#TanpaNama : Akhir Perjalanan

#TanpaNama : Akhir Perjalanan
67.


__ADS_3

Regina terlihat terus menerus menangis saat, pemakaman Sang Nenek berlangsung. Dia, kedua orang tuanya dan juga para pelayat semua berpakaian hitam hingga terlihat seperti lautan berwarna hitam di seluruh area pemakaman. Regina menangis, begitu pun dengan kedua orang tuanya. Hingga matanya terlihat bengkak dan juga tubuhnya lemas.


Gadis itu merasa kepergian Sang Nenek terlalu cepat dan banyak terjadi kejanggalan.


"Hiks. Hiks....," terdengar isak tangis Regina yang sudah dipeluk oleh Sang Ayah.


"Bu, Maaf kami datang terlambat. Walaupun aku belum rela atas kepergianmu, tapi aku harus melepaskanmu. Ibu, yang tenang ya disana. Ibu sudah nggak sakit lagi dan aku janji, aku akan menyelidiki penyebab sampai Ibu bisa meninggalkan kami semua...," jelas Pak Hutama, Ayah Regina.


"Oma, Oma. Hiks, aku belum bisa mencerna ini semua, harusnya waktu Oma minta agar aku menginap, aku bisa membawa Oma menginap di tempatku bukan pulang ke rumah Oma. Maafkan aku, Oma. Aku akan selalu berdoa agar Oma tenang di sana. Hiks. Hiks...," batin Regina sambil menangis sesegukkan.


Regina yang masih bersandar di sebelah pundak Sang Ayah dan pundak satunya Sang Istri pun terlihat lemas dengan mata sembabnya.


Pemakaman Ibu Yuna Damika hari itu berjalan penuh haru dan juga berjalan dengan lancar. Setelah peti mendiang masuk ke dalam liang lahat dan tanah mulai ditimbun untuk menutup lubang makam, Regina bersama anggota keluarga yang lain serta para pelayat menaburkan bunga, sambil satu persatu pelayat menyampaikan rasa bela sungkawa mereka.


Mauris terlihat di dalam mobilnya, dengan memakai pakaian dan juga kacamata hitam, dia membenahi tatanan jasnya, sebelum akhirnya turun dan berjalan dengan membawa buket bunga mawar berwarna putih. Diletakkan buket bunga itu diatas liang lahat wanita tua yang dibunuhnya dengan keji.


Mauris kemudian memejamkan matanya, bukan untuk berdoa namun dia mengungkapkan isi hatinya.


"Hai wanita tua. Terimakasih kau sudah menjaga jiwamu dengan baik, saat aku melahapnya. Kekuatanku benar - benar bertambah, ini pertama kalinya aku menikmati jiwa suci sepertimu, manis dan legit. Hehm, apakah jiwa cucu cantikmu sama dengan jiwamu yang suci? Akh...," tiba - tiba Mauris merasakan sakit di dadanya, ketika dia berencana akan juga melahap jiwa Regina suatu hari nanti.


Kedua alis pria muda nan tampan itu, menahan rasa nyeri yang tiba - tiba muncul.


"Akh, rasa sakit ini, ada apa?" batin Mauris lagi.


Regina yang melihat kedatangan Mauris, gadis itu perlahan mendekat, ketika dilihat Mauris terdiam agak lama di depan makam Ibu Yuna.


"Mauris...," panggil Regina dengan suara seraknya.


Mauris lalu tersadar dari lamunannya, dia menoleh dan mengguratkan senyum tipis kearah Regina.


"Turut berdukacita Regina. Aku baru tau kabar ini, semalam dan pagi ini pun, aku terlambat untuk memberikan penghormatan terakhir untuk Ibu Yuna. Sekali lagi, aku turut sedih atas kepergian Ibu Yuna yang sangat mendadak ini...," ucap Mauris pura - pura sambil mengusap sisa air mata Regina, diujung mata gadis cantik itu.

__ADS_1


Mauris lalu memeluk erat Regina, mengelus pelan punggung gadis itu untuk membuatnya merasa nyaman. Regina pun menyambut pelukkan Mauris dengan erat pula.


Kedua orang tua Regina bertanya - tanya soal kedekatan Sang Anak dengan lelaki yang belum pernah mereka lihat.


Regina kemudian melepas sedikit pelukkannya dan menatap wajah Mauris sesaat.


"Terimakasih Mauris. Ayo, aku kenalkan kau dengan kedua orang tuaku...," ucap Regina yang lalu menarik tangan pria muda itu mendekat kearah kedua orang tuanya.


"Ma, Pa. Kenalin ini Mauris. Mauris ini Papa dan Mama ku...," ucap Regina memperkenalkan kedua orang tuanya.


Mauris kemudian melepas kacamata yang dikenakannya dan senyum menawan terkembang di wajah tampannya.


"Selamat Pagi. Tuan dan Nyonya Damika, perkenalkan saya Mauris Soetanto. Saya sungguh berbelasungkawa atas meninggalnya Ibu Yuna. Beliau adalah panutan saya, salah satu role model dalam hidup saya. Berkat pelajaran yang pernah, beliau berikan pada saya. Kini perusahaan yang saya pimpin bisa berkembang pesat seperti saat ini...," ucap palsu Mauris sambil menjulurkan tangannya.


Ibu Jelita dan Pak Hutama lalu berdiri tegak dan menyambut uluran tangan Mauris.


"Selamat Pagi Nak Mauris. Senang akhirnya bisa bertemu langsung dengan pewaris dari keluarga Soetanto. Saya Hutama dan ini istri saya Jelita. Terimakasih atas ucapan belasungkawanya, Nak Mauris. Saya mewakili Keluarga Besar Damika, ingin meminta maaf jika selama Ibu kami hidup, ada melakukan kesalahan yang disengaja ataupun tidak disengaja...," jelas Pak Hutama dengan segala kerendahan hatinya.


"Setelah ini, aku akan membuat rencana untuk bisa mengambil alih perusahaan Keluarga Damika. Melalui kamu Regina...," batin Mauris yang kembali menatap kearah Regina.


...----------------...


Dita yang terduduk di atas trotoar setelah sungguh - sungguh mengakhiri hubungannya dengan Kei, perlahan dibantu bangun oleh Jimie. Pemuda itu kemudian membantu jalan Dita untuk duduk di salah satu bangku jalanan.


"Dit, kamu nggak apa - apa? Kamu tunggu sebentar disini ya, aku belikan air mineral dulu...," ucap Jimie yang baru akan pergi, namun tangannya ditahan oleh Dita.


Wanita muda itu menggeleng perlahan.


"Nggak usah Jim, aku mau pulang aja. Jim, terimakasih atas bantuan aktingmu hari ini. Bisa kamu lihat ke sekeliling kita, apa orang - orang Kei masih ada mengikuti kita?" ucap dan tanya Dita.


Jimie kemudian duduk kembali di samping wanita buta itu dan memandang ke sekeliling.

__ADS_1


"Udah nggak ada Dit, seketika mereka menghilang. Tapi Dit, apa nggak apa - apa begini? Aku jadi merasa bersalah sama Kei. Dia benar - benar menyukai dan mencintaimu dengan tulus...," ucap Jimie dengan wajah khawatirnya.


Dita kemudian bangun dari duduknya dan dengan berdiri tegak dia menjawab rasa kekhawatiran Jimie.


"Tentu ini adalah keputusan paling tepat, terutama untuk Kei. Dia tidak pantas mendapatkan perempuan sepertiku, dia terlalu sempurna untuk aku yang banyak memiliki kekurangan. Jim, aku pamit duluan. Sekali terimakasih banyak. Ingatkan aku, untuk mentraktir mu karena sudah sangat banyak membantuku...," ucap Dita yang kemudian berlalu dari hadapan Jimie.


Jimie baru akan menemani Dita untuk pulang pun, mengurungkan niatnya karena pemuda itu ingin memberi ruang untuk temannya itu menenangkan dirinya sendiri.


Di sisi Kei.


Setelah mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi, Kei berhenti di sasana tinju. Tempat dia selalu berlatih, kebetulan malam itu sedang ada sesi latihan untuk pertandingan yang akan segera diadakan. Kei masuk dengan penuh emosi, dia mendobrak pintu melepas jaket yang dikenakannya tanpa memakai peralatan yang memadai, pria muda itu menantang pelatih yang biasa melatihnya untuk duel.


Bugh...


Bugh...


Suara pukulan dari kedua terdengar jelas, karena masih merasa sangat emosi. Kei melepas sarung tangannya dan menantang Sang Pelatih kini, adu duel dengan tangan kosong tanpa pelindung.


"Bams...," panggil Sang Pelatih dengan nama Asli Kei.


"Kamu kenapa? Saya nggak mau ngeladenin kamu lagi, ini bahaya. Sebaiknya kita sudahi sesi tanding malam ini, sebaiknya. Bugh...," belum selesai pelatih Kei berbicara, sebuah bogem mentah sudah mendarat di salah satu pipinya.


"Jangan banyak omong coach. Ayo maju, jangan jadi pengecut...," ucap Kei dengan suara membentaknya.


Sang Pelatih yang jatuh terduduk, lalu mengangguk sebentar lalu bangun dan langsung melancarkan serangan seperti keinginan Sang Anak Didik. Kei awalnya bisa menangkis, namun kemudian karena sudah sangat kelelahan. Keringat membanjiri seluruh tubuhnya, matanya sudah mulai buram. Disaat itulah Sang Pelatih mendapat celah dan melakukan penyerangan bertubi - tubi hingga kini giliran tubuh kekar Kei jatuh. Namun pelatihnya tidak berhenti terus memukuli tubuh tidak berdaya Kei.


"Hah. Hah. Hah. Saya harap kamu sudah bisa menjernihkan pikiranmu sekarang, Bams...," ucap Sang Pelatih yang kemudian meninggalkan tubuh tidak berdaya Kei dengan darah yang mengalir dari sudut pelipis dan sudut bibirnya.


Napas tersengal Kei terdengar jelas, tubuhnya kemudian perlahan diruang menjadi terlentang. Pandangan matanya masih sangat buram, di ruang sasana dia seorang diri, terdengar suara tawa terbahaknya hingga menggema satu ruangan.


"Hahahahahaha. Dita, kenapa? Kenapa kamu tega? Kenapa...," ucap Kei dalam tangisnya yang perlahan pecah, setelah tawa terbahaknya.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2