#TanpaNama : Akhir Perjalanan

#TanpaNama : Akhir Perjalanan
23.


__ADS_3

Plok...


Plok...


Suara tepukkan tangan semua karyawan Kobuka Corporation. Saat menghadiri acara perpisahan dengan Ibu Stella kepala editor mereka dan menyambut kepala editor yang baru yaitu Darius.


"Terimakasih banyak, anak - anakku. Hiks." jawab Ibu Stella dengan meneteskan air matanya.


Lalu Kinanti mendekati atasannya tersebut sambil memberikan buket bunga besar, sambil tersenyum lebar dengan matanya yang juga berbinar.


"Ibu Stella. Terimakasih Ibu sudah membimbing saya. Mulai dari saya tidak tahu apa - apa hingga bisa menjadi asisten Ibu. Suatu kebanggan untuk saya, bisa menjadi murid Ibu beberapa tahun ini. Saya akan merindukan Ibu. Hiks." ucap Kinanti dengan juga meneteskan air matanya.


Ibu Stella kemudian menerima buket tersebut dan langsung memeluk Kinanti.


"Saya juga berterimakasih padamu Ki. Sudah mau menjadi asisten, nenek cerewet seperti saya. Sudah bersedia selalu lembur. Saya juga pasti akan sangat merindukan kamu." jawab Ibu Stella setelah mengusap air matanya, dengan kemudian memuji Kinanti.


Lalu mereka berpelukkan dengan erat sesaat.


Setelahnya mereka berdua mengusap air mata masing - masing, kemudian memulai acara makan malam perpisahan tersebut.


"Ohh, iya Bu Stella. Pak Darius, kenapa tidak hadir Bu? Padahal kan, ini juga acara penyambutannya?" tanya Rasti.


Ibu Stella lalu mengusap bibirnya dengan serbet yang ada di atas meja, saat selesai mengunyah makanannya.


"Ohhh, betul. Saya lupa memberitahu kalian. Mmm, untuk Pak Darius. Beliau lebih perfeksionis daripada saya, karena beliau paling sering menulis novel - novel klasik dulunya, hingga dia tidak terlalu suka bertemu dengan banyak orang. Jadi, kemungkinan ke depannya. Kalian tidak akan bisa mengadakan jamuan makan malam karyawan. Seperti yang biasa kita lakukan." jelas Ibu Stella.


Kinanti yang mendengar hal tersebut, lalu menelan makanannya bulat - bulat. Sambil kemudian mengambil gelas minumnya, dia segera minum sebelum akhirnya tersedak.


"Hah? Tenggelamnya Bu Stella, terbitlah Pak Darius." batin Kinanti.


Setelah memberi penjelasan sedikit soal Darius, Ibu Stella kemudian menoleh ke arah Kinanti yang terlihat gugup.


"Hehehehehe. Ki, kamu jangan gugup begitu. Pak Darius itu, walaupun super perfeksionis dan anti sosial. Dia orang yang penuh toleransi. Mmm, kemungkinan besar tidak akan ada lembur - lembur buat kamu. Jadi, mari bersulang buat Pak Darius. Semoga beliau menjadi pemimpin baru yang baik untuk Kobuka Corporation dan semoga kalian semua selalu sehat dan bahagia. Cheers." ucap Ibu Stella memberi semangat untuk para staffnya.


"Cheers." jawab semua staff yang hadir.


...----------------...

__ADS_1


Dita baru akan keluar dari ruang kelasnya, ketika dia sedang mencari jalan menuju keluar ruangan itu.


Tak...


Tak...


Suara tongkat pemandunya terhenti, ketika tidak sengaja menyentuh sepatu seseorang.


Dita kemudian berhenti di depan orang tersebut.


Perempuan muda itu kemudian menaikkan kedua alisnya.


"Maaf. Saya mau lewat, bisa beri saya jalan?" tanya sopan Dita.


"Hehehehehe. Kalau saya tidak mau, kamu mau apa, hah? Dasar cewek centil." ucap orang tersebut yang ternyata adalah seorang gadis muda dengan penampilan yang sangat modis.


Lalu kedua alis Dita bertaut, karena merasa bingung dengan ucapan gadis itu.


"Maaf maksud anda dengan cewek centil itu, siapa?" tanya Dita.


Lalu gadis yang menghalangi jalan Dita, kemudian memutari tubuh gadis cantik itu.


Lalu Dita membenahi posisi tubuhnya, ke arah belakang.


"Maaf, dengan siapa saya berbicara? Nampaknya anda sudah mengenal saya dan saya tidak mengerti? Bams, siapa Bams?" ucap Dita yang benar - benar sangat bingung ditambah sedikit khawatir dengan keadaan dirinya saat itu.


Gadis dihadapannya ternyata tidaklah sendiri. Dia lalu memberi aba - aba pada teman - temannya yang lain, untuk mendekat ke arah Dita. Lalu kedua temannya itu mengambil masing - masing tangan Dita, tongkat pemandunya pun direbut dan di lempar ke depan, jauh dari jangkauannya.


"Hei. Apa - apa kalian? Kenapa tanganku? Tongkatku, mana? Hei. Tolong. Tolong." teriak Dita sambil meronta - ronta.


Salah satu gadis yang menahan tangan Dita, lalu mengeluarkan sapu tangan miliknya dan menyumpal mulut gadis tuna netra itu.


Satu temannya yang lain, celingukan kearah luar ruang kelas guna memastikan keadaan sekitar lorong kelas sepi juga aman dan langsung menutup semua pintu tersebut.


"Beres Kar...," ucap temannya yang sudah berdiri menjaga pintu ruang kelas.


Lalu gadis modis yang bernama Karla tersebut, mendekat kearah Dita yang sudah meronta - ronta sedaritadi.

__ADS_1


Dia kemudian merogoh saku jaket kulit yang digunakannya, Karla mengeluarkan sebilah pisau kecil lipat. Dibukanya benda tajam itu, sambil sesekali dimainkan di jari telunjuknya.


"Apa yang Bams, sukai darimu gadis buta? Cantik, nggak. Kaya, apalagi, no. Ohhh, kamu bertanya kan, siapa itu Bams? Dia yang sudah memperkosa mu dulu. Masih ingat, heum? Dia sudah menikmati tubuhmu yang kurus ini. Bugh." jelas Karla sambil memukul perut Dita.


"Ugh." pekik Dita dengan suara tertahan, karena mulutnya masih dibekap.


Dita meringis kesakitan, air mata sudah mengalir di pipinya.


"Bams? Nama bajingan itu, Bams." batin Dita yang akhirnya mengetahui identitas orang yang merenggut kesuciannya dulu.


"Dan aku, adalah Karla. Aku kekasih Bams. Beberapa tahun ini, dia selalu susah ditemui. Jadi aku mencari tau, kegiatan yang dilakukannya hingga membuat dia. Sampai melupakanku. Ternyata demi ada di samping, gadis buta murahan sepertimu. Ckckckckck. Hari in, aku akan memberimu pelajaran. Supaya kamu mengingatku juga Bams." jelas Karla lagi.


Lalu dia memberi aba - aba lagi pada kedua temannya, untuk menarik kedua tangan Dita keatas dan menahannya.


Lagi - lagi Dita meronta dan memberi perlawanan.


Karla lalu memainkan pisaunya ke kaos yang digunakan oleh Dita, gadis itu merobek - robek kaos itu hingga bagian dada Dita dan pakaian dalamnya terekspose. Kemudian dia melukai kedua tangan Dita dan terakhir dia menyayat salah satu pipi putih Dita.


Dengan baju terkoyak, beberapa bagian tubuh yang luka, Dita menangis dan tubuhnya bergetar hebat.


"Aku mau, kamu mengingat hari ini. Semua, termasuk juga namaku dan juga Bams. Jika aku masih melihatmu bersamanya. Bukan hanya sayatan dan juga bajumu yang akan kurobek. Tapi juga, Nyawamu. Ingat itu." bisik Karla sambil mengambil kedua pipi Dita, dengan satu tangannya dan juga memandang gadis cantik itu dengan bengis.


"Let's Go Girls." ucap Karla, sambil kemudian melepas pegangan di pipi Dita dan berjalan meninggalkan ruang kelas bersama dengan teman - temannya. Lalu mereka mengunci Dita dari luar.


Dita kemudian perlahan jatuh terkulai, dengan air mata yang sudah membanjiri wajahnya dan juga banjir akan darah dari pipinya.


Dilepas sumpalan di mulutnya dengan tangan yang bergetar.


Dita menangis tanpa suara, karena terlalu terguncangnya.


Dia menekuk lututnya dan di membekap tubuhnya, yang sudah 1/2 telanjang.


Panggilan telepon dari Kei. Panggilan telepon dari Kei.


Suara telepon Dita yang berada di dalam tasnya. Namun Dita tidak kunjung menjawabnya, hingga beberapa kali panggilan itu masuk dan berhenti dengan sendirinya.


"Kenapa, kenapa, kenapa harus aku? Siapa, Siapa mereka? Bams, Bams. Hiks. Hiks. Semua karena dia." batin sangat sedih Dita yang kemudian menenggelamkan wajahnya di kedua lututnya.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2