#TanpaNama : Akhir Perjalanan

#TanpaNama : Akhir Perjalanan
95.


__ADS_3

Masih di Kisah Pelangi Rindu...


Paundra perlahan - lahan menyentuh pipi Berlian. Dia berusaha menenangkan Sang Gadis, sambil juga menatap lekat matanya.


"Baik. Sekarang Nona, istirahat dulu, saya akan mempersiapkan semua keperluan kita. Besok pagi - pagi sekali kita akan berangkat...," ucap Paundra.


Senyum Berlian pun terkembang. Paundra segera meninggalkan kamar Berlian, pemuda itu kemudian memerintahkan pengawal pribadi serta beberapa orang pekerjanya untuk segera menyiapkan barang - barang yang diperlukan untuk mereka berlayar.


Setelah semuanya siap, Paundra dan Berlian akhirnya berhasil berlayar ke sebuah Pulau yang mereka rencanakan untuk pergi. Berlian terlihat sangat bahagia, dia berdiri di anjungan kapal Paundra yang terlihat sangat besar. Baru beberapa menit berdiri, tiba - tiba tubuhnya limbung, untung saja Paundra dengan cepat menangkap tubuh Berlian.


"Sebaiknya Nona Berlian kembali beristirahat, jika sudah sampai, saya akan memberitahu...," ucap Paundra sambil sudah menggendong tubuh Berlian.


Gadis itu pun mengangguk dan pasrah ketika dirinya dibawa masuk ke dalam kapal tersebut. Setelah dibaringkan dan ditemani sebentar, Paundra lalu kembali melihat keadaan di luar.


Setelah kurang lebih 1 hari mengarungi lautan, tibalah mereka di Pulau tujuan. Paundra yang sudah membangunkan Berlian, membantu gadis itu untuk melihat keluar.


"Wah, indahnya...," ucap Berlian sangat kagum dengan pemandangan di luar.


Terlihat air lautnya seperti kerlipan berlian ketika terkena pantulan sinar mentari yang bersinar sangat cerah. Angin sepoi - Sepoi menerpa rambut panjang Berlian.


"Saya bantu ikatkan rambut, Nona agar tidak mengganggu penglihatan...," ucap Paundra.


Senyum terkembang Berlian sambil melihat kearah Paundra dari arah samping.


Setelahnya kapal yang mereka tumpangi akhirnya bersandar, satu persatu penumpang juga barang bawaan mereka diturunkan. Berlian lalu melihat kearah Paundra. Saudagar Muda itu pun mengerti arti tatapan Berlian. Lalu Paundra menunjukkan jalan untuk menuju ke tempat tujuan gadis muda itu. Dengan menaiki kuda tanpa pengawalan ataupun pelayan yang mengikuti, hanya mereka berdua.


Pemandangan yang mereka lalui sungguhlah indah, Berlian yang duduk di depan terlihat sangat bahagia saat melihat guratan alam dari Sang Maha Kuasa. Paundra sesekali melihat kearah Berlian.


"Dia memang gadis itu. Iya, gadis yang selalu datang ke dalam mimpi - mimpiku. Sesampainya disana, aku akan memberitahu padanya tentang mimpiku dan juga tempat yang akan kami datangi...," batin Paundra.


Tidak begitu jauh berkuda, mereka sampai juga di lembah dan juga sungai dengan hiasan air terjun yang sangat memanjakan mata. Berlian dibantu turun oleh Paundra dan dituntun untuk bisa lebih dekat melihat pemandangan yang ada di depan mereka.


Berlian nampak begitu bahagia, hingga tanpa sadar dia pun masuk ke dalam aliran sungai kecil tempat air terjun yang sangat tinggi itu berada. Tanpa sepengetahuan Berlian, Paundra pun masuk perlahan dan kemudian menciptakan air ke arah gadis muda itu. Hingga akhirnya mereka saling membalas, lama - kelamaan tubuh mereka semakin mendekat satu sama lain dan Paundra menangkap pinggang ramping Berlian, dimana mereka berdua sudah lumayan basah kuyup.


"Hehm, boleh saya memanggil nama anda saja, Nona?" tanya Paundra.

__ADS_1


Wajah Berlian yang sudah tersipu malu juga memerah itu hanya bisa mengangguk. Deru napas mereka terdengar jelas, saking lelahnya bermain perang air. Mendengar jawaban dari Berlian, Paundra pun tersenyum lebar.


"Apa saya juga boleh, hanya memanggil anda Paundra?" tanya balik Berlian.


"Tentu...," jawab singkat Paundra sambil melihat kearah mata dan bibir merekah Berlian.


"Berlian, aku selalu memimpikanmu beberapa malam sebelum kedatanganmu ke kediamanku. Bahkan, sebelum seorang wanita menceritakan soal lukisan yang kau bawa ke kamar istimewaku itu...," ucap Paundra tiba - tiba.


Dengan mengusap wajahnya, Berlian terlihat agak terkejut. Dia menatap lekat kedua mata Paundra.


"Aku pun merasa, kita pernah bertemu sebelumnya, tapi aku tidak tau dimana? Apa itu takdir? Kita dipertemukan dengan cara seperti ini?" jawab Berlian yang memang merasa begitu dekat dengan Paundra dari awal pertemuan.


Paundra lagi - lagi dengan cepat meraih bibir Berlian. Mengecupnya pelan dan juga singkat. Hingga membuat Berlian lagi - lagi juga terkejut, membulatkan matanya, pipinya yang tambah memerah.


"Maaf, aku tidak...," ucap Paundra terpotong oleh Berlian.


"Terimakasih Paundra, aku tidak keberatan. Boleh kita melakukannya lagi, namun kini agak lama?" ucap dan tanya Berlian, yang ketagihan dengan kecupan singkat Saudagar Muda itu.


Paundra tertawa kecil dan juga langsung kembali meraih bibir Berlian, mereka bercumbu dibawah air terjun berhiaskan sebuah pelangi yang tiba - tiba muncul.


Kembali ke masa kini...


Darius menghela napas panjangnya, sambil sedikit memiringkan bibir.


"Hei, gadis tidak sabaran. Ceritanya belum selesai sayang...," jawab Darius sambil menoel ujung hidung Kinanti.


"Ohhh. Trus - trus Mas...," jawab Kinanti yang kembali mendengarkan cerita Legenda Pelangi Rindu.


Kembali ke cerita Legenda Pelangi Rindu...


Setelah kejadian di air terjun, Paundra dan juga Berlian memutuskan untuk menetap di Pulau tersebut. Mereka pun mulai mengenal satu sama lain, agar hubungan mereka lebih erat. Tidak lama berselang, akhirnya Paundra melamar Berlian untuk menjadi pendamping hidupnya dan gadis itu pun menerima dengan riang gembira. Namun, disaat yang sama, bencana pun tiba - tiba datang. Ayah Berlian pun menemukan Pulau tersebut, setelah berhasil mendesak pengawal pribadi Berlian, Kencana. Sebenarnya Kencana, tidak mengetahui dimana letak Pulau itu, namun dia mengetahui letak kediaman Paundra dan setelah mengobrak - abrik kediaman Saudagar Muda itu, Ayah Berlian mengadu keberuntungannya setelah melihat peta di kamar istimewa Paundra.


Tanpa ba-bi-bu, semua pasukan yang dibawanya langsung menyerang awak kapal Paundra dan melumpuhkan mereka yang kalah jumlah, setelahnya pria agak tua itu berjalan menuju ke rumah sederhana yang ditempati oleh Paundra dan juga Berlian.


"Ikut Ayah sekarang...," ucap Sang Ayah masih dengan nada baik - baik.

__ADS_1


Berlian berlindung dibalik tubuh Paundra.


"Tidak, aku mau disini. Aku dan Paundra akan segera menikah, aku tidak mau menikah jika itu bukan dengannya...," jawab Berlian dengan berteriak.


Paundra dan juga Ayah Berlian saling tatap dengan mata tajam mereka.


"Lepaskan anak saya. Kau tidak pantas untuk mendampingi anakku...," teriaknya.


Paundra yang terus berposisi siaga, melihat sesaat kearah Berlian.


"Tuan, seharusnya kita bertemu dalam keadaan seperti ini. Saya hanya ingin bersama Berlian, memberikan dia kebahagiaan yang selama ini tidak dia rasakan, juga saya ingin menunjukkan semua mimpi yang dia punya, yang selama ini tidak bisa dia wujudkan karena banyak aturan dari, Tuan dan juga peraturan wilayah kalian. Jadi, saya akan memberikan apapun yang anda inginkan, asalkan jangan meminta Berlian untuk kembali...," jelas Paundra yang berusaha dengan sopan.


Namun, seperti tidak peduli dengan ucapan Saudagar Muda itu. Ayah Belian lalu, memberi kode untuk segera mengambil paksa Berlian. Paundra lalu melawan satu persatu anak buah pria tua itu, tanpa terluka sedikit pun, karena kelihaiannya dalam bela diri. Setelah berhasil melumpuhkan hampir semua anak buah Ayah Berlian, Paundra yang terlihat kelelahan tidak menyangka, bahwa sebuah senapan sudah mengarah dan meletus tepat ke punggungnya. Berlian sendiri juga sedang berusaha melawan dari anak buah Sang Ayah, yang berhasil menangkap tubuhnya, sangat terkejut dengan suara letusan itu.


Darah segar keluar dengan cepat punggung dan dada Paundra. Timah panas itu, tembus dan dalam hitungan detik, sekujur tubuh pemuda tampan itu berlumuran darah. Dia jatuh tersungkur dengan mata yang melihat Berlian, gadis itu berteriak, meronta dan tangis meraungnya terdengar jelas bahkan bergema ke seantero pulau.


Tanpa banyak basa - basi, Berlian pun diseret keluar dari Pulau tersebut. Paundra sendiri perlahan memejamkan matanya dengan tubuh bersimbah darah. Pemuda itu tewas di Pulau yang menjadi saksi bisu, kisah cinta Berlian dan dirinya. Sedangkan Berlian, dikurung di dalam kapal. Dia menangis tiada henti, selama pelayaran, berhenti hanya karena di tiba - tiba jatuh tertidur, namun begitu di tersadar. Air mata terus mengalir.


"Ayah. Ayah, tolong. Sekali saja, biarkan aku keluar, aku, aku ingin berdoa untuk Paundra. Hanya sekali, aku ingin melihat laut sekali lagi, setelah kita sampai, aku janji, kau boleh langsung menikahkan aku dengan laki - laki pilihanmu itu. Aku mohon...," ucap sesegukan Berlian dengan wajah merah dan basahnya.


Sang Ayah terdiam sesaat, kemudian dia pun mau mengalah, dengan digandeng oleh dua orang pengawal, Berlian menuju anjungan kapal. Disana dia mulai memejamkan mata dan berdoa dengan khusyuk, namun tanpa disadari kedua pengawal itu, gerakan cepat Berlian merampas salah satu senapan kecil yang ada di kantung pengawal itu. Kemudian di dorong kedua pria lumayan kekar itu dengan kekuatannya yang masih tersisa.


"Jika bukan Paundra. Jangan harap aku akan hidup, apalagi menikah. Aku akan selalu merindukannya, aku pun akan ikut dengannya, untuk mengobati rasa rinduku ini...," ucap terakhir Berlian yang langsung menembakkan senapan itu ke kepalanya.


Tubuhnya seketika jatuh ke laut, air yang awalnya biru, berubah menjadi merah darah. Sang Ayah sangat terkejut dengan semua kejadian itu. Disaat bersamaan, tiba - tiba sebuah pelangi muncul ditengah - tengah air laut, tepat di tempat Berlian menghabisi dirinya sendiri.


Kembali ke masa kini...


"Jadi gi...," ucapan Darius terpotong ketika dilihat Kinanti sudah tertidur lelap dalam dekapannya.


Senyum terkembang di wajah tampan pemuda itu, sesuai selesai menceritakan legenda cinta itu.


"Hehm. Selamat tidur siang sayang, mimpi indah...," ucap pelan Darius sambil kemudian mengecup kening Kinanti.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2