
Suara decitan burung mewarnai pagi yang juga dingin di lembah Pelangi.
"Engh. Empuk, anget...," ucap Kinanti.
"Eh, kok empuk?" batinnya, lalu matanya tiba - tiba dibuka.
Di depan matanya terlihat bantal guling juga bantal kepala berwarna putih sudah mengelilingi dirinya, kemudian dibangunkan tubuhnya sedikit.
"Awww. Sakit...," erangnya ketika dirasa tubuh juga kakinya yang masih sakit.
Ceklek...
Suara pintu kamar yang dibuka.
"Kinanti sayang. Kok kamu udah bangun?" ucap Mirah yang langsung menghampiri ranjang Sang Anak, saat sudah masuk ke dalam kamar dengan membawa sebuah baik berisi sarapan.
Kinanti pun berusaha bangun dengan perlahan.
"Sini - sini, Mama bantu." ucap Mirah kembali setelah menaruh baki yang berisi sarapan paginya bersama Sang Anak di meja terdekat.
Mirah kemudian membantu bangun Kinanti dan menaruh bantal dibelakang punggung gadis kecil itu, untuk sandarannya.
"Gimana? Kaki kamu, pasti masih sakit kan? Apa lagi yang sakit?" tanya Mirah pada keadaan Sang Anak, sambil mengusap pelan rambut panjang Kinanti.
Kinanti pun tertunduk setelahnya, karena merasa takut dan juga merasa bersalah.
"Ma, Ma...," panggil Kinanti terbata dengan masih tertunduk, sambil memainkan ujung jarinya yang memegang ujung selimut.
"Heum....," jawab Mirah dengan berdeham.
"Maaf ya Ma, Kinan ceroboh....," ucapnya dengan suara sedikit bergetar.
Mirah kemudian menarik napas pendek dan meraih dagu Sang Anak, lalu mengangkat wajah peri kecilnya itu.
Senyum tipis menghiasi wajah Mirah saat menatap lekat wajah Kinanti.
"Mama, benar - benar takut. Waktu Ibu Erika tiba - tiba menelpon, Papa dan Mama langsung menuju ke tempat kemah kalian. Sesampainya disana, ternyata kamu sudah tertidur pulas. Kinan, Mama sebenarnya tidak mau mengekang kamu untuk kegiatan alam seperti saat ini atau kegiatanmu yang lain. Tapi, menurut Mama. Ukuran tubuh dan juga usiamu yang belum cukup, sehingga selalu membuat Mama khawatir melepasmu, jika harus bepergian dengan orang lain. Satu yang Mama syukuri, kamu selamat nak. Hanya luka lecet dan keseleo di kaki." jelas Mirah sambil mengelus - elus pipi Kinanti.
Kinanti lalu mendorong tubuhnya kearah sang Ibu dan memeluk wanita muda itu dengan erat.
"Ma, maafkan Kinan ya. Kinan akui, aku benar - benar ceroboh. Aku nggak bisa pegang janji untuk selalu berhati - hati dan buat Mama juga Papa jadi sangat khawatir. Maafkan aku ya Ma....," jelas Kinanti dengan nada sedihnya juga air mata yang sudah menetes.
Mirah memeluk erat sesaat Sang Anak, lalu melepas pelukkan itu dengan lembut.
Wanita muda itu melihat wajah Kinanti yang sudah menjadi merah dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.
Diusap pelan air mata itu.
"Mama sama Papa sudah maafkan sayang. Tapi inget, lain kali kamu harus lebih berhati - hati lagi. Mama nggak mau kamu janji lagi, tapi lain kali kamu harus benar - benar membuktikannya, bukankah Kinan bilang, kalau sekarang udah gede? Heum?" jelas dan tanya Mirah.
Kinanti kemudian mengusap air matanya. Lalu menatap mata Sang Ibu.
"Iya Ma. Kinanti pasti bisa ngebuktiin kalau aku benar - benar udah gede dan akan lebih bertanggung jawab lagi. Makasi ya Ma, udah maafin Kinan." ucap Kinanti dengan senyum tipis terkembang di wajahnya.
"Hehehehe. Sama - sama sayang. Oh iya, kita sarapan dulu yuk. Mumpung Papa lagi pergi sebentar ke kota." ucap Mirah sambil mengambil baki yang ditaruhnya di atas meja dekat dengan ranjang Sang Anak.
Saat Kinanti dan Mirah sedang menikmati sarapan mereka. Kinanti kemudian teringat akan Darius.
__ADS_1
"Oh iya Ma. Waktu Mama sampe di tempat kemah, Mama tau siapa yang bawa aku kembali?" tanya Kinanti setelah meneguk susunya.
Mirah kemudian mengusap pinggir bibir Sang Anak dengan lap sambil melirik sedikit kearah gadis kecil itu.
"Mmmm, kata Bu Erika. Tim nya Rasti yang bawa kamu nak, karena kebetulan di kelompoknya Rasti ada seorang pengawas perkemahan yang mengikuti!" jelas Mirah.
"Bisa kamu ceritakan, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Mirah balik.
Dengan menarik napas panjang, mulailah Kinanti bercerita.
Setelahnya gadis kecil itu kemudian meneguk susu yang ada diatas baki.
"Mama ketemu Rasti?" tanya Kinanti dengan cepat.
"Ketemu, tapi cuman sebentar. Jadi nggak bisa ngobrol. Mukanya Rasti bener - benar kaget loh nak. Oh iya, Mama juga udah izinin kamu, buat nggak ikut lagi kegiatan hari ini, juga kamu ijin 3 hari dari sekolah. Jadi, kita bakal disini sampe hari Selasa. Kamu bisa beristirahat dengan baik dan juga tenang." jelas Mirah.
Kinanti pun kemudian sedikit berpikir.
"Berarti, aku harus telpon Rasti habis ini. Buat nanyain soal kakak yang nyelametin aku." batin Kinanti.
"Coba aja, Mama ketemu sama orang yang nyelametin kamu dari jurang itu. Mama bakal kasih dia hadiah, karena sudah sangat berani menolong mu." jelas Mirah sambil melanjutkan sarapannya.
Kinanti pun hanya tersenyum mendengar ucapan sang Ibu.
...----------------...
Tok...
Tok...
Tok...
Ceklek...
Tak...
Tak...
Tak...
Suara sepatu yang mendekat kearah sebuah gorden besar.
Dengan menekan sebuah tombol, gorden besar itu terbuka dengan sendirinya.
Ibu Sulastri kemudian membuka jendela kamar Darius.
Setelahnya wanita agak tua itu, berjalan mendekat kearah ranjang Darius guna membangunkan majikan kecilnya itu.
Namun, matanya membulat ketika dilihat kondisi Darius yang cukup aneh.
"Kenapa, kenapa Den Darius....," gumaman Ibu Sulastri terhenti.
Satu punggung tangannya kemudian mendarat pelan di pelipis anak lelaki itu.
"Astaga. Aden, Den Darius. Bangun Den." pekik Ibu Sulastri yang sangat panik, saat merasa suhu badan Darius yang sangat panas.
"Hemmm. Engh. Hah. Hah...," sengal dan juga napas Darius yang terdengar sesak.
__ADS_1
"Penjaga. Penjaga. Tolong....," teriak Ibu Sulastri dari dalam kamar Darius.
Beberapa penjaga kemudian masuk dengan wajah tegang mereka.
Ibu Sulastri kemudian meminta tolong, agar majikan kecilnya itu segera dievakuasi ke rumah sakit terdekat.
...----------------...
Tit...
Tit...
Tit...
Suara indikator pendeteksi detak jantung yang berada di samping ranjang Darius.
Anak lelaki itu sudah terbaring lemah dengan wajah yang sangat pucat.
Beberapa selang terlihat bertengger di kedua tangan kurusnya.
Ruangannya terlihat sangat hening dan juga tidak ada satupun penjagaan disana.
BUGH...
BUGH...
BUGH...
Suara pukulan seseorang jauh di luar ruangan rawat Darius, terdengar samar - samar.
"Aaakkkhh....," erangan kesakitan beberapa orang.
"Hah. Hah....," sengal seseorang setelah selesai menghajar beberapa orang yang sudah berbaris sejajar di depan wajahnya.
"Jawab. Kenapa Darius sampai terluka dan tidak sadarkan diri. Jawab. Jangan bohong kalian. Kerja tidak becus....," teriak Mauris sambil memukul beberapa penjaga yang bertanggung jawab atas keselamatan Darius malam itu.
"Saya bunuh kalian semua, kalian semua brengsek....," teriak Mauris yang kemudian mengambil pistolnya dan bersiap akan menembak satu persatu penjaga yang habis dihajarnya itu.
Semua penjaga yang tadinya tersungkur, kini sudah berdiri tegak kembali dengan wajah tertunduk.
Namun saat akan menarik pelatuknya, jemari pria muda itu terhenti.
"Cukup Tuan Mauris. Ini rumah sakit." ucap Pak Wijaya tegas yang sudah ada di salah satu lorong rumah sakit itu.
Mauris pun menoleh dengan tatapan tajamnya.
"Tuan, mereka memang bersalah, karena teledor. Tapi, saya pikir, ini juga kesalahan Tuan Darius. Pagi ini, Ibu Sulastri juga menemukan pakaian Tuan Darius yang kotor, nampaknya dia semalam menyelinap keluar dari kamarnya, untuk pergi ke sebuah bumi perkemahan di dekat villa!" jelas Pak Wijaya melapor guna mencoba menenangkan Mauris.
Lalu tangan Mauris diturunkan dan berjalan mendekat kearah Pak Wijaya, masih dengan tatapan tajamnya.
"Jadi, maksud kamu. Adik saya juga bersalah, begitu? Begitu Wijaya? Heum?!" tanya Mauris yang sudah berada sangat dekat dengan wajah pria tua itu.
"Tuan....," panggil Pak Wijaya dengan lembut.
"Oke. Jika dalam waktu 3 hari, Darius tidak juga sadar. Kamu, yang jadi pengganti mereka. Saya yang akan menembak tepat di kepalamu....," ucap mengancam Mauris sambil menodongkan pistolnya tepat ke kepala pria tua itu.
Pak Wijaya kemudian meneguk salivanya, sambil menatap tepat ke retina mata Sang Majikan.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...