
Setelah mendapatkan ijin untuk memacari Kinanti dan juga membawa gadis mungil berambut panjang itu, untuk pergi ke tempat lain bukannya ke kantor. Darius terus menggenggam tangan Kinanti sembari menyetir.
"Mas, kita mau kemana?" tanya Kinanti dengan rasa penasarannya.
Darius melirik sekilas ke arah Sang Kekasih, lalu tersenyum.
"Aku akan memperkenalkan kamu sama kedua orang tuaku...," jelas Darius.
Kedua alis Kinanti naik dan langsung melepas genggaman tangannya dari Darius. Lalu dia membuka penghalang sinar matahari untuk membuka cermin kecil yang terselip di dalamnya. Dia memandangi riasan wajah dan juga bajunya.
"Mas, kamu kok nggak bilang - bilang. Aku kan mestinya nggak pakai baju kantor gini, mana nggak bawa oleh - oleh lagi...," jelas Kinanti yang panik.
Tawa kecil Darius terdengar dari mulutnya. Lalu dia meraih pipi halus Kinanti dan mengelusnya pelan.
"Mereka bukan orang tua pemilih. Apalagi, tau aku membawa menantu se cantik, menggemaskan, pintar, dan ceriwis kayak kamu. Mereka akan sangat menyukaimu, babe. Jadi nggak usah khawatir...," jelas Darius yang terus mengelus pipi lembut Kinanti, mencoba menenangkan gadis mungil itu.
Kinanti bukannya senang mendengar penjelasan Darius, tapi malah bertambah cemas. Lalu dia kembali menggenggam tangan Sang Kekasih dalam diam, karena perasaan gugup menyerang dadanya.
Tidak begitu lama, mereka akhirnya tiba di sebuah pemakaman mewah. Pemakaman itu sama sekali tidak terlihat menyeramkan, malah sepanjang jalan yang mereka lalui untuk masuk ke halaman parkir, ada beberapa pasangan yang bersiap untuk melakukan foto pre wedding juga, beberapa foto keluarga.
Kinanti akhirnya tahu, maksud ucapan Darius tadi. Lalu dia memegang tangannya dan Darius yang masih saling genggam, lalu melihat kearah Sang Kekasih dengan wajah sendunya.
"Mas...," ucapnya perlahan nada sendu.
Darius masih tersenyum lebar dan kemudian menghela napas sekali. Lalu kembali melihat kearah Kinanti sesaat. Pemuda itu turun dan membukakan pintu untuk Sang Kekasih, sambil menjulurkan tangannya.
"Siap untuk ketemu dengan calon mertua?" ucap Darius sambil mengerlingkan sebelah matanya.
Kinanti tersenyum miring dengan wajah tersipu nya, lalu dia meraih juluran tangan Darius. Setelah mengunci pintu mobilnya, ada seorang pria berpakaian batik mendekati pasangan kekasih baru itu.
"Selamat Pagi, Tuan Muda...," salam orang tersebut sambil sedikit menunduk.
"Pagi...," jawab Darius dengan wajah dingin dan datarnya seperti biasa.
"Silahkan Tuan...," ucap kembali pria tersebut sambil memandu jalan Darius dan Kinanti.
__ADS_1
Darius dan Kinanti, lalu mengikuti langkah pria tersebut. Mereka melewati jalan setapak dengan pepohonan yang rindang dan juga udara sejuk menerpa tubuh Darius dan Kinanti. Tidak terlihat sama sekali kesan menyeramkan dari lokasi pemakaman tersebut.
Setelah melewati jalan setapak itu, mereka kemudian sampai di sebuah bangunan gazebo dengan desain unik dan pohon Pinus di belakang bangunan itu berjajar rapi.
"Silahkan Tuan...," ucap orang tersebut sambil menyerahkan sebuah keranjang bunga dan juga buket bunga mawar putih dan pink.
Darius mengambilnya dan menyerahkan keranjang bunga kepada Kinanti, sedangkan dirinya membawa buket bunga mawar.
"Saya pamit, jika Tuan Muda membutuhkan sesuatu, bisa memencet tombol ini...," ucap pria tersebut, lalu menunduk sekali dan berlalu pergi meninggalkan Darius juga Kinanti.
Darius lalu menggiring Kinanti untuk mendekat ke dua buah batu nisan yang terlihat sangat indah, bersih dan rapi.
"Hai, Mom, Dad. Aku datang...," ucap Darius yang sudah bersimpuh dengan diikuti oleh Kinanti di lantai granit persis di samping kuburan kedua orang tuanya.
Dia memejamkan matanya, begitu pun Kinanti. Mereka mengirimkan doa. Setelahnya Darius meletakkan kedua buket mawar dan kemudian dibantu menaburkan bunga dibantu oleh Kinanti.
"Mom, Dad. Maaf, aku baru bisa datang lagi. Aku, baru kembali lagi dan kini tinggal disini. Banyak hal terjadi, setelah kepergian kalian. Mungkin Kak Mauris sering mengunjungi kalian. Oh ya, aku hari ini membawa seseorang yang sangat spesial. Sayang, ayo perkenalkan dirimu...," ucap Darius sambil menoleh kearah Kinanti.
Kinanti meneguk salivanya dan menatap balik Darius sesaat, untuk menghilangkan rasa gugupnya.
Senyum lebar pemuda tampan itu kembali terkembang, lalu dia meraih tangan Kinanti dan menggenggamnya.
"Mom, Dad. Doakan hubungan kami langgeng hingga ke pelaminan nanti ya. Kinanti adalah gadis yang sangat baik dan juga cantik, kalian pasti bisa melihatnya kan. Aku sangat bahagia tiap kali berada dekat dengannya, dia mengubah dunia sepi dan suramku, menjadi sangat berisik juga berwarna...," ucap Darius menggoda Kinanti dengan ucapannya.
Kinanti lalu menepuk keras lengan Darius.
"Aww, tuh - tuh liat Mom, Dad. Belum apa - apa aku udah dipukulnya...," adu Darius sambil memegang lengannya dan berpura - pura kesakitan.
"Nggak - nggak, Om, Tante, Mas Darius nya aja yang jail. Terimakasih ya Om, Tante, sudah melahirkan laki - laki sebaik, se lumayan tampan, dan yang terpenting se tajir Mas Darius...," ucap Kinanti tidak kalah jahil.
"Oh. Jadi aku lumayan tampan dan karena aku kaya, kamu mau sama aku...," ucap balik Darius yang mendekatkan wajahnya ke wajah Kinanti dan mulai memprovokasi gadis itu hingga sedikit terdorong ke belakang.
Tawa kecil dan wajah memerah Kinanti terlihat dengan kedua tangannya yang menahan tubuh bagian depan Darius agar tidak terus mendorong tubuhnya.
"Ampun - ampun Mas, hehehehe. Becanda - becanda. Aku cinta sama kamu tanpa alasan. Saya mencintai anak Tante dan Om tanpa alasan apapun. Hati saya yang membawa ku padamu, Mas...," ucap Kinanti yang menatap wajah Darius dengan lekat dan kemudian kedua tangannya sudah melingkar di leher Darius.
__ADS_1
Senyum miring dan mata nakal Darius terlihat jelas.
"Mom, Dad. Sepertinya kita pamit dulu, lain kali kami akan berkunjung lagi. Aku akan membawa gadis mungilku ini, ke tempat lain. Tempat yang sangat istimewa. Hah...," ucap Darius yang langsung menggendong tubuh Kinanti, hingga membuat gadis itu berteriak karena terkejut.
"Mas, malu. Turunin nggak, aku belum pamitan dengan benar sama orang tuamu...," ucap Kinanti yang sudah ada dalam gendongan ala bridal style Darius.
"Mereka sudah tau, ayo...," ucap santai Darius yang kemudian berjalan meninggalkan gazebo tempat pusara kedua orang tua Darius berada.
"Om, Tante. Maaf, lain kali, Kinan akan datang dengan cara yang lebih sopan...," teriak Kinanti yang sudah dibawa menjauh oleh Darius.
...----------------...
Reo di dalam cermin terlihat semakin melemah, wujudnya pun sudah berubah menjadi awan yang berwarna abu - abu. Sesekali terdengar suara erangan kesakitannya.
"Argh. Sakit, kenapa bisa sakit begini? Mauris, kemana dia? Hah. Hah, aku harus segera menghubunginya dengan sisa tenagaku ini...," gumam Reo sambil menahan sakit.
Lalu dia memusatkan pikirannya dan mencoba menghubungi Mauris dengan telepati.
Mauris yang terlihat sedang tertidur lelap setelah bercinta sehari semalam dengan Regina, mulai mendengar bisikkan yang memanggil namanya.
"Mauris, hei Mauris. Dimana kau? Mauris?" suara Reo dari kejauhan.
Mauris mulai beraksi dan sedikit menggeliat, ketika tidur lelapnya terganggu oleh suara panggilan Reo.
Lalu dia mengenal napas panjang dan mencoba membuka matanya yang masih berat dirasa.
"Hehm. Master. Hah, aku lupa mentransfer energiku setelah mendapatkan asupan dari jiwa Regina." batin Mauris.
Masih dalam posisi mendekap Regina, dengan sangat pelan - pelan agar tidak membangunkan Sang Kekasih. Mauris berkonsentrasi dan memakai tenaga dalamnya untuk memindahkan sebagian besar energi jiwa yang diserapnya tadi dari Regina. Cukup lama, dia melakukan ritual pemindahan itu dan begitu usai. Dia kemudian melihat kelebatan aktivitas Darius dan Kinanti.
Dengan cepat dia membuka matanya kembali.
"Apa yang terjadi dengan Darius dan gadis kecil itu?" batin Mauris dengan kedua alis yang bertaut dan napas tersengalnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1