#TanpaNama : Akhir Perjalanan

#TanpaNama : Akhir Perjalanan
42.


__ADS_3

Para pria berbadan kekar itu, masih menghimpit tubuh Karla. Mata serta wajah bengis mereka terus memprovokasi gadis seksi itu.


"Kami beri kamu peringatan pertama, jika kamu berani - berani lagi mendekati, mengancam apalagi menyakiti Nona Dita Kartasasmita. Kami akan memastikan, pertemuan kita selanjutnya akan lebih menyakitkan dari ini dan juga tubuhmu akan kami nikmati dengan baik. Mengerti?" ucap mengancam pria kekar yang masih mencengkram pipi Karla.


Gadis itu kemudian terdiam dan tidak memberi perlawanan lagi, ketika di dengar ucapan pria kekar itu.


"Dasar gadis buta brengsek." batin Karla dengan emosinya.


Lalu anggukan pelan dilakukan oleh gadis itu. Para pria kekar suruhan Bams, lalu saling pandang antar mereka. Perlahan, namun pasti pria itu melepas cengkeramannya. Ditepuk pelan dan kemudian dielus pipi Karla dengan lembut.


"Nona Karla. Anda cantik, seksi dan juga menggoda. Namun sayang, kelakuan dan hati Nona. Sungguh busuk. Kami harap, anda bisa mencamkan ucapan saya tadi." ucap pria kekar itu sambil satu tangannya mulai menggoda bagian tubuh Karla lainnya.


Mata tajam Karla melihat dengan terbelalak, ketika tangan pria itu mengelus leher lalu ke belahan dadanya dan mengelus paha mulusnya yang terekspose jelas. Senyum pria yang lain terkembang lebat, ketika dilihat aksi jahil Sang Teman.


Kedua tangan Karla mencengkram lapisan sofa tempat duduknya dan dia sedikit menahan napas, saat dilihat pria itu sedikit melakukan pelecehan pada tubuh sintalnya.


"Ayo. Urusan kita sudah selesai. Cup. Jangan sampai kita bertemu lagi, Nona Karla Newmora." ucap pria itu sembari mengecup pipi Karla, lalu dia memberi kode untuk segera meninggalkan ruangan klub tersebut pada anggotanya yang lain.


Sepeninggal pria - pria bengis itu, Karla masih membeku sesaat. Tubuhnya perlahan tidak lagi bergetar, dia mulai mengusap bagian yang dijamah oleh salah satu diantara pria kekar tadi. Diusap berkali - kali pipinya, yang sempat dicium oleh pria itu. Lalu matanya memandang dengan tajam, wajahnya memerah. Dia melempar semua botol minuman, gelas serta semua makanan yang tersaji diatas meja. Hingga berserakan di lantai ruangan itu. Napasnya tersengal, ketika dia terus - menerus berteriak.


"Hah. Hah. Bams, lihat saja nanti. Aku akan membuat gadis buta mu lebih menderita dan identitas mu akan ku bongkar dihadapannya. Kau pasti akan kembali ke tanganku. Kau akan berlutut memohon belas kasihan padaku. Pasti...," ucap Karla dengan sangat emosi.


...----------------...


Di ruangan bawah tanah, Kevin sedang memejamkan matanya. Hingga terdengar suara gemerincing kunci yang dibawa oleh seorang pria agak tua. Pria itu berjalan kearah ruangan tempat Kevin berada, dipandangi pemuda itu sesaat dengan mata tajamnya. Lalu dibuka kunci grendel besar gembok pintu besi itu, dengan kunci yang dibawanya. Pintu besi itupun dibukanya, terdengar suara khas pintu besi tua, menekan telinga. Perlahan Kevin membuka matanya dan menoleh keasal suara.


Brugh...


Suara sebuah benda yang dilempar kearah lelaki besar nan kekar itu.


"Bersihkan dirimu, lalu obati lukamu. Baru kita bicara di ruangan saya." ucap pria tua itu dengan nada dingin dan suara agak seraknya.

__ADS_1


Kevin memandangi sesaat benda yang dilempar pria itu.


"Pak Hermin, Sarah. Bagaimana keadaannya? Kakinya terluka parah, apa, apa sudah...," ucapan Kevin terhenti.


Pak Hermin, pria tua itu berbalik kembali saat dia sudah akan pergi meninggalkan ruangan tempat Kevin berada.


Kedua alisnya bertaut, rahangnya mengeras. Dia terlihat tiba - tiba emosi.


"Nona Sarah, panggil dia dengan sebutan Nona. Sarah. Kev, harus berapa kali saya katakan? Hubungan kalian bukan seperti dulu lagi. Sekarang kamu dan dia adalah, majikan dan pesuruh. Kubur dalam - dalam perasaan sayang, suka dan cintamu itu. Ingat jika Tuan dan Nyonya Adyatama tau, mereka akan benar - benar menghabisi keluargamu. Mengerti? Sekarang cepat bangun dan keluar." jelas dan ucap Pak Hermin dengan nada emosi juga dinginnya, lalu dia keluar meninggalkan pria kekar yang masih terduduk lemas.


Kevin dengan wajah sendu, lalu meremas benda yang diberikan Pak Hermin kepada dirinya.


Dia masih terduduk, sambil memikirkan ucapan orang tua itu.


"Sarah, aku...," batin Kevin yang tidak karuan.


Lalu perlahan pemuda itu bangun dan berjalan dengan masih sempoyongan. Dia keluar dari penjara itu, kemudian menaiki tangga menuju ke kamarnya. Kemudian dia menaruh benda berbentuk tas, yang diberikan oleh Pak Hermin diatas mejanya. Dengan berjalan merunduk, Kevin menuju ke kamar mandi. Dia menyalakan shower, lalu mengguyur seluruh tubuhnya. Dirasa sangat perih dan sakit, lalu beberapa kali dia memukul dinding kamar mandi, karena rasa kesal dan emosi yang tidak pernah bisa dia tumpahkan. Lalu dipegangi dadanya yang terasa pedih dan juga sedikit sesak.


Sesudah selesai mandi, Kevin lalu mengobati bagian tubuhnya yang luka. Hingga sebuah ketukan pintu kamar mengalihkan perhatiannya. Dengan masih berbalut handuk dari pinggang ke bawah, Kevin membuka pintu kamarnya.


"Biar Ibu bantu...," ucap seorang wanita tua di depan pintu kamarnya.


Senyum tipis terkembang di wajah Kevin, lalu dia membuka pintu itu lebar dan membiarkan wanita tua itu masuk. Kevin lalu berjalan ke hadapan wanita itu dan membalik tubuhnya. Dengan gerakan perlahan wanita itu mengoleskan salep obat yang diserahkan oleh lelaki kekar itu, ke setiap luka goresan di punggungnya.


"Kamu sungguh menyukai Nona Sarah, Kevin?" tanya wanita itu sambil sesekali melirik kearah wajah Kevin dari samping.


Pemuda itu hanya terdiam dan tidak bereaksi atas pertanyaan wanita itu. Dia bereaksi dengan sedikit mengernyit, ketika dirasa perih dan sakit pada lukanya yang terkena salep tersebut.


"Ibu, benar - benar khawatir padamu Kev. Keluarga Adyatama tidaklah setara dengan keluarga kita. Ibu hanya tidak mau kamu lebih tersakiti dari ini. Nak, lupakanlah Sarah. Dia bukan di takdirkan untukmu." jelas Sang Ibu.


Disaat yang bersamaan, Sulaiman mendekat kearah kamar Kevin.

__ADS_1


"Pagi Ibu Santi. Kevin, kamu sudah di tunggu Pak Hermin, di ruangannya." ucap Sulaiman sembari memberi salam pada Ibu Santi, Ibunda Kevin.


Kevin hanya mengangguk dan kemudian berjalan mengarah ke lemari pakaiannya. Ibu Santi, lalu meletakkan obat oles yang digunakannya tadi dan akan pergi meninggalkan kamar Kevin, wanita itu berbalik sedikit kearah Sang Anak.


"Ibu harap kamu, belajar dari peristiwa ini, Kev." ucap Ibu Santi yang lalu pergi meninggalkan kan pemuda itu, begitupun Sulaiman.


Kevin masih terdiam dan lalu mengenakan pakaiannya.


...----------------...


Sarah sudah berada di ruang rawat, dia terbaring sembari menatap kilauan cahaya yang masuk dari jendela kamar itu.


Lalu sebuah ketukkan, terdengar dari luar kamar rawatnya. Seorang gadis berambut panjang, masuk dengan pakaian serba hitamnya.


Dia berjalan mendekat ke samping ranjang Sarah.


"Selamat Pagi, Nona Sarah. Perkenalkan Saya Grace. Saya pengawal baru, Nona. Jika butuh bantuan apapun, mulai sekarang Nona bisa menyampaikannya pada saya." ucap Grace sembari menunduk.


Sarah terkejut mendengar penjelasan gadis yang terlihat kekar dan ramping itu. Dia lalu bangun dari posisi tertidurnya.


"Kevin. Kemana dia?" tanya Sarah.


Grace terdiam dan masih menunduk.


"Hei. Saya tanya, Kevin mana? Saya tidak perlu pengawal baru, saya hanya butuh Kevin. Saya hanya mau Kevin." ucap Sarah yang lalu turun paksa dari ranjangnya.


Gadis itu menyeret kakinya yang masih diperban. Grace yang melihat hal itu, lalu segera mendekat kearah Sarah. Namun Sarah mendorong tubuh Grace ke samping hingga menabrak ujung ranjang. Sarah terus berjalan, hingga tiba - tiba pintu ruang rawatnya terbuka. Mata Sarah dan orang yang ada di depan pintu bertemu.


Mereka terdiam sesaat.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2