#TanpaNama : Akhir Perjalanan

#TanpaNama : Akhir Perjalanan
88.


__ADS_3

Setelah perkenalan cukup singkat Darius dengan anggota keluarga Kinanti dan juga pemaksaan harus ikut dalam kegiatan sarapan mereka.


Darius kini sudah berada di ruang tamu dan sedang berhadapan dengan kedua orang tua Kinanti.


"Darius, boleh Tante tanya sesuatu tapi kali ini, saya harap kamu jawab yang jujur...," ucap Mirah dengan wajah cukup serius.


Pemuda itu melihat kearah Kinanti sesaat, lalu kembali menatap lekat wajah Mirah.


"Silahkan Tante...," jawab pemuda itu.


Mirah menghela napas sesaat, Bara mengamati dari sisi sebelah Sang Istri.


Kemudian wanita muda itu, menaruh cangkir teh yang tadinya sedang dipegangnya.


"Kenapa kemarin malam kamu berbohong pada kami? Kinanti, kemarin malam, rasa sakit di dadanya kambuh kan? Bisa kamu jelaskan pada kami sekarang. Perlu kamu tau Darius, kami mendidik Kinanti dengan baik. Kami tidak pernah mengajarkannya berbohong, tapi apa yang kamu lakukan semalam? Buat saya adalah sesuatu yang sangat salah, kamu menutupinya dari kami. Kamu tau, hal itu membuat saya berpikir ulang soal restu di hubungan kalian...," jelas Mirah dengan tegas.


Darius meneguk salivanya sekali, lalu dia menundukkan kepalanya.


"Maafkan saya Tante. Saya janji hal tersebut, tidak akan pernah terjadi lagi. Saya akan selalu memberitahu apapun yang terjadi pada Kinanti dengan jujur, kemarin saya berpikir, jika saya berkata yang sebenarnya, Tante dan Om akan panik. Maka dari itu, saya terpaksa berbohong. Mungkin saya terdengar aneh Dimata Tante, tapi saya rasa, Kinanti dan saya, kami memiliki koneksi satu sama lain. Maksud saya, rasa sakit yang Kinanti rasakan, saya pun bisa merasakannya. Saya juga tidak tau kenapa? Tapi saya akan mencari tahu soal itu, saya tidak mau melihat Kinanti yang terus - menerus selalu menahan sakit di dadanya seperti itu...," jelas Darius dengan wajah serius.


Mirah dan Bara pun saling beradu pandang.


"Darius, tolong jangan berjanji soal apapun. Kinanti adalah anak tertua, sekaligus anak dan cucu perempuan satu - satunya. Jadi, buktikan...," ucap Bara.


Senyum lebar terkembang di wajah menawan Darius.


"Pasti Om. Terimakasih...," ucap Darius.

__ADS_1


"Mmm, saya juga sekaligus mau meminta ijin, untuk hari ini, saya ingin membawa Kinanti bukan ke kantor tapi ke suatu tempat. Saya akan memulangkan Kinanti tepat sebelum jam 8 malam. Apakah boleh?" jelas dan tanya Darius.


Bara terdiam begitu pun Mirah. Kinanti sendiri merasa sangat cemas juga, melihat reaksi kedua orang tuanya.


"Baik. Mulai sekarang, kami mohon kerjasamanya. Kami akan belajar untuk mempercayai kamu, seperti Kinanti yang percaya denganmu...," ucap Bara.


Kinanti dan Darius pun tersenyum lebar.


"Kalung yang digunakan oleh Kinanti, akan selalu menjaga juga memberitahu, siapa Darius dan ada rahasia apa dibalik dirinya?" batin Bara.


...----------------...


Kevin dan Sarah masih terbaring diatas rerumputan, ketika lelaki besar nan kekar itu kemudian melihat kearah Sarah yang sangat nyaman berada dalam dekapannya.


"Sarah, maafkan aku, aku selalu menjaga jarak darimu, karena....," ucapan Kevin terhenti.


"Iya, aku juga penasaran akan itu. Mama waktu itu bilang, kamu punya banyak sekali hutang, kalau boleh aku tau hutang apa Kev? Uang atau apa?" tanya Sarah dengan wajah sendunya.


Kevin melihat dengan lekat wajah Sarah, lalu tangannya mengelus lembut pipi gadis tercintanya itu. Senyum tipis pun terkembang di wajah Kevin.


"Uang dan juga hal yang lebih besar lagi...," jawab Kevin.


Sarah kemudian agak menjauhkan tubuhnya dan kedua alis yang berkerut.


"Ceritakan...," jawab Sarah.


Kevin menghela napasnya, lalu pandangannya menatap kearah langit biru diatas mereka.

__ADS_1


"Jika kamu masih ingat, sewaktu kecil, kita begitu akrab. Namun, apakah kamu masih ingat kejadian kecelakaan yang menimpamu dan Nami?" tanya balik Kevin.


Sarah lalu mencoba mengingat hal yang disebutkan oleh Kevin.


"Kecelakaan mobil bersama Pak, Pak Rian. Iya, Pak Rian, Pak Rian kan Ayah kamu dan beliau...," ucap Sarah terhenti.


"Sudah meninggal. Dalam kecelakaan itu, kalian semua terluka parah. Kala itu, Bapak membutuhkan donor ginjal, hati dan paru - paru. Namun saat itu, sangat sulit menemukan organ - organ itu sekaligus, pihak rumah sakit kemudian berinisiatif melakukan tes padamu dan Nami, dan ternyata semua organ yang dibutuhkan ada padamu. Tanpa menunggu persetujuan dari Nyonya dan Tuan, karena mereka pun tidak terlalu peduli dengan keadaan kalian waktu itu, pihak rumah sakit secara sepihak, langsung mendonorkan semua organ yang Bapak perlukan. Saat Tuan dan Nyonya mengetahui hal itu, mereka sangat marah. Lalu ditambah setelah proses operasi itu, Bapak hanya bisa bertahan selama beberapa bulan, beliau meninggal akibat komplikasi dari penyakitnya yang ditambah efek dari kecelakaan itu. Nyonya dan Tuan, kemudian menuntut Ibuku untuk bertanggung jawab atas organ - organ kamu yang sudah diambil secara sepihak, mereka melapor ke polisi. Aku lalu menemui mereka agar mereka segera mencabut laporannya, aku bilang akan melakukan apapun, untuk menebus semuanya. Lalu, jadilah kita sekarang. Maafkan aku Sarah, karena aku dan keluargaku, kamu jadi menderita. Ingin rasanya tetap menjaga jarak darimu, tapi hatiku, hatiku berkata lain...," jelas Kevin dengan nada penuh penyesalannya dan memandang lekat wajah Sarah.


Sarah kemudian mencium bibir Kevin cukup lama, sambil perlahan dia merubah posisi menjadi naik keatas tubuh besar nan kekar pemuda itu, setelahnya senyum terkembang di wajah Sarah.


"Aku baik - baik saja sampai sekarang, seperti yang kamu liat. Aku mencintaimu Kevin. Jadi jangan pernah merasa bersalah, aku senang pernah bisa membantu Bapak kamu walaupun aku tidak ingat dan juga tau. Jadi bisakah, mulai sekarang kamu jangan menjauh dariku lagi. Aku juga tidak bisa jika tidak ada kamu Kev...," ucap Sarah sambil memandangi wajah Kevin dari atas tubuhnya.


Kevin memandangi balik wajah Sarah dengan lekat, lalu senyum pun terkembang lebar dari wajahnya sambil mengangguk pelan.


"Kev, ada satu cara lagi yang bisa membuat kita tidak akan pernah terpisahkan...," ucap Sarah yang masih berada diatas tubuh Kevin.


Kevin berekspresi bingung dengan pernyataan Sarah sesaat. Hingga tiba - tiba mata Kevin membulat, dia pun meneguk salivanya. Dengan cepat dia menggelengkan kepalanya.


"Nggak. Nggak. Aku nggak mau. Sarah, aku memang mencintaimu, tapi tidak dengan cara itu. Aku ingin semuanya mendapat restu baik dari orang tuamu dan juga Ibuku. Sarah, kamu tau, aku dan keluargaku sudah banyak berhutang baik uang dan nyawa. Selain Bapak aku yang pernah dibantu, ada adikku pula yang sudah dibiayai oleh kedua orang tuamu, hingga kini bisa menempuh pendidikan di luar kota. Tidak aku tidak bisa...," tolak Kevin yang baru akan menurunkan tubuh Sarah, namun Sarah mencoba menahan tubuh Kevin.


Ditatap tajam retina mata Kevin.


"Aku harus hamil anak kamu, jika tidak. Kamu akan kehilangan aku selamanya, karena mereka akan berhasil menikahkan aku dengan anak Keluarga Soetanto. Aku mohon, hamili aku dan bawa aku pergi bersamamu...," ucap Sarah memohon.


Kevin sangat terkejut dengan tingkah dan aksi Sarah, dia meneguk salivanya dan kedua matanya bergerak dengan cepat ke kanan dan kiri saat melihat lekat retina Sarah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2