
Dita sudah memakai pakaian dan alat hiking yang telah disiapkan oleh Kei. Senyumnya terkembang lebar saat dirasa tangan Sang Kekasih menggenggam tangannya.
"Kita keluar sekarang?" ucap Kei berbisik di telinga Dita saat pria muda itu sudah membuka pintu mobilnya.
Wanita manis itu mengangguk dengan semangat. Lalu Kei membantu Dita untuk keluar, setelah mengunci pintu mobilnya. Kei mulai memandu dan memberikan beberapa arahan jalur hiking khusus penyandang disabilitas. Lokasi traking juga juga hiking yang mereka datangi, di desain khusus oleh Kei dan beberapa rekan bisnisnya untuk saudara - saudara yang memiliki kebutuhan khusus. Dita terlihat sangat bersemangat, karena ini kali pertama dirinya berada di sebuah tempat dengan pengalaman cukup ekstreme untuk orang seperti dirinya.
"Aku akan selalu mendampingimu, kalau kamu butuh apapun tinggal menoleh, aku akan langsung...," ucapan Kei terpotong.
Dita meraba pundak Sang Kekasih dan memeluknya pelan.
"Kei, santai. Kamu udah bilang itu berulang - ulang. Aku akan cepat kamu bisa tolong, jarak kita kurang dari 1 meter. Jadi, bisa kita mulai sekarang, aku udah nggak sabar, mendengar dengan jelas suara - suara burung yang masih terdengar samar di telingaku...," ucap Dita sudah tidak sabar.
Kei tertawa kecil dengan gelengan kepalanya, lalu dia mulai menekan sesuatu.
"Ready for new adventure, My Love?" ucap Kei.
"Aku siap, ayo...," ucap semangat Dita.
Alat yang ditekan oleh Kei ternyata pemandu untuk Dita agar tetap berjalan dijalurnya dan alat itu akan mengekuarkan suara sangat nyaring jika, Dita atau para saudara tuna netra lainnya keluar dari jalur. Sehingga mereka juga bisa terhindar dari situasi yang tidak diinginkan, selain itu semua pendaki berkebutuhan khusus disini akan di dampingi oleh pemandu yang mereka bisa sewa ataupun mereka datang dengan orang - orang yang mereka kenal.
Selama masa hiking, jika melihat pemandangan yang sungguh menakjubkan, Kei akan memberitahu Dita melalui sebuah alat komunikasi yang juga tertempel di telinga mereka masing - masing. Sehingga Dita bukan hanya merasakan kesegaran dari keadaan udara di sekitar dan suara - suara hewan liar serta bunyi dedaunan yang bergoyang juga bergesek karena ulah Sang Angin. Senyum lebar dan suara kekaguman terus terdengar dari bibir mungil Dita.
"Sayang...," panggil Kei dari alat komunikasi itu.
"Hehm...," jawab Dita sambil menaikkan kedua alisnya.
"Coba kamu turun pelan dua step ke bawah, ada pemandangan yang sangat indah dan akan aku jabarkan...," pinta Kei.
Dita pun kemudian membalik tubuhnya dan perlahan turun sesuai arahan Kei.
__ADS_1
"Sudah, disebelah mana Kei?" jawab Dita.
Namun, tidak ada jawaban sama sekali. Dita menjadi sedikit bingung.
"Kei, halo. Kei...," ucap Dita mencoba beberapa kali memanggil Sang Kekasih.
Lalu wanita itu dikejutkan dengan gerakan yang celah menarik pinggangnya.
"Aku disini, pejamkan matamu. Akan aku tunjukkan pemandangan...," ucap bisik Kei yang sudah menempel dengan tubuh Dita.
Dita menghela napasnya karena ternyata Sang Kekasih yang menarik dan memeluk pinggangnya. Dipukul pelan dada Kei, sebelum akhirnya Dita memejamkan matanya sesuai pemintaan Sang Kekasih. Tawa kecil dan pelan Kei pun terdengar, setelah mendapat pukulan pelan itu. Setelah memastikan Sang Kekasih memejamkan matanya, kemudian dilepas pelan pelukkan dari pinggang ramping Dita, diganti dengan mengambil kedua tangan Sang Kekasih lalu ditempelkan di wajahnya.
"Ini pemandangan indah itu. Kamu merasakannya kan?" ucap Kei dengan senyum jahilnya.
Dita langsung membuka matanya dan mencubit kedua pipi Kei.
"Ih, dasar jail...," ucap Dita sambil mencubit dan membuat dower kedua pipi Kei.
"Hehm, aku seneng banget bisa nunjukkin tempat ini ke kamu. Aku seneng akhirnya dari jutaan mimpiku sama kamu, salah satu bisa terwujud lagi. Sayang, boleh aku meminta permintaan sama kamu?" ucap Kei sambil membenahi poni rambut Dita.
"Permintaan?" ulang Dita.
"Kejadian putusnya sesaat kita kemarin, membuat aku trauma. Duniaku benar runtuh seketika, aku kehilangan arah karena, aku memikirkan hari ini, besok dan seterusnya tidak akan ada kamu lagi. Aku ingin memohon padamu, jangan ada yang kita sembunyikan. Apapun itu, kamu harus menceritakan semuanya padaku, jika ada yang buat kamu nggak nyaman atau apapun. Begitu pun denganku, aku nggak mau ada salah paham diantara kita yang membuat kita nantinya terpisah. Sayang, apapun yang terjadi, aku nggak akan pernah melepaskanmu. Sampai kapan pun...," jelas dan pinta Kei dengan sepenuh hatinya.
Alih - alih menjawab permintaan Sang Kekasih. Dita memeluk Kei dengan erat.
"Maafkan aku. Aku melakukan itu juga untuk kebahagiaanmu, Kei. Aku hanya tidak mau kamu terbelenggu karena memiliki hubungan denganku yang tuna netra ini. Kamu orang baik dan berhak mendapatkan orang yang jauh lebih baik dariku, Kei. Aku...," ucapan Dita dipotong dengan ciuman yang diberikan oleh Kei, setelah dia melepas pelukkannya sedikit dari tubuh Sang Kekasih.
Dita membalas ciuman intens yang diberikan oleh Kei sesaat.
__ADS_1
"Kei, banyak orang...," ucap Dita dengan napasnya yang tersengal.
"Tidak ada siapapun disini, hanya aku, kamu, pepohonan dan hewan - hewan nakal yang mengintip karena pikiran mesum mereka melihat kita. Hehehehe..." jawab jahil Kei.
Dita lagi - lagi dibuat tersipu malu dan mencubit pelan perut ramping nan keras Kei.
Membuat pria itu berpura - pura meringis, sambil membelai lembut pipi Sang Kekasih.
"Jadi, bisa aku lanjutkan kegiatan kita yang tadi dan kamu bisa merasakan langsung kenikmatan pemandangan indah di hadapanmu ini...," jelas lanjut Kei dengan senyum miring dan nakalnya.
"Kei...," pekik pelan Dita dengan memukul dada Sang Kekasih.
Senyum lebar Kei, bersamaan dengan sentuhan lembut bibirnya ke bibir Dita. Mereka berciuman diantara banyaknya pepohonan dan binatang liar kecil juga lucu yang sesekali melintas diantara mereka.
Tanpa mereka sadari, ada sesosok yang sudah memperhatikan mereka sedari tadi hingga sekarang memandangi pasangan muda dimabuk asmara itu yang sibuk saling bersahutan memalui kedua bibir mereka.
"Bams? Sejak kapan dia?" gumam orang itu dengan kedua alis yang agak berkerut.
Sosok itu kemudian melanjutkan perjalanannya ke arah lain, meninggalkan pemandangan romantis nan erotis di hadapannya tadi.
Setelah puas berkomunikasi dengan ciuman hangat, Kei dan Dita melanjutkan perjalanan hiking mereka kini dengan bergandengan tangan hingga mencapai puncak.
Dipuncak, angin berhembus cukup kencang, membuat helaian rambut Dita terbang cukup keras. Kei yang melihat hal itu, lalu membantu Sang Kekasih mengepang rambut agak panjang Dita, kemudian memakaikan jaket tambahan ke tubuh Dita, lalu memeluknya dari belakang.
"Selamat, sayang. Kamu berhasil sampai puncak. Di depanmu terhampar pemandangan perbukitan hijau, dengan langit biru yang dihiasi oleh beberapa awan tipis. Perfect weather, perfect place and perfect man besides you. Cup...," jelas Kei sambil mendaratkan kecupan di pipi Dita.
Dita tersenyum lebar dan mengelus tangan Kei.
Terimakasih Kei dan aku mencintaimu...," ucap Dita yang sudah bersandar di dada Kei.
__ADS_1
"I love you more, Babe...," jawab Kei.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...