#TanpaNama : Akhir Perjalanan

#TanpaNama : Akhir Perjalanan
73.


__ADS_3

Sarah terduduk di ranjang kamar rawatnya, sambil melihat kearah jendela. Ini kali kedua gadis itu duduk dengan matahari yang menyorot seluruh wajah serta menyilaukan pandangan matanya. Hari itu, dia sudah boleh pulang. Di pelipisnya masih bertengger sebuah perban agak besar, rambutnya yang biasa ditata agak bergelombang, kini terlihat lurus kaku. Gadis itu terlihat pucat dan juga murung, pikirannya kosong. Namun, Sarah dikejutkan oleh sebuah panggilan lembut.


"Selamat Sore, Nona Sarah...," ucap Kevin yang memandang kearah Sang Majikan.


Sarah yang melirik sesaat. Tanpa berkata apa - apa, gadis itu berdiri dan berjalan kearah pintu keluar tanpa memandang Kevin sedikit pun. Sesampainya diluar kamar rawat, Sarah yang sudah dikawal juga oleh beberapa pengawal sekian Kevin mengentikan langkahnya.


"Kenapa kalian yang mengawal aku? Kemana Grace?" tanya Sarah saat membalik tubuhnya kearah para pengawalnya.


Kevin lalu maju ke hadapan Sarah dan sambil agak menunduk. Pemuda besar dan kekar itu berkata,


"Mulai hari ini, Grace dan pengawal wanita lainnya. Akan bertukar dengan kami, karena merujuk dari kejadian yang menimpa Nona terkahir kali, Nyonya Debora tidak ingin mengambil resiko jika hal tersebut terjadi lagi...," jelas Kevin.


Wajah Sarah kemudian tersenyum miring, lalu dia berjalan lebih mendekat kearah Kevin. Diambil dagu pemuda itu agar Sarah bisa melihat wajah dan kedua mata indah Kevin.


"Oh, kau takut jika kekasihmu, bisa mendapat hukuman berat, kalau aku melakukan hal gila seperti kemarin. Ckck, betul - betul sepasang kekasih sejati. Kalian membuatku jijik, khusus untuk dirimu jangan pernah ada di dekatku jika tidak aku suruh. Aku muak melihat wajahmu juga Grace...," ucap kasar Sarah sambil melepas kasar dagu Kevin.


Lalu Sarah berbalik dan melanjutkan langkahnya, Kevin terdiam dibelakang, sambil melihat sosok Sarah menjauh darinya.


"Wajahnya sangat pucat, tubuhnya juga semakin kurus. Sarah, mulai sekarang, aku akan terus berada di sisimu sampai kapan pun. Aku akan melindungimu dengan nyawaku...," batin Kevin dengan satu tangan terkepalnya.


...----------------...


Dita membuka matanya lebih dulu, dia merasakan hangat memenuhi tubuhnya. Senyum terkembang diwajahnya, lalu dia mendekatkan telinganya ke dada Kei. Suara debaran jantung teratur pria muda itu terdengar jelas. Dita memejamkan matanya lagi, untuk menikmati debaran jantung Kei. Lalu tubuh pria itu menggeliat sedikit, dengan mata terpejam Kei mempererat pelukkannya.


"Morning sunshine, cup. Heum...," sapa Kei masih memeluk tubuh Sang Kekasih.


"Hehm, pagi. Sayang, kamu tidur nyenyak?" tanya Dita di dalam pelukkan Kei.


Pria muda itu mengangguk pelan dengan menarik napasnya dan menguap.

__ADS_1


"Untuk pertama kalinya, tidurku nyenyak. Mmm, Sayang, hari ini kamu ngajar jam berapa?" tanya Kei.


"Aku baru masuk lagi Senin depan. Ada apa?" jawab dan tanya Dita.


Mata Kei lalu membuka tiba - tiba.


"Sungguh?" tanya Kei lagi.


Dita mengangguk cepat. Lalu perlahan dia agak menjauh dari tubuh Kei dan mendongak, diikuti arus napas pria itu untuk bisa mengira - ngira letak wajah pria muda itu.


"Kamu belum jawab pertanyaanku...," ucap tuntut Dita.


Wajah Kei lalu diturunkan hingga ujung hidungnya dan ujung hidung Dita diusel pelan.


"Gimana kalau kita camping? Aku ada spot kamping baru, jadi kita bisa sekalian liat sunset, trus tempatnya ramah dengan penyandang disabilitas. Sama sekalian, aku mau ngajak kamu hiking. Kamu belum pernah hiking kan, sayang?" jelas Kei dengan semangat.


Wajah Dita bukannya terlihat sumringah, namun terlihat khawatir dan tertunduk. Kei yang melihat hal itu, lalu mendorong sedikit tubuhnya dan mengambil kedua pipi Dita.


"Kei, kami yakin orang kayak aku bisa hiking? Bukannya hiking itu, kita naik ke lembah atau bukit dan penuh bebatuan? Gimana aku malah bikin kami repot? Sebaiknya kita cari kegiatan lainnya aja ya...," jelas Dita jujur.


Kei lalu kembali menarik tubuh Dita dan mendekapnya erat.


"Itu sebenarnya tempat camping dan hiking yang baru aku buka sama temen aku. Jadi konsepnya memang ramah sama penyandang disabilitas, jadi kami sudah menyediakan jalan setapak dan segala fasilitas yang dibutuhkan. Jadi, apa kamu mau mencobanya? Tapi, kalau kamu takut dan ragu. Lebih baik kita pergi kencan ke tempat lain...," jelas Kei.


Lalu Dita mendorong sedikit tubuh Kei. Mata Kei lalu menatap wajah Dita.


"Kei...," panggil Dita.


"Heum...," jawab berdeham Kei.

__ADS_1


"Aku mau coba. Tapi, maaf ya Kei. Kalau nanti aku bakal ngerepotin kamu, karena itu tempat baru jadi aku...," ucapan Dita terpotong, akibat tiba - tiba Kei mendaratkan ciumannya pada bibir lembut Dita.


"Mmmmmooooch. Cup. Kamu nggak perlu minta maaf, sudah tugasku untuk menjagamu. Kamu nggak pernah ngerepotin aku. So, jadi ya habis kita sarapan. Kita langsung berangkat...," jawab Kei.


Dita tersipu malu, lalu wanita muda mencium singkat Sang Kekasih.


...----------------...


Kinanti masih bingung dengan sikap Darius yang berubah - ubah. Dilirik sesekali wajah Darius sambil masih berada di dekapan pemuda tampan itu, setelah ciuman hangat yang mereka lakukan.


"Wajah saya bisa bolong, Ki. Kalau kamu terus pandangin terus...," ucap Darius setelah meneguk minumannya.


Lalu perlahan dijauhkan sedikit tubuh gadis mungil itu, agar Darius dapat melihat wajah cantik Kinanti.


"Oke, apa pertanyaanmu?" tanya Darius kemudian.


Kinanti memasang wajah ragunya. Darius menghela napasnya dan dipegang kedua pipi putih Kinanti.


"Saya memang sedang dalam tahap akan dijodohkan dengan salah satu relasi bisnis kakak saya. Tapi, saya sudah menolaknya diawal. Saya suka sama Kinanti, tapi saya...," ucapan Darius terhenti, ketika dilihat gadis itu lagi - lagi meringis kesakitan.


"Akh. Akh. Sakit, Pak Darius sakit...," pekik Kinanti sambil memegangi dada kirinya.


Darius terlihat mulai panik, dia memegang lengan Kinanti bermaksud untuk segera menggendong kembali gadis mungil itu. Namun, tangan kekar Darius ditahan oleh Kinanti.


"Jangan - jangan bawa saya kemana - mana, Pak. Peluk, peluk saya. Tolong...," ucap Kinanti dengan wajah memohonnya.


Darius langsung menarik dan mendekap erat tubuh Kinanti sambil sesekali dielus pelan. Debaran jantung Darius meningkat, rasa sakit juga dirasakan oleh pemuda itu di dada kirinya.


"Sakit ini, kembali lagi. Selalu aku rasakan sakit ini, ketika Kinanti juga merasakan hal yang sama. Tapi, rasa sakit Kinanti muncul ketika aku mengatakan perasaanku. Apa maksudnya, aku tidak boleh menyukai Kinanti? Tapi, mengapa? Akh, apa ini hanya perasaanku saja? Aku sudah berusaha juga menghindar darinya, namun malah aku sendiri yang tersiksa. Tidak, tidak, Darius jangan doktrin pikiranmu dengan hal - hal aneh...," batinnya yang lebih erat mendekap Darius.

__ADS_1


"Hah, sakitnya mulai menghilang. Hah, dekapan Pak Darius sangat hangat. Dia selalu wangi. Ya Tuhan, apa benar dia suka sama aku? Tapi ada kata pengecualian, kira - kira apa kelanjutan ucapannya tadi ya? Hehm, sudahlah Ki, jangan terlalu banyak pikiran, nikmati saja kebersamaan saat ini...," batin Kinanti yang menyambut pelukkan Darius juga dengan erat.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2