
Kinanti ada di dalam kamarnya, dia sedang duduk di sofa dekat dengan jendela, suasana malam itu kebetulan sedang turun hujan lumayan lebat. Gadis mungil itu duduk sambil menyisir rambutnya yang bertambah panjang.
"Pak Darius. Akh, aku harus segera melupakannya dan ciuman waktu. Baginya kejadian itu benar - benar hanya sebuah kesalahan. Makanya Ki, jadi orang jangan ke GR an dulu. Calon istrinya Pak Darius itu, jauh lebih kece dan seksi ketimbang kamu. Hehm...," ucap Kinanti menyalahkan dirinya sendiri, dengan menyisir asal helaian rambutnya.
Disaat yang bersamaan terdengar ketukan pintu kamar dan Kinanti menoleh sesaat kearah pintu, dengan agak lambat dia berdiri, lalu berjalan kearah pintu. Setelah dibuka, terlihat senyum cerah dari wajah Eyang Lila.
"Hai, cantik. Boleh Eyang masuk?" tanya Eyang Lila sambil mengelus satu pipi Sang Cicit.
"Tentu saja, Yang Yut. Sini...," jawab Kinanti yang langsung membantu Sang Eyang Buyut untuk masuk.
Langsung saja Kinanti menutup pintu dan menggandeng lembut lengan Eyang Lila untuk menuju ke sofanya. Wajah Eyang Lila terlihat teduh, matanya berkeliling melihat setiap sudut kamar Kinanti yang terlihat rapi, bersih dan juga wangi.
"Mari, Eyang Yut bantu menyisir rambutmu...," ucap Eyang Lila yang melihat rambut tergerai Kinanti dan sebuah sisir yang dibawanya.
Kinanti mengangguk perlahan dan menyerahkan sisir itu, lalu berbalik membelakangi wanita tua itu. Eyang Lila mulai menyisir perlahan rambut panjang Kinanti, sambil terus tersenyum.
"Kinan, apa belum ada yang mau diajak ke rumah?" tanya Eyang Lila, tiba - tiba.
Kinanti mengerutkan sedikit alisnya dan menggaruk caping rambutnya yang tidak gatal.
"Heum, maksudnya Yang Yut?" tanya Kinanti agak tidak mengerti.
Tawa kecil Eyang Lila terdengar ke telinga Kinanti. Lalu wanita tua itu menjalin dengan pelan dan lembut rambut Kinanti.
"Kekasih. Kapan, kekasih tampangmu mau diajak main ke rumah? Eyang Yut pikir, kamu sudah pantas untuk memiliki seorang teman dekat atau mungkin calon suami?" ucap Eyang Lila sambil sesekali melirik ke arah samping wajah Kinanti.
Gadis itu sedikit menunduk dan memainkan jemari tangannya.
"Mmm, Eyang Yut. Aku boleh tanya sesuatu?" ucap Kinanti, alih - alih menjawab pertanyaan Sang Nenek Buyut.
Eyang Lila yang kebetulan juga sudah selesai menjalin rambut Sang Cucu, lalu mengikatnya dengan karet rambut kecil. Lalu di rapikan sedikit lagi rambut Kinanti, baru kemudian dia membalik tubuh Sang Cucu untuk menghadap ke arah wajahnya.
__ADS_1
"Cantik. Kamu sangat cantik. Jadi, cucu buyutku ini mau bertanya soal apa? Heum...,?" ucap Eyang Lila memuji kecantikan wajah Kinanti sambil mengelus puncak kepala gadis itu.
Sedangkan Kinanti tersenyum, lalu terlihat sedikit ragu.
"Mmm, ini tentang tanda lahirku berbentuk bintang ini. Apa iya, memang itu tanda lahir? Kenapa aku merasa selalu kesakitan, di waktu - waktu tertentu, ditambah lagi kini tanda itu memiliki sulur yang merambat hingga naik ke pundakku...," tanya Kinanti dengan penasaran.
Eyang Lila lalu, mengambil satu tangan Kinanti dan memeluknya perlahan. Senyum tipis terkembang di wajah keriput Eyang Lila.
"Kinanti sayang. Tentu saja itu tanda lahir, hanya saja milikmu agak berbeda, karena kamu adalah anak istimewa. Jika rasa sakit itu datang, satu hal yang harus kamu lakukan, jika rasa sakit itu datang, kamu harus mengatur napas dan pusatkan pikiran pada Eyang Yut. Nanti, sebisa mungkin Eyang Yut akan membuat rasa sakit itu hilang. Oke...," jelas Eyang Lila.
Kinanti sebenarnya merasa penjelasan Eyang Lila cukup aneh, tapi jika dia bertanya lebih banyak lagi, gadis itu berpikir Sang Eyang Buyut pasti akan mencari alasan aneh lain, dengan tujuan menenangkan dirinya.
"Iya Eyang Yut. Kinan ngerti. Eyang Yut, makasi ya, Eyang selalu ada buat Kinan juga Bima. Kinan sayang Eyang Yut...," jawab Kinanti sambil memeluk erat tubuh Eyang Lila.
Eyang Lila pun membalas pelukan Sang Cicit.
"Maafkan Eyang Yut ya sayang. Nanti, secepatnya Eyang Yut akan mencari cara untuk menghilangkan kutukan itu. Baru saat itu tiba, Eyang akan menceritakan yang sesungguhnya padamu, Nak...," ucap Eyang Lila dalam hati.
"Eyang Yut, Kinan akan mencari tau kebenaran soal tanda bintang yang sudah memiliki julur ini. Kinan nggak mungkin selamanya hidup dengan rasa sakit yang menyiksa juga selalu membuat semua orang khawatir....," batin Kinanti.
...----------------...
Dengan bingung sambil mondar - mandir di depan gadis tomboi itu, membuat Grace merasa kesal melihatnya.
"Kev, kamu kenapa sih? Pagi - lagi udah main tarik - tarik aku kesini? Ada apa? Jangan mondar - mandir begitu terus, pusing aku liatnya...," ucap Grace dengan tangan bersidekapnya.
Kevin lalu mendekat kearah Grace, memegang kedua lengan gadis itu dan menatapnya lekat.
"Grace, aku harus gimana? Aku semakin khawatir dengan Sarah, terlebih kejadian terakhir kali yang menimpa dirinya. Harapanku hanya kamu, aku sungguh bingung. Aku seperti terjebak dengan situasi ini...," jelas Kevin dengan nada khawatirnya dan suaranya yang sangat pelan, agar tidak ada yang bisa mendengar.
Grace menghela napasnya dan menatap lekat wajah Kevin.
__ADS_1
"Kev, yang punya ide ini dari awal kamu. Aku sudah pernah bilang, lebih baik kamu jujur dengan perasaanmu pada Nona Sarah, kamu juga sudah tau konsekuensinya. Aku punya ide agar kamu bisa kembali menjadi pengawal Nona Sarah. Tapi, aku tidak jamin ini bisa berhasil...," jawab Grace.
Tiba - tiba Kevin langsung menarik dan memeluk Grace, karena merasa sangat senang.
"Thank's Grace...," ucap Kevin yang memeluk dengan erat.
Grace pun memeluk dan mengelus punggung Kevin.
"Sama - sama Kev, aku doakan, semoga kali ini tidak akan ada kejadian seperti yang terakhir kali menimpamu dan Nona Sarah...," ucap doa Grace.
Tanpa sepengetahuan mereka, Sarah yang baru bangun dan bermaksud untuk berjalan - jalan sesaat di dekat kamar rawatnya, menghentikan langkahnya ketika dilihat dari jauh, Kevin yang nampak sedang berpelukan dengan Grace. Sarah yang sedang memegang tongkat penyangga infusnya, langsung memegang erat tiang besi putih itu hingga sedikit berbunyi seperti terpelintir.
"Jadi, kalian sukanya bersembunyi begini. Memadu kasih tanpa banyak yang mengetahui. Kalian sungguh. Menjijikkan...," gumam Sarah dengan wajah datar dan pandangan dinginnya.
Lalu dia memutuskan untuk kembali ke kamarnya dengan perasaan sangat emosinya.
...----------------...
Sore itu Kei menunggu kepulangan Dita di depan pintu pagar rumah wanita itu. Dia memutuskan untuk tidak datang ke sekolah tempat Sang Kekasih mengajar, karena takut mengganggu.
Dengan perasaan gelisah, pria muda itu terus melihat kearah jam tangannya.
"Harusnya Dita sudah sampai. Kenapa sampai jam segini, belum keliatan? Apa dia belanja dulu baru pulang?" ucap khawatir Kei.
Lalu dia menghubungi salah satu pengawal yang selalu mengikuti Dita, kemanapun wanita itu pergi.
"Halo. Dita, sekarang ada dimana?" tanya Kei.
Pengawalnya pun menjawab di seberang, yang membuat Kei awalnya bersandar di tempat duduk motornya, menjadi berdiri dengan wajah yang terlihat emosi dan satu tangannya terkepal.
Tanpa menjawab, pria muda itu lalu bergegas naik keatas motor, setelah memakai helm. Kei langsung tancap gas.
__ADS_1
"Sialan. Kenapa bisa ada dia, di dekat Dita?" batin Kei dengan rasa takut juga khawatir yang menyelimutinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...