
Dita terdiam sesaat di dalam toilet, dia berusaha menjernihkan pendengarannya. Digelengkan kepalanya, untuk memastikan sebuah suara yang baru saja didengarnya.
"Bams? Kenapa di tempat seperti ini? Nama itu, nama itu...," batin Dita yang menjadi gelisah, diikuti tubuh dan kedua tangannya yang mulai bergetar.
Wanita muda itu, mencoba untuk mengontrol dirinya, agar tidak gugup, dan penyakit lamanya kambuh.
"Tenang Dita. Tenang, bukan pasti kamu salah denger, iya, kamu salah denger. Tarik napas, hembuskan, tarik, hembuskan...," ucapnya pada dirinya sendiri.
Setelah dirasa tenang, wanita muda itu lalu keluar dari dalam toilet, dengan memanggil - manggil nama Kei.
"Kei, Kei...," panggilnya beberapakali.
Kei yang sudah kembali ke posisi awal langsung mengambil tangan Sang Kekasih dan menggiringnya ke tepi dindin toilet, kemudian dipeluk pinggang wanita itu.
"Hei, hei. Ada apa, heum? Kenapa kamu keliatan panik? Tenang, tarik napas, hembuskan, kalau sudah tenang, mau ceritakan apa yang terjadi?" ucap Kei dengan sabar dan lembut.
Dita mendengarkan arahan Kei dan dia kembali mengulangi melakukan tindakan yang sudah sempat dilakukannya di dalam toilet.
Kei kemudian menyampirkan helaian rambut Dita di kedua telinga wanitanya.
"Oke, sudah lebih tenang?" tanya Kei yang juga mengelus lembut punggung Dita.
Wanita itu mengangguk pelan. Kei yang merasa masih khawatir, memutuskan untuk membawa Sang Kekasih ke area mereka akan kamping.
"Mmm, gimana kalau sekarang kita ke area kamping? Setelah menaruh semua barang - barang dan kamu juga bisa istirahat sebentar, baru habis itu, kalau kamu udah siap cerita, aku bisa mendengarkan dengan baik, tanpa gangguan orang lain. Setuju?" ucap Kei masih dengan lembut.
Tanpa berbicara, Dita langsung mengangguk dengan cepat. Kei kemudian memeluk tubuh Dita dari samping dan menggiring wanita itu sambil membawa kembali tas mereka ke dalam mobil, kearah mobil. Setelah masuk ke dalam mobil, lalu mereka menuju ke area kamping, yang awalnya ingin ditempuh oleh mereka dengan berjalan kaki. Namun, karena keadaan Dita yang tidak memungkinkan, Kei memutuskan untuk memakai kendaraan agar cekat sampai disana. Tidak butuh waktu lama, setelah memarkir mobilnya dan membantu Dita keluar dari mobil, mereka disambut oleh salah satu staff area kamping tersebut.
"Bapak Ba, Kei maksud saya. Silahkan...," ucap staff tersebut yang hampir saja memanggil nama asli Kei.
Kei meneguk salivanya sekali dan menahan napas, kemudian memejamkan sesaat mata, kemudian baru dia mengangguk - anggukkan kepala. Dita sedikit menoleh ke asal suara.
"Kei...," ucap Dita lembut.
__ADS_1
"Ayo, sayang...," jawab Kei yang menatap kearah staff tersebut dengan sedikit melotot.
Staff tersebut sedikit menunduk dan menunjukkan arah dengan tangan, yang kemudian memandu mereka.
Setelah berjalan beberapa saat dengan tas yang juga menyertai mereka di belakang. Staff tersebut berhenti di sebuah tempat private. Tenda kamping yang besar, pemandangan danau luas di hadapan mereka, berdampingan dengan taman bunga yang juga tidak kalah luas.
"Selamat Datang Di Glamping Sunrise Mountain. Sesuai permintaan Bapak, tempat kamping private yang baru saja selesai di bangun telah kami siapkan. Jika membutuhkan sesuatu silahkan, menghubungi saya sebagai manager on location yang bertugas atau staff lainnya yang sedang bertugas. Selamat menikmati waktu anda disini dan selamat siang...," jelas staff tersebut yang kemudian pergi berlalu setelah mendapat anggukan kepala dari Kei.
Kei kemudian membantu Dita, masuk ke dalam tenda tersebut. Staff yang membantu bawa tas mereka pun, sudah pergi sesaat setelah Kei memberikan uang tips. Kemudian pria muda itu membereskan tas mereka sebentar, lalu menghampiri Dita.
"Gimana kamu udah merasa tenang?" ucap Kei dengan meraih satu tangan Dita.
Diluar dugaan, Dita langsung memeluk Kei dengan erat.
"Aku tadi sempat mendengar namanya, nama orang yang sudah menodaiku. Nama itu, terdengar jelas disebutkan oleh seseorang saat aku masih di dalam toilet...," ucap Dita dengan tubuhnya yang bergetar.
Degh...
Degh...
"Kalau boleh aku tau, siapa nama bajingan itu?" tanya Kei pelan.
Dita terdiam sesaat.
"Bams, nama dan aroma tubuhnya sampai sekarang masih...," ucapan Diata terpotong oleh Kei.
"Shut - shut, sudah. Jangan diingat - ingat lagi, maafkan aku. Seandainya aku tau, aku pasti sudah menghajar orang itu...," ucap Kei sembarangan.
Dita kemudian melepas pelukkannya. Kedua tangannya lalu meraba wajah Sang Kekasih.
"Terimakasih, Kei. Kamu sudah mau menerimaku yang kotor ini. Terimakasih juga, karena kamu tidak pernah menyerah atas hubungan ini. Aku mencintaimu...," ucap tulus Dita.
Mata Kei berbinar, pria muda itu merasa sangat bersalah, karena tidak bisa jujur dari awal. Lalu dia mencium bibir lembut Dita, mendekap bibir itu dengan kehangatan bibirnya.
__ADS_1
"Benar yang dikatakan Edo, aku rasa, aku harus mengaku, siapa diriku sebenarnya? Aku sudah banyak menorehkan luka di diri Dita. Tapi, untuk sekarang, aku ingin menikmati momen - momen ini, sebelum nantinya, dia pasti akan membenciku seumur hidupnya...," batin Kei.
...----------------...
Darius sudah berada di atas ranjang, setelah selesai membersihkan dirinya. Dari mulai sampai di rumahnya hingga sampai di posisinya sekarang, Darius dan juga Kinanti terus bertukar pesan singkat. Kedua sejoli yang memutuskan untuk menjalin hubungan lebih dari rekan kerja itu, terlihat benar - benar sedang dimabuk asmara. Senyum terus terkembang diwajah tampan Darius.
"Hah. Rasa aneh di dadaku ini, sedikit terobati setelah aku memutuskan untuk berpacaran dengan Kinanti. Hehm, dia memang gadis yang imut dan menggemaskan juga sangat baik. Aku kembali merindukan dia, padahal baru sesaat saja kami berpisah. Aku tidak sabar hari besok segera terbit. Kinantiku...," gumam Darius sambil memandangi foto profil di aplikasi pesan singkatnya.
Dilain sisi Kinanti yang sudah tertidur lelap dan masuk ke alam mimpi. Mata gadis mungil itu terbuka, ketika dirasa semilir angin dingin menempa kulitnya.
"Engh, dimana?" gumam Kinanti sambil mengucek sebelah matanya.
"Tinggalkan dia, tinggalkan...," terdengar sebuah suara bergema.
Kinanti yang masih terduduk di atas alas bebatuan di sebuah lorong panjang dengan penerangan obor di sepanjang lorong itu.
Kepala gadis mungil itu menoleh kesana - kemari.
"Siapa? Siapa disana?" teriak Kinanti yang suaranya juga bergema.
Namun hanya keheningan yang dirasa, tidak ada suara sedikit pun. Hingga api obor - obor itu tertiup angin yang cukup kencang dan juga membuat mata Kinanti tertutup sesaat, karena terpaan angin itu.
"Tinggalkan dia, tinggalkan dia gadis kecil. Jika tidak, dia akan mati. Kau yang akan membuatnya, menemui ajal. Maka tinggalkan dia, secepatnya...," kembali suara bergema itu memberi peringatan.
Kinanti memicingkan matanya, dengan perasaan aneh yang kembali muncul. Lalu dia mengerutkan alisnya.
"Hei, apa maksudmu? Siapa? Siapa yang harus aku tinggalkan? Hei...," teriak Kinanti.
Kini di dunia nyata. Kedua tangan meremas dua sisi seprai ranjangnya.
"Siapa? Siapa? Siapa...," teriaknya.
Kinanti dengan peluh yang sudah membasahi pelipis dan juga matanya yang terbuka seketika. Matanya juga terbelalak.
__ADS_1
"Mas Darius...," nama pertama yang terbersit dikepalanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...