
Darius masuk ke lift untuk menuju ke lorong kantornya, dia sengaja datang agak siang. Dia berjalan dengan terburu - buru. Sesampainya di depan pintu masuk, dia membenahi penampilannya sesaat. Lalu mengatur napasnya dan baru akan masuk, langkahnya terhenti ketika dilihat Kinanti melintas di depan pintu masuk.
Senyumnya terkembang, namun kemudian dengan cepat senyum itu hilang lagi. Ketika dilihat pandangan Kinanti, tertuju padanya sambil tersenyum.
Lalu Darius mengalihkan pandangan sambil memasukkan satu tangan ke kantung celananya.
"Ehem. Pagi...," ucap Darius dengan berdeham dan berwajah datar, dia lalu berjalan menuju ke ruangannya.
"Pagi, Pak...," jawab semua karyawan, termasuk Kinanti.
Kinanti mengikuti gerakan Sang Atasan, lalu satu sudut bibirnya naik.
"Cih, di senyumin. Senyum balik kek. Dasar Yeti." batin Kinanti.
Lalu gadis mungil itu, melanjutkan perjalanannya menuju ke ruang fotocopy.
Sesampainya disana, dia lalu mendekat ke salah satu mesin dan meletakkan kertas yang di bawanya ke dala mesin.
Saking fokusnya, sampai - sampai dia tidak tahu kehadiran Rasti.
Huufft...
Tiupan angin dari bibir Rasti sampai ke telinga Kinanti.
"Rasti...," pekik Kinanti yang terkejut dengan kelakukan Sang Sahabat.
"Shuut. Jangan teriak - teriak. Hehehehe." jawab Rasti yang langsung menutup mulut Kinanti yang berteriak dengan satu jari telunjuknya.
Lalu Kinanti menepis jari telunjuk Rasti dengan alisnya yang agak berkerut.
"Ck, habis kamu. Ngapain sih? Geli tau...," ucap Kinanti yang menggosok telinganya yang kegelian, kemudian.
Lalu gadis tinggi besar itu mendekat kearah mesin foto copy dan berdiri menghadap Sang Sahabat
"Kemaren kamu kan ijin sakit. Pak Darius juga loh. Kalian janjian ya? Hayo, Kinan ternyata...," ucap Rasti menggoda, sambil menggelitik dagu gadis mungil itu.
Mata Kinanti memicing. Lalu menghela napasnya.
"Jadi, 2 hari yang lalu. Aku kejebak di lift waktu lembur dan...," ucapan Kinanti terhenti, ketika dia teringat akan sedikit kejadian di lift. Sebelum Darius datang menolongnya.
__ADS_1
"Oh iya, suara itu. Suara itu yang mengintervensi, sampai aku pingsan dan tanda ini juga jadi sakit." ingat Kinanti.
Rasti lalu mengibaskan tangannya ke hadapan Kinanti, beberapa kali. Hingga gadis itu mengerjap - ngerjapkan matanya dan tersadar.
"Ki. Heh, kamu kenapa? Malah bengong, kamu mau ngomong apa tadi? dan, dan, apa?" tanya Rasti.
Kinanti lalu menatap kearah Sang Sahabat.
"Oh, itu. Pak Darius nyelametin aku. Gitu, jadi aku emang benaran ijin sakit. Tapi, kenapa Pak Darius juga ijin sakit ya?" lanjut jelas Kinanti dan bertanya dengan bingungnya.
Rasti hanya menaikkan kedua pundaknya, jawaban atas ketidaktahuannya.
"Tapi, denger - denger dari angin semilir di kantor ini. Pak Darius katanya emang nyelametin kamu, tapi terus ikutan pingsan Ki. Yah, namanya gosip. Belum tentu bener kan Ki, kalau nggak nanya langsung ke orangnya." jelas Rasti dengan santainya.
Kinanti terkejut dengan ucapan Rasti.
"Hah? Pak Darius ikutan pingsan? Kok bisa?" batin Kinanti yang juga bingung.
...----------------...
Kinanti yang sudah duduk di tempatnya kembali. Baru akan menatap layar komputernya, lalu kemudian dia menoleh kearah Darius melalui kaca jendela di sampingnya. Terlihat sesaat, Darius yang sudah menatapnya lebih dulu namun kemudian mengalihkan pandangan dengan cepat.
Kinanti lalu, mengambil telepon di dekatnya dan menelepon Sang Atasan.
Kemudian diangkatnya dengan tenang.
"Halo. Darius." ucap pemuda tampan itu.
"Halo Pak. Saya Kinan, ada yang bisa saya bantu?" tanya Kinanti yang menelepon sambil menatap kearah Darius.
Jantung Darius lagi - lagi dibuat berdebar dengan kencang. Bola matanya bergerak ke sana - kemari.
"Hari ini, coba kamu cek semua file - file naskah novel baru yang masuk di aplikasi Kobuka. Lalu setelah itu, kamu temani saya untuk mengunjungi tempat peluncuran dan tanda tangan novel terbaru yang akan dilaksanakan hari Minggu besok, oleh penulis baru kita." jelas Darius.
Kinanti pun menarik napas panjang. Lalu dia mengalihkan pandangannya.
"Baik Pak. Jam berapa kita berangkat?" jawab dan tanya Kinanti.
"Jam 3 sore." jawab singkat Darius yang langsung menutup sambungan telepon.
__ADS_1
Baru Kinanti akan menjawab, lagi - lagi langsung terhenti karena sambungannya terputus.
"Astaga, bener - bener ya Si Yeti...," gumam Kinanti yang langsung menaruh gagang teleponnya.
Melirik sekali lagi kearah jendela Darius dengan mata tajamnya sesaat, lalu setelah itu, dia dengan wajah masam memulai pekerjaannya.
...----------------...
Sarah membeku di ujung mulut pintu ruang rawatnya. Dia meneguk sekali salivanya, dipandangi lekat wajah orang yang sedang berdiri persis di hadapannya. Orang itu lalu memegang lengan Sarah.
"Grace, kamu keluar dulu. Aku harus bicara dengan Nona Sarah berdua." ucap Kevin dengan senyum tipis yang terkembang di wajahnya.
Grace membalas senyum Kevin, dengan kaku.
Kevin mendorong tubuh Sarah perlahan masuk, agar Grace bisa keluar dari dalam ruangan.
Setelah pintu ruang rawat itu tertutup. Kevin lalu melepas pegangannya pada Sarah dan menggendong tubuh gadis itu untuk dibawa kembali ke atas ranjangnya. Sarah lalu mengalungkan kedua tangannya di leher Kevin dan direbahkan kepalanya di dada lelaki besar itu. Perlahan tubuh mungil Sarah dibaringkan, namun ternyata gadis itu ingin duduk. Kevin masih dengan tenang dan wajah datar, mengatur selimut untuk membalut sebagian tubuh gadis cantik itu.
"Nona. Kaki Nona, masih sakit. Jangan banyak bergerak dulu." ucap Kevin yang sudah berdiri tegak di samping ranjang Sarah sambil merunduk.
Sarah terus melihat setiap gerakan Kevin, juga sesekali memandangi wajah pemuda itu yang beberapa tertempel plester luka.
"Kevin, luka kamu gimana? Pasti masih sakit. Aku panggilkan dokter ya, biar...," ucapan Sarah terpotong.
"Cukup Nona. Nona waktu itu pernah bertanya pada saya, kenapa saya berubah? Saya tidak pernah berubah. Dulu kita memang berteman, tapi sekarang. Hubungan Nona dan saya, sebatas majikan dan pengawal, tidak lebih tidak kurang. Saya juga ingin memberitahu, mulai hari ini. Grace, tunangan saya. Dia akan menjadi pengawal tetap Nona, menggantikan posisi saya. Saya harap, Nona jangan membuat banyak masalah. Karena itu akan berdampak pada Grace, tunangan saya." jelas Kevin dengan menatap langsung ke retina mata gadis itu.
Sarah sangat terkejut dengan semua penjelasan, pemuda besar nan kekar itu. lalu dia menggeleng - gelengkan kepalanya.
"Saya permisi dulu. Selamat siang." pamit Kevin yang langsung pergi meninggalkan, ruangan rawat Sarah.
Sarah yang masih sangat terkejut, hanya bisa menatap kepergian Kevin.
"Bohong, Kevin. Dia berbohong. Kevin, Kevin...," batinnya berteriak, namun suaranya tidak keluar sama sekali. Hanya air mata yang mengalir perlahan, melewati kedua pipi mulus gadis itu.
Kevin yang sudah keluar dan hanya mengangguk di hadapan Grace, baru akan beranjak. Namun tangan Grace memegang tangan Kevin.
"Kev, kamu yakin. Soal ini?" tanya Grace yang ragu.
Kevin yang sempat tertunduk, lalu menatap sesaat ke hadapan Grace. Senyum tipis terkembang dengan dibarengi anggukan pelannya. Pupil mata Grace membesar, lalu dia melepas pegangannya pada tangan Kevin.
__ADS_1
Pemuda besar itu, melanjutkan jalannya dengan tegap hingga sampai di dalam mobilnya. Dipukul setir mobil itu berkali - kali, karena emosi. Lalu pria itu tertunduk dan tetesan air jatuh, tangannya diletakkan di tengah - tengah setir, lalu wajahnya di telungkupkan bersandar pada tangan itu. Tangisnya pecah dan sesegukkan. Rasa sakit, sedih, penyesalan Kevin atas semuanya berkecamuk di dalam pikiran juga hatinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...