
Sret...
Suara sabuk pengaman yang ditarik oleh Darius. Lelaki itu dan juga Kinanti menahan napasnya, dengan gerakan cepat dipasangkan sabuk itu. Tubuh mungil Kinanti pun dibawa kebelakang hingga tertekan ke belakang dinding kursinya.
"Ehem. Mobil saya tidak bisa dinyalakan, kalau kamu tidak pakai sabuk pengaman." ucap Darius sambil melihat kearah depan dengan wajah, kuping yang memerah dan juga berdeham.
Kinanti pun berwajah yang sama dan juga menjadi salah tingkah.
"Oh, maaf Pak." jawab Kinanti singkat tanpa berani melihat kearah Darius.
Lalu Darius melihat sesaat ke kaca spion sampingnya dan langsung tancap gas. Selama perjalanan, Darius sesekali melirik kearah Kinanti, sedangkan Kinanti menjadi tambah tegang.
"Ck, hei, hei. Berhenti berdetak cepat, Pak Darius bisa bikin orang salah paham aja nih." batin Kinanti tidak karuan.
Sedangkan Darius merasa ada yang lain di dadanya.
"Perasaan apa ini, sebenarnya. Aku seperti pernah mengenal dia, tapi dimana? Lalu kapan?" batin Darius yang semakin penasaran akan Kinanti.
Perjalanan mereka tempuh kurang lebih 30 menit, hingga sampai di tempat tujuan.
"Pak, kita mau ketemu klien disini?" tanya Kinanti masih polos dan hanya memikirkan soal pekerjaan.
Darius melepas sabuk pengamannya, lalu menoleh sesaat kearah Kinanti.
"Bukan ketemu klien, tapi mau ngajak kamu makan. Saya nggak mau, kamu sakit gegara nggak makan siang. Nanti kamu bakal mikir, selain dingin, saya juga kejam sama bawahan. Macam Romusa." ucap Darius, dengan gaya jutek dan dinginnya seperti biasa.
Degh...
Kinanti agak terkejut dengan ucapan Darius.
"Hah? Dia kok, bisa baca pikiranku tadi sih. Gawat nih, aku nggak boleh ngedumel tentang dia dalam hati, besok - besok." batin Kinanti yang merasa kalau Darius bisa membaca pikirannya.
"Ayo turun." ajak Darius yang lalu turun dari mobilnya.
Kinanti pun segera melepas sabuk pengamannya dan langsung turun, mengikuti langkah Sang Atasan.
...----------------...
Siang itu, Sarah baru saja bertemu dengan seorang klien. Setelah menandatangani surat perjanjian antar perusahaan, lalu mereka saling berjabat tangan dengan posisi berdiri.
"Senang bisa punya kesempatan untuk bekerja sama dengan perusahaan anda, Ibu Sarah." ucap seorang pria paruh baya.
"Tentu, Bapak Riswan. Silahkan." ucap Sarah yang lalu menggiring pria itu untuk keluar dari ruangan tempat temu janji mereka.
__ADS_1
Setelah mengantar hingga ke lobi, lalu pria paruh baya itu masuk ke dalam sebuah mobil yang sudah menunggunya dan Sarah berbalik akan kembali ke ruangan tadi. Namun langkahnya terhenti, ketika matanya mendapati sebuah pemandangan yang menarik.
Alih - alih kembali ke ruangan, gadis seksi itu malah berjalan kearah lain.
"Wah - wah, nggak nyangka bisa ketemu calon suamiku disini. Hai, Kak Darius." ucap Sarah dengan senyum manis yang terkembang, sambil menyapa Darius yang baru saja masuk dan akan mengikuti arahan seorang pelayan laki - laki di depannya.
Gadis seksi itu berjalan pelan, namun pasti hingga sampai di depan Darius.
Darius yang mengenal suara itu, lalu menarik napas pendek dan menoleh kearah Kinanti.
"Kamu duluan, nanti saya nyusul." ucapnya.
Lalu Kinanti mengangguk dan mengikuti pelayan laki - laki di depannya untuk masuk ke sebuah ruangan VIP.
Sepeninggal Kinanti, Darius yang masih melihat sesaat ke arah gadis mungil itu. Setelahnya dia menoleh ke orang yang menyapanya dengan raut wajah datar dan dinginnya.
"Apa tadi kamu bilang? Calon suami? Jangan mimpi siang - siang bolong dan satu lagi. Saya ngerasa sial banget, hari ini harus ketemu sama kamu. Permisi, saya tidak ada waktu untuk memperpanjang obrolan tidak penting ini." jelas Darius sambil berlalu dari hadapan Sarah.
Sarah yang belum sempat mengucapkan apapun lagi, terkesima mendengar ucapan Darius.
Dengan wajah yang tiba - tiba memerah dan detak jantung yang sangat cepat, karena emosinya. Dia kemudian mengepalkan tangannya dan berjalan berbalik arah kembali ke ruangannya.
...----------------...
Kinanti yang sudah sampai di sebuah ruangan VIP. Lalu duduk dengan tenang, sambil melihat buku menu dengan pikiran Kinanti melayang ke tempat lain.
Gadis itu melamun hingga tidak sadar Darius sudah ada di depannya. Lelaki muda itu bertanya sesuatu pada Kinanti, namun tidak dijawab hingga akhirnya dilirik sesaat gadis kecil itu.
Tuk...
Tuk...
Suara meja depan Kinanti yang diketuk oleh Darius.
Seketika Kinanti mendongak.
"Pak, Darius?" ucap Kinanti yang terkejut melihat Darius sudah duduk di depannya.
"Kamu kebanyakan ngelamun Kinan, mau pesan apa?" tanya Darius yang kembali melihat buku - buku menu di tangannya.
Kinanti kembali salah tingkah dan membalik halaman buku menu ke depan lagi karena ternyata sudah mencapai halaman terakhirnya.
Setelah akhirnya memesan, makanan pun datang. Mereka makan dalam hening, dengan sesekali saling lirik.
__ADS_1
"Ada yang mau kamu tanyakan?" ucap Darius sambil memotong daging steak yang dipesannya.
Mata Kinanti bergerak ke kiri dan kanan.
"Mm, tidak Pak." jawab Kinanti ragu.
"Oh iya, sebelum saya lupa. Kalau perempuan tadi, tiba - tiba nongol di kantor. Langsung usir ya. Saya tidak mau punya urusan sama dia." ucap Darius.
Kinanti sampai berhenti mengunyah dan memandang lekat wajah Darius. Lelaki itu yang akan mengambil gelasnya pun, kemudian ingin memandang wajah Kinanti menghentikan gerakannya dan mengusap sudut bibirnya.
"Kenapa lagi Kinan? Kenapa kamu mandangin saya seperti itu?" tanya Darius dengan satu alisnya yang naik, setelah melihat kearah Kinanti.
"Ehehm." batuk singkat Kinan yang ketahuan sedang terpaku menatap wajah Darius.
Lalu dia mengambil gelas minumannya dan meminumnya hingga habis.
"Nggak Pak. Nggak ada apa - apa. Saya kaget aja, bukannya Mbak yang tadi itu. Calon istri Bapak. Maaf Pak, kalau boleh tau alasannya apa? Saya nggak mungkin ngusir - ngusir orang tanpa alasan." tanya dan jelas Kinanti.
Darius terdiam sesaat sambil kembali memotong daging di piringnya.
"Jadi menurut kamu, dia serasi sama saya?" tanya balik Darius.
Alis Kinanti bertaut, gadis itu bingung.
"Hah? Kok malah balik nanya, situ yang punya pacar. Ck, ck. Memang benaran ini orang aneh." batin Kinanti.
"Mm, maaf Pak. Kalau dilihat dari visual Bapak sama Mbak yang tadi, bener - bener serasi." jawab Kinanti polos.
Senyum miring terkembang di wajah Darius.
"Hehehehe. Ternyata dia se polos ini." batin Darius sambil kemudian meneguk minumannya.
"Dih, dia senyum aneh. Emang jawaban aku salah, orang emang bener. Dia sama tuh cewek serasi secara visual. Huh." batin Kinanti sedikit kesal, karena senyum Darius yang dianggap meremehkannya.
Selesai meneguk minumannya, lalu Darius mengusap seluruh bibirnya. Lalu memandang Kinanti dengan lekat.
"Jadi, menurut kamu tampilan fisik adalah segalanya dalam sebuah hubungan percintaan dua insan manusia?" tanya Darius.
Kinanti kembali melirik kearah Sang Atasan, sambil mengusap bibirnya sebelum akhirnya dia menjawab,
"Kalau saya pribadi Pak, visual itu nomer kesekian. Tapi, untuk sebagian orang apalagi dia punya strata tinggi secara ekonomi dan lingkungan keluarga yang terpandang. Biasanya mereka pasti akan melihat orang dari visualnya. Makanya Pak, orang kaya sering kena tipu, karena suka orang ganteng, cantik dan kaya. Tanpa tau latar belakang dan sifat asli orang itu." jelas Kinanti dengan penuh percaya diri.
Senyum lebar kini terkembang di wajah Darius yang sebelumnya datar dan terkesan dingin.
__ADS_1
Namun Kinanti, malah menautkan kedua alisnya karena kesal.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...