
Mauris seperti terhipnotis, dia berdiri dan keluar dari ruangannya dengan tatapan kosong. Dia berjalan lurus layaknya sebuah robot, dinaiki lift dan kemudian turun ke lobi. Mauris berjalan keluar area kantor dan memberhentikan sebuah taksi untuk pergi ke tempat rahasianya. Taksi itu melewati sepi dan basahnya jalanan, setelah hujan malam itu mengguyur sesaat kota tempat tinggal Mauris. Setelah berjalan kurang lebih 45 menit, Sang Pengemudi sangat terheran, ketika mobilnya berhenti sesuai peta digital, dimana terlihat jelas rumah yang terletak di tengah - tengah persawahan, jauh dari pemukiman warga. Sang Supir kemudian menoleh kearah rumah, dengan masih terdiam. Kemudian dia melihat kearah Mauris yang masih terhipnotis, keluar dari dalam mobil tanpa berbicara sepatah katapun. Setelah dilihat Mauris keluar, lalu supir taksi online itu, menurunkan kaca jendelanya.
"Mas. Terimakasih...," panggil dan ucap Sang Pengemudi, setelah menerima pembayaran secara digital.
"Ihhh, ganteng - ganteng masak rumahnya kayak ngono. Merinding ih...," ucap pengemudi yang langsung tancap gas, meninggalkan Mauris yang terus berjalan kearah rumah reyot juga tampak rumput liar sangat tinggi menutupinya.
Mauris membuka pintu pagar kayu sangat besar dan tinggi juga nampak sangat kotor. Terdengar suara khas kayu, yang sudah berumur sangat tua ketika pagar itu dibuka dan kembali ditutup. Semua akses pintu disana, hanya bisa terbuka dengan kekuatan magis yang dimiliki oleh Mauris. Pria tampan itu masuk terus menuju ke pintu utama dan langsung masuk ke sebuah ruangan luas tanpa sekat, berbelok ke kiri sedikit, terlihat sebuah tangga yang menuju ke ruang bawah tanah. Tangga itu membawa Mauris sampai ke sebuah lorong panjang dengan pemandangan obor di kiri dan kanan temboknya. Mauris berjalan menuju ke sebuah pintu gebyok. Di buka pintu besar itu dari engsel yang mengaitkan antar daun pintu besinya. Ruangan temaram terlihat di balik pintu itu. Setelah memasuki ruangan temaram tempat Reo berada, dia kemudian tersadar.
"Hah. Hah. Hah...," deru napas tersengal dan pandangannya yang terkejut, karena kini sudah berada tepat di hadapan Reo.
"My Mauris. Ada apa nak? Mengapa kamu selalu mengabaikan panggilanku? Heum?" ucap dan tanya Reo yang sudah muncul dari dalam cermin.
Mauris mulai gelisah, keringat kecil muncul di pelipisnya. Dimainkan jemarinya di depan tubuhnya.
"Master. Maaf, bukan maksud saya untuk mengabaikan panggilan dari Master. Hanya saja, saya. Saya...," jelas ketakutan Mauris.
Reo terdiam, sesaat lalu terdengar tawa menggelegarnya. Juga terlihat tubuh awannya terus bergerak - gerak saking geli dirasanya.
"Hahahahahaha. Kamu lucu sekali Mauris. Rasa ketakutanmu bisa ku rasakan, hingga ke nadiku. Ceritakan, apa yang membuat dirimu sampai ketakutan?" ucap dan tanya Reo.
Mauris meneguk salivanya sekali, dengan masih bermimik tegang. Pria itu mulai bercerita soal Kinanti.
"Hemm. Cukup menarik. Memang, saat aku dulu mengejar ibunya Kinanti yaitu Mirah. Selalu ada saja yang membuat dia selamat dari serangan - serangan dan juga jebakanku. Apakah Kinanti juga akan bernasib sama?" batin Reo.
Setelah dia mendengar cerita lengkap dari Mauris.
"Maafkan hamba, Master. Sungguh, hamba benar - benar sudah membuat strategi sejitu mungkin. Namun, kejadian kemarin membuat hamba berpikir. Kinanti, anak itu seperti memiliki pelindung yang selalu mengikutinya. Seperti jimat atau sejenisnya. Hingga dia masih bisa selamat...," ucap Mauris kemudian.
Reo masih terdiam sambil berpikir. Awan hitam itu menimbang - nimbang, soal strategi selanjutnya. Agar tidak membuang - buang energi juga waktu. Ditambah, dia sudah merasa kekuatannya jauh berkurang dan juga tubuhnya melemah. Akibat asupan energi negatif yang semakin sedikit masuk ke jiwanya.
__ADS_1
"Mauris, sebaiknya kita hentikan sementara penyerangan terhadap gadis kecil itu. Namun, sebagai gantinya, kamu harus pantau terus pergerakan gadis itu. Juga adikmu Darius, aku seperti punya firasat kurang bagus tentangnya. Ditambah, aku belum tau kekuatan istimewa yang dimiliki olehnya, setelah obatku menyembuhkan waktu itu. Ingat Mauris, untuk penyerangan selanjutnya. Aku harap tidak ada kegagalan lagi...," jelas Reo.
Mauris langsung bersimpuh dan memberi hormat dengan membungkuk menghadap lantai pada cermin besar itu.
"Terimakasih banyak, atas belas kasih Master. Saya berjanji, saya akan mendapatkan Kinanti dengan strategi yang lebih bagus dan tidak akan membuat kecewa Master untuk yang kedua...," ucap Mauris sambil membungkuk.
Reo kemudian menghilang dari pantulan cermin tersebut.
...----------------...
Kei sudah sampai di depan rumah Dita, namun sebelum masuk ke rumah wanita muda itu. Dia tiba - tiba menelpon Sang Ibu. Pria muda itu ingin memastikan bahwa nanti, mereka tidak memanggil namanya dengan Bams melainkan Kei. Kei adalah bagian dari nama panjang Bams. Awalnya kedua orang tua Kei, merasa ada yang janggal. Namun, kemudian mereka setuju setelah mendengar penjelasan logis dari Kei.
Setelah melakukan panggilan telepon dan memastikan semuanya aman, Kei yang baru akan turun, tidak menyadari bahwa Dita sudah lumayan lama berdiri di ambang pintu pagarnya. Mata Kei terkesima melihat penampilan cantik nan anggun kekasihnya itu.
Dibuka pintu mobilnya perlahan, senyum cerah terkembang diwajah Dita. Saat dia mencium aroma parfum Sang Kekasih.
"Hei cantik, lagi nunggu siapa sore - sore gini? " goda Kei yang sudah bersandar di pintu pagar Dita sambil bersidekap dan satu kakinya menyilang.
"Mmm, lagi nunggu pacar saya yang kayaknya ganteng Mas. Mas, sebaiknya pergi ya. Soalnya pacar saya galak sekali, ntar Mas bisa dimutilasi loh kalau ketauan godain saya...," jelas Dita dengan canda agak menyeramkannya.
Tawa terbahak Kei terdengar renyah.
"Kamu ya, udah pinter ngelawak sekarang. Aku nggak sekejam itu kok, sayang. Paling langsung aku temuin sama TuhanYang Maha Esa. Sama aku ganteng banget tau. Hehhehhe...," jawab Kei tidak kalah kejam, kemudian menoleh ujung hidung Dita.
Bola mata Dita berputar mendengar candaan kejam Sang Kekasih dan tawa kecil kemudian terdengar dari mulutnya.
"Siap berangkat My Princess?" ucap Kei sambil meraih dan memegang tangan Dita setelahnya.
Dita terdiam sesaat, lalu menghela napas panjang.
__ADS_1
Wanita itu lalu mengangguk.
Senyum lebar mengembang di wajah Kei, dia kemudian memandu jalan Dita untuk masuk ke dalam mobil.
Selama perjalanan, tangan Kei tidak lepas menggenggam tangan Dita. Pria itu tahu, bahwa Dita sangatlah gugup, begitupun dengan dirinya. Kei hanya takut, jika identitasnya tidak sengaja terbongkar oleh kedua orang tuanya.
"Kei...," panggil Dita lembut.
Kei lalu menoleh, saat mereka sedang berada di lampu merah.
"Iya sayang...," jawab Kei dengan menatap wajah cantik Dita.
"Bagaimana penampilanku?" tanya Dita.
Kei melihat setiap inci tubuh Dita. Wanita itu memakai bandana berwarna pink pastel, riasan wajah yang minimalis, dress berwarna putih se betis dan sepatu flat berwarna mocca pastel membuat tampilannya sangat segar juga terlihat anggun.
"Sempurna. Kamu selalu sempurna. Cup...," ucap Kei sambil mengecup punggung tangan Sang Kekasih.
Wajah Dita seketika merona merah. Dia merunduk sesaat, kemudian sambil meremas sedikit dressnya. Dia kembali menoleh kearah Kei.
"Kei. Aku gugup, aku takut kedua orang tuamu akan kecewa dengan keadaanku? Juga, juga...," ucapan gugup Dita terhenti, ketika bibir Kei mencium singkat bibir pink nan lembutnya.
"Kedua orang tuaku, mereka sudah tau semuanya. Mereka sendiri yang mengundangmu, jadi tidak ada yang perlu di khawatirkan. Kamu adalah wanita pilihanku, siapapun di dunia ini tidak akan ada yang bisa menentang keputusanku apalagi memisahkan kita. Aku akan selalu bersamamu, akan selalu ada buat kamu. Oke...," jelas Kei mencoba menenangkan Dita.
Senyum ceria Dita kembali menghiasi wajah cantiknya.
"Aku mencintaimu Kei. Aku harap, semua akan baik - baik saja...," batin Dita.
Lalu mereka melanjutkan perjalanan, ketika lampu lalu lintas sudah berubah hijau.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...