#TanpaNama : Akhir Perjalanan

#TanpaNama : Akhir Perjalanan
68.


__ADS_3

Kinanti kini sudah bergabung dengan tim desainer yang berada di lantai 5, gedung Kobuka. Gadis itu diterima dengan baik oleh anggota tim dan dia pun belajar dengan sangat cepat. Di hari yang sama, tim Kinanti kebetulan ada jadwal untuk rapat dengan Darius mengenai pemilihan cover novel untuk salah satu penulis Kobuka.


"Ki, inget ya habis makan siang, kita rapat sama Si Bos...," ucap salah seorang senior Kinanti saat kebetulan lewat meja kerja gadis mungil itu.


"Pasti Mas Andreas...," jawab Kinanti riang dengan senyum cerahnya.


Senior lelaki itu kemudian kembali berjalan mundur ketika sudah hampir sampai di mejanya sendiri.


"Ki, kamu ntar makan siang dimana?" tanya Andreas, yang ternyata berjalan mundur kearah meja Kinanti.


Kinanti kemudian membawa bola matanya naik, karena sedang berpikir.


"Oh, aku ada janji sama Rasti Mas. Anak editor komik. Mas pernah liat kan? Kita mau makan di kantin karyawan aja...," jawab Kinanti.


Andreas lalu duduk diujung meja Kinanti.


"Boleh join?" tanya Andreas lagi.


Tanpa melihat kearah seniornya, karena sedang sibuk mengerjakan tugasnya, Kinanti mengangguk perlahan, lalu menjawab,


"Boleh dong, Mas. 5 menit lagi, kita berangkat ya...,"


Andreas lalu tersenyum lebar dan segera berdiri.


"Sip...," jawab Andreas yang langsung berjalan ke arah mejanya.


5 menit berlalu, Kinanti dan Andreas pun kemudian menuju ke kantin karyawan. Rasti sudah menunggu gadis mungil itu, setelah sampai di hadapan Rasti. Kinanti lalu memperkenalkan Andreas dan mereka pun mengantri untuk mengambil menu makan siang hari itu.


"Eh, Ki. Kamu tau kan Kak Paula yang gantiin posisi kamu jadi asistennya Pak Yeti...," ucap Rasti.


Andreas yang mendengar ucapan Rasti sedikit bingung, namun masih terdiam sambil menikmati makan siangnya.


"Ehem, kenapa?" ucap Kinanti yang baru menyuap makanannya.

__ADS_1


Lalu Rasti mencolek ujung tangan Kinanti dan memberi kode penunjuk arah ke arah samping mereka.


Kinanti dan Andreas pun menoleh secara bersamaan. Wajah Kinanti berekspresi biasa saja, malah terkesan datar.


"Liat kan, mereka akrab banget. Beda waktu kamu yang jadi asistennya. Bawaannya kesel mulu, tampangnya datar. Malah baru waktu dia baru aja sehari di tim editor, Pak Darius banyak ketawa dan ngomongnya santai banget. Jarang keliatan kesel. Jangan - jangan, bener yang dikata anak - anak lain...," jelas Rasti dengan suara pelannya.


Kinanti tidak begitu peduli sedangkan Andreas cukup antusias.


"Emang apa yang dibilang anak - anak lain Ras?" tanya Andreas yang sampai berhenti menikmati menu makan siangnya.


"Kalau Bos Yeti kita itu, adalah seorang Don Juan. Kita tau kan, Pak Darius itu udah punya calon istri. Eh, masih aja mau cari selingan. Ckck, untung deh Ki. Kamu cepetan dipindahin, kalau nggak bakal terus makan ati sama dia. Pasti deh, kami dipindahin gegara biar dia bisa deket - deket sama Kak Paula...," ucap Rasti lagi.


Kinanti masih dengan sikap tidak pedulinya dan asik menikmati menu makan siangnya, hingga Rasti menarik napas dan kemudian memanggil nama Kinanti agak keras.


"Ki, kamu dengerin aku cerita nggak sih?" ucap Rasti hingga membuat Kinanti bergidik dan kemudian mendongak melihat wajah sahabatnya itu.


Gadis mungil itu mengangguk dan mengambil gelas minumannya, lalu diteguk sesaat.


"Aku dengerin semuanya Ras. Tapi masalahnya aku nggak peduli, itu bukan urusanku. Lagian, coba kalian lihat mereka cocok kan? Mungkin aja, Kak Paula itu memang seleranya Pak Yeti. Masalah Kak Paula mau dijadikan selingan atau nggak, juga nggak ngerugiin kita kan? Udah Ras, cepetan dimakan makananmu, ntar keburu dingin...," jelas santai Kinanti.


Sedangkan Kinanti melirik sesaat kearah Darius.


"Ternyata memang Buaya Darat toh...," batin Kinanti yang langsung mengalihkan pandangan dan kembali mengobrol dengan Rasti juga Andreas sampai jam makan siang mereka berakhir.


...----------------...


Selepas makan siang, tim Kinanti sudah berada di rumah rapat, tidak lama kemudian Darius dan Sang Asisten Paula pun tiba. Kinanti juga para seniornya berdiri ketika menyambut kedatangan Darius. Dengan wajah datar nan dinginnya, Darius kemudian mempersilahkan tim desain cover mempresentasikan beberapa cover yang akan dipilih oleh penulis Kobuka. Rapat tersebut berjalan cukup singkat dan mulus. Darius dan Paula berjalan lebih dulu, diikuti oleh tim Kinanti. Saat sedang mengantri di depan pintu lift, Darius yang sedaritadi di ruang rapat berusaha mengalihkan pandangannya dari Kinanti juga Andreas yang memang terlihat sangat akrab, kembali melihat bayangan kedua anak buahnya itu dari pintu lift yang memantulkan bayangan mereka semua.


Terlihat Kinanti mengobrol dengan Andreas tanpa suara, anehnya mereka bisa mengerti satu sama lain dan sesekali terlihat tawa tanpa suara mereka. Degupan jantung Darius meningkat, hingga pemuda itu tidak sadar sudah menggenggam sangat erat komputer tabletnya hingga terdengar suara retak. Paula dan beberapa orang yang ada di dekat Darius agak kaget mendengar suara retakan yang cukup kencang itu, hingga mereka menoleh dan melihat kearah tangan Darius.


"Pak, maaf. Sepertinya tablet Bapak retak, karena Bapak terlalu erat menggenggamnya...," ucap Paula dengan berbisik.


Darius terkejut dengan ucapan Paula dan melihat kearah perempuan tinggi langsing itu sesaat, baru melihat kearah tablet yang digenggamnya dan betul saja, layar depan komputer itu retak sedikit.

__ADS_1


"Oh, iya. Tidak apa - apa, ini juga sudah rusak. Jadi kebetulan mau saya ganti...," jawab alasan Darius dnegan senyum ramahnya kearah Paula.


Lalu lift pun sampai di tempat mereka semua menunggu. Darius dan Paula naik lebih dulu, tim desain memilih menunggu lift selanjutnya. Darius masih menatap Kinanti yang masih asik mengobrol dengan Andreas tanpa mempedulikan Darius sedikit pun.


"Sialan. Andreas, kenapa mereka bisa begitu cepat akrab? Aku juga, kenapa malah jadi tambah aneh begini? Kenapa bukannya menjadi lebih tenang malah jadi tambah tidak karuan - karuan begini rasa di dadaku? Sial, aku sepertinya harus pergi ke villa untuk menenangkan diriku...," batin Darius yang belum juga menyadari perasaan di dirinya terhadap Kinanti.


...----------------...


Grace memberanikan diri menghadap ke ruangan Ibu Debora seorang diri, gadis tomboi itu berencana ingin membantu Kevin agar bisa diterima lagi menjadi pengawal Sarah.


"Selamat Siang, Nyonya...," sapa hormat Grace dengan kepala yang menunduk.


Ibu Debora yang sedang sibuk dengan pekerjaan di layar komputernya hanya melirik sesaat dari balik kacamata bacanya.


"Ada apa Grace?" tanya Ibu wanita itu, sambil mengetik dengan lincah diatas keyboardnya.


"Saya ingin melaporkan tentang perkembangan Nona Sarah. Begini Nyonya, pengawal Nona Sarah semuanya adalah perempuan. Sehingga terkadang kami agak kewalahan mengontrol emosi Nona yang sering sekali berubah dengan cepat, saya ingin meminta sebuah permohonan pada Nyonya, itupun jika Nyonya bersedia?" jelas dan tawar Grace masih dengan wajah tertunduknya.


Mendengar penjelasan tersebut, Ibu Debora seketika menghentikan aktivitas mengetiknya, menghela napas lalu menyandarkan tubuh di dinding kursi kebesarannya sambil bersidekap.


"Katakan...," jawab singkat Ibu Debora dengan sambil membuka kacamata baca dan memijit pelipisnya pelan.


Grace kemudian menarik salivanya, baru perlahan mendongak agar bisa menatap ke wajah Sang Majikan.


"Saya ingin bertukar posisi dengan 2 pengawal laki - laki paling tangguh yang sedang mengawal Nyonya saat ini. Kenapa? Alasan adalah, Nona Sarah hanya bisa dikendalikan oleh pengawal yang lebih tangguh darinya, dari segi emosi. Maksud saya, Nona Sarah bertemperamen tinggi, sehingga beliau memerlukan orang yang bisa meredam emosi itu. Agar kejadian seperti kemarin tidak terjadi lagi..." jelas Grace yang dirancangnya se logika mungkin.


Ibu Debora hanya terdiam dengan masih memijit pelipisnya, membuat Grace yang berdiri di hadapannya sedikit kikuk karena cukup lama Sang Majikan tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Hingga terdengar helaan napas dari wanita angkuh tersebut.


"Kevin dan Sulaiman. Kamu menginginkan mereka yang bertukar posisi denganmu dan siapa?" tanya Ibu Debora lagi kini sudah memandang kearah Grace.


"Saya dan Fitri, Nyonya...," jawab cepat Grace.


Namun, Ibu Debora menggelengkan kepalanya. Raut wajah Grace pun menjadi sedikit kecewa, melihat ekspresi dari Sang Majikan.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2