Sang Nenek berada. Regina langsung keluar mobil dan berlari dengan cukup panik, dibaca plang penunjuk setiap ruangan di rumah sakit itu, hingga dia sampai di depan ruang UGD. Dengan tubuh dan tangan bergetar dia mencari informasi soal kebenaran kecelakaan yang menimpa Sang Nenek.


"Sebelah sini, Mbak...," ucap seorang perawat, yang mengantar Regina menuju ke sebuah bilik.


Di dalam bilik yang ditunjuk, terlihat seorang dokter yang baru saja selesai memeriksa dan seorang suster yang baru saja mencopot semua alat - alat medis dari tubuh Ibu Yuna. Dokter tersebut melihat kedatangan Regina, lalu mendekat.


"Selamat malam. Apakah anda wali dari pasien ini?" tanya dokter tersebut.


Regina mengangguk pelan.


"Dok, kenapa Oma saya? Kenapa kalian menyudahi pemeriksaanya? Kenapa tangan Oma saya dilipat seperti itu? Dok, kenapa? Tolong, tolong jelaskan...," ucap panik Regina yang memegang kedua lengan dokter wanita muda di hadapannya.


"Pasien kami nyatakan meninggal dunia, dalam perjalanan saat dibawa ke rumah sakit. Akibat serangan jantung. Tidak ada tanda - tanda kekerasan fisik apalagi, luka bekas kecelakaan. Walaupun menurut informasi yang kami dapatkan, pasien mengalami kecelakaan tunggal sesaat sebelum ditemukan. Ada satu korban lagi, di bilik sebelah yang lukanya juga tidak begitu parah. Namun saat ini, pasien tersebut sedang dalam keadaan tidak sadarkan diri akibat obat bius yang kami berikan...," jelas Sang Dokter.


Regina pun menggeleng kepala dan langsung mendekat kearah Sang Nenek. Dokter dan suster tersebut meninggalkan Regina untuk melihat Sang Nenek.


"Oma, Oma ini Ina. Bangun Oma, hiks. Kenapa? Kenapa ini bisa terjadi? Kenapa? Hiks. Hiks...," ucap Regina yang menggoyang pelan tubuh Ibu Yuna yang sudah terbujur kaku dan perlahan tubuhnya membiru.


Regina menangis sesegukan, sambil terus memeluk tubuh Sang Nenek.


Tanpa sepengetahuan Regina, Mauris melihat dengan mata batinnya keadaan di dalam ruang UGD itu. Ada rasa puas di dalam hati pria muda itu, karena berhasil mengambil jiwa Ibu Yuna, wanita tua yang tidak bersalah. Namun, muncul rasa aneh yang sedikit menyakiti sudut hatinya.

__ADS_1


"Akh, lagi - lagi rasa ini. Aku selalu tidak nyaman, ketika perasaan ini muncul. Kenapa rasa ini selalu muncul ketika melihat kearah Regina?" batin Mauris bingung dan kesal.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2