
Suara burung dan sinar matahari yang mulai bersinar dengan indahnya, menyapa pagi di bukit belakang villa. Langit yang semalam sangat menyeramkan, berubah sangat cerah. Sinar matahari masuk ke dalam gubuk melalui celah - celah dinding kayunya.
Sinarnya pun menggelitik mata dan juga wajah Sarah, yang awalnya tidur dengan terlelap. Kini perlahan tubuh gadis itu menggeliat dan matanya mencoba terbuka dengan perlahan. Awalnya penglihatannya masih terasa kabur, namun dikerjapkan sekali lagi. Barulah kedua matanya menjadi jernih dan melihat jelas keatas langit - langit gubuk kayu itu.
"Akh, sakit. Dimana...," batin Sarah terhenti.
Ketika dirasa tangannya hangat dan gadis itu merasa ada jemari lain yang menggenggam jemarinya. Lalu dia melirik ke arah samping. Dilihatnya Kevin tertidur disamping dipan. Ditarik perlahan jemari tangannya dan kemudian dielus rambut lelaki besar itu.
Lalu perlahan Kevin membuka mata dan tersadar.
"Sarah...," pikiran pertamanya tertuju pada gadis itu.
Lalu dia terbangun dan mendongak kearah dipan itu.
Senyum menawan Kevin mengembang, begitupun Sarah.
"Hai Kev...," ucap Sarah tapi masih sedikit lemas.
"Hei, sebentar saya cek suhu tubuhmu dulu." ucap Kevin yang lalu melepas alat kompres yang masih bertengger di pelipis Sarah dan meletakkan punggung tangan besarnya disana.
Lalu lelaki kekar itu menghela napas, kemudian tidak sengaja menatap kearah Sarah. Gadis itu sudah menatapnya sedaritadi, kemudian perlahan tangan Sarah mengelus bagian wajah Kevin.
"Kamu kenapa? Kenapa banyak luka begini?" tanya Sarah dengan lemah - lembut sambil terus mengelus luka di wajah dan pundak lelaki kekar itu.
Kevin lalu menghindar dan menjauh dari tangan juga tatapan Sarah.
"Saya, saya tidak apa - apa. Saya bantu kamu bangun." ucap Kevin yang lalu meletakkan kedua tangan Sarah ke lehernya dan kemudian agak mengangkat tubuh gadis itu, agar bisa duduk.
Setelahnya, tangan Sarah yang baru akan dilepas malah melakukan penolakan. Lalu dia menarik leher Kevin, hingga wajah dan napas mereka beradu. Tanpa banyak basa - basi, Sarah lalu mencium dan menyerang bibir Kevin sambil memejamkan matanya. Lelaki kekar itu dengan wajahnya datar, tidak membalas ciuman Sarah. Dia hanya terdiam dengan mata terbuka, dibiarkan gadis itu melakukan apapun pada bibirnya. Hingga Sarah tersadar, ciumannya tidak dibalas oleh Kevin. Lalu dia menghentikan gerakannya dan mulai membuka mata serta menjauh dari wajah Kevin juga melepas rangkulan di leher lelaki itu.
Perlahan kemudian Kevin menjauh dari dipan itu dan berbalik.
"Aku dijodohkan dengan salah satu anak keluarga Soetanto. Namun, aku tidak mau. Aku mencintaimu Kev. Sungguh...," ucap Sarah yang kemudian menatap punggung Kevin dengan air mata yang sudah mengalir.
__ADS_1
Kevin terdiam sesaat dan kemudian hanya melirik ke belakang sesaat.
"Saya cek, kondisi jalan diluar. Jika sudah bagus, kita segera kembali ke villa." ucap Kevin dengan dingin dan langsung berlalu dari hadapan Sarah.
Kepala Sarah menggeleng dan dipukul alas tikar dibawahnya.
"Dia, dia benar - benar tidak menyukaiku. Hanya aku yang menyukainya, mengharapkan dan juga mencintainya." batin sedih Sarah dengan air mata yang terus mengalir.
...----------------...
Darius sudah terbangun dan tidak di dapatinya Sang Kakak di dalam ruangan itu. Perlahan dia turun, guna menengok keadaan Kinanti. Namun ketika dia membuka pintu, penjaga menghadang jalannya.
"Maaf, Tuan Darius. Tuan Mauris berpesan pada kami agar Tuan tidak keluar kemana - mana? Hingga nanti diperbolehkan pulang." jelas salah satu penjaga.
Darius lalu mengerutkan kedua alisnya, wajahnya sudah nampak kesal.
"Ck, Kak Mauris. Masih saja memperlakukan aku seperti anak kecil." batin kesal Darius.
"Begini saja, kalian kawal saya. Jadi kalian bisa tau, saya pergi kemana? Saya benar - benar harus menengok bawahan saya sekarang. Ayo...," perintah Darius pada kedua penjaga yang sudah saling pandang dengan temannya.
Darius kemudian diikuti oleh dua penjaga berbadan kekar. Mereka menuju ke meja informasi, untuk menanyakan posisi ruang rawat Kinanti. Namun ternyata, gadis mungil itu sudah pulang beberapa menit yang lalu. Darius lalu terduduk di ruang tunggu rumah sakit. Dia terlihat masih lemas dan juga agak sedih. Lalu dipegangi dadanya, yang merasakan desiran aneh lagi.
"Kenapa, disini selalu merasakan hal aneh. Ketika, ketika semua menyangkut Kinanti. Aku tidak sempat melihatnya. Besok, besok saat di kantor, aku akan menemuinya dan memastikan semuanya aman." batin Darius.
Cukup lama lelaki muda itu terduduk di ruang tunggu dan akhirnya dia memutuskan untuk pergi kembali ke ruang rawatnya.
Sedangkan Kinanti sendiri, kini masih ada di dalam mobil. Dia merengek untuk pulang dan akhirnya kedua orang tuanya memohon kepada tim medis untuk bisa memulangkannya hari itu juga. Dengan wajah pucat dan juga mata yang kadang terpejam dan terbuka. Dipegangi dada yang terdapat tanda kutukan itu.
"Apa sinar putih menyilaukan itu, Dariusku? Apa dia sudah kembali, tapi dalam bentuk berbeda? Kenapa juga tiba - tiba domba itu berubah menjadi monster?" batin Kinanti dengan segudang pertanyaan di kepalanya, saat mengingat mimpinya tadi.
Tanpa terasa, Kinanti pun sampai dengan selamat di rumah. Gadis itu disambut oleh kedua pasang kakek - nenek nya, dengan wajah mereka yang sangat khawatir. Begitupun Sang Adik, Bima yang langsung menangis ketika melihat keadaan Sang Kakak yang pucat pasi dan juga lemah.
"Hiks. Hiks. Kak Kinan, kakak jangan sakit lagi ya. Aku janji, aku nggak bakal jail. Hiks." tangis anak laki - laki kecil itu yang sudah berdiri di depan kaki Kinanti.
__ADS_1
Kinanti yang awalnya dipapah oleh Sang Ayah, lalu melepas pelan rangkulan Bara. Dia lalu bersimpuh dengan kedua lututnya, dengan wajah pucat. Dipandangi wajah sedih Sang Adik, sambil diusap air mata yang mengalir dari mata biru Bima.
"Maafin kakak ya, dek. Kakak nggak bakal sakit - sakit lagi. Shuut, sudah nangisnya. Masa superhero nangis, cengeng ah." ucap Kinanti sambil membujuk Sang Adik.
Bima lalu memeluk tubuh Kinanti erat.
"Biarin cengeng, aku kan masih kecil. Ntar kalau udah gedean dikit, baru aku bisa melindungi kakak dari orang - orang jahat dan nggak bakal nangis." jawab Bima dengan mengusap matanya dalam pelukkan Kinanti.
Semua anggota keluarga pun tersenyum, melihat interaksi kedua bersaudara itu.
...----------------...
Kinanti yang sudah berbaring di ranjang dengan ditemani oleh Bima, kemudian ditinggal oleh kedua orang tua mereka. Kedua orang tua Bara juga Mirah berkumpul di ruang keluarga, subuh hari itu.
"Bara, apa yang terjadi?" tanya Papi.
Bara yang duduk berdampingan dengan Sang Istri, lalu menceritakan semua duduk perkara juga pertemuannya dengan Eyang Lila.
Semua terdiam sesaat.
Hingga Ayah Mirah lalu membuka suara.
"Selain kalung itu akan diperkuat lagi, masih ada satu cara untuk menghambat penyebaran kutukan itu." jelas Ayah.
Lalu semua orang menoleh kearah pria yang sudah mulai menua itu.
Bara pun memicingkan matanya.
"Cara lain? Apa itu Ayah?" tanya Mirah kemudian.
"Besok, setelah Eyang memperbarui kekuatan pelindung di kalung Kinanti. Ayah akan mengisi kalung itu dengan aura dari jiwa Ayah. Semoga itu bisa membantu." jelas Ayah.
Mirah dan Bara lalu saling pandang, tiba - tiba terbersit sebuah ide di kepala mereka.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...