#TanpaNama : Akhir Perjalanan

#TanpaNama : Akhir Perjalanan
20.


__ADS_3

"Ohhh, Bapak Darius Kusuma. Selamat Datang. Juga Selamat Pagi Pak." sapa Ibu Stella yang tiba - tiba sudah berdiri di belakang Rasti juga Kinanti.


Mata Kinanti dan juga Darius yang tadinya saling bertaut, kemudian Darius lebih dulu mengalihkan pandangannya dari gadis mungil itu.


Degh...


Degh...


Degh...


Jantung Kinanti berdebar dengan sangat kencang.


Pandangannya tidak bisa lepas dari Darius, dilihatnya terus wajah lelaki tampan itu.


Darius kemudian berjalan kearah Ibu Stella berdiri, begitupun dengan pandangan serta tubuh Kinanti yang bergerak mengikuti arah gerakan tubuh Darius.


Lalu Ibu Stella menggiring pemuda tampan itu untuk menuju ke ruang kerjanya.


"Apa dia Darius. Darius teman di mimpiku yang tiba - tiba menghilang?" batin Kinanti yang tiba - tiba mengingat teman di mimpinya semasa kecil.


"Shhuuuttt. Ki, Kinanti." panggil Rasti berbisik sambil sedikit bersiul, karena Sang Sahabat dilihatnya sangat intens menatap Darius.


"Heh. Heh. Woi." panggil Rasti lagi berbisik, sambil sekarang memukul pelan pundak Kinanti.


Lalu gadis mungil itu tersadar dan berbalik kearah Rasti.


"Ke, kenapa Ras?" tanya Kinanti setelah tersadar dari lamunan dan tatapannya terhadap Darius.


"Kamu yang kenapa? Ampe kayak gitu amat ngeliatin Bos barumu. Kenapa, love at first sight? Heum, heum?" ucap goda Rasti.


Lalu mata Kinanti memicing dan mulutnya cemberut.


"Cih. Ngasal aja, sana balik ke mejamu. Aku masih banyak kerjaan juga." ucap kesal Kinanti.


"Dih, dia marah. Eh Ki, marah berarti bener loh. Ati - ati Ki, awalnya emang sok - sokan menyangkal. Ntar lama - lama jadi beneran." ucap menggoda Rasti lagi sambil mengerlingkan matanya, sambil berlalu dari hadapan Kinanti.


"Cih. Kebanyakan ngedit komik tuh anak. Ckckck." ucap Kinanti sambil berdecih dan kemudian memulai pekerjaan hari itu.


...----------------...


Kini Darius dan juga Ibu Stella sudah berada di ruangan perempuan paruh baya itu.


Mereka duduk berhadapan dan setelah perbincangan cukup panjang, Darius kemudian mengambil cangkir teh yang disajikan untuknya.


Pemuda itu meneguk sekali tehnya.


"Oh Iya Pak Darius. Saya lupa memperkenalkan Bapak dengan seseorang yang akan menjadi asisten Bapak. Sebentar akan saya panggilkan." ucap Ibu Stella lagi.


Kemudian wanita tersebut berjalan ke mejanya dan mengangkat gagang telponnya.


Dia menekan sebuah nomer yang kemudian tersambung di salah satu meja staffnya di luar.


"Ki. Bisa ke ruangan saya sebentar?" ucap lembut Ibu Stella.


Kinanti yang berada di luar lalu menatap kearah ruangan atasannya itu sesaat.

__ADS_1


"Baik Bu." jawabnya kemudian.


Setelah keduanya menutup telepon, Kinanti lalu beranjak dari kursinya dan langsung berjalan kearah ruangan Ibu Stella.


Tok...


Tok...


Tok...


Suara ketukkan pintu terdengar pelan.


"Masuk Ki." jawab Bu Stella.


Ceklek...


Dengan menunduk Kinanti membuka pintu tersebut dan langsung masuk. Ditutupnya kembali pintu ruangan Sang Atasan.


Kinanti pun berdiri di dekat pintu, lalu mendongak kearah Bu Stella juga Darius.


"Ki, perkenalkan ini Bapak Darius Kusuma. Beliau yang nantinya akan menggantikan posisi saya sebagai kepala editor, Bapak Darius ini juga aktif di dalam menulis beberapa karya sastra baik online ataupun offline." jelas Bu Stella soal Darius pada Kinanti.


Pandangan Kinanti sedaritadi sudah kembali menatap Darius dengan lekat begitupun dengan Darius. Hingga tidak bergeming sama sekali.


"Ki, Kinanti?" panggil Ibu Stella pada Kinanti.


Lalu mata Kinanti beralih kearah Ibu Stella.


"Oh, eh. Iya Bu." jawab Kinanti tidak karuan.


"Kamu kenapa? Sakit?" tanya Ibu Stella lagi.


"Tidak, tidak Bu." jawab Kinanti.


"Aku, seperti pernah bertemu dengannya?" batin Darius.


"Apa dia, Dariusku?" batin Kinanti lagi.


Ibu Stella kemudian berbalik kearah Darius, guna memperkenalkan Kinanti.


Baru akan dibuka mulutnya, mata wanita paruh baya itu malah tertuju ke arah pandangan Darius. Diikuti arah pandang yang menatap lekat Kinanti, begitupun dengan gadis berambut panjang yang masih berdiri tersebut, yang tanpa berkedip kembali memandang Si Atasan baru.


"Pak Darius." panggil Ibu Stella dengan terbata.


Namun tidak ada respon dari pemuda tampan itu.


Hingga Ibu Stella mencoba memanggil sekali lagi, dengan sekarang melambaikan tangan di depan wajah lelaki sangat tampan itu.


"Halo, Pak Darius." panggil Ibu Stella kesekian kalinya.


"Ohhh, maaf. Maaf Bu Stella, gimana Bu?" jawab Darius akhirnya tersadar.


Senyum Ibu Stella mengembang.


"Iya Pak. Ini adalah Kinanti Bulan Putri Bara, dia adalah asisten editor yang sangat handal, rajin serta teliti juga cermat yang pernah kami miliki. Kinanti akan menjadi pendamping Bapak, sehingga jika Pak Darius membutuhkan sejumlah bantuan. Silahkan untuk segera menghubungi Kinanti." jelas Ibu Stella.

__ADS_1


Darius pun mengangguk pelan dan tiba - tiba senyumnya mengembang tipis untuk Kinanti.


Gadis manis itupun balik tersenyum pada Darius.


"Selamat Pagi dan selamat datang di Kobuka Corporation. Saya Kinanti, Bapak bisa panggil saya singkat dengan, Ki saja ataupun dengan Kinan. Saya pasti langsung melesat hadir kehadapan Bapak." jelas Kinanti dengan sedikit tengil.


Wajah Darius kembali berwajah datar, setelah mendengar jawaban tengil dari Kinan.


Di saat Ibu Stella sudah tersenyum lebar, ketika mendengarnya.


"Issshhh. Tegang amat itu urat - urat muka. Huhhhh, ternyata dia bukan Dariusku. Benar - benar berbeda." batin Kinanti yang sedikit kesal dengan reaksi Sang Atasan baru.


Ibu Stella yang melihat ada sedikit kecanggungan diantara Darius juga Kinanti, akhirnya Ibu Stella mengakhiri sesi perkenalan mereka.


"Ehemmm, oke Ki. Kamu sudah bisa kembali ke meja kamu lagi." ucap Ibu Kinanti sembari berdeham.


"Baik Ibu Stella, Pak Darius. Saya permisi dulu. Senang bisa berkenalan langsung dengan Pak Darius." jawab Kinanti dengan sedikit menunduk, lalu gadis berambut panjang itu perlahan keluar ruangan Ibu Stella.


...----------------...


Saat makan siang, sebelum keluar untuk mencari santapan siang bersama dengan Rasti. Kinanti sempat melipir sejenak ke toilet. Setelah dia selesai membuang air kecil dan menutup penutup klosetnya, gadis itu kemudian terduduk diatasnya.


Kemudian dikeluarkan ponselnya dari balik kantung blazer yang dikenakannya.


Dia mulai menjelajah salah satu akun media sosial. Di ketiknya nama Darius Kusuma dan ternyata ada beberapa akun dengan nama yang sama. Dilihatnya satu persatu akun - akun tersebut.


"Ternyata dia, nggak punya akun media sosial ini. Apa...," gumaman Kinanti terhenti, ketika tiba - tiba dirasa sakit di dadanya.


"Aaaakkkhhh. Kok, tiba - tiba sakit dan panas ya. Disini?" ucap pelan Kinanti.


Lalu dengan masih memegang dada kirinya, dia membuka pintu toilet dengan satu tangan yang bertumpu pada dinding toilet. Gadis itu berjalan ke arah cermin di dalam toilet itu.


Kemudian dia celingukan, setelah dirasa aman. Kinanti kemudian melepas kancing kemeja yang dikenakannya, untuk memeriksa dada kirinya tersebut.


"Loh tanda ini? Kenapa jadi merah dan ada garis pendek baru yang, sakit?" ucap Kinanti yang merasa keheranan saat melihat tanda kutukannya yang berubah merah dan sudah mulai bereaksi.


Tak...


Tak...


Tak...


Kemudian ada beberapa suara langkah sepatu mendekat dan masuk ke dalam toilet tersebut.


Dengan gerakan cepat Kinanti memasang kembali kancing bajunya.


Lalu dengan sedikit tertunduk, gadis itu keluar.


...----------------...


Darius yang kini sudah berada di dalam mobil, dia duduk di kursi penumpang baris kedua.


Pandangannya menatap sebuah mini pad. Tangannya sangat lihai memainkan tombol - tombol huruf di atas keyboardnya. Hingga tiba - tiba, jantungnya berdebar dan terasa perlahan sakit juga nyeri dan panas.


"Awww. Kenapa, kenapa tiba - tiba sakit?" batin Darius yang langsung memegang dada kirinya.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2