
Di pagi yang cerah ini, Kinanti sudah duduk manis di bangkunya begitu juga dengan semua teman sekelasnya.
Tak...
Tak...
Tak...
Suara sepatu seseorang yang mendekati ruang kelas Kinanti.
Senyum manis terkembang dari bibir merah pastel seorang perempuan muda.
"Selamat pagi Anak - anak." sapa perempuan itu.
Kemudian satu anak lelaki segera berdiri dengan tegapnya.
"Sapa, salam. Selamat pagi Ibu Erika." ucap anak tersebut dengan lantang dan keras juga diikuti oleh teman - teman sekelasnya yang lain.
Lalu anak tersebut kembali duduk.
"Sebelum kita memulai pelajaran hari ini, Ibu ada kabar gembira untuk kalian semua." ucap riang Ibu Erika.
Seisi kelas lalu saling berpandangan dengan teman sebelah mereka.
"Hari Sabtu besok, kita akan mengadakan kamping di daerah Lembah Pelangi. Jadi ini adalah surat ijin dari sekolah, untuk kalian berikan kepada orang tua kalian, yang boleh ikut adalah anak - anak yang berhasil mendapatkan tanda tangan orang tua dan menyerahkan kembali pada Ibu. Besok." jelas Ibu Erika sambil melihat wajah semua muridnya dengan riang.
Mata Kinanti pun berbinar - binar mendengar pengumuman dari Sang Wali kelas.
"Yeeeaaayyy." teriak separuh kelas.
"Baik. Tenang dulu, ibu akan membaginya menjadi empat. Lalu kalian silahkan oper ke teman dibelakang ya." ucap Ibu Erika yang kemudian berjalan ke masing - masing bangku depan deret kelasnya, setelah memberi aba - aba agar anak didiknya tenang.
Satu - persatu murid kelas itu mengambil selembar surat ijin tersebut dan menyebarkannya ke murid yang lain.
"Eh, Kinan. Kali ini, kamu bakal ikut nggak?" tanya Rasti teman yang duduk di bangku depan gadis kecil itu.
"Mmm, semoga aja Mama ngijinin yang kali ini ya Ras. Soalnya kan sekarang aku udah kelas 3, masa nggak boleh juga?" ucap Kinanti yang ragu sambil melihat surat ijin yang sudah berada di tangannya.
Ibu Erika memperhatikan jalannya pembagian surat ijin tersebut, setelah dikiranya semua anak mendapatkan surat tersebut. Lalu perempuan muda itu berjalan kembali ke dekat mejanya.
"Oke. Jika kalian semua sudah memegang surat ijin itu, ibu akan tunggu kalian mengumpulkannya kembali. Paling lambat besok siang, sepulang sekolah dan sekarang, kita mulai pelajaran MIPA hari ini. Kalian bisa buka buku paket kalian halaman 34!" jelas Ibu Erika yang kemudian memulai kelas pagi itu.
...----------------...
"Daa. Kinan." teriak teman - teman sekelas gadis itu, saat akan keluar ke halaman sekolah untuk pulang ke rumah masing - masing.
__ADS_1
"Daaa." Kinanti pun menjawab sambil melambaikan tangannya.
Lalu gadis cantik itu memainkan sepatunya di tanah sambil tertunduk, saat sedang menunggu jemputannya.
Namun tiba - tiba dia terkejut, ketika ada sebuah jari yang menekan pipinya.
Kinanti langsung mendongak kearah jari itu.
"Papa." teriak gadis kecil itu.
"Hehehehe. Lama nunggunya nak?" tanya Bara sambil berjongkok di depan Sang Anak.
Kinanti menggeleng dengan tersenyum.
"Ayooo." ucap Bara yang baru akan menggendong Kinanti, namun ditahan pundak Sang Ayah.
"Papa, Kinan kan bukan anak bayi lagi. Jangan digendong terus. Gandeng tangan tangan aja ya." ucap Kinanti sambil celingukan ke sekitar halaman sekolahnya.
Bara sangat terkejut dengan ucapan Sang Anak.
Lalu senyum terkembang di wajahnya juga dengan tarikan napas panjangnya.
"Hehmmm. Anak Papa bener - bener udah gede. Yah, mau gimana lagi?!" ucap Bara dengan nada kecewanya.
Kinanti tidak begitu peduli dengan ekspresi dan ucapan Sang Ayah, gadis mungil itu kemudian mengambil satu tangan Bara untuk langsung digandengnya.
"Papa masih boleh, bukain pintu buat princess Papa kan?!" tanya Bara saat mereka sudah berada di depan pintu mobil.
Kinanti pun mengangguk sambil tersenyum lebar.
Setelah pintu dibuka, Kinanti kemudian masuk ke dalam mobil tersebut.
Bara pun kemudian menutup pintu mobil, lalu dengan cepat masuk ke kursi pengemudi.
Kemudian pria muda itu membantu memasangkan sabuk pengaman untuk Sang Anak, setelah dia juga memakai sabuk pengaman dengan perlahan dimundurkan mobilnya dan kemudian mereka berjalan keluar dari lingkungan sekolah.
"Sayang, hari ini kita makan siang diluar ya. Mama harus ke kampus, Opa sama Tita lagi ada di luar kota. Jadi,.cuman ada kita berdua sampe sore nanti. Kamu mau makan apa?" jelas dan tanya Bara pada Sang Anak dengan sesekali menoleh kearah gadis cantik itu.
Kinanti kemudian berpikir, setelah mendengar penjelasan Sang Ayah.
"Kita makan shabu - shabu aja Pa." ide Kinanti.
"Oke. Kita meluncur sekarang." jawab Bara yang kemudian mengarahkan mobilnya ke sebuah Restoran Jepang terdekat.
...----------------...
__ADS_1
Langit sore itu terlihat mendung, semendung perasaan Darius. Anak lelaki itu melihat kearah jendela besar di dalam kamarnya, dia memandang ke arah langit, sambil ditangannya memainkan sebuah permainan rubik.
Tok...
Tok...
Tok...
Suara pintu kamarnya yang diketuk.
Darius sama sekali tidak menjawab, karena malasnya. Dia terus memainkan rubik tersebut dengan sambil sesekali menatap keluar jendela besar yang sekarang sudah berubah pemandangan. Hujan rintik - rintik mulai turun membasahi halaman rumah juga jendela kamar Darius.
"Den. Tuan Mauris ingin bicara." ucap seorang penjaga yang akhirnya masuk secara langsung dan menyerahkan sebuah ponsel ke hadapan Darius.
Anak lelaki itu dengan wajah masamnya, mengambil ponsel yang diserahkan kepadanya.
"Halo." ucap Darius dengan nada malasnya.
"Halo, dek. Kenapa nada suara kamu lemas begitu? Apa kamu belum makan? Atau ada yang sakit? Heum?" tanya Mauris dengan khawatir.
"Nggak kak, aku lagi bosen aja. Diluar juga lagi hujan. Kakak malam ini pulang?" jelas jujur Darius dan kemudian bertanya.
"Mmmm, sepertinya hari ini kakak nggak pulang juga. Kakak lagi ada di Papua. Oh ya Darius, kakak rasa kamu boleh menginap di villa keluarga yang ada di Lembah Pelangi. Untuk mengurangi rasa bosanmu, untuk 5 malam saja. Besok malam, kakak akan menyusul, sebelum berangkat ke Amerika!" jelas Mauris.
Kemudian Darius berdiri dari duduknya dengan wajah yang berbinar - binar.
"Sungguh kak? Aku, aku boleh keluar rumah? Maksudku nginep di villa kita di Lembah Pelangi?" tanya Darius dengan nada bersemangat.
"Hehehehehe. Iya, kakak ijinkan. Lagian besok malam, kakak juga sudah ada disana. Kakak nggak tega liat tampangmu yang tersiksa dan kesepian begitu. Tapi ingat, jangan berbuat hal konyol sebelum kakak datang. Juga, kalau kamu mau pergi kemana pun, penjaga akan terus mengikutimu." jelas Mauris.
"Iya - iya kak. Aku bakal ikutin semua aturan darimu, asalkan aku jalan - jalan keluar rumah." jawab Darius sambil mondar - mandir di depan jendela dan mengepalkan satu tangannya dan digerakan di depan wajahnya, saking senangnya anak itu.
"Ya sudah. Sekarang kamu makan, terus istirahat. Karena perjalanan besok akan lumayan lama." jelas Mauris.
"Kak Mauris. Terimakasih banyak!" jawab Darius sambil kemudian menutup telpon dari Sang Kakak.
Setelah itu, dikembalikan dengan cepat ponsel milik penjaga yang masih terus berdiri dihadapannya.
Lalu dengan berlari, Darius keluar dari kamarnya menuju ruang makan.
Sesampainya disana, dia duduk dengan tenang dan mulai mengambil semua makan yang sudah terhidang sore itu.
Wajah anak lelaki itu dipenuhi senyuman sangat senangnya, dengan sesekali dia bersenandung.
"Villa. Oh, villa. Here i come." batin Darius sangat senang.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...