#TanpaNama : Akhir Perjalanan

#TanpaNama : Akhir Perjalanan
49.


__ADS_3

Dita yang terdiam di pinggir ranjangnya, masih berada dalam panggil telepon.


"Halo, Selamat Malam Nak Dita. Saya dengan Ibu Manda, Mami dari Kei...," ucap penelepon.


Dita terlihat gugup dengan meremas baju tidurnya.


"Selamat Malam Ibu. Maaf, ada yang bisa saya bantu?" tanya sopan Dita.


Ibu Manda yang sedang berada di ruang kerja, kemudian berjalan kearah tempat duduk di belakang meja kerjanya.


"Saya, langsung saja. Saya dan Papi Kei, sangat senang bahwa kini, anak kami sudah berubah jauh lebih baik, mungkin setelah bergaul dengan anak - anak penyandang disabilitas juga karena Nak Dita. Namun, perlu Nak Dita ketahui, saya tidak ingin kebaikan Kei disalah artikan oleh orang - orang. Sejujurnya, Kei adalah anak yang sangat baik, manis juga bertanggung jawab. Saya ingin Kei bisa mendapat pendamping yang setara dengannya, sehat rohani juga jasmani tanpa kekurangan sedikit pun. Saya harap Nak Dita, mengerti maksud saya...," jelas Ibu Manda dengan posisi duduk tenang di kursi meja kerjanya.


Dita memandang lurus, kemudian tersenyum lebar.


"Berikan saya waktu, Ibu dan Bapak tenang saja. Saya pun sudah memikirkan ini dari lama, sama seperti Ibu, saya hanya ingin Kei bahagia. Jika kami teruskan hubungan ini, Kei menjadi orang yang selalu berkorban...," jawab Dita, setelah beberapa saat sempat terdiam.


Senyum lebar pun mengembang di wajah Ibu Manda. Wanita itu memutar kursi untuk memandang ke arah kolam renang.


"Terimakasih atas pengertianmu, Nak Dita...," ucap terakhir Ibu Manda yang lalu mengakhiri sambungan teleponnya.


Dita yang masih duduk di pinggir ranjang, menurunkan ponsel dari telinganya dengan lemas.


"Akhirnya, waktu ini tiba juga. Aku harus membuat perpisahan ini, menjadi perpisahan yang sangat menyakitkan untuk Kei. Aku harus membuat dia, membenciku...," gumam Dita, yang juga langsung memikirkan sebuah ide untuk bisa mengakhiri hubungannya dengan Kei.


...----------------...


Sarah yang sudah keluar dari rumah sakit, namun masih terpincang. Menuruni tangga dengan dibuntuti oleh Grace, hingga akhirnya dia sampai di ujung tangga dan berbalik badan tiba - tiba, lalu membuat Grace terkejut, gadis kekar itu kemudian naik satu anak tangga dengan wajah yang tertunduk.

__ADS_1


"Mulai hari ini, saya tidak butuh bodyguard. Jadi, jangan...," ucapan Sarah terpotong.


"Maaf, Nona. Apapun yang terjadi, saya tidak bisa menuruti permintaan Nona. Tuan dan Nyonya akan marah, ditambah lagi keadaan Nona yang belum sembuh total. Saya hanya tidak mau Kevin yang akan menderita akibat permintaan tidak masuk akal Nona...," jelas Grace dengan wajah yang masih tertunduk.


Sarah menekan rahangnya dengan gigi, ketika di dengar pembelaan Grace terhadap Kevin. Lalu gadis itu mengangguk - angguk dan kembali melanjutkan menuruni tangga dengan wajah kesalnya.


Gadis itu berjalan ke arah pintu utama, ketika dibuka pintu itu. Dia melihat Sang Ibu yang baru saja turun dari mobil dengan di kawal oleh Kevin dan beberapa pria kekar lainnya.


Sarah tidak memperdulikan Sang Ibu, berbeda dengan wanita paruh baya itu. Wanita itu menghentikan langkahnya dan berbalik kearah Sarah, lalu berucap,


"Mau kemana kamu? Jangan berulah lagi...," tanya dan ucap Sang Ibu dengan tatapan sinis juga bersidekap.


Sarah yang ada di arah yang berlawanan dan juga sedikit berposisi di depan, lalu membalik tubuhnya dan mendekat ke arah Sang Ibu. Dipegang dan elus geraian rambut Sang Ibu, lalu dibawa kebelakang pundak dengan pelan.


"Mama sayang, aku pergi untuk menemui calon suamiku tercinta, Darius Kusuma Soetanto. Aku berniat untuk bercinta dengannya malam ini, agar semua rencana kalian untuk bisa menjadi besan keluarga Soetanto berhasil. Namun, lihat. Bodyguard yang kalian pilihkan ini, tidak memberiku sedikit pun ruang privasi. Kemana - mana selalu mengikuti, layaknya anjing peliharaan...," jelas Sarah dengan kata - kata sedikit kasar, sambil melirik sinis ke arah Grace.


Senyum sinis terkembang dari wajah Ibu Debora. Lalu dia mendekat kearah kuping Sarah.


Senyum miring Sarah, sambil kemudian menatap kearah Kevin yang tidak menatap dirinya sama sekali.


"Jangan khawatir, aku juga berencana segera pergi dari sini. Jika aku mendapatkan Darius, aku bisa kawin lari tanpa perlu meminta restu kalian." jawab bisik Sarah, sambil melihat kearah Kevin dengan tajam


"Oke. Aku pergi sekarang dan ingat Mamaku sayang, aku tidak mau gadis ini ataupun yang lainnya mengikuti. Bye...," ucap pamit Sarah dengan pakaian minim bahan dan gaya santainya, namun masih terlihat jelas kakinya tertatih.


Ibu Debora mengepalkan satu tangannya dan tangan satunya menahan lengan Grace, saat gadis itu ingin mengikuti langkah Sarah.


"Jangan ikuti dia secara terang - terangan, pantau dari jauh. Terus informasi kegiatan Sarah...," perintah Ibu Debora.

__ADS_1


Grace mengangguk, lalu dia perlahan membiarkan Sarah pergi sendiri dengan mobilnya. Baru kemudian gadis bertubuh cukup kekar itu, mengikutinya dengan beberapa orang di mobil lain.


Kevin dan Ibu Debora melanjutkan langkah untuk masuk ke dalam rumah. Kevin berusaha menahan perasaan kesal, cemburu dan khawatirnya. Wajahnya pun tidak mengekspresikan apapun.


"Aku harap, kamu tidak berbuat konyol Sarah...," batin Kevin.


Sedangkan Sarah, melajukan mobilnya sangat kencang hingga membuat mobil pengawalnya hampir tidak mampu mengikutinya. Gadis itu ternyata pergi keluar kota, setelah mengemudi selama 3 jam tanpa henti. Akhirnya mobil mewah Sarah, menepi di sebuah pantai yang sangat sepi. Dia keluar dengan kaki yang masih tertatih, berjalan meninggalkan mobilnya menuju sebuah mercusuar.


Grace dan kawan - kawan memilih memantau dari jauh, dengan teropong yang dibawa salah satu teman Grace, dipantau pergerakan Sarah. Hingga terdengar sebuah umpatan keluar dari mulutnya,


"Sialan...,"


"Nona Sarah, mau melompat, cepat...," ucap rekan Grace tersebut.


Secepat kilat mereka keluar dari mobil dan berlari dengan kencang ke arah mercusuar, namun terlambat. Sarah sudah menjatuhkan tubuhnya ke dalam lautan yang kala itu berombak besar.


Seketika pula semua pengawal melompat ke dalam laut, menyelam untuk mencari tubuh Sarah.


Kevin sedang beristirahat, ketika sudah selesai mengawal Ibu Debora hingga sampai ke rumah. Dia sedang memejamkan mata sambil merebahkan tubuhnya di kursi santai, dalam kamarnya. Hingga sebuah pesan singkat masuk.


Pemuda besar nan kekar itu lalu merogoh kantung celana kainnya. Mengintip sesaat nama pengirim pesan.


"Sarah...," ucapnya pelan. Lalu dia bangun dan duduk dengan tegak, sambil membuka pesan tersebut.


"Kevin, jika kita tidak bisa bersama karena alasan yang tidak jelas. Lebih baik aku mati, aku tidak sanggup melihatmu bersama dengan Grace atau gadis lainnya. Kamu tau, aku tidak pernah punya kebebasan apapun sedari kecil, hanya kamu yang mengganggapku sebagai manusia dan selalu menjulurkan tanganmu ketika aku membutuhkan pertolongan dan selalu menemaniku di kala aku merasa kesepian. Namun semua kenangan indah itu hilang seketika, karena keadaan kita juga berubah. Selamat tinggal Kevin, terimakasih untuk semuanya." isi pesan Sarah.


Mata Kevin membulat, dia lalu bangun dan segera menghubungi Grace. Namun, tidak ada jawaban sama sekali. Dia keluar dari dalam kamar dan mencoba melacak semua posisi pengawal Sarah. Setelah di dapat posisi mereka, dengan cepat dia bergerak mengikuti arahan peta digital di ponselnya dengan mengendarai mobil.

__ADS_1


"Sarah, tolong jangan nekat. Aku, aku tidak rela jika kamu meninggalkan aku sendiri disini. Tolong tunggu aku...," batin Kevin dalam perjalanan dengan sesekali memukul - mukul setir di hadapannya karena emosi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2