
Saat Kinanti dan Bima sedang tertidur lelap. Ayah, Bara dan Mirah secara perlahan melakukan ritual penguatan kalung pelindung Mirah dengan cara memberikan sebagian kecil jiwa mereka masing - masing.
Mereka ber 3, kemudian berkonsentrasi setelah duduk bersila di lantai dengan posisi melingkar. Perlahan sebuah asap keluar dari masing - masing mulut mereka. Asap itu kemudian, perlahan menuju ke leher Kinanti lalu masuk ke dalam kalung gadis mungil itu.
Cukup lama mereka melakukan ritual, bulir keringat mulai keringat di pelipis mereka ber 3.
"Hah. Hah." suara napas Mirah saat sudah selesai mereka melakukan ritual, lalu tangan wanita itu memegang erat lengan Sang Suami karena kelelahan.
"Hah. Sayang, aku baik - baik saja?" tanya Bara yang juga terlihat kelelahan, dia kemudian merangkul dan menopang tubuh Mirah.
Mirah menggeleng sesaat, Ayahnya pun terlihat kelelahan dan langsung mendekati Sang Anak.
"Mirah, kamu baik - baik saja?" tanya Ayahnya juga.
"Iya. Aku baik - baik saja. Kak, Yah. Kinanti, bagaimana dengan kalungnya?" tanya Mirah kehadapan Bara dan Ayah nya.
Lalu mereka ber 3, melihat kearah Kinanti. Sebuah sinar muncul dari kalung tersebut, bersinar sesaat dengan sinar keemasannya. Senyum terkembang di wajah Ayah.
"Kinan, akan baik - baik saja." ucap Ayah yang merangkul Sang Anak dan juga Menantu.
Mirah dan Bara pun tersenyum melihat reaksi kalung itu. Lalu mereka perlahan bangun, Bara juga mendekat kearah ranjang Kinanti. Dicium kening kedua anaknya dan diusap pelan.
"Tidur yang nyenyak, sayang - sayangnya, Papa." ucap pelan Bara.
Lalu mereka ber 3 keluar perlahan dari kamar Kinanti.
...----------------...
Setelah memeriksa jalanan di luar hutan perbukitan itu, Kevin kembali masuk dan mendekat kearah Sarah. Dia berjongkok di samping Sarah yang sedang menenggelamkan wajahnya ke atas satu lutut yang dilipatnya keatas dengan satu lengan yang diletakkan diatas lutut itu.
"Nona, kita kembali sekarang. Kaki Nona, harus diobati, sebelum infeksi." ucap lembut Kevin.
Sarah kemudian mendongakkan kepalanya dan menoleh kearah Kevin dengan mata basahnya.
Kesal dan sedih dirasanya secara bersamaan.
__ADS_1
"Jangan peduli padaku, Kev. Aku mau sendiri, luka di kakiku tidak hubungannya denganmu. Pergilah...," jawab Sarah, yang kemudian menenggelamkan wajahnya lagi.
Kevin terkejut dengan ucapan Sarah, lalu dia berdiri. Lalu tanpa meminta ijin lagi, laki - laki kekar itu langsung mengangkat tubuh Sarah. Gadis itu sangat terkejut, lalu dia melakukan perlawanan.
"Turun. Turunkan aku, aku nggak mau sama kamu. Turunkan." pekik Sarah sambil menggeliat diatas gendongan Kevin, sambil terus memukul - mukul tubuh lelaki yang sudah penuh luka. Perlahan darah mulai mengalir. Wajah Kevin agak mengernyit, karena menahan sakit dari luka dan pukulan yang diberikan Sarah. Gadis itu terkejut setelah melihat banyaknya luka serta darah mulai mengalir dari sana.
"Darah. Kevin, kenapa seluruh tubuhnya terluka begini?" batin Sarah yang tiba - tiba menjadi lebih tenang, sambil memperhatikan luka di sekitar tubuh Kevin.
Tangan Sarah lalu perlahan dikalungkan ke leher lelaki kekar itu. Direbahkan, kemudian kepalanya ke pundak Kevin.
Matanya pun dipejamkan.
"Hehm, tubuh Kevin selalu hangat dan aroma tubuhnya selalu membuatku tenang. Aku baru tau, tubuhnya sudah setinggi dan selebar ini. Ototnya pun kekar namun empuk. Seandainya, seandainya kamu membalas cintaku. Kita bisa kawin lari, aku sangat ingin keluar dari rumah terkutuk itu dan hidup bersamamu. Hanya bersamamu, aku tidak butuh yang lainnya." batin Sarah dengan menikmati gendongan Kevin.
Kevin hanya terdiam dan terus berjalan turun dari bukit.
Dari kejauhan sudah terlihat banyak penjaga yang sudah berkumpul di halaman belakang, begitupun terlihat kedua orang tua Sarah sudah berada disana.
Kevin dan Sarah mendekat ke arah pintu pagar halaman belakang, lalu beberapa penjaga tergopoh - gopoh mendekat setelah melihat keadaan Sarah yang tidak baik - baik saja. Kevin yang bertelanjang dada, kemudian menyerahkan tubuh Sarah pada penjaga yang lain, setelah menceritakan keadaan dan luka yang diderita majikannya itu. Kemudian pengawal tersebut mendekat kearah kedua orang tua Sarah, Sang Ibu lalu masuk mengikuti anaknya. Sedangkan Sang Ayah berjalan mendekat kearah Kevin.
Plak...
Plak...
Plak...
Suara tamparan dan juga pukulan di perut Kevin dilakukan oleh Pak Alvian yang tidak lain adalah Ayah Sarah berulang kali, hingga Kevin jatuh bersimpuh dan bibirnya mengeluarkan sedikit darah.
"Apa saja kerjaan kamu? Saya membayar kamu mahal dan memberi keluargamu penghidupan yang layak. Saya menyuruhmu menjaga Sarah dengan baik saja, kamu tidak becus. Kamu lihat, tubuh Sarah babak belur begitu. Dia akan segera menjadi bagian keluarga Soetanto. Dia tidak boleh memiliki cacat sedikitpun, kamu tau? Hah...," ucap Papa Sarah sambil menjambak rambut Kevin, hingga wajahnya mendongak dan kedua mata mereka beradu.
"Uhuk. Maaf, maafkan saya Tuan. Saya teledor. Saya janji, lain kali. Saya tidak akan membiarkan hal ini terjadi kembali." jawab Kevin dengan mulutnya yang sudah memuntahkan banyak darah.
Pak Alvian lalu melepas tangannya yang menjambak rambut Kevin, hingga wajah lelaki itu kini tertunduk.
"Bawa dia ke ruang bawah tanah. Kurung. Jangan diberi makan dan minum." ucap teriak Pak Alvian pada penjaga yang lain.
__ADS_1
Lalu beberapa penjaga mulai mendekat kearah Kevin dan memapah lelaki bertubuh besar dan kekar itu. Membawanya ke ruang bawah tanah vila itu.
Setelah mengunci ruangan yang lebih mirip penjara, salah satu diantara penjaga menatap sedih kearah Kevin.
"Kev, maaf. Seandainya saja kamu segera turun setelah menemukan Nona Sarah. Pasti ini semua tidak akan terjadi." ucap Sulaiman.
Kevin yang melihat wajah Sulaiman pun hanya tersenyum tipis.
Napas Kevin tersengal, mengarah ke sesak. Sehabis dihajar habis - habisan oleh Pak Alvian. Dengan beberapa kali mengernyit, karena menahan rasa sakit. Dia bersandar di dinding ruangan yang sangat gelap itu, ditatap sebuah lubang udara yang menampakan wajah rembulan dan sinarnya yang masuk ke dalam ruang bawah tanah itu.
"Hah. Aku harap kamu tidak apa - apa. Maaf, aku datang terlambat. Sarah...," ucap Kevin dengan tenaga yang tidak tersisa banyak.
...----------------...
Sarah hanya terdiam, ketika beberapa tim medis yang didatangkan oleh Ibu Debora mulai mengobati lukanya setelah gadis itu dibantu membersihkan seluruh tubuhnya oleh para pelayan perempuan.
Ibu Debora mengamati dengan seksama dari awal pengobatan hingga seluruh kaki Sarah diperban.
"Nyonya, untuk sementara waktu. Nona Sarah, harus memakai kursi roda dan juga luka tersebut tidak boleh air sama sekali. Saya sudah menyuntikkan obat antibiotik, agar tidak terjadi infeksi. Kemudian, ini adalah resep beberapa obat minum yang harus ditebus. Jika tidak ada yang mau ditanyakan lagi, kami permisi dulu." jelas dokter tersebut.
Ibu Debora hanya mengangguk, tanpa menjawab sambil mengambil kertas resep yang diserahkan oleh dokter tersebut.
Sepeninggal dokter tersebut, Sarah yang sedari tadi melihat terus kearah luar jendela. Lalu memalingkan wajahnya kearah Sang Ibu.
"Ma, Kevin dimana?" tanya Sarah.
Ibu Debora dengan wajah angkuhnya, lalu berjalan ke dekat jendela tepat di depan ranjang Sang Anak.
Lalu ditatap wajah anaknya dengan kesal dan tangan yang bersidekap.
"Bawa masuk...," teriak Ibu Debora, alih - alih menjawab pertanyaan Sang Anak.
Lalu beberapa pengawal membawa sebuah benda cukup besar yang diletakkan di samping wanita paruh baya itu.
Mata Sarah terbelalak, ketika dilihat benda itu. Tubuhnya mulai bergetar dan bibirnya kelu.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...