
Kei menatap Dita tanpa bersuara sedikitpun, dia lalu menggenggam kedua tangan gadis tuna netra itu.
Kemudian pria muda itu menarik napas panjang dan kini dipandang kedua bola mata indah Dita.
"Mau, mulai cerita?" tanya Kei kemudian.
Dita mengangguk.
Beberapa Tahun Lalu...
Siang itu, Dita dan temannya baru saja keluar sekolah luar biasa yang terletak dekat dengan rumahnya.
Dengan bersenda gurau, Dita berjalan menggunakan tongkat pemandunya. Hingga satu persatu teman - temannya, berpisah dengan gadis cukup tinggi itu di setiap persimpangan jalan dan kini tersisa hanya dirinya seorang diri yang berjalan sedikit lagi, untuk sampai di depan pintu pagar rumahnya.
Dita berdiri di seberang trotoar dekat rumahnya dan berencana akan menyeberang. Namun, tiba - tiba sebuah mobil SUV berwarna putih berhenti di depannya, lalu turun beberapa orang dengan tubuh lumayan kekar.
"Dita Kartasasmita?" tanya salah satu diantara mereka.
Dita sedikit menolehkan wajahnya kearah asal suara.
"Si, siapa?" tanya Dita terbata dan mulai agak mundur, karena suara yang didengarnya tidaklah familiar juga dia tahu bukan satu orang yang berada di depannya.
Lalu tanpa menjawab, lelaki yang memanggilnya tadi memberi kode untuk langsung membekap mulut Dita dan mengangkutnya.
Dita berusaha memberikan perlawanan dengan berteriak, namun suaranya tertahan dan juga menggeliat, namun tubuhnya ditahan oleh beberapa orang.
Hingga dia berhasil dimasukkan ke dalam mobil SUV itu. Di dalam mobil, mulut gadis itu lalu di sumpal, kedua tangannya diikat ke belakang.
Air mata mulai mengalir seperti sungai, dikedua pipi Dita.
"Siapa mereka? Hiks. Hiks. Kenapa, kenapa aku diculik? Kak Bas, tolong aku...," batin Dita yang juga berdoa memohon bantuan dari Sang Kakak.
Tidak lama kemudian mobil putih tersebut, berhenti di sebuah rumah mewah. Sang Supir turun, untuk melapor pada satpam yang sedang bertugas. Satpam tersebut mengerti dan langsung membukakan pintu pagar besar, lebar nan tinggi yang membentengi rumah megah dan besar di dalamnya.
Mobil itu kemudian masuk ke sebuah parkiran bawah tanah, lalu pintu kabin kedua dibuka. Dengan gerakan cepat, para lelaki kekar menggeret tubuh Dita untuk keluar. Setelahnya mereka sedikit menyeret Dita, karena gadis itu terus melakukan perlawanan. Mereka berjalan ke sebuah pintu, dibukanya dan terlihat jelas lorong panjang dengan penerangan remang - remang menghiasi sepanjang lorong itu.
"Ini. Seperti di sebuah ruangan, agak lembab dan sepertinya bangunan baru." batin Dita yang memiliki kelebihan di indra penciumannya.
Gadis itu memang tidak bisa melihat, namun 4 indra nya yang lain berfungsi sangat baik. Dia memiliki kemampuan, mengenali orang dengan Indra penciumannya.
Sampailah mereka di sebuah pintu hitam besar. Salah satu dari pria kekar itu, lalu mengetuk dan tidak butuh waktu lama, pintu tersebut terbuka.
"Masuk." ucap seorang pemuda tampan tanpa baju hanya mengenakan celana panjang kain, seperti celana sekolah.
Lalu Dita yang masih terus melawan dipaksa untuk berbaring di sebuah ranjang besar.
__ADS_1
Matanya mulai terbelalak, dia tambah melakukan perlawanan.
"Enghm. Enghm." suaranya seakan ingin berteriak, hingga urat - urat di sekitar lehernya terlihat jelas.
Wajahnya berubah merah dan air mata yang tidak henti - hentinya mengalir.
Kedua tangan juga kedua kakinya sudah berhasil di borgol ke ujung - ujung ranjang cukup kecil itu.
"Bos. Sudah selesai." ucap salah satu pria kekar sambil mengusap sedikit keringatnya yang muncul.
Lelaki tampan tanpa baju itu, kemudian memberikan kode dengan kepalanya agar mereka semua keluar.
Para pria kekar itu mengangguk dan langsung keluar dari ruangan yang tidak luas.
Lelaki tampan itu kemudian mengunci pintu, setelahnya dinyalakan beberapa lampu di ruangan tersebut. Hingga tiba - tiba ruangan itu menjadi sangat terang, juga dia sudah mempersiapkan sebuah kamera yang telah diarahkan tepat ke ranjang tempat Dita terbaring.
Klik...
Suara kamera yang dihidupkan.
Lelaki tampan itu lalu berjalan pelan kearah Dita, dia berjongkok di samping gadis cantik itu.
Dielusnya pelan pipi Dita.
Mata Dita melirik kearah asal suara, masih dengan suara tertahannya dan juga perlawanan dirinya.
"Shuuuttt. Shuuutt. Tenang - tenang, ini nggak akan lama. Juga kamu akan merasakan sensasi kenikmatan duniawi tertinggi. Cup." ucap orang tersebut sambil mencium pipi Dita.
Dita semakin menggeliat, lenguhan dan juga teriakan tertahannya semakin menjadi. Namun, lelaki itu tidak peduli. Dia berjalan dengan cepat naik keatas ranjang dan juga keatas tubuh Dita. Dia langsung menjamah setiap inci tubuh perawan gadis itu. Dita mencengkram erat borgol tangannya dan juga kemudian mencoba melepasnya, beberapa kali dia melakukan hal itu. Hingga kulitnya merah dan luka mulai terbentuk.
Lelaki tampan itu tidak peduli, dia terus bergerilya di sekujur tubuh Dita.
"Hah. Hah. Aku suka tubuhmu, wangi. Kamu siap cantik? Sekarang, aku akan membawamu terbang ke langit ke tujuh." ucap lelaki itu.
Dita tahu apa yang akan terjadi padanya, dia menangis sejadi - jadinya. Namun sekarang tubuhnya sudah tidak bergerak karena ditahan dan sudah agak diangkat oleh lelaki itu.
"Tidak." teriaknya dalam hati, ketika keperkasaan lelaki itu yang sudah diberi pengaman, masuk ke dalam tubuhnya melalui lubang keperawanan yang sudah dijaga dengan baik oleh gadis itu selama ini.
Berkali - kali lelaki itu melakukan pelecehan terhadap Dita. Hingga lelaki itu dan Dita yang sudah sangat pasrah merasa lelah.
"Hah. Hah. Walaupun satu arah, tetap nikmat. Bukan begitu, can...," ucapan lelaki itu terhenti, ketika dilihatnya mata Dita seperti menatap matanya dengan air mata yang sudah kering.
Degh...
Degh...
__ADS_1
Degh...
Debaran jantung lelaki tampan itu lain dirasanya.
"Matanya indah. Dia seperti menatapku. Dia, menyimpan kesedihan." batin lelaki itu dengan napasnya yang masih tersengal.
Lalu perlahan dia turun dan membenahi celana kainnya, begitupun dengan memperbaiki pakaian dalam dan rok Dita. Dia kemudian membuka sumpalan di mulut Dita.
"Kenapa, kamu melakukan ini pada saya? Apa salah saya? Siapa yang kamu maksud adik seorang pembunuh?" cecar Dita.
Namun lelaki tersebut berjalan kearah pintu, alih - alih menjawab pertanyaan Dita.
"Masuk." ucapnya pada semua pria kekar yang ternyata masih berada diluar untuk berjaga.
Lalu para lelaki yang membawa Dita tadi, kembali masuk dan melepas semua borgol di tangan dan kaki gadis tuna netra itu. Lalu dia angkat tubuh Dita untuk diturunkan dari atas ranjang.
Kemudian dengan langkah kaki yang diseret, karena Dita merasakan di beberapa bagian tubuh, juga alat vitalnya. Dia menahan tarikan para lelaki kekar itu.
Sedangkan, lelaki tampan itu pergi agak menjauh.
"Aku akan mengingat aromamu, selamanya. Aku. Hiks. Berdoa, semoga kau selalu dalam keadaan bahagia. Hiks. Hiks. Juga berumur sangat panjang." ucap Dita yang ditujukan untuk lelaki tampan itu.
Lelaki itu sudah berada di balik kamera, dimana benda itulah saksi bisu pelecehan yang dilakukan olehnya kepada Dita. Dia membeku setelah mendengar ucapan Dita.
Kembali Ke Masa Kini...
Dipelupuk mata Dita sudah tergenang air yang siap untuk menetes. Dia terdiam, karena sudah tidak sanggup melanjutkan ceritanya.
Kei langsung memeluk kembali tubuh gadis itu.
"Maaf, maafkan aku Ta. Aku yang salah, aku yang salah." ucap Kei dengan memeluk erat Sang Kekasih.
Dita pun menggeleng, tanpa membalas pelukkan Kei.
"Kei. Apa kamu yakin mau meneruskan hubungan ini, setelah mendengar ceritaku?" tanya Dita dengan air mata yang sudah menetes.
Kei tambah memeluknya dengan erat.
"Aku orangnya Ta. Aku yang sudah merenggut mahkotamu. Aku akan bertanggung jawab hingga ajal menjemput ku, aku akan selalu menjaga dan membuatmu bahagia." batin Kei yang sebenarnya adalah Bams yang juga mengingat kejadian itu dengan baik di kepalanya.
"Aku mencintaimu, apapun itu. Aku mencintaimu Dita Kartasasmita, tanpa syarat." jawab Kei atas pertanyaan Dita.
Mata Dita terkejut sesaat, lalu dia tersenyum dan langsung membalas pelukkan Sang Kekasih dengan erat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1