
Kinanti terlihat sangat bersemangat pagi itu, hari setelah dia resmi menjadi kekasih dari Darius sekaligus atasannya di kantor. Awalnya gadis mungil berambut panjang itu, memilih banyak baju hingga isi seluruh lemarinya habis dicoba, namun akhirnya dia kembali pada pilihan baju pertamanya. Setelah selesai memilih pakaian, kini dia sudah duduk di depan meja rias dan mulai memoles wajahnya dengan riasan yang awalnya terlihat sedikit berat atau lebih tepatnya menor. Saking seriusnya dalam mempersiapkan penampilannya pagi itu, Kinanti hingga tidak menyadari ada bunyi ketukkan dari pintu kamar gadis manis itu.
"Ckck, malaikat cantik Mama ternyata lagi sibuk...," ucapan Mirah, Sang Ibu terhenti ketika membuka pintu kamar Sang Anak sedikit dan mendapati Kinanti yang sedang berias dengan serius, namun pandangan Mirah teralih dengan cepat ke gundukan baju diatas tempat tidur gadis mungil itu.
Dengan wajah tercengang dan kemudian menghela napas agak kasar, wanita muda itu bersidekap, lalu menoleh kearah Kinanti.
"Baby, bisa jelaskan ini ke...," lagi - lagi ucapan Mirah terhenti ketika dilihat wajah aneh Sang Anak dari pantulan cermin rias.
Mirah pun lagi - lagi menghela napas, namun kini dengan senyum lebar yang hampir tertawa ketika dilihat wajah Kinanti yang benar - benar seperti topeng. Wanita muda agak gemuk itu lalu, memegang kedua lengan Sang Anak dari belakang dan menunduk ke samping wajah Kinanti, memandang wajah Anak Gadisnya dari pantulan cermin.
"Mama, bantu sambil kamu harus menceritakan semua yang terjadi kemarin malam dengan Darius, termasuk gundukan itu...," ucap Mirah.
Kinanti yang merasakan keanehan pada wajahnya pun tersenyum sambil memperlihatkan semua giginya. Mirah lagi - lagi menghela napas pendek, lalu memutar kursi Kinanti. Sang Ibu pun berdiri di depan wajah Kinanti, sambil menghapus semua riasan menor Sang Anak. Kinanti pun mulai menceritakan semuanya secara detail dan jujur.
"Dada kamu sakit lagi, Nak. Berarti Darius bohong kemarin?" ucap Mirah yang berhenti mempoles wajah Sang Anak dan memandang mata Kinanti dengan serius.
Kinanti menelan salivanya, lalu dia memegang tangan Sang Ibu.
"Sedikit Ma, tapi udah nggak pa - pa, berkat Mas Darius. Oh ya, Mama tau, ada suatu keajaiban. Sepertinya aku dan Mas Darius saling terkoneksi...," ucap Kinanti yang mencoba menenangkan Sang Ibu, dengan kemudian mengalihkan pembicaraan.
Mirah mencoba mengalah dan juga menenangkan diri, dengan kembali memoles wajah Sang Anak dengan tata rias.
"Terkoneksi gimana, sayang?" tanya Mirah di tengah - tengah kecemasannya.
"Mmm, jadi waktu rasa sakit aneh dari tanda lahirku ini kambuh. Mas Darius membantuku menggendongku dan otomatis aku dipeluk olehnya, saat itu juga rasa sakit yang kurasakan perlahan menghilang. Itu baru aku sadari kemarin, Ma. Jadi, karena kejadian kemarin juga, akhirnya sekarang aku sama Mas Darius udah resmi pacaran dan rencananya pagi ini, dia mau ketemu sama Mama dan Papa...," jelas riang Kinanti.
__ADS_1
Mirah pun sedikit melirik kearah Sang Anak, dilihat senyum manis gadis mungilnya itu. Wanita muda itu kemudian meletakkan semua peralatan rias Sang Anak, lalu diputar kembali kursi Kinanti dan kini gadis itu sudah kembali bercermin.
"Sebenarnya tanpa make up pun, kamu selalu terlihat cantik sayang. Tapi, karena hari ini adalah hari istimewamu dan Darius, make up ini paling pas untuk menghiasi wajah putih bersihmu. Bagus kalau pemuda itu mau ketemu Mama sama Papa, ada banyak pertanyaan yang mau Mama tanyakan padanya. Sebaiknya kamu turun sekarang, karena pemuda pencuri hati gadis mungil Mama ini, sudah tiba...," ucap Mirah sambil menoel ujung hidung Kinanti.
Wajah Kinanti terlihat terkejut dengan ucapan Sang Ibu, yang sudah berjalan keluar. Dua alisnya saling bertaut, sambil melihat arah jalan Sang Ibu.
"Apa? Mas Darius udah sampe, dia bahkan belum...," gumam Kinanti yang terpotong karena sura dering ponselnya.
Dilihat nama penelepon, lalu wajahnya tersenyum setelah melihat nama penelepon.
"Halo Mas...," ucap Kinanti dengan tersipu malu.
"Sayang, aku udah ada di depan rumah kamu. Aku mau bunyikan bel rumah ya...," ucap Dairus.
Kinanti terkejut dengan ucapan Sang Kekasih, dia kembali melihat kearah pintu masuk.
"Halo, sayang? Ki?" panggil Darius dengan nada lembut.
"Oh, oh iya Mas. Iya, aku turun sekarang...," ucap terbata Kinanti yang kemudian mematikan sambungan telepon itu dan melihat ke cermin sekali lagi, lalu dengan membawa tasnya, gadis mungil itu berjalan kearah rumah utama, yaitu rumah Sang Nenek juga Kakeknya dari pihak Sang Ayah. Terlihat semua anggota keluarga sudah berkumpul di ruang makan.
Kinanti kemudian menghampiri kedua orang tuanya. Baru gadis itu akan berbicara, Sang Ayah, Bara tiba - tiba menyela.
"Sudah datang? Ayo ajak masuk untuk bergabung dengan kita disini..." ucap Bara sambil mematikan layar komputer tabletnya dan kemudian melihat kearah Sang Anak.
Kinanti memiringkan sedikit wajahnya dan terdiam sesaat, memandangi secara bergiliran Sang Ayah dan juga Ibu.
__ADS_1
"Nanti sepulang kerja, aku mau bicara sama kalian berdua...," ucap Kinanti dengan serius dan langsung berlalu dari hadapan seluruh anggota keluarganya untuk menghampiri Sang Kekasih.
Darius yang sudah sampai di depan pintu rumah Sang Kekasih dan baru akan memencet bel rumah, sangat terkejut dengan pintu rumah yang tiba - tiba terbuka.
"Pagi Mas...," sapa Kinanti dengan wajah malu - malu dan menyampirkan helaian rambut ke belakang telinganya.
Wajah terkejut Darius berubah menjadi senyuman menawan, kala dilihat wajah cantik Kinanti. Diambil satu tangan gadis mungil itu untuk kemudian dicium punggung tangannya.
"Morning Sunshine. You look so gorgeous, walaupun aku sangat menyukai penampilan sederhana mu. Oh iya, ini buat kamu...," ucap jujur Darius sambil memberikan sekeranjang buah.
Wajah Kinanti bertambah merah dan sambil mengambil buah tangan Sang Kekasih, Kinanti mengelus jemari tangan Darius yang masih menggenggam jemari tangannya.
"Aku pengen keliatan lebih cantik, dihari pertama berangkat kerja bareng kamu...," ucap Kinanti.
Senyum Darius tambah lebar. Setelah itu, Kinanti menarik tangan Darius untuk masuk ke dalam rumah, menuju kearah ruang makan.
"Oma, Opa, Ma, Pa dan My Little Monster. Kenalin, oh mungkin hanya Oma, Papa sama Opa yang belum kenal Mas Darius. Oke, ini Mas Darius, dia adalah atasanku sekaligus baru saja menjadi kekasihku. Mas, ini semua anggota keluargaku dan pasangan tertua nan paling romantis disana adalah Oma dan Opa Ku, lalu pria paling tampan sejagat raya ini adalah Papaku...," jelas Kinanti sambil memegang ujung pundak Sang Ayah.
Darius kemudian tersenyum lebar sambil menganggukkan kepalanya memberi hormat pada tetua di rumah itu.
"Selamat Pagi semua, maaf saya datang sepagi ini dan langsung diperkenalkan selain sebagai atasan juga sebagai kekasih Kinanti. Sangat senang bisa berkenalan dengan Oma, Opa, dan juga Om. Tidak lupa juga, untuk Tante Mirah dan Bima, senang bisa bertemu lagi di suasana yang berbeda...," ucap sangat sopan Darius di depan semua anggota keluarga.
Bima yang tersenyum lebar, sambil melambaikan tangan pada Darius, bergumam dalam hatinya,
"Mmm, kenapa aura mereka seperti tersedot ke dalam tubuh Kak Darius. Siapa Kak Darius sebenarnya? Apa dia orang baik atau jahat atau...," batin Bima yang melihat fenomena aneh di depan matanya.
__ADS_1
"Sepertinya ada sesuatu di dalam diri pemuda ini. Dia memang orangnya, namun dia juga sekaligus menjadi ancaman terbesar kedua setelah Reo. Darius siapa sebenarnya kamu?" batin Bara sambil memasang senyum lebar, dengan banyaknya pertanyaan di dalam dirinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...