
Sarah masih belum bangun dari tidurnya. Wajah pucat dan tirus Sarah terlihat jelas. Ibu Debora mendekat kearah ranjang rawat Sang Anak, dibelai lembut pipi Sarah dengan senyum miringnya.
"Beruntung kamu dulu, tidak aku buang. Kamu adalah dosa untukku Sarah, namun kini kamu adalah aset yang harus jaga dengan baik sebelum nanti akan dipersunting oleh keluarga Soetanto. Setelah itu, aku juga Papa mu yang tidak berguna itu akan terbebas dari semua hutang - hutang dan perusahaan kami bisa kokoh kembali. Jadi Sarah, lebih baik kamu cepat sadar. Agar acara pernikahanmu segera terlaksana...," ucap Ibu Debora di depan wajah Sang Anak.
Sarah sama sekali tidak bergeming atau menunjukkan tanda - tanda kesadaran, setelah diajak bicara seperti itu oleh Sang Ibu. Jiwa gadis seksi itu sedang terperangkap di dalam tempat yang sangat gelap dan dipenuhi oleh kabut.
Jiwa Sarah tergeletak dengan posisi miring, dia mengenakan gaun agak transparan berwarna pink pucat. Rambut panjang sepinggang dan agak bergelombangnya, tergerai. Napas gadis itu terdengar teratur, hingga terdengar sebuah suara.
"Hei gadis cantik, bangunlah. Bangunlah...," panggil suara itu lembut dan bergema.
Perlahan kabut di sekitar jiwa Sarah menghilang, tempat gelap yang membelenggu dirinya pun perlahan berganti menjadi tempat yang sangat asri. Terlihat sungai mengalir dan pohon - pohon pinus mengelilingi pinggir aliran sungai itu. Hembusan angin lembut menerpa tubuh Sarah, pakaian dan juga rambutnya bergerak perlahan.
"Gadis cantik, bangunlah. Bangunlah sayang...," ucap suara itu lagi.
Perlahan namun pasti, tangan Sarah perlahan bergerak, napasnya pun agak meningkat. Gadis itu mulai bisa mendengar samar suara yang memanggilnya.
"Gadis cantik, hei...," ucap suara itu.
"Siapa? Kevin? Kevin...," batin Sarah menjawab.
Matanya terasa sangat berat, namun dipaksa untuk terbuka. Pandangan matanya samar juga bergoyang. Sarah mencoba membangunkan dirinya sendiri, namun kepalanya masih terasa sangat sakit.
Dipijit perlahan ujung pelipisnya dengan satu mata yang terpejam.
"Dimana ini...," gumam lemah Sarah yang masih 1/2 terduduk.
"Gadis cantik. Hehehehe, akhirnya kamu sadar. Hallo...," ucap suara itu.
Sarah celingukan, gadis itu mencari asal suara. Lalu dia mencoba bangun, namun kakinya masih sangat lemah sehingga tidak kuat menopang tubuh rampingnya.
"Siapa? Siapa kamu?" tanya Sarah dengan berteriak.
Sesaat tidak ada suara selain gemericik aliran air sungai juga burung - burung yang bertengger di dahan pohon ataupun yang sibuk berterbangan. Lalu Sarah kembali mencoba bertanya hal yang sama dan lagi - lagi tidak ada jawaban, awalnya.
"Aku adalah pelindungmu gadis cantik. Boleh aku tau, siapa namamu?" jelas singkat dan tanya suara itu.
Kini giliran Sarah yang terdiam, dia berpikir sebelum menjawab pertanyaan dari suara itu.
__ADS_1
"Bohong, kamu pasti hantu tadi. Hantu yang masuk ke dalam tubuh dan juga membawaku ke tempat gelap berkabut. Namun, sekarang dengan sihir yang kau miliki, kamu memindahkan aku ke sini. Aku tidak akan memberitahumu identitasku...," jelas Sarah dengan berteriak hingga urat - urat lehernya terlihat.
Suara itupun terdiam.
"Baik. Dengar, gadis cantik. Waktu ku dan juga dirimu tidak banyak di tempat ini. Aku akan membantumu untuk kembali ke tubuh aslimu, karena saat ini kamu sedang ada di alam imajinasi. Kamu tidak boleh terlalu lama ada di sini, aku takut Iblis Reo yang sempat memanipulasi dirimu kembali ke sini. Namun, kamu harus mendengarkanku. Jika nanti kamu tersadar, kamu tidak boleh mendekati lautan untuk sementara waktu, selain itu usahakan kamu untuk selalu berpikiran positif. Aku tidak bisa menjagamu dan mengawasimu dari incaran Reo jika kamu tidak memberi tau namamu. Tolong diingat gadis cantik, karena jika hal ini terulang lagi. Aku rasa jiwamu yang asli akan menghilang menjadi butiran debu. Sekarang, cepat tutup matamu. Aku akan membawamu kembali...," jelas detail suara itu.
Sarah sangat bingung dengan semua penjelasan suara itu, hanya satu yang dia mengerti menutup matanya agar bisa segera kembali ke tubuh aslinya.
Tit...
Tit...
Tit...
Alat detektor jantung Sarah meningkat, beberapa tim medis masuk ke dalam untuk melihat keadaan gadis itu.
"Hah. Hah. Ini, dimana?" pikir Sarah yang seketika membuka matanya dengan napasnya yang tersengal.
Dokter yang sudah berada di samping ranjang Sarah, lalu memeriksa dengan alat - alat medis yang dibawanya. Selama diperiksa, Sarah teringat akan hal yang dikiranya mimpi.
...----------------...
Jimie akhirnya menemukan tempat tinggalnya yang baru, berupa rumah kontrakan kecil dengan 2 kamar tidur, ruang tamu mini juga ruang keluarga mini, dapur dan 1 kamar mandi. Wajahnya sangat sumringah ketika memasukkan barang - barangnya satu persatu dari truk jasa pengangkut barang.
Ketika pemuda itu sedang mengangkat di dus besar sekaligus, dia melihat Dita berjalan mendekat kearah rumah kontrakan barunya.
"Dit...," panggil Jimie dengan cepat dia masuk untuk menaruh dus yang sedang dibawanya, kemudian agak berlari dia menghampiri Dita yang sedang membawa buah dan kue untuk dirinya.
"Hei, Jim. Lagi sibuk banget ya? Maaf, aku ke sini cuman mau kasih kamu ini. Ada buah, kue juga nasi box buat kamu makan siang. Pasti kamu nggak sempet nyiapin makanan buat hari ini kan?" jelas Dita sambil mengangkat buah tangan yang dibawanya ke depan wajah Jimie.
Senyum terkembang, wajah lumayan tampan Jimie berbinar, setelah melihat barang bawaan Dita juga kebaikan hati wanita muda itu.
"Hehm, aku mau jawab pake basa - basi ya Dit...," ucap Jimie.
Wajah bingung Dita dengan satu alis yang naik.
"Jawaban basa - basi? Maksudnya...," ucap Dita penasaran.
__ADS_1
"Gini nih, kalau jawab basa - basi. Dita, repot - repot amat, nggak usah aku bisa beli sendiri. Padahal dalam hatiku nih Dit. Buah tangan kamu ini mah, rejeki nomplok. Kan kebanyakan orang, sukanya basa - basi. Ngerti nggak ya kamu?" ucap aneh Jimie.
Dita kemudian tertawa terbahak-bahak mendengar penjelasan teman barunya itu.
"Hahahaha. Jimie, kamu bener - bener garing. Serius kamu temen terkoyak sekaligus tergaring di sepanjang hidupku. Hahahaha...," ucap Dita dengan tawa terbahaknya.
Jimie pun jadi salah tingkah, wajahnya merona merah dan satu tangan mengelus belakang kepalanya. Melihat reaksi Dita. Kemudian Jimie mengajak Dita untuk masuk ke dalam rumahnya untuk menikmati buah tangan yang dibawa wanita muda itu. Selain itu Dita juga mencoba membantu Jimie menata barangnya yang bisa dijangkau olehnya ataupun sesuai arahan Jimie.
"Dit, thank's banget ya. Kamu bener - bener temen aku yang istimewa banget. Kemampuan istimewa yang kamu miliki, bener - bener buat aku kagum. Makasi juga buat makanannya, enak banget...," ucap Jimie yang sudah mengantar Dita hingga ke depan pintu pagar rumah wanita muda itu.
Senyum cerah Dita terkembang.
"Sama - sama. Ya udah, aku masuk dulu ya. Bye, Jim...," ucap Dita dengan senyum yang masih merekah.
Langkah Dita terhenti, ketika satu tangan Jimie menahan tangannya.
Wanita muda itu lalu menoleh, kearah kira - kira Jimie berdiri.
"Mmm, Dit. Besok, boleh aku antar kamu ke sekolah? Nggak ada maksud apa - apa, cuman rasa terimakasih aku aja. Untuk hari ini juga bantuan tulus kamu sejauh ini. Kalau kamu keberatan juga nggak pa - pa...," tanya dan jawab Jimie sendiri yang lagi - lagi salah tingkah.
Bukannya segera menjawab, Dita lagi - lagi tertawa terbahak - bahak.
"Hahahaha. Sama kamu aku nggak pernah, nggak ketawa. Boleh Jim, tentu boleh. Besok aku ngajar pagi jam 9. Aku tunggu disini ya...," jawab Dita setelah tawa cerianya.
Wajah sumringah Jimie kembali terlihat jelas.
"Thank's Dit. Besok, besok sebelum jam 9. Aku jemput. Malam Dita, aku pulang dulu...," ucap Jimie.
Dita tersenyum dan kemudian melambaikan tangan dan masuk ke dalam rumah.
Mereka tidak tau, kalau semua kegiatan mereka selalu dipantau oleh orang - orang kepercayaan Kei. Salah satu pengawal itu, lalu mengirimkan sebuah foto juga video percakapan antara Dita juga Jimie.
Kei yang sedang berenang dan sedang beristirahat di pinggir kolam, baru akan meminum air putih di gelasnya. Pandangannya teralihkan oleh bunyi ponsel di sebelah gelas tersebut. Diambil benda kecil nan pintar itu, kemudian kedua alisnya bertaut wajahnya memerah.
"Jimie. Jimie. Ada apa dengan pemuda itu...," ucap kesal Kei yang memegang erat ponselnya hingga selaput pelindung benda itu berbunyi retak.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1