#TanpaNama : Akhir Perjalanan

#TanpaNama : Akhir Perjalanan
29.


__ADS_3

Di sebuah rumah besar dan mewah, sedang berlangsung acara makan malam.


Ada 4 orang tua dan 2 anak muda terlihat sedang menikmati sajian di atas meja, sambil bersenda gurau.


"Tio, apa kabar Bams?" tanya seorang lelaki agak tua sambil mengambil gelas anggurnya.


Orang yang bernama Tio adalah seorang lelaki paruh baya. Pak Tio mengusap sudut bibirnya, lalu menghembuskan napas pendek.


"Anak itu, tiba - tiba berubah 180 derajat. Pada awalnya, aku pikir dia hanya tau nongkrong - nongkrong, selalu mengikuti balapan liar dan hal tidak penting lainnya. Namun, kau tahu Satria. Setelah lulus SMA, dia bilang mau menjadi seorang pengusaha namun dia tidak mau kuliah ditempat bagus juga terkenal. Dia mau membuka usaha dengan memberdayakan para penyandang disabilitas. Hahahaha. See, aku dan Mama nya sangat terkejut saat mendengar ucapan nya waktu itu, aku pikir anak manja itu hanya bergurau. Lalu sekarang, dia sedang menyelesaikan sekolahnya di salah satu kampus kecil, yang dimana para siswanya kebanyakan penyandang disabilitas." jelas Tio dengan sedikit bersemangat.


Pak Satria mendengarkan dengan seksama. Lalu pria agak tua itu, hanya mengangguk dan sesekali menoleh kearah salah satu anaknya.


"Jo, harusnya kamu dengar cerita Om Tio dengan baik. Jangan cuman bisanya nongkrong - nongkrong sama geng motor itu dan ngabisin duit Daddy. Lihat, Kak Bams aja udah berubah. Masa kamu nggak?" ucap Pak Satria pada anak lelakinya.


Jonatan yang sudah selesai meneguk minumannya, lalu menoleh kearah Sang Ayah.


"Dad, Kak Bams itu senior aku di geng motor. Dia terus keluar tiba - tiba, tanpa alasan yang jelas. Lalu baru malam ini, aku tau kalau dia sudah menemukan jati dirinya. Sedangkan aku, aku kan masih proses mencari jati diri. Wajarlah, kalau aku masih mau main kesana - kemari. So don't worry Dad, suatu hari nanti. Aku pasti seperti Kak Bams. Oke." jelas Jojo dengan gaya santainya.


Senyum terkembang di wajah Pak Tio, sedangkan Pak Satria hanya geleng - geleng kepala mendengar penjelasan anak bungsunya itu.


"Mas Sat, bener apa yang dibilang Jojo. Bams juga dulu sama seperti Jojo sekarang, seiring berjalannya waktu ternyata dia bisa menjadi dewasa. Jadi, jangan terlalu di kekang lah Mas." ucap Ibu Manda, Ibu dari Bams.


"Iya Dad. Bener kata Manda, Jojo baru kelas 2 SMA. Masa - masa penting dia mencari jati diri. Asal inget sayang, no drug, no alcohol and no hal mesum lainnya. Oke?" ucap Sang Ibu.


Jojo hanya mengacungkan jempolnya kehadapan Sang Ibu, karena mulutnya penuh dengan makanan.


Tawa kecil seantero ruangan itu terdengar, melihat tingkah santai Jojo juga ucapan diplomatis nya.


Karla memandang wajah kedua orang tua Bams dengan senyum miringnya. Lalu dia mengambil gelas minumannya, diteguk sesaat lalu ditaruh kembali dengan sambil mengusap sudut bibirnya.

__ADS_1


"Tante sama Om, tau apa kegiatan Bams belakangan ini?" tanya Karla dengan tersenyum.


Pak Tio dan juga Ibu Manda, lalu saling tatap.


"Sayang, maksud kamu apa? Memangnya kamu pernah ketemu sama Bams lagi, setelah lulusan SMA?" tanya Sang Ibu dengan suara pelan dan mendekatkan wajahnya ke wajah gadis kaku itu.


"Iya, beberapa hari yang lalu. Aku nggak sengaja bertemu dengan Bams, dia baru pulang dari tempat kuliahnya. Lalu aku lihat, dia sedang bermesraan dengan seorang gadis tuna netra. Kalau ide bisnis Bams, aku juga setuju. Tapi, kalau sampai memiliki hubungan asmara. Nampaknya aku akan berpikir ulang, coba Om dan Tante pikir. Bams adalah seorang lelaki muda normal, tampan, dan cerdas. Tentu harus memiliki pendamping yang setara dengannya, paling tidak bukan orang cacat secara fisik apalagi mental. Bams harus memiliki pendamping yang sehat dan normal baik mental juga fisik. Kalau sekarang dia, memiliki pendamping yang cacat. Bagaimana caranya dia bisa membangun ide usahanya, dia pasti bakal sibuk mengkhawatirkan kondisi pendamping cacatnya itu? Lalu lama kelamaan, langkahnya akan terhenti. Kalau Karla, jadi Om sama Tante. Karla bakal langsung membuat gadis buta itu menjauh dari Bams." jelas Karla memprovokasi.


Lagi - lagi kedua orang tua Bams saling pandang. Mereka juga sedang mempertimbangkan penjelasan dari gadis cantik itu.


"Tio, Manda. Apa yang dikatakan oleh Karla, bisa kalian jadikan bahan pertimbangan? Tapi ingat, kalian harus lihat kondisi juga. Jangan langsung mengambil keputusan sepihak." ucap Pak Satria menengahi, setelah melihat wajah kedua sahabatnya itu agak bingung.


Pak Tio hanya mengangguk.


...----------------...


Siang itu, saat semua teman satu divisi Kinan sudah pergi untuk istirahat makan siang, namun gadis pendek itu masih ada di mejanya dan sedang berkutat dengan beberapa file yang baru saja diberikan oleh Darius, untuk ditinjau ulang dan diserahkan lagi setelah makan siang.


Terlihat Darius juga belum beranjak keluar gedung kantor, dia hanya sekali keluar dari ruangannya ke meja Kinan untuk menyerahkan berkas yang sudah menumpuk di meja asistennya itu. Lalu kembali lagi ke ruangannya.


"Gila tuh orang, nggak beranjak sama sekali. Dia nggak capek apa?" gumam Kinanti sambil masih menatap ke arah ruangan Darius.


Tanpa sepengetahuan Kinan, Darius tiba - tiba menoleh kearah jendela ruangannya. Matanya dan mata Kinan beradu pandang, dengan secepat kilat Kinan mengalihkan pandangan ke berkas yang sedang dikerjakannya.


Darius kemudian melirik sesaat ke jam diatas mejanya. Lalu dilepas kacamata baca yang sedaritadi digunakannya, pria atletis itu kemudian mendorong kursinya dan berdiri. Satu tangannya masuk ke dalam saku celana, dibuka pintu ruangannya dan dia berjalan kearah meja Kinanti.


"Gimana Kinanti, sudah selesai?" tanya Darius datar.


Kinan agak mendorong tubuhnya sedikit, namun tangannya masih mengetik diatas komputernya.

__ADS_1


"Mmm, sedikit lagi Pak." jawab Kinanti tanpa menoleh kearah Darius.


"Simpan dulu, terus ikut saya." ucap Darius lagi.


Baru kemudian Kinanti menghentikan gerak jemari tangannya dan menoleh kearah Sang Atasan, yang sudah bergerak meninggalkannya. Lalu dengan terburu - buru Kinanti menyimpan file yang sedang dikerjakannya dan langsung berlari untuk menghampiri Darius yang sudah sampai di depan pintu lift.


"Maaf Pak, kalau boleh saya tau. Kita mau kemana?" tanya Kinanti dengan nada agak ragu.


Darius terdiam, dia lalu masuk ke dalam lift dengan diikuti oleh Kinanti. Gadis itu berdiri di samping belakang Darius.


"Ish, ditanya malah diem bae. Ck, jangan bilang nih bakal dikasih tugas baru. Satu berkas yang tadi aja belum selesai. Masa iya mau nambah yang lain lagi?" pikir Kinanti dengan agak kesalnya.


Tit...


Suara pintu mobil yang dibuka, ketika mereka sudah sampai di parkiran mobil yang letaknya di depan gedung Kobuka Corporation. Kinanti menghentikan langkahnya, dia menatap kearah Darius. Lelaki itu sudah berdiri di samping pintu kemudi, dia juga menghentikan gerakannya.


Dia menarik napas dan kemudian menatap kearah Kinanti.


"Ngapain kamu berdiri disana? Ayo masuk. Saya nggak akan menculik kamu atau melakukan hal yang nggak - nggak." ucap Darius yang kemudian langsung masuk ke dalam mobilnya.


Kinanti yang kini sudah merasa ada yang aneh dengan Sang Atasan, mau tidak mau harus menurut setelah mendengar penjelasan Darius. Dia masuk secara perlahan dan terdiam tanpa menoleh ke arah Darius.


Darius kemudian kembali menarik napas dengan sekarang menggaruk pelipisnya. Lalu tiba - tiba mendekat kearah Kinanti. Wajahnya dan Kinanti kini menjadi sangat dekat.


Degh...


Degh...


Degh...

__ADS_1


Suara debaran jantung keduanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2