#TanpaNama : Akhir Perjalanan

#TanpaNama : Akhir Perjalanan
86.


__ADS_3

Mauris menggeliat perlahan, setelah malam panas yang dilalui bersama dengan Regina. Matanya kemudian terbuka dengan cepat dan dia menoleh kearah gadis yang sudah menjadi wanitanya. Terlihat wajah Regina yang sudah kembali normal, setelah meminum darah dari pergelangan tangan Mauris. Pria muda itupun merasa sangat segar, setelah menelan jiwa Regina begitupun sedikit jiwa Reo yang berada dalam dirinya. Dipandangi wajah lelap Regina, sambil kemudian dibenahi helaian rambut yang sedikit menutupi pipi merahnya.


Dia berkonsentrasi sebentar untuk memeriksa sesuatu sambil masih dengan posisi terbaring. Kedua alisnya bertaut dan dirasa tubuhnya tiba - tiba menjadi panas.


"Akh, sial. Ternyata aku belum bisa memusnahkan jiwa Reo dari dalam tubuhku. Aku hanya baru bisa menguncinya dan aku merasa terjadi sesuatu pada Reo, dia terasa sangat lemah. Ya, sangat lemah. Aku harus secepatnya mencari cara agar bisa terbebas dari jiwanya, sebelum dia tau aku kini memiliki hubungan serius dengan Regina. Aku tidak mau wanitaku, menjadi tumbalnya suatu saat nanti...," batin Mauris yang sudah membuka matanya dan terlihat kembali sedikit lelah, setelah memakai sedikit tenaga dalamnya.


Disaat yang hampir bersamaan, Mauris merasa mulai ada pergerakan dari Sang Wanita.


"Mauri. Mauris...," panggil lemah Regina dengan mata yang masih terpejam.


Mauris lalu agak bangun dan membuat posisi miring kearah tubuh Regina. Diambil satu tangan wanita muda itu, lalu diletakkan di pipinya.


"Ya, aku disini sayang. Hei...," jawab Mauris.


Regina perlahan mencoba membuka matanya, dengan pandangan yang masih sangat kabur, jemarinya mulai mengelus pelan pipi Mauris. Senyum tipis terkembang, diwajah merah Regina.


"Hehm, kamu sudah baikan? Uhuuk...," tanya Regina dengan diselingi batuk kecilnya.


Mauris kemudian mencari kesegaran ruangan kamar luas itu, namun tidak ditemukan segelas air.


"Sayang, sebentar aku ambilkan air dulu. Kamu tunggu...," ucap Mauris yang terhenti karena Regina kemudian keluar sedikit dari selimutnya dan memeluk tubuh Mauris.


"Nggak, jangan pergi. Aku baik - baik saja. Mauris, aku senang melihatmu sudah kembali sehat. Walaupun aku masih agak takut dengan kekuatan yang kau miliki, tapi aku tau kau melakukan itu semua demi adikmu...," ucap Regina dengan nada tulusnya.

__ADS_1


Jantung Mauris berdegup kencang, lalu dia membalas pelukkan Regina tanpa berkata apapun lagi.


Lalu Regina melepas pelukkannya sedikit untuk melihat kearah Mauris.


"Mauris, boleh aku meminta satu permintaan?" tanya Regina dengan mata sayunya.


Mauris kembali membenahi helaian rambut wanita yang masih dalam keadaan tanpa busana itu dan menatap dengan senyum menawannya.


"Jangankan satu, apapun yang kamu kehendaki, aku akan mengabulkannya. Katakan...," ucap Mauris.


"Jangan cari wanita lain lagi, jadikanlah aku satu - satunya wanita di hidupmu. Jadikan jiwaku santapan untukmu, aku bersedia, Mauris. Aku bersedia memuaskanmu di ranjang atau dimana pun yang kau mau. Apa bisa?" ucap dan tanya Regina yang sudah tergila - gila dengan pria tampan beraura gelap itu.


Mauris tercengang mendengar permintaan Regina. Lalu ditarik dan dipeluk tubuh sintal wanita seksi itu.


Regina terkejut mendengar pernyataan dari Mauris dan langsung mendorong tubuh pria itu.


"Maaf, Mauris. Aku, menikah. Aku...," jawab terbata Regina sambil menggeleng dan melepas pelukannya, kemudian tertunduk.


Mauris tersenyum dan mengambil dagu wanitanya. Ditatap lekat retina mata Regina.


"Hehehehe. Kau tidak perlu takut begitu, aku hanya bertanya. Jika sudah siap, beritahu aku jawabanmu. Jika memang belum siap, kita bisa menjalani dulu hubungan ini. Sebagai sepasang kekasih, bukan - bukan, lebih dari itu. Kau milikku, hanya aku yang boleh menguasaimu. Begitupun aku, jadi kita lebih dari sepasang kekasih dan ke depannya, jika ada lelaki yang berniat mendekatimu apalagi sampai menggoda. Jangan salahkan aku, jika aku akan mematahkan seluruh tulang di tubuhnya...," ucap Mauris dengan sedikit menyeramkan.


Senyum lebar dan tawa Regina terdengar jelas. Lalu wanita itu mendaratkan ciuman panas ke bibir menggoda Mauris. Mereka pun saling bersahutan dengan gerakan bibir yang saling bertaut.

__ADS_1


"Apa orang tuamu, tidak tau, kita melakukan hal ini? Suara - suara menggodamu pasti terdengar seantero rumah dan mobilku yang terparkir di halamanmu. Aku tidak sopan, sudah tidur denganmu tanpa menyapa mereka...," tanya Mauris disela - sela mereka mengambil napas.


Regina mengelus bibir seksi Mauris sambil menatapnya dengan mata menggoda.


"Kedua orang tuaku, mereka jarang pulang kesini. Tidak pernah malah, mereka tinggal di penthouse yang jaraknya tidak jauh dari sini. Jika kamu mau bertemu dengan mereka, harus membuat janji temu dulu. Jadi, kita bebas disini. Mauris, jika kali ini aku ingin pedangmu itu masuk lagi ke dalam tubuhku, apakah jiwaku akan kau hisap kembali?" jelas dan tanya Regina yang sudah merasakan hasrat lain selain ingin mencium Mauris.


Senyum lebar Mauris terkembang.


"Tentu tidak sayang. Jiwa Reo sudah cukup makan dan kini, giliranku. Boleh aku mengeluarkan cairan superku di intimu atau kau mau kita menggunakan pengaman lagi, seperti tadi? Aku takut kamu tidak nyaman, jika seandainya kamu hamil nanti...," jelas Mauris.


Regina yang awalnya merasa sangat bersemangat, perlahan menjadi berubah menjadi lemas karena mendengar pernyataan dari Mauris.


Wajahnya kembali tertunduk dan memainkan tangannya yang sudah diturunkan dari kalungan di leher Mauris.


"Ada apa sayang? Apa ada ucapanku yang...," kalimat pertanyaan Mauris terpotong.


"Aku, aku mandul Mauris. Aku tidak akan bisa memberikanmu keturunan. Maka dari itu, aku tidak pernah mau menjalin hubungan dengan pria manapun, karena aku, mandul. Aku memberitahumu sekarang, agar kau bisa berpikir ulang. Aku bukan wanita seutuhnya, maka dari itu, jika kau ingin menjadikanku wanita pemuas jiwa Reo dan suatu saat kau membuangku, aku pun tidak masalah. Aku sudah jatuh cinta padamu, jantungku berdetak cepat, dari awal bertemu denganmu. Jadi...," kini giliran ucapan Regina yang terpotong.


Mauris menarik tubuh wanitanya dan memeluk erat tubuh Regina yang sudah meneteskan air mata dengan derasnya.


"Maafkan aku, aku tidak tau dan terimakasih sudah membagi kelemahanmu dengan jujur padaku. Aku tidak pernah peduli, akan keturunan. Aku juga jatuh cinta padamu dari awal kita bertemu. Aku hanya membutuhkanmu bukan untuk memberi Reo makan, tapi untuk diriku sendiri. Aku belum pernah merasakan hal ini sebelumnya, aku mengira dulu cinta tidak pernah ada, yang ada hanyalah hasrat. Tapi setelah bertemu denganmu malam itu, ada sesuatu di dadaku yang terus menggelitik, ketika aku tidak bisa memandang wajahmu Regina. Jadi, jangan pernah merisaukan apapun lagi, sekarang. Aku akan selalu bersamamu dan menjagamu, dari semua hal. Aku mencintaimu Regina dengan seluruh duniaku...," jelas Mauris sangat dalam dan romantis.


Regina semakin terharu mendengar ucapan Mauris. Tangisnya makin menjadi dalam dekapan Mauris.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2