#TanpaNama : Akhir Perjalanan

#TanpaNama : Akhir Perjalanan
60.


__ADS_3

Sarah hanya diam dan melewati semua makanan yang datang ke kamar rawatnya. Ibu Debora yang baru saja datang dan berdiri di ambang pintu, melihat seorang perawat yang membawa keluar baki makan gadis cantik itu.


"Maaf sus, apa dia belum mau makan juga?" tanya Ibu Debora.


"Betul Ibu. Saya harus melapor pada dokter yang sedang bertugas. Agar nanti dokter memeriksa, kondisi Mbak Sarah. Permisi Bu...," jelas sedikit suster tersebut.


Sepeninggal perawat tersebut, Ibu Debora masuk ke dalam ruang rawat Sang Anak. Perempuan paruh baya yang berjalan dengan angkuh namun anggun itu kemudian menaruh tas tangannya di nakas kecil dekat ranjang Sarah.


Gadis itu terus menetap ke luar jendela tanpa menggubris apapun yang datang atau pergi dari ruangan besar nan mewah itu.


"Jangan terlalu banyak drama Sarah. Mama tidak ada waktu untuk terus meladeni hal - hal aneh juga gila mu. Semua kepentingan, keinginanmu selalu kami penuhi. Nami jauh lebih pintar dari mu. Lihat hidupnya sekarang, nyaman di Swiss bersama suami kaya raya nya. Yah, walaupun kekayaan Drew tidak melimpah seperti Keluarga Soetanto. Paling tidak Nami adikmu itu, tidak kekurangan ataupun kesusahan apalagi sampai masih bergantung hidup dengan kami. Jadi, sebaiknya cepat makan - makananmu juga obat - obatan itu, karena setelah kamu keluar dari rumah sakit ini acara pertunangan sekaligus pernikahanmu dengan Darius akan segera kami laksanakan." jelas Ibu Debora yang sudah berdiri di depan jendela yang di tatap oleh Sarah.


Sarah masih terdiam dan menarik napasnya panjang setelah itu.


"Keluar, aku akan keluar dari kartu keluarga Adyatama. Kalian ambil semua hak - hak warisan yang ditinggalkan Kakek Adyatama padaku. Aku hanya ingin kebebasan, aku sudah lelah, aku bosan. Aku memang tidak seperti Nami yang bodoh. Jadi sekarang tolong keluar, aku mau sendiri...," ucap pasrah Sarah sambil baru akan berbalik.


Tiba - tiba tangan lentik Sang Ibu melayang ke pipi mulus gadis itu. Darah seketika muncul di sudut bibir Sarah. Gadis itu menunduk dan tidak bereaksi apapun. Ibu Debora yang sangat kesal melihat tingkah Sarah, lalu mengambil dagu gadis pucat itu. Mata Sarah dan Sang Ibu saling bertemu dan bertaut.


"Kamu punya banyak hutang padaku. Jika saja waktu itu, aku tidak mengandungmu karena sudah dihamili oleh Papa bodohmu itu, mungkin kini aku sudah menikah dengan pengusaha yang jauh lebih kaya dan memiliki anak - anak yang jauh lebih cerdas daripada kalian. Jadi, jangan berharap bisa kabur begitu saja...," ucap pelan namun tegas juga menyakitkan Ibu Debora.


Dengan kasar, dilepas dagu Sarah. Lalu dia berjalan kearah tasnya dan diambil benda kecil nan mahal itu.

__ADS_1


"Jika kau masih bertingkah. Aku akan memerintahkan dokter mengganti obat minum dengan obat suntik, dalam beberapa hari ini, kau harus sudah keluar dari rumah sakit...," ucap Ibu Debora yang kemudian meninggalkan ruangan Sang Anak.


Setelah berada di luar ruangan dan bertemu dengan Grace juga beberapa pengawal perempuan, Ibu Debora menghentikan langkahnya. Ditatap Grace dan semua pengawal baru Sarah itu.


"Kali ini, saya bisa ampuni. Namun lain kali, jika terjadi hal yang sama atau lebih buruk pada Sarah. Kalian semua akan saya bakar hidup - hidup, mengerti?" ucap mengerikan Ibu Debora.


"Terimakasih, Nyonya...," jawab para pengawal serempak.


Lalu Ibu Debora dan 2 pengawalnya meninggalkan area rumah sakit.


...----------------...


Darius sudah kembali dari makan siang yang sebenarnya dia lewati, karena dia lebih memilih datang ke perpustakaan kantor untuk menenangkan pikirannya. Dia berjalan melewati meja Kinanti dengan tegap dan ekspresi datar. Gadis mungil itu pun tidak menatap kearah Sang Atasan. Setibanya Darius di mejanya, dia lalu mengirimkan sebuah email kepada seseorang. Tidak selang beberapa saat, Kinanti pun menerima sebuah email dari bagian HRD. Gadis berambut panjang yang sedang serius mengerjakan file - file novelnya, agak terkejut dengan email yang diterimanya.


Setelah dibuka dan dibaca isi email itu, Kinanti terkejut. Kedua alisnya bertaut dan wajahnya langsung menoleh kearah ruangan Darius.


Di saat yang sama, lewatlah seorang gadis tinggi langsing dengan penampilan menarik, masuk ke dalam ruangan Darius. Lalu telepon di meja Kinanti berdering, dilihat peneleponnya adalah Darius.


"Ki, bisa tolong ke ruangan saya sekarang...," ucap Darius tegas.


"Baik, Pak...," jawab Kinanti singkat.

__ADS_1


Lalu Kinanti menggeser kursinya ke belakang dan langsung berdiri, berjalan menuju ke arah ruangan Darius.


Setelah di ketuk pintu dan Darius mengijinkan gadis mungil itu untuk masuk. Di pandangan mata Kinanti, terlihat keakraban yang terjalin antara gadis langsing nan menarik juga Darius. Mereka terlihat berbincang singkat juga tertawa lepas, tanpa memperdulikan kehadiran Kinanti disana, beberapa saat.


"Hahaha. Kamu memang konyol La...," jawab Darius saat masih terlihat berbincang singkat dengan gadis itu.


"Oh, Ki. Perkenalkan, ini Paula. Paula, ini Kinanti. Mmm, kamu sudah dapat email dari bagian HRD kan, Ki. Jadi mulai minggu depan, kamu akan pindah ke bagian tim cover buku. Karena saya liat, kamu udah nggak sanggup buat jadi asisten saya sekaligus tim editor. Kamu terlalu sering jatuh sakit, karena nggak bisa mengikuti ritme saya. Saya nggak mau ke depannya bakal disalahin soal kondisi kesehatan kamu yang nggak stabil. Paula, sendiri adalah senior editor dari Kobuka yang sudah menemani Mbak Wistari dari bagian komik selama beberapa lama, karena bagian komik sekarang sudah bisa di handle dengan cara digital dalam pengeditan, makanya selama ini Paula di pindah tugaskan kebagian digital marketing di lantai atas. Nah, tugas kamu Ki. Mulai besok, untuk men training Paula semua file - file novel yang belum dan sudah kamu kerjakan, juga aplikasi yang kamu gunakan dalam proses pengeditan. Apa kamu mengerti Ki?" jelas detail Darius, dengan beberapa penjelasan tegas menggunakan bahasa yang cukup menyakitkan, tanpa memperdulikan perasaan Kinanti.


Gadis mungil itu sedikit terkejut dengan penjelasan Darius, tiba - tiba sudut hatinya terasa nyeri.


Dia terdiam sambil sesekali melihat kearah Darius juga Paula.


"Baik, Pak. Saya mengerti, maaf kalau performa saya tidak sesuai dengan standar kerja Bapak selama ini. Ada lagi yang ingin disampaikan, Pak?" jawab Kinanti dengan senyum ramahnya dan kalimat penyesalan yang diucapkan gadis mungil itu.


Darius menggeleng pelan, lalu Paula dan Kinanti berkenalan. Setelahnya gadis itu bersama dengan Paula keluar dari ruangan Darius bersamaan. Paula kembali ke ruangannya dan Kinanti kembali duduk di mejanya. Dengan tenang dia melanjutkan pekerjaannya.


"Jadi, begini caramu untuk melupakan semua yang sudah terjadi antara kita malam itu. Jadi benar, gadis yang kau cium selain aku itu adalah kekasihmu dan kini kau ingin aku menjauh darimu. Baik, aku rasa ini yang terbaik...," batin Kinanti sambil terus mengerjakan file - file di dalam komputernya.


Sedangkan Darius menutup gorden di ruangannya, hingga staff lain tidak bisa melihat kegiatannya, sore itu. Dia merebahkan kepala ke dinding kursi, sambil mengambil ponsel di atas mejanya, dibuka layar ponsel untuk mencari file foto.


"Semuanya sudah terlambat. Saat hatiku mulai berdetak untuk pertama kalinya karenamu, kau membuatnya langsung berhenti. Aku harap dengan cara ini, degupan dan rasa sakit di dadaku ini akan perlahan sirna. Aku harap kamu bisa lebih bahagia nantinya dengan bagian divisi yang baru, Ki...," batin Darius sambil memandangi foto Kinanti satu - satunya yang dia miliki.

__ADS_1


Mereka berdua melewati sore di dalam kantor dengan tenang, namun bernuansa sendu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2