
Setelah melepas rindu dengan Sang Suami di dimensi lain. Eyang Lila kembali dengan selamat ke dalam kamarnya. Wanita tua itu kemudian mengambil tas tangannya dan menuju keluar kamar, hingga lagi - lagi langkahnya terhenti, karena ad sebuah cahaya putih yang tiba - tiba muncul diatas kepalanya.
"Lila sayangku. Maaf, aku lupa dengan ini...," suara Eyang Kakung Kian kembali terdengar.
Sinar putih itu menurunkan sebuah botol bening kecil dan Eyang Lila menangkapnya dengan perlahan.
"Sang Pencipta, memberikan ini beberapa waktu yang lalu. Beliau menitipkan pesan, bahwa benda ini akan berguna untuk Kinanti suatu hari nanti. Jadi, simpanlah ini dengan baik. Jangan tanyakan itu apa ya, sayang. Karena aku pun tidak tau...," jelas Eyang Kakung Kian yang kemudian suaranya menghilang bersamaan dengan sinar putih yang perlahan sirna.
Eyang Lila tersenyum miring dan kemudian memandangi benda kecil di tangannya.
"Hehm. Reo sudah membuat Sang Pencipta resah. Sebaiknya aku simpan ini dulu, baru segera ke rumah Rendra...," ucap Eyang Lila.
...----------------...
Bima sangat sumringah melihat kedatangan Sang Eyang Buyut. Bukan hanya tersenyum, pemuda cilik itu langsung berhambur memeluk Eyang Buyut dan juga Sang Kakek.
"Eyang Yut, Bima mau cerita...," ucap Bima.
Tawa kecil Eyang Lila terkembang, sedangkan Ayah Rendra lalu menggendong Sang Cucu untuk masuk ke dalam rumah Mirah.
"Mau cerita apa pemuda tampan...," ucap Eyang Lila yang kemudian menoel ujung hidung Bima.
Tawa kecil Bima pun terdengar. Lalu dia menarik lengan baju Eyang Lila dan memberi kode agar wanita tua itu agak menunduk karena Bima ingin membisikkan sesuatu.
"Aku sepertinya menemukan orang yang bisa menyelamatkan nyawa Kak Kinanti...," bisik Bima.
Mata Eyang Lila membulat, lalu dia menjauh sedikit dari Bima dan memandang kearah Ayah Rendra.
"Nak, apa yang kamu katakan, benar? Maksud Eyang, bisa kamu ceritakan secara benar. Siapa laki - laki yang kamu maksud?" tanya Eyang Lila dengan alis yang agak berkerut.
Lalu Bima mulai bercerita soal kedatangan Darius waktu itu yang berniat menengok Kinanti. Ayah Rendra dan Eyang Lila mendengarkan dengan seksama cerita dari cucu dan cicit kecil mereka.
"Jadi gitu Yang...," ucap akhir Bima sambil kemudian duduk dengan tenang dan menarik napasnya pendek.
Eyang Lila dan Ayah Rendra saling pandang.
Baru mereka akan mengutarakan sebuah pertanyaan lagi, tiba - tiba Kinanti datang bersama dengan Mirah, Sang Ibu.
"Loh, Eyang, Ayah. Udah lama?" ucap dan tanya Mirah yang langsung menyalami dan mencium kedua tangan kedua orang tua itu, begitupun Kinanti.
"Baru saja, Nak. Kinan, bagaimana kondisimu sekarang? Apa tanda itu masih sakit dan tambah menjalar?" tanya Eyang Lila.
Kinanti yang sudah kembali dari menaruh belanjaan Sang Ibu di dapur, lalu duduk diantara para Eyang Lila dan Ayah Rendra.
__ADS_1
"Udah enakan, Yang. Udah nggak sakit juga. Mmm, kayaknya ngga deh, soalnya kalau dia mau menyebar. Pasti Kinan, merasakan sakit banget di sini. Sekarang sih, baik - baik aja...," jawab Kinanti.
Eyang Lila dan Ayah Rendra kembali mengangguk dengan senyum tipis yang terkembang.
"Mmm, lalu Darius itu siapa? Teman kantor atau...," tanya Eyang Lila langsung, hingga membuat Kinanti agak terkejut.
Kedua alis gadis itu berkerut.
"Heum? Darimana Eyang tau, Pak Darius?" tanya balik Kinanti.
Mirah yang datang dengan membawa minuman untuk Eyang Lila dan Ayah Rendra, kemudian menepuk jidatnya.
"Astaga, Mama lupa kasih tau kamu. Iya, waktu kamu sakit kemarin. Atasan kamu Pak Darius itu datang, Mama nggak Isa ngijinin dia, ngeliat keadaan kamu. Soalnya waktu itu, kamu baru aja tidur sehabis, Mama mengurangi rasa sakit di dadamu...," jelas Mirah sambil duduk di sebelah Sang Ayah.
Kinanti terdiam, lalu Eyang Lila menyenggol sedikit lengan Kinanti.
"Jadi, atasan? Bukannya pacar?" tanya goda Eyang Lila.
Mata Kinanti lalu membulat.
"Pak Darius itu atasan Kinan, Eyang. Dia udah punya calon istri. Masa iya, aku jadi pelakornya. Masih banyak ikan di laut kan...," jelas Kinanti.
Seantero ruangan tertawa kecil sesaat. Sebelum akhirnya menikmati minuman dan makanan kecil yang disuguhkan oleh Mirah.
"Darius. Aku harus mencari tau. Rendra, kita harus mencari tau...," ucap Eyang Lila via telepati pada Ayah Rendra.
Ayah Rendra sambil meneguk minumannya pun mengangguk pelan.
...----------------...
Dita sore itu baru saja selesai mengajar. Jimie kebetulan lewat sehabis membeli bahan baku, untuk dia masak sebagai menu makan malamnya. Pemuda itu menghampiri Dita dan mereka pun berjalan bersama untuk pulang. Sepanjang perjalanan, mereka ngobrol dengan asik hingga sesekali terdengar suara canda. Saat akan berbelok ke arah blok rumah Dita, seorang pengendara motor melintas. Pengendara itu berbelok tanpa memperhatikan marga jalan, Jimie yang melihat tersebut dengan sigap langsung menarik lengan Dita, hingga tubuh wanita muda itu menabrak bagian depan tubuh Jimie.
"Woi, kalau naik motor pelan - pelan. Dasar brengsek, SIM nya nembak kali itu...," ucap kesal Jimie mengarah pengendara tadi yang sudah berlalu dari hadapan mereka dengan kecepatan tinggi.
Pemuda itu belum menyadari posisi dirinya dan Dita, hingga saat dia memandang kembali ke depan. Dilihat Dita sudah ada dalam dekapannya.
Jimie terkejut dengan situasi yang ada. Lalu perlahan dilepas pelukkannya terhadap Dita.
"Dit, sorry aku...," belum sempat melanjutkan ucapannya, wajah Jimie tiba - tiba menerima bogem mentah dari seseorang.
Bugh...
Bugh...
__ADS_1
Suara pukulan orang itu.
"Kei. Kei, kamu ngapain? Apa yang kamu lakukan? Stop, stop Kei...," teriak Dita yang juga mencoba mencari keberadaan Sang Kekasih yang tiba - tiba memukul wajah Jimie, hingga kini tubuh Jimie sudah berada di belakang Dita dan menyandar ke dinding salah satu bangunan di blok jalan menuju rumah Dita.
Wanita muda itu tahu, orang yang memukul Jimie adalah Sang Kekasih dari aroma parfumnya.
"Bajingan, sekali aku ijinin. Sudah aku bilang, nggak ada yang kedua kali...," ucap Kei yang terus menghajar Jimie.
Jimie berusaha melawan, dengan memukulkan kantung belanjaannya ke tubuh Kei. Namun gagal, malahan kantung itu menjadi jebol dan bahan - bahan masakan di dalamnya jatuh berserakan.
Sedangkan Dita berusa mencari keberadaan tubuh keduanya dengan tongkat pembantu yang dimiliki dan juga melalui pendengarannya. Ketika di dapat sebuah tubuh, dia lalu berpindah tempat.
"Kei, cukup. Cukup aku bilang, Kei. Akh...," ucap melerai dan juga rintihan Dita.
Wanita muda itu tidak sengaja, dihempaskan oleh lengan Kei dengan sangat kasar, hingga Dita terdorong dan kepalanya menabrak tiang listrik.
"Dita...," teriak Kei yang langsung berhenti menghajar Jimie dan berlari kearah Sang Kekasih yang dilihat tertunduk, sambil memegangi bagian belakang kepalanya.
"Sayang, maaf. Sakit, pasti. Kita ke rumah...," ucapan Kei terhenti, begitu pun dengan kedua tangannya di hempaskan oleh Dita.
"Jangan sentuh aku. Kamu kasar Kei, sejak kapan kamu begini? Jimie...," ucap Dita yang masih dengan kepala sakitnya, berjalan tertatih mencari keberadaan Jimie.
"Akh, aku di sini, Dit...," ucap Jimie yang menahan rasa sakit di wajah dan perutnya. Pemuda itu menjulurkan satu tangan agar bisa diraih oleh Dita.
Wanita itu lalu memeluk Jimie dari samping dan baru akan membantu jalan, Kei melepas kasar tangan Dita.
"Ta, kamu apa - apaan? Aku kan udah bilang, kalau mau pergi hanya boleh sama aku, nggak sama cowok lain, yang aku nggak akan ijinin. Ini udah ke berapa kalinya kalian pergi bareng, aku nggak tau. Heum? Aku nggak suka ya, Ta...," ucap kesal Kei.
Dita lalu mengarahkan wajah datar dan dinginnya kearah asal suara Kei.
"Kamu hanya kekasihku Kei. Bukan suami. Aku berhak menentukan apapun tanpa persetujuan darimu, termasuk berteman dengan siapapun yang aku mau dan juga suka. Aku nggak nyangka, ternyata ini sifat asli kamu. Aku benci kamu, Kei. Mendiang kedua orang tuaku dan kakak ku yang menghilang tidak pernah melarangku melakukan apapun, jadi kamu nggak berhak melarangku apapun. Aku muak dengan semua ini, kita udah nggak sejalan, aku nggak suka dengan sikap premanisme kamu. Lebih baik, kita putus...," jelas Dita dengan tegas dan raut wajah datarnya.
Degh...
Degh...
Degh...
Debaran jantung Kei meningkat, dia sangat terkejut.
"Apa? Apa...," batinnya
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1